Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem: Karir Mingguan

Sistem: Karir Mingguan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

### KARIR MINGGUAN

Reyhan hanyalah pria biasa dengan kehidupan yang stagnan. Sampai suatu malam, sebuah sistem misterius muncul dan mengubah hidupnya.

**[SISTEM KARIR MINGGUAN TELAH AKTIF.]**

Setiap minggu, Reyhan akan mendapatkan profesi yang berbeda—kurir, guru, pedagang, mekanik, programmer, hingga pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan.

Setiap profesi memiliki misi dan batas waktu tujuh hari.

Jika berhasil, **reward luar biasa** menantinya.

Awalnya Reyhan mengira semua ini hanya keberuntungan.

Namun semakin banyak profesi yang ia jalani, semakin ia menyadari bahwa semuanya saling terhubung.

**Sistem itu tidak sedang memberinya pekerjaan.**

Sistem sedang mempersiapkannya untuk menjadi seseorang yang jauh lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kacau Balau

Hari kedua jualan dimulai dengan rasa percaya diri yang jauh lebih besar dibanding hari pertama. Reyhan bangun pagi-pagi, menyiapkan bahan lebih banyak dari kemarin karena berpikir permintaan pasti akan naik setelah "keberhasilan kecil" semalam. Namun apa yang dia bayangkan sebagai hari yang lebih mulus, justru berubah jadi salah satu hari paling kacau sepanjang kariernya sebagai pedagang.

Semua bermula saat dia sampai di lokasi mangkal biasa, dan mendapati trotoar itu sudah ditempati gerobak lain.

"Lho, Pak Herman, ini gimana? Kok ada gerobak lain di tempat saya biasa?" tanya Reyhan, panik melihat seorang pedagang bakso mangkal tepat di titik favoritnya.

Pak Herman menghampiri dengan wajah agak canggung. "Waduh, maaf, Mas. Tadi pagi ada yang dateng, katanya udah lama jualan di daerah sini, cuma pindah-pindah lokasi aja. Saya nggak enak nolak, soalnya dia juga kenal sama atasan gedung."

"Terus saya harus gimana, Pak?"

"Coba geser aja dikit ke sudut sana, Mas. Emang nggak seenak spot yang kemarin, tapi masih keliatan kok dari arah gedung."

Reyhan menghela napas, mendorong gerobaknya ke sudut yang ditunjuk Pak Herman posisi yang jauh lebih tersembunyi, sedikit terhalang pohon besar yang menutupi pandangan dari arah pintu gedung utama.

"Makasih ya, Pak, udah dicariin tempat," kata Reyhan, mencoba tetap positif meski kecewa.

"Sama-sama, Mas. Coba dulu aja, siapa tau tetep rame kok meski geser dikit."

Sambil menata ulang gerobaknya di posisi baru, Reyhan sempat melirik ke arah pedagang bakso yang mengambil alih tempat favoritnya.

Pedagang itu seorang bapak paruh baya dengan gerobak yang jauh lebih usang dari gerobaknya sendiri sedang sibuk menata mangkuk-mangkuk kecil, tidak menyadari atau mungkin tidak peduli sama sekali dengan situasi yang baru saja terjadi.

"Ah, sudahlah," gumam Reyhan pada diri sendiri, mencoba tidak larut dalam kekesalan. "Toh masih bisa keliatan juga dari sini."

Masalah kedua muncul tidak lama setelah dia mulai menyalakan kompor. Api yang biasanya menyala stabil, tiba-tiba tersendat-sendat, membuat proses masak jadi lebih lama dari biasanya.

"Duh, kenapa nih apinya," gumam Reyhan sambil memutar-mutar regulator gas, mencoba mencari sumber masalahnya.

Seorang pembeli yang sudah menunggu beberapa menit mulai terlihat tidak sabar. "Mas, lama banget sih? Saya buru-buru nih, mau jemput anak sekolah."

"Sebentar, Kak, apinya lagi rewel," jawab Reyhan, mencoba tetap tenang meski dalam hati mulai panik.

"Ya udah deh, saya beli di tempat lain aja," kata pembeli itu, akhirnya berbalik pergi tanpa menunggu lebih lama, membuat Reyhan merasa semakin tertekan di awal harinya yang seharusnya lebih baik dari kemarin.

Reyhan menatap kepergian pembeli itu dengan perasaan campur aduk antara kesal dan cemas. Ia memeriksa tabung gas portable-nya, menemukan bahwa selang kecilnya sedikit tertekuk, mengurangi aliran gas ke kompor. Setelah diperbaiki seadanya, api kembali menyala normal, tapi kerugian waktu dan satu pelanggan sudah terlanjur hilang.

Belum sempat dia bernapas lega, masalah ketiga datang dari arah yang berbeda. Seorang bapak-bapak yang membeli porsi pertama hari itu, kembali dengan wajah kesal, membawa piring nasi goreng yang baru dimakan setengah.

