Namaku Naya, aku adalah siswa SMA Negeri di Bekasi, aku bertubuh besar, pendek, dan pendiam Namun aku mudah bergaul, aku mempunyai banyak teman di sekolah karena ketomboyanku, aku juga terkenal di kalangan guru - guru karena kecerdasanku. Aku sangat aktiv dalam pelajaran dan beberapa ekskul di sekolahku dari ekskul basket, karya tulis ilmiah atau kir, PMR sampai Pramuka. Sekolah sering menunjukku untuk mengikuti beberapa lomba di luar sekolah, dari lomba puisi, cerpen sampai pidato tingkat provinsi.
Kenaikan kelas sebelas sudah di lewati, seperti biasanya aku mendapat rangking pertama di kelas. Siang itu kepala sekolah dan walikelasku mencariku, akupun menghampiri mereka di ruang kepala sekolah. Ternyata aku ditunjuk untuk mewakili sekolahku, aku diikutsertakan dalam LPK Pramuka atau Latihan Pengembangan Kepemimpinan selama satu minggu.
Selama LPK, aku bertemu dengan kakak pembina yang sombong, pendiam, pintar dan sangat ganteng, bukan hanya dia namun akupun bertemu dengan teman - teman baru yang cantik - cantik, ganteng - ganteng, dan pintar - pintar. Banyak kejadian yang membuat jantungku berdegub kencang saat berdekatan dan menatap matanya.
Akankah dia menjadi pacarku, Gantengnya! Kakak Pembina Pramukaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Suci Mutiara Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seharian Bersama Kakak Pembinaku Yang Ganteng
Sepanjang perjalan di mobil taxi aku tidak berhenti menatap wajahnya, aku merasa seperti berjalan dengan Jimin BTS idola para remaja saat ini, aku meraih tangan kak kiri kak Heri dan memegangnya dengan erat, aku tidak berhenti memandang wajahnya sambil tersenyum, sesekali kak Heri menoleh padaku dan tersenyum, kemudian kak Heri memegang kepalaku dan menyenderkan di bawah bahunya, jantungku berdebar sangat kencang, aku merasa merinding namun bahagia, aku tak sanggup berkata - kata lagi.
"Kakak ingin setiap hari seperti ini de, adik kesayanganku", kata kak Heri melihat ke arahku sambil mengusap rambutku dengan tangan kanannya dan membalasa dengan erat genggaman tanganku.
"uhuk!, sepertinya sebentat lagi kita sampai, kak", kataku yang tiba - tiba batuk karena tersedak saat mendengar kata - kata kak Heri ingin bersamaku setiap hari, di sisi lain aku harus meninggalkannya satu setengah tahun lagi karena untuk melanjutkan kuliahku di Jepang.
Sejak sampai di mall, kak Heri tidak pernah melepaskan gandengannya, kami berdua masuk ke dalam mall, sepanjang kami berjalan melewati toko - toko, restauran, orang - orang di dalam mall memperhatikan kami berdua. Kak Heri hanya memandang ke depan dan sesekali menoleh padaku dan memberikan senyum tergantengnya. Aku merasa malu karena fisikku, aku merasa telah mempermalukan kak Heri yang ganteng seperti Jimin BTS harus berjalan bersamaku yang gendut dan tidak cantik, sepanjang jalan aku menundukkan sedikit kepalaku, tekadang aku melirik ke kanan dan kiri untuk melihat orang lain yang memperhatikanku.
Langkah kami berhenti di sebuah toko perhiasan perak, kak Heri tetap menggandengku dan mengajakku ke dalam, saat di dalam toko, kak Heri menyuruhku untuk duduk, jari kiri kak Heri menyentuh daguku dan mengangkatnya sedikit, dia menatap wajahku, kemudian wajah kak Heri mendekat ke wajahku, ku pikir dia ingin menciumku, aku menutup mataku, kemudian aku mendengar suara kak Heri di telingaku.
