Indonesia
NovelToon NovelToon
Penantian Restu

Penantian Restu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: way way

Oei Sansan atau memiliki nama indonesia Sania Winata adalah seorang gadis cantik keturunan tionghoa dengan kehidupannya yang tidak pernah kekurangan,umurnya menginjak 19 tahun yang berstatus sebagai Mahasiswa disalah satu universitas di kota kelahirannya.

Ketidaksengajaan atau memang takdir yang mempertemukan sania dengan seorang laki-laki 5 tahun lebih tua darinya sebut saja Wirya Dirga, Wirya Dirga seorang pemuda dari kota keraton dan memang orang tua Wirya seorang abdi dalam keraton yang sangat menjunjung adat istiadat keraton dan keluarga Wirya yang disegani di lingkungannya karena ke sholehan dan tata kramanya.

Pertemuan diawali saat Wirya Dirga mengurus pendaftaran masuk universitas untuk adik kandungnya yang bernama Ega Arga, tidak sengaja saat antri pendaftaran sania dan wirya mata mereka saling bertemu dan saling memberikan senyum.

kelanjutan kisahnya langsung dibaca di novel ini apakah akan sad ending atau happy ending, selamat membaca bestiee.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon way way, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertumbuh

Enam bulan kemudian, untuk perkebunan yang di kelola Wirya tanpa investasi dari Pabrik Gula sudah mulai bertumbuh dan mulai pekerja memberi pupuk agar lebih subur. Sekitar 4-5 bulan lagi seharusnya sudah mulai bisa di panen, masa pertumbuhan tebu dari pembibitan sampai panen adalah kurang lebih 11 bulan, jadi bisa di bilang setahun hanya panen sekali, itu lah mengapa untuk modal benar-benar besar di awal, akan tetapi jika sudah penanaman di tahun kedua normalnya, untuk bibit tidak perlu semua tetapi banyak tunas yang tumbuh dari tumbuhan sebelumnya, itulah yang akan membuat biaya mengecil karena untuk bibit tidak perlu 100% membeli kembali hanya sekitar 20% untuk menyulami tunas yang kurang bagus atau tunas yang memang sudah tidak tumbuh. Di sini perkebunan tebu akan mendapatkan keuntungan lebih saat tahun kedua sampai kelima karena didapat dari pertumbuhan tunas rata-rata tahun kedua sampai kelima ini sangat baik, penyulaman sedikit menghemat bibit dan pekerja untuk penanaman bibit tidak diperlukan lagi seperti penanaman di tahun pertama.

Pagi ini Adiyan mulai masuk PAUD, yang ditemani oleh Sansan ke sekolahnya, kebetulan Bu dhe Putri sangat akrab dengan kelurga Wirya-Sansan, jadi setiap Sansan mengantar Adiyan ke PAUD yang tidak jauh dari Rumahnya, Bu Dhe Putri akan membantu menjaga Sesti di Rumahnya, Sesti pun sudah mulai duduk dan merangkak. Pertumbuhan kedua anak Wirya-Sansan sangat baik, tetapi antara Adiyan dan Sesti dari kecil sudah terlihat lebih cerewet Adiyan daripada Sesti yang perempuan.

Perkebunan yang di kelola Wirya di tanah orang tua nya bekerjasama dengan Pabrik Gula kota S, juga sangat memuaskan setiap panennya. Setiap selesai panen dari Pabrikpun akan memberikan bonus gula lebih dari 2 kwintal atau 200 kg, tergantung dari hasil per tahun masa panennya, belum lagi keuntungan dari panen akan di berikan Pabrik setelah perhitungan 2 bulan setelah selesai Panen dan di olah menjadi gula, untuk Perkebunan yang di kelola Wirya dan dana sendiri oleh Wirya akan di jual di Pabrik tebu Kota G yang sebelumnya sempat iya tawarkan kerjasama akan tetapi pabrik G tidak berani investasi seperti Pabrik Gula Kota S.

Sore itu saat Wirya bersiap untuk pulang dari perkebunannya, handphonenya berdering.

"Selamat sore, benar dengan Pak Wirya?" terdengar sapaan di telepon yang Wirya jawab.

"Benar Bu, ini dengan Ibu siapa dan dari mana?" jawab Wirya.

"Perkenalkan Pak, saya Indah dari Pabrik Gula Kota K, bermaksud untuk mengundang Pak Wirya dalam seminar Sharing Ilmu Bisnis tebu, ini kami adakan bertepatan dengan ulang tahun Pabrik kami yang ke 25 tahun, kami mendapatkan nomor bapak dari Pabrik Tebu Kota S dan kami menerima rekomendasi untuk bapak ikut join dalam seminar tersebut jika bapak bersedia?" jelas Perempuan yang menelepon Wirya.

