"Saya akan berikan kamu satu milyar, jika kamu bisa melahirkan anak laki-laki untuk saya!"
Demi kesembuhan sang ibu, malam itu Aluna mengambil keputusan yang begitu besar dalam hidupnya
Arjuna Bimantara, pengusaha ternama yang ingin mencari seorang wanita untuk melahirkan penerus bagi Bimantara sebab istrinya yang super model menolak memberikan anak
Akankah kesepakatan Arjuna dan gadis muda itu menghadirkan cinta? Atau selamanya Aluna hanya akan menjadi istri rahasia pria bernama Arjuna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA PULUH TUJUH
Sekarang tinggallah Aluna dan beberapa pelayan termasuk Bona, gadis manis itu mendekati sang nyonya sambil berbisik
"Sepertinya tuan Arjuna jatuh cinta dengan nyonya"
Ya, siapapun jelas menyadari sikap pria penuh harga diri itu, bahkan untuk pekerja yang mengetahui sifat pria itu merasa bingung akan sikapnya pada istri rahasianya ini
"Kamu jangan terlalu percaya diri! Tuan Arjuna gak mungkin suka sama saya saat dia punya istri yang super cantik"
"Nona sudah bertemu nyonya Zoya?" Tanya Bona penasaran
"Gak sengaja liat saat tuan Arjuna menemani istrinya belanja di mall" Jawaban itu mengundang banyak lagi pertanyaan dikepala Bona, namun wanita itu tidak ingin bertanya lagi yang membuat sang nyonya menjadi sedih
Aluna berada dikamar, tidak ada suaminya disini. Ya, Arjuna tengah berada diruang kerjanya dan Aluna tidak peduli
Hari sudah berubah gelap, sejak siang tadi Aluna tidak bertemu suaminya. Wanita cantik itu memilih berada di balkon dan menatap hamparan rumput hijau di taman Villa mewah ini
Rambut panjang nya dibiarkan tergerai, melambai indah saat angin malam menerpanya
Wanita cantik itu memejamkan matanya, entah kenapa hatinya terasa begitu sakit. Aluna tidak tahu apa yang membuatnya sedih
"Kamu akan pergi dari sini Aluna, setelah ini jalani hidup kamu seperti sediakala" Ucapnya pada diri sendiri
Aluna memejamkan matanya saat sebuah tangan berada diatas perut buncitnya. Aroma maskulin ini sangat ia rindukan namun berusaha untuk ia tahan
"Kenapa disini? Angin malam tidak baik untuk kamu" Bisik Arjuna lalu mengecup sebelah pipi istrinya yang mulus
"Didalam panas"
"Ada AC sayang, kita masuk yaa"
Aluna tidak menjawab, ia tidak ingin terbuai dengan kata-kata lembut itu. Perasaan ini menyiksanya dan ia tidak ingin lagi
"Tuan bisa masuk lebih dulu!"
Arjuna membalik tubuh wanita itu, kini keduanya saling berhadapan. Arjuna dapat melihat raut wajah sendu itu
"Ada apa? Apa kamu marah?" Tanyanya dengan nada selembut mungkin
Aluna menggeleng "Apa saya bisa marah? Tidak kan?"
"Aluna, saya tidak suka dengan teka-teki! Katakan apa yang membuat kamu sedih!" Arjuna tidak suka dengan jawaban istrinya yang terus saja terdengar dingin
"Saya tidak apa-apa, saya mengantuk" Wanita cantik itu berlalu, masuk kedalam kamar dan Arjuna mengikuti
"Kamu tidak ingin dekat dengan suami kamu sendiri?"
"Apa tuan mengizinkan? Tuan sendiri yang mengatakan bahwa saya tidak boleh mendekat" Aluna tahu posisinya dihati suaminya
Tapi hati ini yang tidak bisa menerimanya, ia ingin menjadi satu-satunya dihati pria yang ia cintai namun Arjuna tidak menginginkannya
"Maafkan saya soal itu, saya hanya..."
Ucapan Arjuna menggantung di udara saat wanita cantik itu memotong
"Saya tahu, harusnya saya sadar diri sejak awal" Aluna naik keatas tempat tidur, wanita cantik itu berbaring lalu menarik selimut hingga batas leher
Arjuna tidak ingin bertengkar, kerinduan ini tidak bisa disalurkan karena wanitanya yang terlihat marah
Ia tahu Aluna kecewa, tapi mereka sudah tidak bertemu hampir dua bulan dan wanita ini terlihat tidak merindukannya
"Tidurlah!" Setelah mengatakan itu, pria tampan itu berlalu meninggalkan kamar
Aluna tidak menyahut, cairan bening luruh tanpa bisa ia cegah. Rasanya begitu menyakitkan jika pria yang kita cintai tidak bisa digapai
Pagi harinya Aluna keluar dari kamar, ia tidak tidur dengan baik karena perang dingin yang tercipta antara dirinya dan sang suami
Bahkan pria itu pergi untuk pekerjaannya tanpa memberitahu dirinya lebih dulu, hal ini membuat Aluna sadar siapa dirinya ini bagi suaminya
"Nona ingin sarapan apa?" Tanya Bona
"Saya ingin makan diluar"
"Di halaman?"
