Jovanca dan Bima
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sya_misa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti Mimpi
Jangan lupa saran dan kritiknya.
________
Bima melihat wanita di hadapan dirinya tampak mengerjabkan matanya beberapa kali saat melihatnya. Dan tangannya yang masih terpasang infus pun memukul kepalanya, dan menggeleng.
"Gue mimpi ya!" gumamnya lirih, sangat lirih namun masih bisa di dengar oleh Bima.
"Atau aku udah meninggal!" gumamnya dan ingin memukul kepalanya lagi. Namun di hentikan oleh Bima.
"Jangan sakiti dirimu lagi! Kau sudah sakit, jangan di tambah sakit,"
"Aw...." ringis Jovanca. Ketika ia mencibit pipinya, masih merasa sakit.
"Gue gak mimpi berarti dong?" girangnya. "Elo....."
Jovanca menghentikan ucapannya masih tak yakin, membuat Bima menjadi penasaran.
"Elo....." Jovanca masih ragu.
"Gue akan panggil, Dokter," ucap Bima akan pergi memanggil Dokter. Tapi tanganya di tahan oleh Jovanca.
"Ngak usah," Jovanca menggeleng lemah.
Jovanca mengeryit heran. Dengan segeran ia melepas tangan Jovanca yang memegang tangannya.
"Sorry...." usapnya dingin. Bahkan ekspresinya sangat datar menatap, Jovanca. " lo harus di periksa dulu! Gue gak mau disalahkan kalau terjadi apa-apa sama lo!" lanjutnya.
Kedua pipi Jovanca memerah. Ia tersipu malu dengan ucapan lelaki di depannya, yang sama sekali tidak ia tau siapa namanya.
"Kenapa lo?"
"Kamu ternyata perhatian juga ya sama aku." ucapnya tersenyum tipis.
"Gue..... Perhatian sama lo... Gak usah kebanyakan berhayal!"
Bima pergi meninggalkan Jovanca dengan perasaan kesal. Ia merasa wanita itu sudah gila, gara-gara jatuh dari tangga.
"Bimq! Kamu mau kemana?" tanya Bram ketika akan masuk kedalam ruang rawat Jovanca.
"Eh, Om. Saya mau memanggil, Dokter."
"Apakah terjadi sesuatu pada putriku?" Bram bertanya cemas.
"Tidak, Om. Putri Om sudah siuman."
"Benarkah?"
"Iya Om. Saya permisi dulu, mau memanggil, Dokter agar memeriksanya."
"Baiklah jika begitu, Om mau melihat keadaanya dulu."
____________
Bram melihat Dokter yang sedang memeriksa putrinya, ia sangat bahagia ketika putrinya telah sadar. Selama putrinya sakit ia sama sekali tidak mau melakukan pekerjaan apapun selain menjaga putri kesayangan dirinya.
"Bagaimana keadaan putri saya, Dok?" Bram bertanya ketika, Dokter telah selesai memeriksa Nabila.
Dokter itu tampak menghela nafasnya sejenak. "Keadaannya sudah mulai membail, putri anda telah berhasil melewati masa kritisnya."
Bram menghela nafas lega. "Syukurlah,"
"Saya pastikan putri anda akan cepat sembuh dan bisa pulang kerumah. Asalkan ia tidak banyak fikiran, dan istirahat yang cukup."
"Trimakasih, Dok."
"Sama-sama. Jika begitu saya permisi."
Setelah Dokter yang memeriksa Jovanca pergi. Bram mendekati putrinya dan tersenyum senang.
"Dad...." ucap Jovanca lemah.
Bram menggelengkan kepalanya.
"Istirahatlah. Kamu mendengar kata Dokter kan, jika kamu harus banyak istirahat agar cepat sembuh,"
Jovanca tersenyum tipis menatap Daddy nya yang terlalu menghawatirkannya. Ia meraih tangan Daddy nya, tak terasa air matanya meluncur dengan sendirinya.
"Maafin, Jov. Daddy," lirihnya.
"Jov, udah bikin Dad, cemas,"
"Shuttt....." Bram menempelkan telunjuknya di bibir putrinya.
"Kamu tidak perlu minta maaf, sayang. Kamu putri, Dad. Dad menyayangimu," lanjutnya.