"Oke baik Bu, Apakah saya perlu mendaftar dan membayar untuk ikut seminar atau bagaimana?" sambung Wirya.

"Tidak pak, kami mengundang Bapak sebagai tamu sebagai salah satu pengusaha dalam bidang perkebunan tebu, dan sharing ilmu terkait perkebunan tebu, bahkan kami ada permainan yang nantinya bisa mendapatkan doorprize hadiah, jadi acara ini gratis khusus tamu undangan yang kami hubungi, terimakasih?" jelas Perempuan itu lagi.

"Baik Ibu Indah, terimakasih sudah mengundang dan memberikan kesempatan kepada saya, adakah yang perlu saya siapkan jika saya datang ke seminar tersebut?" tanya Wirya lagi.

"Tidak pak, jika Pak Wirya berkenan hadir, akan kami kirimkan surat undangan resminya melalui chat dan juga kami daftar kehadiran bapak di daftar kami. Apakah masih ada yang belum jelas Pak?" jawab perempuan lagi untuk lebih menjelaskan.

"Cukup jelas Bu, bisa di bantu Hari, tanggal , Waktu dan tempat seminarnya bu?" tanya Wirya lagi

.

"Baik, seminar akan kami laksanakan di hari sabtu, 18 Juli Pukul 09.00 pagi sampai selesai bertempat di Aula Gedung AK, samping Pabrik Gula Kota K, untuk lebih detailnya nanti tercantum dalam surat undangan resminya ya Pak?, Apakah anda bersedia hadir?" sambung perempuan tersebut menjelaskan dan memastikan kehadiran Wirya.

"Baik Bu, Bisa, saya akan Hadir, terimakasih!" jawab Wirya.

"Baik terimakasih Pak Wirya untuk waktunya, kami segera mengirimkan surat undangan resmi via chat ke nomor Bapak ini, terimakasih, selamat sore!" Perempuan tersebut mengakhiri telepon.

Wirya segera pulang, dan seperti biasa langsung bersih-bersih, ibadah dan makan malam, saat makan malam Wirya pun berbincang dengan Istri dan anak sulungnya (Adiyan), sementara Sesti duduk di kursi bayi di samping Sansan sambil menyuapinya. Adiyan pun sudah mandiri makan sendiri, mungkin karena anak pertama laki-laki yang membuat Adiyan lebih mandiri dan juga melihat Mamanya sudah repot dengan adiknya Sesti.

"Tadi Papa, di telepon dari Pabrik Gula Kota K, mengundang seminar besok sabtu, nanti kalian ke rumah Akung  dan Eyang putri ya?" jelas Wirya memulai obrolan.

"Memang berapa lama Mas?" tanya Sansan.

"Undangannya dari jam 9 pagi sampai selesai, ya kemungkinan sampai selesai makan siang, tapi belum tau nanti aku chat jika sudah tau?" jawab Wirya.

"Kalau kelamaan, tidak enak repotin Ibu, apalagi Nuri sudah kerja entar pasti merepotkan Ibu?" sambung Sansan.

"Mererepotkan bagaimana?, Ibu senang pasti cucunya pada main lama di rumahnya, tenang saja ya!" sambung Wirya menyakinkan Istrinya.

"Iya sudah, nanti sekalian aku mau belajar menanam sayuran di belakang rumah itu seperti punya Ibu!" sambung Sansan"

"Nah begitu donk, Sekalian Ibu dan bapak ketemu cucunya , Kamu sekalian belajar hehehehhe....!" ledek Wirya.

Akhirnya hari sabtu, pagi-pagi Wirya-Sansan sudah langsung segera menyiapkan pakaian dan juga susu perlengkapan Sesti dan Adiyan untuk di bawa ke rumah Ibunya (Orang tua Wirya). Wirya setelah mengantarkan Istri dan kedua anaknya ke Rumah orang tuanya segera ke tempat seminar di Kota K.

Sementara itu, dengan penuh keramahan orang tua Wirya bermain dengan cucunya yang sudah lumayan lama tidak bertemu.

"San, kamu dan Wirya kalau sibuk Sesti atau Adiyan biar di rawat Ibu tidak apa-apa, Nuri sudah kerja ini, Ibu seringnya di rumah sendirian!" Ibu mertua Sansan mulai obrolan sambil menemani bermain Sesti dan Adiyan di teras Rumahnya.

"Adiyan sudah mulai sekolah Bu, jadi tidak bisa, nanti Ibu kecapekan lagi Sesti sudah kemana-kemana merangkaknya tidak bisa anteng?" jawab Sansan masih agak kaku karena sudah lama tidak bertemu dengan mertuanya.