Aluna mendecakkan lidah, Bona ini pura-pura bodoh atau memang bodoh
"Saya ingin makan di restoran, saya juga mau belanja"
"Ohh, baiklah, saya tanya pada tuan Joseph dulu!" Bona mengeluarkan ponselnya dari saku pakaian pelayan lalu men-dial satu nama
"Baik tuan, akan saya sampaikan" Bona menutup teleponnya setelah selesai bicara pada asisten pribadi Arjuna itu
"Baiklah Nona! Tuan Arjuna mengizinkan, kita punya waktu sampai pukul tiga sore" Disini Bona terlihat bersemangat, ia memang suka keluar rumah, terlebih Aluna adalah orang yang royal
Jika wanita ini makan enak, maka mereka akan mendapatkan yang sama tanpa dibedakan
"Dimana tuan Arjuna?" Aluna mengutuk kebodohannya, bisa-bisanya ia bertanya tentang pria yang ingin ia lupakan
"Tuan sedang melakukan pekerjaan penting di Jepang, hanya dua hari" Jawab Bona
"Saya tidak peduli" Setelah mengatakan itu, wanita hamil itu berlalu kembali kekamar
Sekitar lima belas menit kemudian, ia kembali keruang tamu dimana Bona dan dua orang pengawal telah menunggu
"Kita jalan sekarang?" Tanya Bona lebih dulu
"Hmm"
Aluna melangkah lebih dulu, disusul Bona dan dua orang bodyguard dibelakang
Aluna memilih mengunjungi pusat perbelanjaan, karena dirinya yang ingin belanja
Setelah puas berbelanja, Aluna beserta pelayanan dan pengawal nya masuk kesebuah restoran seafood karena Aluna yang menginginkannya
"Kalian tunggu saja pesanannya! Saya ingin ke toilet" Ujar Aluna pada Bona
"Nona ingin ditemani?" Sang pelayan pribadi menawarkan
"Tidak perlu Bona! Saya tidak akan lari" Aluna berlalu dengan wajah kesal
Setelah merasa lega, barulah wanita cantik itu keluar dari bilik kamar mandi. Semakin besar kehamilannya maka semakin sering juga Aluna kekamar mandi, tak jarang hal itu membuatnya kesal sendiri
"Aluna" Mendengar namanya dipanggil, wanita hamil itu menoleh. Aluna mengerutkan keningnya saat melihat wanita yang pernah ia lihat berdiri dihadapannya
"Nyonya Zoya?"
Wanita cantik itu melangkah mendekat, wajahnya menampilkan senyum manis yang terlihat ramah
"Kamu sudah mengenal saya rupanya"
"Anda mau apa?" Aluna melindungi perutnya saat pandangan Zoya mengarah kesana
"Ternyata benar kata mata-mata saya! Istri Rahasia Arjuna sangat cantik"
Aluna merasa ini tidak baik, dirinya harus keluar dari sini demi nyawanya serta kedua buah hatinya yang belum lahir
"Anda mau apa?"
Tangan Zoya terulur hendak menyentuh perut buncit itu, namun dengan cepat Aluna mundur dan melindunginya
"Jangan macam-macam! Saya bisa saja mengadukan ini pada tuan Arjuna"
Mendengar ancaman itu, Zoya tertawa. Istri pertama Arjuna itu sama sekali tidak terlihat takut akan ancaman wanita hamil dihadapannya
"Aku tidak akan melakukan apapun, aku tidak akan menyakiti anakku sendiri kan?"
Mendengar itu membuat hati Aluna terasa di remas. Rasanya begitu menyakitkan saat ada seorang wanita yang mengklaim kepemilikan akan buah hatinya
"Kamu tidak menyayangi mereka?" Tanya Zoya membuat Aluna tersentak "Ya, saya tau semuanya, termasuk kamu yang mengandung dua bayi laki-laki"
Tatapan wanita itu tajam, Aluna merasa ketakutan saat ini. Sialnya lagi ia tidak membawa tas karena tadi ia titipkan pada Bona
"Lalu anda ingin apa? Saya akan pergi setelah melahirkan dan tidak akan berada disisi tuan Arjuna lagi" Aluna berharap jika ucapannya bisa membuat wanita dihadapannya mengurungkan niat jahatnya
"Kamu tidak menginginkan kedua putramu?"
Aluna terdiam, jika ditanya jelas saja ia menginginkan anak-anaknya, tapi ini tentang perjanjian itu