"Dad....."
"Iya.. Ada apa, hmm. Apa ada yang sakit?" tanya Bram cemas.
"Trimakasih,"
"Untuk?"
"Karna, Dad sudah membawa Capten Pilot kemari," ucap Jovanca tersenyum bahagia.
Bram mengerutkan keningnya. Tak mengerti dengan yang dibicarakan putrinya.
"Capten Pilot?"
"Iya. Capten Pilot. Dad kan yang membawanya kemari?"
"Yang kamu maksud itu siapa? Pilot? Dak tak mengerti,"
Jovanca menjadi kesal dengan Daddy nya.
"Orang yang masuk keruanganku sebelum Daddy, dan taukan?"
"Bima, maksudmu? Dia itu kakak nya, Nanda sayang. Bukan Capten Pilot!"
Jovanca membelalakkan matanya, jadi selama ia orang yang ia suka adalah Kakak sahabatnya, orang yang dekat dengannya. Mengapa ia bisa begitu bodoh? Runtuknya pada dirinya sendiri.
"A...aa...apa, Dad. Dad bilang dia Kakaknya, Nanda?"
Bram menganggukkan kepalanya ragu. Ia ragu apakah yang di bicarakan putrinya memang ia atau bukan.
"Astaga.... Bodoh sekali diriku," Jovanca memukul kepalanya sendiri. Membuat kedua mata Bram melebar sempurna.
"Apa yang kau lakukan! Kau itu sedang sakit, jangan memukul kepalamu sendiri!" Bram menghentikan tingkah, Jovanca.
"Aw... Dad. Kepalaku sakit,"
Rintih Jovanca memegangi kepalanya.
Bram menjadi sangat panik melihat putrinya meringis kesakitan.
"Yang mana yang sakit sayang, maafkan Dad, Nak." sesal Bram.
"Tapi boongan," ucap Jovanca terkekeh senang. Yang yang melihat putrinya ceria menjadi senang. Setidaknya putrinya tak kesakitan lagi.
"Nakal ya putri, Daddy," Bram menarik hidung mancung Jovanca pelan.
"Jovanca! ......"
Panggil seseorang yang baru saja masuk.
"Nanda, Ayah, Bunda." Lirih Jovanca.
Nanda menghampiri Jovanca dan memeluknya erat. Ia sangat merindukkan sahabatnya itu. Isak tangis keduanya memenuhi ruangan rawat, Jovanca.
"Hiks.. Hiks.. Maafkan aku. Karena aku, kamu jadi seperti ini. Seharusnya kamu biarkan saja Kak Chelsea menghabisiku,"
Ucap Nanda sesunggukan.
Jovanca melepas pelukannya.
"Ini bukan salahmu. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Atau aku akan marah padamu!" acam Jovanca.
"Tapi.... Ini salahku,"
"Nanda bisa kau keluar," pinta Jovanca dingin. Membuat Nanda melebarkan matanya tak percaya dengan yang di ucapkan, Jovanca.
"Jika kau masih saja meminta maaf, lebih baik keluar saja. Pintu keluar ada di belakangmu,"
Nanda mencibikkan bibirnya.
"Tega sekali dirimu. Baiklah aku tidak akan meminta maaf lagi,"
"Bagus....."
"Bagaimana keadaanmu, Nak?" tanya Rike mendekati, Jovanca.
"Baik, Bun." jawab Jovanca diiringi senyuman tipis.
"Apakah ada yang pusing atau apa gitu?"
Jovanca menggeleng dan menatap wajah kedua orang tua Nanda dan Nanda bergantian.
"Ternyata memang mereka sangat mirip. Bodoh sekali aku tak menyadarinya!" batinya. Dan tersenyum.
"Kamu kenapa sayang,"
Jovanca mengerjapkan matanya teekejut ketika Heri menegurnya.
"Ah... Tidak... Hehe." ucap Jovanca dengan diiringi cenyengirannya.
"Yakin?" tanya Heri.
"Iya... Ayah,"
"Bisakah kita mengobrol saja di luar? Kata Dokter, Jovanca harus banyak istirahat," perintah Bram.