"Sayang tunggu di sini sebentar, kakak gak lama", kata kak Heri di telingaku dan melepas gandengan tangan kanannya.
Kemudian aku membuka mata dan memperhatikan kak Heri yang sedang berbicara dengan penjaga toko.
"De, kesini sebentar", kata kak Heri sambil melambaikan tangan kananku menyuruh menghampirinya, aku berjalan menghampirinya, di depanku sudah ada etalase, di atas etalase kaca sudah ada beberapa cincin emas putih, kak Heri memakaikan satu persatu cincin itu, setelah ada yang pas dengan ukuran jariku, kemudian kak Heri mengeluarkan kartu ATM di dompetnya dan memberikannya pada penjaga toko, mataku berkaca - kaca, jantungku tetap berdebar kencang, rasanya aku ingin sekali memeluk kak Heri.
"Kak ini, ini mahal, bukankah kita hanya ingin jalan - jalan dan nonton, ini, jangan kak, aku gak bisa menerimanya, ini mahal, nanti uang kakak habis, kakakkan masih kuliah S2 pasti membutuhkan banyak uang untuk buat tugas kakak", kataku sambil mengeluarkan cincin dari jari manis tangan kananku.
"Jangan dilepas, kalau dilepas...kakak marah, ini sebagai pengikat keseriusan kakak sama kamu, selama kakak sibuk kuliah, kamu jadi gak perlu khawatir sama kakak kalau - kalau nanti kakak lupa kasih kabar ke kamu, kamu jadi gak perlu khawatirin kakak dan adik kesayanganku ini bisa fokus belajar sampai lulus SMA dan dapat beasiswa untuk kuliah", kata kak Heri sambil memegang bahuku dan melihat ke arah wajahku.
"Oh, ini adiknya ya, kok beda banget, kakaknya ganteng, adiknya subur banget, kulitnya juga beda, de beruntung banget punya kakak sebaik ini", kata kasir toko sambil menyerahkan kartu ATM pada kak Heri.
"Dia kekasihku, adik kesayanganku, dia calon istriku", kata kak Heri sambil mengambil karty dan memasukkannya ke dalam dompet, lalu menggandeng tanganku dengan tangan kanannya menuju pintu keluar toko.
Satu jam kami berjalan mengelilingi toko - toko di dalam mall, saat berhenti di toko baju, kak Heri membelikan switer warna coklat untukku, kak Heri menyuruhku memakainya agar samaan dengan kemejanya, aku menuruti maunya.
"Sayang lapar?, kita makan di sana, di sana ada ice coklat, ada ice cream, spagety, sayang mau apa?", kak Heri menganjakku ke arah restoran.
Setelag makan, kak Heri yang duduk di sebelahku merangkulku dengan tangan kanannya dan membuatku selalu dekat dengan tubuhnya yang sixpack atletis, tangan kiri kak Heri mengambil kaca mata di saku kemejanya dan memakainya, kemudian kak Heri mengambil ponselnya dan membaca satu pesan whatapp. kak Heri terlihat sangat ganteng memakai kacamata, benar - benar seperti artis kpok Jimin BTS yang sering dibicarakan Caca, dan Rina end the geng.
Setelah setengah jam kami duduk di restoran dari makan sampai bersantai dan bersiap beranjak dari kursi, tiba - tiba Rina end the geng masuk ke dalam restoran. Aku berjalan dibelakang kak Heri dan menutupi wajahku dengan tangan kananku agar tak ketahuan Rina, kak Heri yang menggandengku menyuruhku untuk berjalan di sampingnya.
"Stop, stop! maaf kakak ganteng sepertinya salah gandeng deh, yang dibelakang kakak ganteng cocoknya di gandeng sama truk gandeng, ya gak guys, wkwkwkwkwk", kata Rina yang menertawakanku bersama teman - temannya.
