Berawal dari bertemu kembali dengan anak majikan ibunya yang telah menikah-Alika, Maya yang sudah menjadi tukang jamu akhirnya terpaksa bekerja di rumah Alika sebagai pembantu.
Tanpa ia tidak tahu, pernikahan majikannya ini penuh dengan pertengkaran. Itu semua karena Alika sangat cemburuan. Bahkan sering terjadi, namanya disebut-sebut sebagai bahan pertengkaran. Sebagai puncaknya, Alika meminta Raka menikahi Maya demi agar bisa terus mengontrol suaminya. Tentu saja ide itu ditentang keras oleh Raka.
Maya yang terjepit di antara dua majikannya, tentu saja bimbang. Haruskah ia terus mengamini permintaan Alika, atau menentangnya demi kedamaian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Hidup Baru
Alika masuk kamar dan duduk di tepian ranjang. Diam dan tak tahu apa yang harus ia lakukan. Wanita ini merasa dirinya bodoh.
Tanpa disadari air mata jatuh perlahan di pipi mulusnya. Kenapa ia selama ini tak pernah belajar dari mulut berbisanya, kalau suatu saat, bisa saja ia tergelincir begitu parah. Namun, ia tak pernah punya keberanian untuk memperbaikinya. Ia terlampau angkuh untuk mengakui ia salah, dan kini harus menelan pil pahit yang menyerang pikirannya ini.
+++
Pria itu terkejut. Ia sangat mengenali mobil sedan yang baru berselisih jalan dengannya tadi. Itu adalah mobil milik majikan ibu Maya. Kedua suami istri itu ia amat kenal wajahnya dan kini berada dalam mobil itu. Indra bergegas memutar motornya dan berbalik arah. Tentu saja. Karena ia juga melihat ibu Maya ada di dalamnya.
Pikirannya berkecamuk. Kenapa mereka pergi dalam mobil yang sama dan dengan pakaian yang bagus pula? Apakah ada acara penting? Tapi itu tak berarti baginya, karena ia berharap mobil itu pergi ke tempat Maya berada.
Setelah melewati jalan besar, mobil sedan yang dibuntutinya itu memasuki sebuah area padat penduduk. Kemudian tak beberapa lama, mobil itu berhenti di depan sebuah rumah mewah. Indra yang pagi itu hendak ke pasar, terpaksa berhenti tak jauh dari rumah itu lalu bersembunyi di sebuah gang. Ia kemudian keluar dari gang itu ketika mobil itu masuk ke dalam pagar tinggi rumah tersebut.
Pria itu melongo. Rumah itu sangat besar dan mewah. Bahkan lebih mewah dari rumah orang tua Alika. Apa Maya ada di dalam sana? Apa ia bekerja di rumah itu atau ... ada sesuatu yang lain?
+++
"Sah!" Penghulu menurunkan tangannya. Kedua belah pihak yang saling berpegang tangan kini bersalaman - Raka dan paman Maya, yang kebetulan menginap di rumah orang tua Alika demi untuk menikahkan keponakannya itu.
"Terima kasih," sahut sang paman.
"Sama-sama, Pak."
"Kamu bisa memanggilku 'Paman' sekarang," ujar pria paruh baya yang berbadan kurus itu pada Raka.
"Oh, iya, Paman."
Maya yang duduk tak jauh dari situ, dibawa ibunya mendatangi Raka. Sang ibu terlihat terharu melihat anak satu-satunya itu kembali menikah. Ia berharap akan kebahagiaan putrinya. Baru saja sang anak bercerai, kini Maya telah dilamar lagi oleh orang kaya yang tidak lain adalah suami dari anak majikannya sendiri.
Sang ibu hampir tak percaya mendengarnya. Karena putrinya bercerita lewat telepon, tapi ketika Maya mengatakan akan menikah keesokan harinya, ia mau tak mau harus percaya. Apalagi didukung keterangan dari majikannya sendiri yang mendapat telepon dari Alika.
Maya disandingkan dengan Raka. Alika langsung berdiri dan mengalihkan pandangan demi mencari makanan, ketika mantan pembantunya itu mencium tangan sang suami. Apalagi saat Raka mencium kening Maya.
Padahal kemarin sore ia begitu tegar bercerita pada sang ibu, bahwa Maya menikah dengan suaminya itu adalah idenya. Lalu setelah itu, ia menangis dalam diam di kamar yang ia kunci dari dalam. Ia tak ingin ada yang tahu, ia telah kalah. Ia telah runtuh akibat kesalahannya sendiri.
Maya tentu saja bingung melihat pria yang berada di sampingnya itu. Apa pria itu mencium kening agar terlihat tulus menikahi karena ia tak percaya. Walaupun begitu jantungnya berdebar kencang dengan pipi memerah. Rasa terkejutnya itu tidak sepaham dengan hatinya.