"Tentu saja,"
"Cepat sembuh ya," ucap Nanda. Yang hanya di balas senyuman tipis oleh Jovanca.
Merekapun pergi meninggalkan Jovanca agar istirahat.
...°°°...
Bima sendari tadi memutar-mutar kunci mobilnya dengan pandangan kosong. Ingatannya kembali pada mantan kekasih yang sampai saat ini masih ia sayangi. Ia sudah mencoba untuk melupakanya, tapi hatinya menolak itu semua, seakan melarangnya melupakan wanita itu.
Wanita itu yang membuatnya menjadi pria dingin dan malas berurusan dengan wanita lagi. Karna kepercayaanya telah hilang pada wanita. Selain Adik dan Bundanya.
Dengan kesal Bima membuang sembarangan kunci mobilnya dan menjambak rambutnya sendiri.
"Aaaaaaaarrgghh...." teriaknya mengacak-acak rambutnya.
"Sialan......" umpatnya.
"Gue mohon pergi dari ingatan gue! Bangsat!" umpatnya sekali lagi.
Prang.. Prang....
Bima dengan kasar membanting barang-barangnya. Mengingat wanita itu, selalu menyulutkan emosinya.
Ting... Tong.. Ting.... Tong...
Bima menghentikan aksinya saat ada yang menekan tombol bell apartemenya. Dengan malas ia melangakah membukakan pintu.
Ceklek......
Bugh.....
Bima melayangkan tinjuannya kewajah tampan sahabatnya. Emosinya tambah tersulut saat tau siapa yang menekan tombol bell pintu apartemennya.
"Mampus lo!" geramnya menggertakkan giginya.
Sedangkan Kiki. Ia mengusap sudut bibirnya yang mengeluar kan darah segar, kepalanya terasa sedikit pusing akibat tonjokan Bima yang cukup kuat.
"Tai ya lo! Gue baru aja dateng. Udah kena bogeman lo! Sial bener gue," kesal Kiki dan berlalu melewati Bima, masuk ke apartemen di ikuti Bima.
Kiki mengedarkan pandanganya dan mendapati apartemen Bima yang berantakan, seperti kapal pecah. Kiki jadi merinding ada disini.
"Ini rumah apa kotak sampah," gumam Kiki.
Kiki melangkahkan kakinya menghampiri Bima yang sedang memijat pangkal hidungnya.
"Bagi duit!" pinta Kiki dengan menyodorkan tanganya.
Bima menatap Kiki bingung. Untuk apa sahabatnya ini meminta uang padanya, memang ia Bank.
Kiki yang melihat Bima bingung. Mendengus kesal.
"Lo udah buat wajah gue yang tampan ini jadi bonyok. Jadi lo harus ganti rugi!"
"Emang gue orang tua lo, yang bisa seenak jidat lo pintain uang. Kerja sana!" semprot Bima.
"Gue jadi bonyok kaya gini juga karena elo! Gue gak mau tau, lo harus ganti rugi,"
Bima mengeluarkan dompetnya dari saku celana. Mengeluarkan uang lima ribu rupiah dan memberikanya pada Kiki.
"Segini?" tanya Kiki melongo.
"Lo jadi istri harus prihatin, suami lagi krisis Ekonomi," ucap Bima tanpa ekpresi. Niat mau ngelawak walah garing karena ekspresinya yang datar.
"Jijay gue," Kiki mengendikkan bahunya geli. "Gak mau tau kurang pokoknya. Seginimah buat beli bakso juga kagak dapet, Bim!" geramnya.
"Yaudah Nih! Cerewet amat kaya Emak-emak lagi bunting. Atau.." Bima tersenyum misterius." lo memang lagi bunting ya sayang,"
"Busetdah.. Kepentok dimana ni anak. Kenapa pikirannya jadi segleng gini?" batinnya.
Bima membelalakkan matanya ketika melihat nominal uang yang di tulis Kiki di Cek yang ia berikan.
"Tiga puluh juta?" kagetnya. "Lo mau morotin uang gue! lo kira gue bank lo minta uang sebanyak itu!" kesalnya.
"Ye... Ini belum seberapa kali. Ini masih kurang sebnernya, tapi karena gue baek sama lo, jadi gue minta segini aja. Lumayan buat kencan sama pacar gue nanti malem," ucap Kiki.
