Agatha senang saat tahu akan memiliki kakak walau tidak kandung. Tapi rasa senangnya itu berubah jadi rasa takut, Jeno sang kakak tirinya itu merusaknya dan membawanya kabur lalu menikahinya. Rasa takut pun perlahan berubah menjadi rasa yang tak asing yaitu rasa cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chanie1001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Agatha masih malu untuk menatap lama Jeno. Setelah insiden pujian itu Jeno benar - benar membuatnya berdebar terus - menerus.
"Kamu kenapa?" tanya Jeno penuh selidik.
Keduanya tengah duduk di ruang televisi, menghabiskan sorenya di sana.
Agatha menggeleng tanpa mengalihkan tatapannya pada layar televisi.
"Mau aku ancurin televisinya?"
Sontak Agatha menoleh menatap Jeno lalu menggeleng kuat."jangan.." larangnya cepat.
"Terus jawab! Kamu kenapa?" jengkel Jeno.
"A-aku emang kenapa?" cicit Agatha seraya kembali menunduk.
"Kamu punya salah? Kenapa ga natap lawan bicara, terus ngehindar lagi.." terang Jeno semakin jengkel.
"Aku malu.." pekik Agatha tertahan."kamu puji aku cantik.." lanjutnya pelan.
Jeno terdiam lalu ingatannya terulang kesaat kejadian.
"Oh.." balas Jeno cuek lalu kembali menatap televisi.
"Kamu jangan banyak marah dong, aku takut.." ujar Agatha pelan namun masih sanggup di dengar Jeno.
"Jadi kamu mau di gimanain? kayak gini.." Jeno memeluk manja Agatha."sayang, kamu cantik hari ini. Sayang, malem kita lembur yuk. Gitu?"
Agatha malah merinding mendengarnya.
Benar! Agatha hanya biasa dengan Jeno yang ketus dan pemarah. Jika pun baik Agatha akan mensyukurinya tapi sepertinya sangat butuh waktu untuk proses menerimanya.
***
Agatha menatap Jeno yang tengah mengerjakan tugasnya dengan begitu serius dan cepat. Seolah - soal itu dirinyalah yang membuat jawabannya.
"Soal Jefri.." buka Agatha karena merasa hening."dia anak kepsek, bukannya pemilik sekolah itu keluarga Septian. Apa ber_"
"Jefri kembaran Septian, mereka ga identik.." potong Jeno Agar cepat pada intinya.
Agatha melongo tak percaya."Kakaknya siapa?" tanya Agatha semakin dilanda penasaran.
"Septian.." jawab Jeno acuh dengan fokus masih pada tugasnya.
Agatha kembali terdiam dengan pemikirannya. Tidak menyangka kalau mereka ternyata kembar tidak identik.
"Terus kenapa kamu berantem sama adik Septian. Gimana kalo_"
"Kerjain Pr kamu! Aku ga akan bantu!" ketus Jeno membuat Agatha ketar - ketir.
"Yah aku ga paham fisika.." rengek Agatha yang malah membuat Jeno semakin tak fokus di tambah fokusnya terbagi karena Agatha hanya memakai hoodie kebesaran miliknya tanpa celana hanya Cd didalamnya.
Jeno memijat pelipisnya, menatap Agatha dengan mata lelahnya yang terus menahannya sedari awal.
"Oke, kalo gitu tolong bantu aku dengan cara kamu ga berisik oke?"
Agatha mengangguk dengan ******* senyum."Syap!" yakinnya.
***
Jeno menutup bukunya, merapihkannya kedalam tas begitu pun milik Agatha.
Selagi membenahkan buku mata Jeno tak lepas dari Agatha yang kini terlelap di atas meja dengan berbantalkan tangannya sendiri.
Terlihat damai dan tenang. Jeno menyimpan kedua tas itu di sofa lalu kembali kedepan Agatha.
Jeno menatap Agatha tak terbaca, cukup lama hingga pada akhirnya Jeno membawa kepala Agatha kedadanya. menggendongnya ala Bridal Style.
