Tentang Isabel si putri pingitan yang hamil di luar nikah, Gary sang Prajurit kaku yang ditawari jadi suami sementara, dan Anna si anak angkat yang otaknya luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deningcaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baby Blues
Eyes, Nose, Lips
Why am I a fool
Why can't I forget you
You're already gone
Your eyes, nose, lips your touch that used to touch me
I can still feel you
But like a burnt out flame
Burnt and destroyed
All of our love
It hurts so much but now
I'll call you a memory
Taeyang
Silvia Pradipta berangkat mendadak ke ibukota setelah mendapat telepon.
"Siapa, Ma ?" tanya Isabel.
Anna ikut penasaran dan mendekat. Sejak kemarin papanya tidak mengirim secuilpun berita.
"Jenderal Kowalski."
Isabel langsung tegang. "Gary kenapa, Ma?"
"Belum tahu."
Anna memegangi ujung lengan baju Isabel dengan cemas.
"Ada kabar dari Papa, Oma ?"
Nyonya Pradipta hanya tersenyum dan mengelus rambutnya lalu bergegas pergi.
Keesokan harinya tiba-tiba Isabel dan Anna dijemput Daniel Pradipta untuk pulang kembali ke rumah mereka di ibukota.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Gary, Pa ?" Isabel mulai menangis.
Anna yang biasanya tabah juga mulai bingung. "Ah, ini tidak bagus. Sama sekali tidak bagus."
"Belum ada berita pasti. Tapi untuk amannya, supaya kami bisa mengawasi langsung, kalian pulang ke ibukota," jawab Daniel Pradipta setenang mungkin.
//////////
Isabel dan Anna sama-sama kehilangan selera makan. Tiga hari sudah tanpa ada berita dari Gary.
"Kau harus makan demi bayimu juga, Isabel," perintah ibunya. "Dan kau, nona kecil. Kau mau masuk rumah sakit ?"
Mereka akhirnya makan sangat sedikit dengan enggan. Dan menjadi rutinitas Silvia Pradipta sejak putrinya kembali ke rumah dengan Anna, menyuruh mereka makan dengan benar.
Sore hari itu mereka kedatangan tamu penting. Kapten Dinesh. Biasanya Isabel akan langsung menyingkir jika ada tamu atau siapa saja yang berkunjung, tapi kali ini lain.
Isabel dan Anna langsung ikut merubung meskipun ibunya sudah berusaha menyuruh mereka menjauh. Jantung Isabel berdetak tidak karuan. Sedangkan Anna menggeleng-gelengkan kepala berusaha mengusir adegan-adegan film perang yang pernah ditontonnya, dimana pada keadaan seperti ini, kedatangan seorang pembawa berita, jelas itu bukan berita baik.
Semoga bukan seperti itu, batin Anna penuh harap. Semoga Papa hanya tersesat, Anna mencoba menenangkan pikirannya meskipun ia tahu sangat konyol memikirkan Gary hanya tersesat.
Kapten Dinesh bicara bahasa Inggris berlogat India tapi cukup bisa dimengerti oleh semua, termasuk Anna.
"Jadi.... Gary di mana, Kapten?" Isabel yang tak
sabar langsung bertanya memotong basa-basi kedua orangtuanya.
Kapten Dinesh melihat perut Isabel dan mendesah sedih. "We are very sorry, Ma'am. Tapi kami kehilangan dia dan Dilova, rekan satu timnya."
Kapten Dinesh menjelaskan tentang kronologi operasi regu Gary dan penemuan dua rekan Gary yang tewas di sekitar taverna. "Taverna itu hancur lebur tak bersisa. Mayat-mayat yang tewas di dalamnya dalam kondisi sangat sulit dikenali. Butuh waktu agak lama untuk mengidentifikasi satu per satu untuk mengenali identitasnya."
Isabel lemas. Tak sanggup lagi mendengar. Ia melorot ke lantai tanpa tenaga.
Anna sudah berteriak-teriak tidak terima dalam pikirannya. Tapi tubuhnya hanya diam mematung.
"Maksud Anda, Gary mati, Kapten? Oh, tidak. Ia tidak mati. Ia kuat. Ia tidak akan mati sekarang! Dia janji menemani aku melahirkan bayi kami ini," teriak Isabel sambil menangis histeris.
Kapten Dinesh tak ingin menyaksikan kesedihan ini lebih lama lagi. Ia cepat-cepat pamit. "Sekali lagi maaf, kami juga kehilangan salah satu anggota terbaik kami."
Isabel makin histeris sambil memencet-mencet tombol ponselnya. "Lihat, Pa! Lihat! Panggilan teleponku masuk. Dia hanya sedang sibuk, tidak bisa angkat telepon!" Isabel menangis meraung-raung.
Daniel Pradipta memeluk putrinya dengan perasaan kalut.