"Mas, ini kok keasinan banget? Saya sampe minum air terus," katanya, nadanya jelas tidak senang.

Reyhan terkejut, mencicipi sisa nasi goreng yang ditunjukkan bapak itu. Rasanya memang jauh lebih asin dari biasanya dia baru sadar, tergesa-gesa karena harus mengejar waktu setelah insiden kompor tadi, membuatnya lupa mengukur takaran kecap dan garam dengan teliti seperti biasanya.

"Waduh, maaf banget, Pak. Saya ganti porsi baru ya, gratis," kata Reyhan, buru-buru menawarkan solusi.

"Ya udah, tapi tolong diperhatiin lagi ya bumbunya. Saya suka rasanya kemarin, cuma yang ini beda banget."

"Siap, Pak. Sekali lagi maaf, saya perbaiki sekarang."

Reyhan segera memasak ulang dengan lebih hati-hati, memastikan takaran bumbu benar-benar pas seperti resep yang sudah dia hafalkan. Bapak itu akhirnya menerima porsi penggantinya dengan raut wajah yang sedikit lebih lunak, meski tetap terlihat kurang puas dengan pengalamannya hari itu.

Hari semakin Sore, matahari mulai terbenam di ufuk barat, dan kekacauan demi kekacauan terus terjadi dari telur yang habis lebih cepat dari perkiraan karena Reyhan salah menghitung stok, sampai insiden kecil saat dia hampir menumpahkan seluruh wajan nasi goreng panas karena terburu-buru melayani dua pembeli sekaligus.

Ia bahkan sempat salah memberikan pesanan, menukar porsi pedas dengan porsi tidak pedas ke dua pembeli yang berbeda, membuatnya harus buru-buru meminta maaf dan menukar ulang di tengah antrean kecil yang mulai terbentuk.

"Aduh!" pekik Reyhan saat spatulanya terpeleset, hampir membuat wajan miring dan isinya tumpah ke tanah, jantungnya seketika berdegup jauh lebih kencang dari biasanya.

"Hati-hati, Mas!" seru salah satu pembeli yang sedang menunggu, refleks mundur selangkah.

"Maaf, Kak, kepeleset tadi," jawab Reyhan, jantungnya berdegup kencang membayangkan kalau saja wajan itu benar-benar tumpah bukan cuma kehilangan bahan baku yang mahal, tapi juga bisa melukai pembeli yang berdiri dekat gerobaknya.

Ia menghela napas, mencoba menenangkan diri sejenak sebelum melanjutkan memasak, meski tangannya masih terasa gemetar karena kejadian tadi.

"Mas, nggak apa-apa, kan?" tanya pembeli itu, khawatir juga.

"Nggak apa-apa, Kak. Untung nggak sampe tumpah," jawab Reyhan, mencoba tersenyum meski wajahnya masih pucat.

Pembeli itu, seorang mahasiswi yang kebetulan sedang menunggu pesanannya, memperhatikan Reyhan dengan raut simpati.

"Mas jualan sendirian aja? Nggak ada yang bantu-bantu?"

"Iya, Kak, sendirian. Masih nyoba-nyoba dulu, belum berani rekrut orang."

"Wah, salut deh, Mas. Berat juga ya kayaknya ngurus semua sendirian, dari masak sampe layanin pembeli."

"Lumayan, Kak. Tapi ya dijalanin aja dulu," jawab Reyhan, mencoba tetap ramah meski lelah mulai terasa di sekujur tubuhnya.

Mahasiswi itu menerima pesanannya, membayar, lalu tersenyum sebelum pergi. "Semangat ya, Mas. Nanti saya balik lagi kalau lewat sini."

"Makasih banyak, Kak."

Menjelang malam, saat arus pembeli mulai berkurang, Reyhan duduk lemas di kursi lipat kecilnya, menghitung hasil penjualan hari itu dengan perasaan campur aduk.

Total yang terkumpul jauh di bawah target harian yang dia harapkan, ditambah beberapa pelanggan yang kecewa karena berbagai insiden sepanjang sore.

Fajar, yang kebetulan lewat lagi malam itu, mendekat melihat wajah Reyhan yang terlihat lelah dan agak murung.

"Bang, kok mukanya kayak abis kena musibah gitu? Ada apa?" tanya Fajar, duduk di kursi kosong sebelahnya.

"Hari ini kacau banget, Jar. Kompor rewel, keasinan, hampir tumpah, tempat mangkal juga digeser gara-gara ada gerobak lain dateng duluan," keluh Reyhan, menghela napas panjang.

"Wah, berat juga ya, Bang. Tapi ya namanya juga baru mulai, wajar kali kalau masih banyak kesalahan."

"Iya sih, tapi rasanya kayak semua masalah dateng bareng-bareng hari ini."