"Lo kok bangsat, Ki!"
"Gak papa. Gue pergi dulu ya suamiku, jangan lupa beresin rumahnya. Istrimu ini mau cari suami baru," kekek Kiki dan melesat pergi meninggalkan Bima yang mengeluarkan sumpah serapahnya.
"Sinting lo," teriak Bima ketika Kiki baru menghilang di balik pintu.
"Nemu dimana lagi gw sahabat kaya gitu!" batin Bima. Dan menggelengkan kepalanya.
Bima mengedarkan pandangan matanya kepenjuru apartemen miliknya. Ia menggelengkan kepalanya melihat semua barang-barangnya berantakan dimana-mana.
"Gue yang berantakin, gue juga yang beresin. Kek nya gue harus cepet cari istri biar ada yang beberes," gumamnya pelan.
Iapun akhirnya membereskan apartemenya yang tampak seperti kapal pecah.
... ________...
...______...
Hening.
Keheningan terjadi antara Nanda dan Aldi. Mereka sama-sama terdiam sejak lima belas menit yang lalu. Tidak ada di antara mereka yang ingin memulai pembicaraan lagi, semua sibuk-dengan fikiranya masing-masing.
Nanda beranjak dari duduknya, dan akan melangkahkan kakinya pergi. Namun di tahan oleh Aldi.
"Kamu mau kemana?"
Nanda memutar bola matanya malas. "Mau pulang! Lagian buat apa disini, jika hanya diam seperti ini, lebih baik aku pergi!"
Aldi menghembuskan nafasnya kasar.
"Duduklah," perintahnya.
Nanda mendudukan tubuhnya kasar di kursi restoran.
"Apasih, Kak!" kesalnya.
"Jawab pertanyaanku, kamu ada hubungan apa sama, Fatur,"
Nanda mendengus kesal, selalu itu yang Aldi tanyakan, bahkan Nanda sudah memberikan jawabannya. Tapi sepertinya pria di depannya ini sangat keras kepala.
"Aku sudah bilang. Aku hanya berteman denganya!"
"Aku tak percaya!"
"Ya sudah bukan urusanku kau mau percaya atau tidak. Tapi memang itu kenyataannya. Dan kenapa kau selalu bertanya itu dan itu lagi, kau itu siapa? Selalu ingin tau urusanku. Mau aku dekat dengan siapa, juga bukan urusanmu, Kak ALDI!" Nanda menekan Nama aldi di kalimat terahirnya.
"Jelas ini urusanku, Nanda! Aku menyukaimu bahka mencintai dirimu, dan aku yakin kau juga begitu." Bentak Aldi. "Kenapa kau kekanakan sekali, plinplan dengan perasaan sendiri. Mudah berpaling hati," lanjutnya dengan suara yang lebih pelan.
Sontak saja semua orang yang sesang berada di restoran memandang mereka berdua heran. Tapi mereka berdua sama sekali tak mempedulikan tatapan pengunjung restoran.
Mata Nanda berkaca-kaca, sudah siap untuk meluncurkan kristal bening di pipinya. Ia tak pernah menyangka jika Aldi akan membentaknya. Yang ia tau lelaki di hadapannya ini punya hati yang lembut dan penuh kasih sayang. Tapi hari ini, lelaki itu telah membentaknya.
Aldi yang menyadari Nanda mengeluarkan air mata karena dirinya menjadi sangat bersalah. Ia sadar, tak seharusnya ia membentak wanita yang sangat ia cintai ini.
"Nanda... Ak..aku..."
"Udah puas sekarang, Kak!" bentak Nanda, membuat Aldi terkejut. "Sudah puas, Hah."
"Nanda... Aku.." Aldi mencoba merain tangan Nanda, Namun di tepis gadis itu dengan kasar.
"Nanda kecewa sama Kak Aldi!" ucapnya menyerka air matanya kasar.
"Nand.. Kak Aldi gak maksud kaya gitu,"
"Mulai sekarang jangan temui, Nanda lagi,"
Deg....
Detak jantung Aldi serasa telah berhenti berdetak mendengar pernyataan orang yang sangat dicintainya.