"Lihat, Pa. Pesan-pesanku juga sudah diterimanya," teriak Isabel parau. "Dia masih hidup!!!"
Anna diam seribu bahasa menatap Isabel, tapi tatapannya kosong.
Silvia Pradipta memeluk Anna. Ia bisa merasakan betapa hancur hati anak kecil itu. Anna balas memeluknya erat, sangat erat, walau tak setetespun air matanya jatuh.
Dua perempuan berduka dengan ekspresi yang berbeda, tapi sama remuk redam hatinya.
Selama berhari-hari Isabel enggan turun dari tempat tidur, bersama Anna yang sudah kehilangan kata untuk bicara, setia memeluknya. Mereka meringkuk berdua hampir melupakan dunia hampir setiap hari.
"Dia tidak mati, Anna. Dia masih hidup untuk menemani aku melahirkan bayi ini..."
Anna tersenyum kaku dan mengelus perut Isabel. Hatinya hancur untuk yang kedua kali di usia yang masih sangat belia.
Isabel mengambil ponselnya lalu ber-selfie berdua. Bukan wajah ceria yang muncul di situ, mereka tak sanggup tersenyum, meski hanya untuk satu senyum palsu.
"Kita kirim ke Papamu. Dia pasti senang melihat kita berdua."
Dan begitu terus. Tak bosan-bosannya Isabel mengirim pesan dan foto ke nomor ponsel Gary, meski tidak ada satupun balasan.
Ayah Isabel tak sanggup melarang. Ia membiarkan mereka menghibur diri meskipun itu dengan cara yang merusak jiwa. Ia hanya berharap mereka akan lelah dan berhenti dengan sendirinya.
Sang ibu yang berhati keras pun mulai panik dan putus asa melihat kondisi mereka.
Ia mendadak pergi selama beberapa hari tanpa pesan. "Menenangkan diri," kata suaminya. Rumah besar itu diliputi suasana muram yang membuat hati sedih.
Suatu malam Anna menggedor pintu kamar suami istri Pradipta. "Oma, Opa! Cepat buka!"
Sang Opa membuka pintu sambil mengerjapkan mata. "Ada apa, Sayang?"
"Eh, Mama... Isabel... Mama... mengeluarkan banyak cairan..."
Tanpa buang waktu mereka segera menelpon rumah sakit.
"Ma... Punggungku sakit sekali," rintih Isabel.
"Kapan Gary datang mengurut punggungku?"
Anna meremas tangan ayah Isabel dengan cemas.
Dokter yang memeriksa memberi kabar. "Harus caesar. Nyonya Isabel terlalu lemah untuk mengejan. Selain itu air ketubannya sudah terlalu banyak keluar."
////////
"Joshua Bimantara, smile, baby!" Kata Anna ceria, memotret adik bayinya yang berusia tujuh bulan. "Kirim ke Papa?"
Isabel mengangguk dan tersenyum kecil. Ia sudah mulai bisa menerima kenyataan, Gary tak akan pulang melihat bayinya. Selamanya.
Hanya saja sudah terbentuk kesepakatan dalam diam dengan Anna untuk terus mengirim pesan dan foto ke nomor ponsel Gary, dengan kesadaran mungkin orang lain yang memakai nomor itu. Tapi paling tidak itu membantu mereka menyembuhkan luka hati yang menganga lebar, sedikit demi sedikit.
Akan butuh waktu sangat lama untuk sembuh. Atau tak akan sembuh? Hanya akan tertutup oleh lapisan pusat perhatian mereka yang lain. Bayi itu. Joshua.
"Dia akan memanggilmu Kakak atau Tante, ya?" goda Isabel yang sudah mulai bisa bercanda.
"Huh. Tante. Tidak sudi, ya. Kakak. Titik." Anna
protes sambil meneruskan bermain dengan si bayi. Keluarga Pradipta sudah resmi mengadopsi Anna menjadi anak mereka. Adik angkat Isabel.
Tapi anak itu sudah telanjur terbiasa memanggil Isabel 'mama' dan Isabel tidak keberatan sama sekali meskipun itu agak mengacaukan sistem kekeluargaan mereka atau yang orang lain yang mendengarnya.
Isabel juga tidak keberatan akan status 'janda beranak dua' yang disandangnya, walaupun itu sering mengundang desas-desus di lingkungan kehidupannya. Ia terlalu sayang pada mereka berdua untuk mendengarkan gosip dan ocehan tak berguna.
Dan ia tak keberatan dengan statusnya dialasi kenangan pada laki-laki yang pernah singgah di hatinya, memberinya cinta yang dalam dan terlalu sulit untuk dilupakan begitu saja. Laki-laki pernah membuatnya sangat bahagia dan patah hati di saat yang hampir bersamaan.
Laki-laki yang telah membuatnya menjadi wanita dewasa.
jangan lupa kasih komen ya...
thank youuuu