Agatha membuka matanya repleks."Eh? Turunin aku.."pinta Agatha.
Jeno mengabaikannya. Sesampainya di kamar Jeno meletakan Agatha di atas kasur.
"Tidur lagi.." titahnya seraya berlalu menuju kamar mandi.
***
Jeno menendang bola itu menuju gawang namun sayang meleset. Tak butuh waktu lama bola itu sudah kembali padanya, dengan gesit Jeno mengoper keteman satu timnya.
Fokus Jeno tiba - tiba terbagi, di ujung sana tidak terlalu jauh dari tempatnya Agatha tengah berdiri melihat dirinya yang tengah bermain bola.
Jeno membulatkan matanya saat melihat bola melayang menuju Agatha.
Dengan cepat Jeno berlari lalu diraihnya Agatha kepelukannya. Bola pun dengan kencang mengenai punggung bawah Jeno.
Mata Jeno menyorot tajam kearah pelaku yang terus berucap maaf lalu beralih menatap Agatha penuh peringatan.
Kalo saja Jeno jauh dari Agatha, habislah Agatha. Bola itu akan mengenai perutnya atau bahkan bisa menggugurkan kandungannya.
Jeno mendekatkan bibirnya ketelinga Agatha."Lo lagi hamil! Jangan banyak tingkah!" geramnya lalu menjauhkan diri dari Agatha yang mematung dengan mata meredup sedih.
Dia masih syok bukannya di perhatikan malah ditampar dengan ucapan. Agatha elus dada, dia memang Jeno.
Agatha menatap botol mineral yang diberikan oleh Jeno.
"Cepet ambil!" ketus Jeno.
Agatha melirik orang - orang yang sudah tidak terlalu menatap kearahnya lalu meraih botol itu.
"Makasih.."
***
Jeno menarik tas Agatha seperti biasa. Membawanya Agar Agatha tidak lelah membawa tas yang cukup berat itu.
"Mau makan di luar?" tanya Agatha.
"Di rumah aja, gue makan lo.." jawab Jeno enteng.
Agatha merona dengan cepat mencari topik lain."Kok lo - gue lagi.." keluhnya.
"Hm.. Lupa.." elak Jeno seraya membuka pintu mobil untuk Agatha.
Setelah Agatha masuk, Jeno pun ikut masuk lewat pintu sebrangnya.
Agatha melirik Jeno yang tengah menyalakan mesin mobil.
***
Paman Saem hari ini bertamu dengan di temani satu pengacara di sampingnya.
"Kamu harus tanda tangan, pengalihan kepemilikan. Ini masih termasuk ke perusahaan orang tua kamu, perusahaan kecil yang baru di kembangkan." jelas Saem penuh kelembutan khas seorang ayah.
"Terima kasih paman Saem, aku tanda tangan.."
Agatha pun menyerahkan kembali dokumen yang sudah di tanda tangani.
"Paman soal kuliah aku, aku bisa diskusiin dulu sama suami? Kalo dia kasih ijin aku akan pergi.."
"Tapi kamu harus sangat mengusahakannya Agatha, ini keinginan mama kamu.."
"Tapi bagaimana pun Agatha udah punya suami sekarang paman.."
***
"APA?!" pekik Jeno.
"Aku ga akan pergi kalo kamu ga kasih ijin kok.." yakin Agatha seraya meraih tangan Jeno berharap laki - laki itu tidak emosi.
"Ga kasih ijin, pisah negara gila aja! Gue di sini gimana? Anak gue juga gimana? Jangan egois! Kuliah disini aja kalo mau!" tegas Jeno seraya kembali pada kegiatannya yang tengah membersihkan kamar.
"Iya, aku bilang ke paman Saem.."
"Bagus! Awas aja kalo lo maksa pengen kuliah keluar, gue bisa semakin Kejam kalau itu terjadi" ancam Jeno.