"Ya sudah nanti Ibu yang sering main ke Rumah kalian, tapi sayang nya ibu tidak bisa naik motor kalau bukan sama Akung (Bapak Wirya), masak jalan kaki, kalau dekat Ibu sering main bermain dengan cucu Ibu?" sambung Ibu mertua Sansan.

"Iya Bu, nanti Sansan usahain, jika pas Mas Wirya bisa anterin sering kesini?, Iya Bu, sekalian Sansan mau belajar menanam sayuran seperti di kebun belakang Rumah itu Bu!" sambung Sansan berniat belajar menanam sayuran sambil menunjuk tanaman di belakang Rumah mertuanya.

"Boleh, kamu mau menanam sayuran apa saja?" tanya Ibu Mertuanya.

"Yang mudah hidup, dan cepat panen apa ya Bu?" tanya Sansan.

"Semua cepat hidup dan panen kalau sayuran, untuk awal-awal coba tanam Kangkung, Bayam, Kacang panjang, Terong itu cukup cepat dan mudah hidup?, sebentar Ibu carikan bibitnya Ibu masih ada sepertinya?" jawab Ibu mertuanya sambil beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah belakang Rumah.

Sekitar 5 menit Ibu mertuanya kembali dari arah belakang rumah membawa kantong plastik.

"Nah ini, masih ada bibit Wortel, Bayam dan Cabe, bawa saja di tanam di Rumah kalian!" Ibu mertuanya menyodorkan bibit-bibit yang dia sebutkan ke Sansan.

"Kangkung beli saja di toko pertanian banyak dan kalau mau yang lain juga banyak, tapi coba itu dulu saja jika kurang paham nanti telepon Ibu saja sekalian kamu praktekan menanam ya?" jelas Ibu mertuanya.

"Iya Bu, terimakasih, maaf jadi merepotkan Ibu terus!" jawab Sansan merasa tak enak dengan Ibu mertuanya.

"Apa kamu ini, namanya orang tua apa yang bisa di bantu untuk anaknya pasti di bantu atau di berikan?, kamu jangan tidak enakan terus sama ibu?" jelas Ibunya melihat menantunya merasa tidak enak kepada nya.

"Iya Bu, tapi kadang seperti tidak seimbang saja, orangtua saya tidak pernah memberikan apa-apa, bahkan melihat cucunya saja tidak mau!" jelas Sansan mengingat orang tuanya.

Sansan tetap merindukan orang tuanya yang sudah lama tidak bisa bersama.(....)

"Sudah, sudah kenapa malah sedih, lihatlah anak-anakmu tumbuh dengan baik, suatu saat nanti pasti orang tuamu saat melihat cucu-cucunya sudah tumbuh dengan baik pasti bisa menerimanya, sudah jangan sedih lagi?" Ibu mertuanya memeluk Sansan yang sudah terlihat akan meneteskan air mata.

"Hikks...hikkkkss....hikkk.....?" akhirnya air mata Sansan menetes, menangis dalam pelukan mertuanya.

"Huaaa....huaaaa.....?" terdengar suara tangisan Sesti melihat Mamanya menangis.

"Cup....cup!" Ibu mertuanya segera menggendong Sesti yang mulai menangis.

Ada sesuatu yang masih mengganjal dalam hati Sansan, Saat melihat kasih sayang mertuanya yang sangat baik menerima dirinya dan anak-anaknya, dan yang menjadi pertanyaan sampai kapan Papa, Mamanya akan bisa seperti mertuanya?, bahkan saat ini Adiyan (anak sulungnya) sudah PAUD hampir lima tahun sedikitpun tidak goyah hati orang tuanya (Sansan). tapi Sansan sangat bersyukur bertemu dengan Wirya dan berjodoh dengan Wirya yang sangat menghargai dirinya, dan mencintainya sampai sekarang dan berharap akan terus seperti ini, dan bersyukur anak-anaknya tumbuh berkembang dengan baik, memiliki mertua yang baik dan usaha suaminya semakin membaik. Harus terus bersyukur jika tuhan ingin menambahkan rejeki dan kebahagian kita.

Lanjut part selanjutnya ya....!

Bagaimana hasil seminar dan bisnis Wirya kedepannya?

Apa kabar adik-adik Wirya dan Sansan?

Ditunggu ya...!

1
~**Alfi_Pjm** ~💜💜💜
❣️
Eka Sari Agustina
👍👍👍👍👍
way way: thank you kak
total 1 replies
Oralie
Bikin deg-degan.
way way: yeeeaaa ditunggu ya kak,,,ada kejutan duaar hohoho🙏☺️
total 1 replies
Asri Irwansyah
Aduh, cliffhanger-nya bikin saya gak tahan nunggu, ayo lanjutkan thor!
way way: siap kak, ditunggu ya🙏😊
total 1 replies
way way
ditunggu updatenya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!