"Permisi, kalian satu sekolah, perkenalkan saya calon suaminya Naya", kata kak Heri melepaskan tangan kananya dari tangan kiriku dan merangkulku, tangan kak Heri menarik bahuku, membuatku berdiri di sampingnya yang berhadapan dengan Rina, kak Heri pun mengajakku pergi, aku melihat Rina dan teman - temannya berbisik - bisik sambil melihat ke arahku dan kak Heri dengan wajah heran.
"Tadi itu teman ade, ade jangan takut, sekarang sudah ada kakak, pasti besok - besok di sekolah mereka gak akan isengin ade lagi", kata kak Heri meneruskan langkahnya bersamaku.
"Biasanya ku balas mereka kak, kakak belum tahu aja, tapi kenapa sejak dekat kakak, aku jadi wanita pendiam dan lembut ya, hehehe", kataku dalam hati sambil tersenyum dan menoleh ke arah wajah kak Heri yang masih memakai kacamata menambah ganteng wajahnya.
Kami berduapun menonton film bioskop, setelah selesai menonton film bioskop kaki keluar mall, tidak terasa langit sudah gelap, aku melihat handphone yang ku silent mode senyap, ku lihat di layar ada tiga panggilan tak terjawab dari kakakku, aku melihat ke arah jam di layat handphone, jam menunjukkan pukul delapan malam.
"Kak, aku harus pulang, aku baru ingat, aku sudah janji sama kakakku untuk pulang jam tujuh", kataku sambil menarik kemeja lengan kak Heri dan menoleh ke arah wajahnya.
"Tapi ini masih jam delapan malam, kita kan belum melihat bulan sambil duduk - duduk di taman mall", kata kak Heri menghentikan langkahnya dan melihat ke arahku.
"Kita kan bisa ketemu lain waktu kak, aku gak mau kakakku marah terus melarang aku bertemu sama kakak lagi", kataku sambil menyakinkan kak Heri dan memegang kedua tangan kak Heri.
Setengah jam kemudian setelah kami berdua berbicara, kak Heri dapat memahamiku, kak Heri pun mengantarku pulang dengan taxi sampai di depan pagar rumah.
"Makasih ya kak untuk hari ini, aku sayang sama kakak, aku pasti kangen banget sama kakak", kataku sambil memeluk penggang kak Heri, kak Heri pun membalas pelukanku dan mencium poniku.
"Kakak gak di suruh turun untuk kenalan sama kakak ade?", kata kak Heri yang belum juga melepaskan pelukannya padaku.
"Aku sudah beritahu kakakku, kakak adalah teman baikku, teman dekatku, teman spesialki, walaupun sekarang kita pacaran, tapi kakakku belum memperbolehkan aku pacaran sampai aku kerja nanti dan bisa mencari uang sendiri", sambil melepaskan tangan kak Heri dari bahuku.
Saat aku melangkah turun dari taxi, kak Heri meraih tanganku dan memegang erat tanganku, aku melepaskan pelan - pelan tangan kak Heri dan mengusap wajah kak Heri.
"Kakak kesayanganku yang ganteng sampai ketemu lagi lain waktu, ade pasti selalu merindukan kakak", kataku menutup pintu mobil taxi.
Setelah mobil taxi yang ditumpangi kak Heri pergi meninggalkanku, aku melangkah masuk ke dalam rumah. Saat membuka pintu pagar pelan - pelan, aku takut kakakku akan marah karena aku pulang jam sembilan malam. Handphoneku berbunyi, aku melihat di layar telepon dari kakakku.
"Iya kak", kataku, aku berpikir kenapa kakakku meneleponku sedangkan dia pasti tahu aku sudah sampai di rumah.
semangat terus buat up lagi 😍 ditunggu kelanjutannya ya
aku tunggu nih😁
like n rate5
feedback yah di novel ku yah👍👍
CINTA dan SIRF TUM 🙏🙏🤗
semangat terus ya nulisnya 💪 semoga ide-ide nya selalu dapat🤗
Mampir juga ya di novelku "Suami Dadakan" makasih💖
Salam dari kisah danau hijau buatan kakek