Fajar menepuk pundak Reyhan sekali. "Justru bagus, Bang. Semua masalah keluar sekaligus di awal, jadi Abang bisa belajar sekaligus juga. Daripada masalahnya nongol satu-satu pelan-pelan, malah nggak ketauan pola kesalahannya. Kayak vaksin gitu lho, Bang, sakit sebentar tapi abis itu kebal."

Reyhan tertawa mendengar perumpamaan aneh dari Fajar itu. "Analogi kamu aneh banget, Jar, tapi entah kenapa masuk akal juga."

"Namanya juga anak kuliahan, Bang, harus bisa nyari analogi buat apa aja," jawab Fajar, ikut tertawa.

Reyhan terdiam sejenak, merenungkan kata-kata Fajar yang meski terdengar sederhana, cukup masuk akal untuk menenangkan pikirannya yang kalut. "Bener juga sih. Oke deh, besok saya coba perbaiki satu-satu."

"Nah, gitu dong. Btw, masih ada sisa nasi goreng nggak? Saya laper lagi nih," kata Fajar, tertawa kecil mencairkan suasana.

Reyhan ikut tertawa, meski masih terasa lelah. "Ada, tunggu bentar ya, saya masakin yang bener kali ini."

"Yang jangan keasinan ya, Bang," goda Fajar.

"Sialan kamu, ya jelas dong," jawab Reyhan sambil tertawa, mulai memasak dengan lebih santai kali ini.

Sesampainya di kos malam itu, sebelum tidur, Reyhan membuka layar holografik sistem, memeriksa progres misinya yang bertambah pelan meski penuh drama sepanjang hari.

> [Progres Misi: Rp187.000 / Rp15.000.000]

> [Sisa waktu: 5 hari, 4 jam.]

Reyhan menatap angka itu, mengembuskan napas panjang. Ia mengeluarkan buku catatan kecilnya, menuliskan poin-poin evaluasi dari kekacauan hari ini cek selang gas sebelum buka, ukur bumbu pakai sendok takar bukan kira-kira, siapkan telur cadangan lebih banyak, tulis nama pemesan di kertas kecil biar nggak ketuker lagi, dan jangan terburu-buru layani dua pembeli sekaligus tanpa bantuan.

"Besok harus lebih baik," gumamnya pelan, menutup buku catatannya sambil menghela napas panjang sekali lagi.

Ia merebahkan diri di kasur, tubuhnya terasa remuk karena berdiri hampir lima jam nonstop sore itu.

Namun di balik semua kekacauan dan kelelahan, ada satu hal yang membuatnya tetap bertahan kata-kata Fajar tadi tentang belajar dari kesalahan yang datang sekaligus, dan bayangan wajah puas para pembeli yang sempat dia lihat kemarin malam, sebelum semua drama hari ini terjadi.

Ia memejamkan mata, berharap besok pagi membawa versi dirinya yang sedikit lebih siap menghadapi dunia dagang yang ternyata jauh lebih rumit dan penuh kejutan dari yang dia kira sebelumnya, jauh berbeda dari bayangannya waktu masih jadi kurir atau guru minggu-minggu lalu.

Sebelum benar-benar tertidur, ponselnya bergetar sekali. Pesan dari Dimas.

*"Pak, gimana jualannya hari ini? Lancar?"*

Reyhan tersenyum tipis, mengetik balasan dengan mata yang sudah setengah terpejam karena kantuk.

*"Kacau banget, Dimas. Tapi besok mau coba lagi. Makasih udah nanya."*

Balasan Dimas datang beberapa saat kemudian.

*"Semangat, Pak! Namanya juga baru mulai. Bapak saya dulu juga sering gitu kok awal-awal jualan. Lama-lama pasti lancar."*

Reyhan membaca pesan itu dengan perasaan hangat yang tidak terduga entah kenapa, dukungan kecil dari mantan muridnya sendiri terasa lebih berarti dibanding yang dia bayangkan. Ia meletakkan ponselnya di samping bantal, akhirnya benar-benar terlelap, membawa harapan bahwa esok hari akan jauh lebih baik dari hari yang penuh kekacauan ini.

1
Rizky Fadillah
tunggu katanya di awal duit cash di sompet sekitar 357rb dan ga cukup bayar kost lah ini duit di rekening ada juga 357rb jd total nya harus nya banyak dong ane ni atau aku yg salah mohon di koreksi lagi thor alur nya sebelum di upload
RR: siap salah. terimakasih sudah mengingatkan 😁
total 2 replies
Wega Luna
next update Thor
Wega Luna
ceritanya keren beda dari yg lain semoga kedepannya saat kaya jangan terlalu angkuh dan meremehkan orang serta jangan sombong , sesuaikan dengan dunia nyata saja😄
RR
bagi pembaca setia novel ini, yang menjadi peringkat pertama fans nanti. saya bakal masukan namanya jadi salah satu karakter utama pendamping MC 😁
RR
terimakasih yg sudah membaca 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!