Agatha merinding mendengarnya, jangan sampai Jeno semakin kejam.
***
Jeno menatap Agatha dengan tatapan tak terbaca. Agatha kini tengah berbaring di kasur rumah sakit. Pingsan saat pulang sekolah.
"Eung.."
Agatha membuka matanya perlahan lalu menoleh kearah Jeno yang terlihat tak bersahabat.
"Aku dimana?" tanya Agatha pelan dan lemas.
"Menurut kamu? Jujur! Apa yang ganggu pikiran kamu?" tanya Jeno penuh amarah.
Agatha menatap Jeno takut - takut."Ga ada.."
Jeno semakin menyorot Agatha dengan tajam."Apa karena kuliah itu?" tebak Jeno tepat sasaran.
Agatha diam tanpa menjawab, bingung juga harus bagaimana menanggapinya.
"Apa karena itu permintaan terakhir mama kamu?" tanya Jeno dengan nada yang sedikit melunak.
Agatha menunduk dengan mata berkaca - kaca."Hm.. Aku ga tahu harus gimana, di sisi lain kamu suami aku, aku harus patuh sama perintah kamu.."
Jeno berdiri lalu mendekat kearah Agatha yang kini terisak.
"Jangan bahayain bayi kita. Berhenti nangis. Abis lahiran, lo bisa pergi sesuai keinginan mama lo.."
Agatha mendongkak menatap Jeno dengan keterkejutan, detik selanjutnya Agatha memeluk Jeno dengan kembali terisak.
"Anak kita gimana?" tanya Agatha masih dalam posisi yang sama.
"Kita bawa.." jawab Jeno dengan tenang.
"Kita? Kamu ikut?" tanya Agatha seraya mengurai pelukannya.
"Hm.."
Agatha melebarkan senyumannya dengan air mata haru.
"Makasih, kamu juga bisa kuliah di sana.."
Jeno tak membalasnya, tentang nanti biar dia pikirkan lagi, sekarang anaknya lebih penting putusnya final.
Kesehatan mental yang baik sang ibu itu akan baik juga untuk sang anak, itu yang diyakini Jeno.
***
Agatha dan Jeno berjalan keluar rumah sakit dengan saling bergandengan.
"Aku mau makan bebek sambal hijau boleh?" tanya Agatha ragu.
Jeno membukakan pintu mobil untuk Agatha. Dengan air wajah tak suka Jeno menjawab.
"Ga boleh makan pedes!" tegasnya lalu setelahnya menutup pintu mobil.
Jeno membuka pintu mobil sebrangnya lalu duduk di jok kemudi.
"Cari makanan lain.."ujar Jeno tanpa menatap Agatha.
Jeno menyalakan mesin mobilnya lalu bergegas meninggalkan rumah sakit.
***
Jeno menyeka mulutnya dengan tissue lalu melirik Agatha yang masih memakan ayam bumbu kecap yang di belinya.
"Aaa.. buka mulutnya.."pinta Agatha agar menyuapi ayam kepada Jeno.
Jeno membuka mulutnya dengan malas, sebenarnya Jeno tidak terlalu suka kecap, tapi melihat kebahagiaan Agatha saat menyuapinya membuat Jeno mengalah.
Jeno kembali menyeka mulutnya dengan tissue."Udah, aku kenyang.." ketusnya
Agatha mengangguk lalu sibuk dengan memakan ayamnya sendiri.
Jeno diam memperhatikan Agatha yang begitu lahap namun detik berikutnya Agatha terlihat seperti menahan mual.
Dengan cepat Agatha berlari ke kamar mandi di ikuti Jeno di belakangnya.
Agatha mengeluarkan semua isi perutnya hingga lemas. Tanpa banyak kata Jeno menggendong Agatha ke kamar.
"Istirahat.."
Agatha mengangguk lemah."Minta tolong boleh?"
Jeno hanya menatap Agatha menunggu kelanjutannya.
"Ambilin obat dari dokter.."
***