Indonesia
NovelToon NovelToon
Analepsis

Analepsis

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan

Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.

Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Analepsis ^ 18

Kebohongan yang selama ini ditutup dengan rapat, kini dengan mudah di buka oleh semesta. Agar penderitaan itu tidak lagi bertambah semakin lama. Karena ketidakadilan harus diungkap secara terang-terangan. Tanpa peduli, jika hal itu mendatangkan kembali rasa kecewa yang seharusnya tidak pernah lagi singgah pada jiwa seorang anak. Disaat trauma itu masih membekas pada sukmanya.

Diam dengan seribu bahasa, tanpa mengatakan apapun. Karena jika Yumna melontarkan pertanyaan, pasti ibunya akan mencetuskan kata maaf yang tidak disertai alasannya. Kenapa pria itu bisa datang kerumah ini kembali? Dan bukankah janji itu harus ditepati? Tapi kenapa pria itu melanggarnya? Apa selama ini ibunya membohonginya?

Di mana ibu yang meminta Yumna dan Rama untuk pulang terlambat, dengan alasan rekan-rekan ibu ingin berkunjung ke rumahnya. Tapi ternyata, tamu itu bukan teman-temannya ibu. Melainkan monster yang dibutakan oleh uang.

Suara pintu yang terbuka dari luar, membuat suasana di dalam rumah semakin canggung. Apalagi sosok pria dewasa dengan kacamata bulat yang bertengger di tulang hidungnya, berdiri diam. Melihat ketiga perempuan yang masih diam menutup mulut mereka dengan rapat.

Saat Rama ingin membuka suara, dan berniat melontarkan pertanyaan. Tapi Yumna dengan cekatan memilih untuk beranjak dari duduknya, berjalan kearah anak tangga yang mengantarkan wanita itu kedalam kamarnya. Karena Yumna saat ini benar-benar tidak lagi harus seperti apa.

Energinya begitu banyak keluar, apalagi pekerjaannya di perusahaan yang membuat tubuh Yumna merasa lelah dan tidak ingin lagi bergerak. Dan ditambah kejadian tidak diharapkan begitu gambang diperlihatkan oleh semesta malam ini.

Menutup pintu tidak lupa untuk menguncinya, Yumna dengan lelah melangkah mendekati tempat tidurnya. Membaringkan tubuhnya disana, tanpa menyalakan lampu di kamarnya.

Yumna berharap jika hari ini hanyalah mimpi tidur panjangnya yang lelah. Yumna juga berharap, jika kejadian tadi tidak akan pernah ada dalam hidupnya. Tapi sayang seribu sayang, itu hanya sebuah harapan yang mustahil untuk tidak terjadi.

Ketukan pintu dari luar, membuat tangan Yumna semakin menarik selimut yang kini menutupi tubuhnya dari kepala hingga kaki. Merapatkan kedua matanya untuk tidak terbuka, dan membuang sifat baiknya tuk mengijinkan orang di luar pintu kamarnya itu masuk dengan percuma.

Dan entah sudah berapa jam Yuman tertidur tanpa membersihkan tubuhnya lebih dulu. Kini Yumna beranjak dari kasurnya dengan langkah gontai, berjalan kearah kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Tidak Lupa dengan pakaian ganti yang sempat Yumna ambil dari dalam lemari bajunya.

Disaat semuanya selesai, Yumna keluar dari kamarnya. Berjalan menuruni anak tangga dengan perlahan, karena tidak ingin menimbulkan suara sedikit pun. Kakinya berhenti sebentar, melihat ke arah dapur. Sebelum memilih untuk keluar rumah.

Rasa lapar itu memang ada, tapi niat untuk makan itu tidak ada di dalam diri Yumna.

"Kenapa kau keluar?" Suara familiar yang langsung menyapa pendengaran Yumna, saat wanita itu tiba di luar rumah.

Diam sejenak, Yumna membalas tatapan tetangganya itu. Tirtha. "Mencari udara segar." Jawab Yumna yang tidak ada niat sedikit pun ingin menanggapi pria itu. Karena Yumna tidak mau diinterogasi dengan tatapan mematikan itu.

Berjalan dengan kepala yang tertutup tudung hoodie putihnya itu. Dan earphones di simpan di kedua telinganya, yang mendengar suara merdu dari sang idola.

Jika pun jarum jam menunjuk pukul sebelas malam, tidak membuat ketakutan itu memenuhi benak Yumna. Karena wanita itu yakin, tidak akan ada kejahatan yang mendatanginya. Karena kita yang dia tinggalkan sangat jauh dari namanya kekerasan. Tapi hal itu tidak berlaku dengan pria gila itu.

Yumna yakin, jika orang itu kembali muncul dengan membawa kekerasan. Pasti akan langsung digiring kepihak berwajib. Tapi jika dia pandai mengelak dan pintar dalam bicara, mungkin kesempatan itu bisa dia dapatkan untuk menghancurkan hidup keluarganya sendiri.

