Ia dijodohkan dengan anak orang kaya di kampungnya. Pria lumpuh dengan latar belakang yang tak enak di dengar. Anak tunggal dari orang terkaya di kampung itu. Cap play boy yang suka mempermainkan wanita melekat sangat kuat di nama si cowok.
Namun, Aulia tetap menerima pernikahan itu karena hutang ayahnya yang besar. Iya. Singkatnya, pernikahan itu karena hutang keluarga yang besar, yang tidak bisa ayahnya kembalikan.
Namun, siapa sangka kalau hidup akan berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode *19
Tapi tiba-tiba, kedatangan Mbok Yah mengusik ketenangan Aulia saat ini. Aulia pun langsung memperhatikan apa yang sedang ada di tangan Mbok Yah sekarang.
"Apa itu, Mbok?"
"Ini tadi ... ada kurir yang nitip paket untuk Non Aulia. Katanya, milik Non Aulia, dan harus diberikan langsung pada tangan Non. Katanya, Non pesan begitu, Non." Mbok Yah menjelaskan sambil melihat paket yang ada di tangannya.
"Hah? Saya pesan begitu? Nggak kok. Saya gak pesan paket apapun, Mbok. Lagian, mana ada saya pesan begitu kalau saya punya paket."
Aulia langsung memperlihatkan wajah bingung. Sementara Mbok Yah, tentu ikut merasakan perasaan yang sama. Paket yang ada di tangannya, membuat pertanyaan besar dalam benak mereka berdua.
"Lalu ... siapa yang punya paket ini, Non? Alamat yang tertera juga benar. Nama penerimanya juga benar, nama Non Aulia."
"Tunggu! Apa mungkin ini paketnya Den Zihan ya, Non? Den Zihan sengaja ngirim untuk Non Aulia buat ngasih kejutan. Den Zihan kan orangnya so sweet, Non."
Mendengar ucapan dari Mbok Yah barusan, Aulia langsung mengubah ekspresi wajahnya. Ia juga tersenyum kecil sambil menerima paket yang Mbok Yah ulurkan.
"Iya juga ya, Mbok. Jangan-jangan ini beneran paket dari Kak Zihan. Dia kan suka bikin ulah yang cukup membingungkan terkadang."
"Tapi suka, kan?" Mbok Yah malah menggoda Aulia.
Godaan itu Aulia tanggapi dengan senyum malu-malu saja. Kemudian, si Mbok yang cukup penasaran itu meminta Aulia langsung membuka paket tersebut.
"Aku buka sekarang ya, Mbok."
"Ya, Non. Buka sekarang aja. Mbok juga merasa penasaran."
"Eh, tapi Mbok boleh ikutan lihat kan apa isinya?"
"Iya, Mbok. Gak papa kok. Sini duduk, kita buka sama-sama."
Mbok Yah melakukan apa yang Aulia katakan. Sementara Aulia sibuk berusaha membuka paket yang terbungkus rapi dengan plastik hitam tersebut.
Setelah berusaha membuka paket itu, akhirnya bungkusan paket terbuka. Karton dari paket itu pun terlihat. Aulia pun langsung membuka karton tersebut yang ternyata isi dari karton itu adalah amplop cokelat yang terlipat dengan rapi.
"Apaan sih isinya, Non? Kok ribet banget bungkusannya, bikin perasaan Mbok jadi gak enak." Mbok Yah berucap dengan nada agak kesal.
Aulia yang mendengar ucapan itu hanya mengukir senyum kecil. "Sabar, Mbok. Kita buka sama-sama biar tahu apa isinya."
Sejujurnya, Aulia juga merasa tidak enak hati ketika melihat amplop tersebut. Entah kenapa, firasat buruk mulai terasa dalam hatinya. Ia pun berpikir jika itu bukan Zihan yang mengirim. Melainkan, seseorang yang entah siapa yang tidak ia ketahui latar belakangnya.
Namun, tangan Aulia dengan lincah membuka amplop tersebut. Perlahan tapi pasti, isi dari amplop itu terlihat di depan mata Aulia. Dan, rasa sakit seperti ditusuk duri pun langsung ia rasakan ketika melihat isi dari amplop tersebut.
Ya. Itu adalah foto masa lalu Zihan bersama para perempuan yang cukup beragam wajahnya. Setidaknya, ada belasan wajah perempuan yang berbeda yang ada di dalam foto-foto tersebut.