Para tamu yang hadir kemudian saling mengobrol karena kini telah menjadi keluarga. Ibu Raka mempersilakan tamu yang hanya terdiri dari orang tua Alika, ibu dan paman Maya, juga penghulu untuk mencicipi hidangan sarapan pagi yang sudah tersedia.
Maya yang berkebaya putih dengan jilbabnya yang berhiaskan beberapa kristal Swarovski, tampak sepadan dengan Raka dengan balutan jas mewahnya yang berwarna abu-abu tua, dipadu dengan kemeja putih. Ibu Maya masih terharu melihat putrinya hingga matanya berkaca-kaca.
"Ibu," ucap Maya. Hatinya bercampur aduk tak tahu harus berkata apa.
"Baik-baik ya, Nak. Dengarkan omongan suamimu. Ah, Alika memang anak yang baik selalu ingin berteman denganmu. Entah kenapa ia tidak pernah cocok berteman dengan anak lain. Kamu bersyukur, Nak, punya teman sebaik Alika."
"Iya, Ibu." Maya tak ingin membantahnya. Ibu yang bekerja keras untuk hidupnya tak perlu tahu bagaimana susah hidup yang ia jalani kini. Setidaknya ia telah menikah hingga ibunya tak perlu pusing memikirkan dirinya.
"Apalagi anakmu mau lahir. Mantan suamimu itu memang tidak bertanggung jawab tapi ibu bahagia keluarga ini menerimamu apa adanya."
"Ibu jangan menangis terus. Aku sudah tidak apa-apa, Bu." Maya menenangkan ibunya dengan menyentuh di bahu.
"Ibu tak usah, khawatir. Maya telah menikah denganku jadi ibu tinggal menunggu kelahiran bayinya saja." Raka rupanya ikut-ikutan menenangkan ibu Maya.
Istri barunya itu melirik Raka dengan tak yakin. Namun baginya, sandiwara pria itu hari ini sungguh meyakinkan.
"Terima kasih ya," ucap ibu Maya pada Raka.
"Oh, kamu masih di sini." Ibu Alika mendekat. Ia membawa piring makannya di tangan datang bersama sang suami. "Mbok, sudah menangisnya," bujuknya mengusap punggung ibu Maya.
Ibu Maya tertawa pelan sambil menghapus air matanya. "Maaf ya, Mbok orang kampung. Jadi bikin malu kalian semua."
"Tidak, Mbok." Ibu Alika menyentuh lengan wanita paruh baya yang menggunakan jilbab instan yang panjang sepinggang berwarna hijau tua.
Raka yang banyak diam, memperhatikan ibu Maya. Ternyata cara bicara yang lemah lembut dan sopan Maya itu berasal dari orang tuanya. 'Sungguh orang tua yang berhasil membesarkan anak dengan didikannya, tapi kenapa Alika tidak? Padahal orang tua Alika juga sangat sopan kalau berbicara, sangat bertolak belakang dengan Alika yang suka seenaknya kalau bicara. Apa karena ibunya bekerja hingga tak punya waktu untuk mengurus anaknya?'
"Sudah, Mbok makan gih!" pinta ibu Alika.
"Ah, nanti saja, kalau semua orang sudah makan," ucap wanita berjilbab panjang itu merendah.
"Lho, sekarang kamu itu besanku, Mbok. Tamu di sini. Kok, Mbok Darmi bilang begitu?"
Ibu Maya tersenyum lebar ketika menyadari posisinya kini. Binar matanya terlihat bahwa ia begitu bangga datang ke tempat itu karena anaknya telah menikah dengan orang kaya. Pernikahan yang telah mengangkat derajatnya yang hanya seorang pembantu.
"Oh ya. Kalau begitu, Mbok gak bisa lagi kerja sama aku, Mbok. Kita 'kan besan?"
"Oh, iya. Itu yang kemarin aku bicarakan dengan kakakku ini," seorang pria datang menyambangi mereka. Paman Maya. "Aku ingin membawa kakak ke Tangerang karena aku tinggal di sana. Istriku sakit-sakitan dan anakku masih kecil-kecil. Sekarang ini anak-anak sedang bersama orang tua, tapi orang tua kami juga sudah tua. Aku meminta izin untuk membawa kakakku karena katanya ia tak berani meminta berhenti sama ibu," ujarnya pada ibu Alika.
"Oh ya tidak apa-apa kamu pensiun, Mbok. Pergilah. Malah aku bingung kalau mempekerjakan Mbok karena kita besan," sahut wanita berjilbab segitiga dan berpakaian mahal itu pada ibu Maya. Ia memberi senyum ramahnya karena lega.
"Iya, Bu." Maya menyentuh lengan ibunya. "Nanti aku akan kirim uang dari hasil kerjaku untuk Ibu, Ibu tinggal saja bersama Paman."
Ibu Maya hanya tersenyum kecil menatap anaknya sambil menepuk-nepuk tangan putrinya itu. "Tidak usah. Pegang saja sama kamu. Nanti kalau ibu butuh ibu akan minta."
Bersambung ....