Yumna tersenyum miris di bawah cahaya lampu tidak begitu terang yang menyinari langkahnya saat ini. Berjalan menyeberang jalan raya dengan jiwa yang mulai merasa tenang.

Sebentar pandangan Yumna melihat ke arah bangunan yang dipenuhi oleh kaca besar itu yang ternyata tempat yang diinginkan banyak orang. Tapi kenapa, Yumna dulu sempat berpikir untuk menjauhkan diri dari bangun itu?

"Garis takdir memang tidak ada yang tahu." Rendah Yumna. Kembali melanjutkan langkahnya untuk mencari tempat yang bisa membuat pikirannya damai.

Dan saat itu juga seorang pria bernama Ardanayudha keluar dari perusahaan dengan napas lelah, wajah lesu yang manahan kantuk. Kedua matanya tidak sengaja melihat ke arah Yumna. "Bukankah dia__"

Yudha mengerutkan samar keningnya, sebelum melihat sekelilingnya yang hanya mendapati beberapa orang lalang. "Aku harus minum kopi." Ucap Yudha, berjalan kearah di mana mini caffe yang menjual banyak minuman disana.

Yudha tersenyum hangat, melihat beberapa menu minuma. "Kau bisa membuatkan ku espresso, dan__" keraguan ada di dalam diri Yudha. Tapi dengan cepat Yudha menuntaskan perkataannya. "Cafe latte."

"Kau bisa menunggunya sebentar." Balas sang pelayan pria itu kepada Yudha yang mengangguk menyetujui. Memilih duduk di kursi yang tidak jauh dari kasir. Kedua matanya meliar, dengan kedua tangan bersedekap dada. Sebelum merogoh saku celananya untuk melihat siapa yang mengirimnya pesan semalam ini.

"Kenapa dia meminta ku? Apa dia tidak takut resikonya nanti?" Gumam Yudha. Sekilas memainkan lidahnya didama mulut. Sebelum melihat ke arah pelayan kasir yang telah selesai membuatkan pesanannya.

Tanpa membalas pesan itu, kini Yudha berdiri dari duduknya dan menyimpan handphonenya. Karena Yudha harus membayar minuman itu.

Kembali tersenyum. Yudha berjalan keluar, diam berdiri sejenak di depan tempat itu. Sebelum membuang napas gusar, dan kembali melangkah ke arah di mana seseorang yang mungkin tengah meratapi takdir hidupnya.

"Seharusnya aku kembali ke perusahaan. Karena terlibat dalam urusan orang lain itu pasti akan melelahkan. Tapi__" huft. Yudha hanya bisa meniup udara, tanpa melanjutkan perkataannya.

Hingga tibanya di tempat tujuan, Yudha mengedarkan pandangannya. Mencari di mana sosok Yumna, uduk sendiri seperti orang yang tengah putus cinta.

"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Yudha tanpa basa-basi. Menyodorkan satu minuman hangat di tangannya itu kepada Yumna.

Sedikit tersentak, Yumna melihat kehadiran Yudha. Dengan cepat tanpa berpikir lagi. Tangan Yumna menerima minuman itu setelah melepaskan kedua earphonesnya. "Oh, terima kasih."

Tanpa mendapat ijin lebih dulu, Yudha duduk begitu saja di samping Yumna yang begitu refleks menggeser sedikit posisinya. Bukannya tidak nyaman, hanya saja Yumna tidak mau merasa canggung saat bersama Yudha.

"Kau belum menjawab apa yang aku tanyakan tadi." Yudha melihat Yumna. "Apa yang kau lakukan disini?"

"Itu, aku hanya mencari udara segar. Hanya itu. Memangnya kenapa?" Jika pun keraguan terselip di benak Yumna, tapi wanita itu secepat mungkin menghilangkannya. Karena Yumna tidak mau orang lain tahu akan kesedihannya malam ini.

"Benarkah?" Yudha menyandarkan punggungnya, sembari menyeruput minumannya itu. Pandangan lurus ke depan. Membiarkan Yumna diam seribu bahasa. Karena Yudha tidak akan mendesak siapapun untuk mengatakan masalah hidup mereka pada Yudha. Yudha harus tahu diri, jika privasi itu tidak bisa di goyahkan.

1
Lepidoptera
Penulisannya unik, semangat jugaaaa❤️
najmun_huda
ganba kakak
Storyginal Finger
izin mampir. mau baca cerita kamu ya👍
dilla11
semangat kak 💪
Maru De Hehe
Makasih kakak, saling support, mantap
Agung Khan: ceritanya bagus kak, terimakasih sebelumnya sudah mengunjungi profil saya, mohon bimbingannya ya, saya belajar menulis.🙏
total 1 replies
Adelia Putri
semangat kk,saling support yaaa
yupiana
lanjuttt saling support 💪😍
Kiara Maulida Aizaaa
saling support ya kk💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!