Aulia yang melihat foto-foto itu tentu langsung memasang wajah tidak enak. Sementara Mbok Yah, dia juga menunjukkan ekspresi kaget sekaligus tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.
"N-- Non Aulia .... "
"Aku baik-baik saja, Mbok. Jangan cemas," ucap Aulia cepat. Ia langsung memotong perkataan Mbok Yah. Karena sejujurnya, ia sedang sangat tidak baik-baik saja sekarang.
Hati Aulia sangat kacau. Meskipun ia tahu kalau semua foto itu hanya masa lalu Zihan, tapi bagaimanapun, rasanya sungguh tidak nyaman.
Kemudian, terakhir ia temukan sebuah amplop putih yang tertutup dengan rapi. Aulia tidak membuang waktu lagi, dia langsung merobek amplop tersebut untuk melihat isi di dalam amplop yang terakhir ini.
Sungguh tak disangka, dalam amplop putih itu isinya adalah hasil USG dan alat pendeteksi kehamilan sejak dini. Dua benda ini terasa langsung menghancurkan dunia Aulia seketika.
Kemudian, ada selembar surat yang terlipat dengan rapi. Tangan Aulia bergetar membuka surat tersebut. Dia tidak ingin melanjutkan semua ini. Tapi sayang, hatinya tidak menginginkan ia berhenti. Karena itu, mau tidak mau ia tetap membuka surat tersebut meski tangannya sangat berat untuk ia gerakkan.
Sementara Mbok Yah, dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Ingin mencegah, tapi tidak bisa. Karena apa yang sudah terjadi, memang tidak bisa ia halangi lagi. Semua berjalan begitu saja dengan cepat.
Mata Aulia terus membaca satu demi satu kata yang tertulis dalam surat tersebut. Tanpa sadar, buliran bening jatuh perlahan meski dia sudah berusaha keras untuk menahannya.
Isi dari surat tersebut adalah.
Mas Zihan. Apa kabar kamu sekarang? Aku dengar, sekarang kamu sudah menikah ya? Sungguh tega kamu sama kami, Mas. Kau lupakan aku dan anak kamu. Kau tidak mau mengakui anak ini sebagai anakmu. Tapi tetap saja, ini anak kamu, Mas. Darah daging kamu. Sekalipun kamu tidak pernah melihat anakmu. Sekarang, usianya sudah lima tahun. Tapi dia masih tidak tahu di mana papanya berada. Kamu kejam, Mas. Sangat kejam pada anakmu sendiri.
Begitulah isi surat yang Aulia baca sekarang. Yang langsung membuat ia merasa sangat marah akan sikap Zihan pada perempuan yang sudah ia nodai, tapi tidak ia nikahi. Aulia mendadak merasa jijik sama Zihan karena surat itu.
Mbok Yah yang melihat Aulia menangis, langsung merasa serba salah. Ingin ia tenangkan, tapi tidak tahu bagaimana caranya. Karena jika salah cara, maka Aulia akan semakin merasa tidak nyaman.
"Non ... Aulia. Apa ... apa isi surat itu?"
Aulia dengan tangan ringan langsung memberikan surat tersebut pada Mbok Yah. Kemudian, dia langsung bangun dari duduknya setelah surat tersebut Mbok Yah terima.
"Bakar semuanya setelah Mbok selesai membaca! Jangan ada satupun yang tertinggal karena aku tidak ingin melihat sedikitpun kenangan masa lalu Kak Zihan."
"Ba-- baik, Non Aulia. Tapi ... pesan Mbok hanya satu, Non. Bicaralah baik-baik dengan Den Zihan setelah ia pulang nanti. Karena bicara langsung dengan orang yang bersangkutan itu akan lebih baik dari pada diam membisu, Non Aulia. Kesalahpahaman bisa teratasi jika bicara langsung, Non."
Aulia tidak menjawab apa yang Mbok Yah katakan. Ia pun terus melanjutkan langkah kakinya meninggalkan Mbok Yah yang kini masih menatap kepergiannya yang meninggalkan taman tersebut.
Dalam hati Aulia berkata. 'Kesalahpahaman seperti apa yang bisa aku selesaikan jika bicara langsung dengan Kak Zihan, Mbok? Semuanya sudah jelas. Masa lalu Kak Zihan memang seperti itu. Buruk. Sangat amat buruk.'
'Tapi, bukan itu yang paling aku sesali sekarang. Tepatnya, aku menangis bukan karena aku tahu seburuk apa masa lalu Kak Zihan. Karena untuk masa lalu, aku sudah tahu semuanya.'