"Mulai sekarang jangan temui, Nanda lagi,"
Kata-kata itu masih tergiang jelas di telinganya.
Apakah wanita di depannya ini sedang bercanda, bagaimana bisa ia tidak menemuinya.
"Kamu becandakan, Nand?" tanya Aldi.
"Nanda, gak becanda. Nanda gak suka sama cowok yang kasar, kaya Kakak,"
"Kakak minta maaf, Kakak hilaf. Kamu maukan maafin Kak Aldi. Plis jangan suruh aku untuk tidak menemuimu, karna aku gak akan bisa," pinta Aldi.
"Nanda, gak peduli!",teriaknya.
Nanda pergi meninggalkan Aldi yang menatapnya sedih sama sepertinya. Tapi mau bagaimana lagi, ia sudah terlanjur kecewa dengan Aldi.
"Argh....... Bodoh lo, Al. Bodoh," ucapnya menjambak rambutnya sendiri. Iapun bergegas mencari Nanda, tapi ia kehilangan jejaknya.
Nanda terus berlari tanpa arah, air matanya terus saja mengalir di kedua matanya. Ia Masih tak menyangka Aldi membentaknya
seperti itu. Katakan saja jika ia wanita yang cengeng, bagaimana tidak, orang yang spesial di hatinya membentaknya, sakit bukan?
Ia menjatuhkan tubuhnya di pinggir jalan dengan air mata yang masih tetap mengalir.
"Hiks.... Hik.... Hik...."
Isak tangisnya terdengar memilukan.
"Nanda," panggil seseorang dengan menepuk pelan bahunya.
Nanda mendongakkan kepalanya dan mendapati lelaki yang ia kenal di hadapannya. Dengan cepat Nanda menghambur kepelukanya lelaki itu.
"Fatur... Hik.. Hik..."
Fatur membalas pelukanya dan mengusap punggung Nanda, agar perempuan di pelukanya merasa lebih tenang.
"Kenapa?" Fatur bertanya setelah Nanda merasa tenang.
"Kak, Aldi," lirihnya.
"Ada apa dengannya?"
Nanda menggelengkan kepala. Bagaimana juga ini adalah masalahnya dengan Aldi, ia tak mau orang lain ikut terseret juga.
"Ya sudah kalau lo tidak mau cerita, tidak apa. Biar gw anter lo pulang ya?"
Nanda mengangguk lemah. Dan Fatur membantu Nanda masuk ke dalam mobilnya, untuk mengantar wanita itu pulang.
"Jangan nangis lagi dong, masa mau gw anter pulang nangis. Nanti orang tua lo, ngira gw ngapa-ngapain lo lagi!"
Nanda menarik sudut bibirnya membentuk senyuman tipis.
"Nah kalau ginikan kaya princess raja," gurau Fatur.
Nanda melayangkan cubitan di pinggang Fatur, membuat lelaki itu memekik kesakitan.
"Cepat jalan!" ketus Nanda.
"Baiklah tuan putri, saya akan mengantar tuan putri kesinggah sana," ucap Fatur.
Nanda tersenyum atas perkuan Fatur padanya. Tak lama setelah itu, Fatur melesatkan mobilnya menuju rumah, Nanda.
Tanpa mereka sadari, seseorang menatap mereka berdua dengan kedua tangan yang mengepal kuat menahan amarahnya. Susah payah dirinya menahan emosi dirinya agar tidak meluap.
"Rupanya ini yang kamu bilang teman, Nanda. Apakah kau telah mencintai dirinya, Bukan diriku lagi?" gumamnya.
Ia melesatkan mobilnya dengan kecepatan di atas-rata, seperti pembalap profesional, emosinya telah merasuki dirinya.
Ciiiitt.............
Aldi mengerem mobilnya tiba-tiba. Hampie saja ia menabrak mobil di depanya jika ia tak menghentikan mobilnya.
Nafasnya bergemuruh, emosinya belum juga mereda samapai saat ini. Ia melesatkan mobilnya dengan kecepatan tinggi, bahkan terkesan ugal-ugalan.
...°°°\=\=...
seru dan bagus ceritanya
Jangan lupa mampir di ceritaku juga ya kak
You're my first love