"Tangan Naya melayang tepat di depan butik berlian. Satu tamparan untuk Dimas yang berani memukulnya, dan detik itu juga pernikahan mewah itu batal. Tapi nasib punya selera humor yang kejam karena keesokan harinya ia justru berdiri di altar sebagai pengantin pengganti untuk Arga Kusumaatmaja. Konglomerat dingin yang terkurung di kursi roda, pria yang tatapannya saja sanggup membekukan seluruh ruangan, dan perjanjian bisnis yang mengikat mereka lebih erat dari sumpah pernikahan mana pun.
Semula hanya transaksi di atas kertas. Namun ketika keluarga Wiratama mulai menebar fitnah dan mengirim ancaman, Naya dan Arga justru berbalik menjadi tembok bagi satu sama lain. Di tengah rahasia yang berlapis dan kebohongan yang siap meledak kapan saja, mereka menemukan sesuatu yang tidak tertulis dalam kontrak. Bahwa cinta sejati tidak pernah datang sebagai pengganti. Ia datang sebagai pilihan. Dan kali ini, Naya memilih "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20 - Aku Tidak Akan Memaafkan
Dimas ditahan untuk pemeriksaan lanjutan pada hari yang sama.
Keluarga Wiratama mencoba menahan berita, tapi mustahil. Terlalu banyak orang melihat polisi datang ke gedung Wira Kencana. Terlalu banyak staf mendengar teriakan Dimas. Terlalu banyak jejak digital dari drama sebelumnya yang sudah membuat publik lapar kelanjutan.
Dalam dua belas jam, nama Dimas Wiratama kembali memenuhi media sosial.
Bedanya, kali ini simpati publik tidak banyak tersisa.
Video dia mempermalukan Naya di butik muncul lagi.
Potongan video Arga berkata "Aku memilih Naya karena aku mau" ikut naik.
Lalu berita pemeriksaan polisi membuat banyak orang menyusun kesimpulan sendiri.
Naya tidak membaca semua komentar.
Dia punya pekerjaan lebih penting: memberi keterangan, memeriksa luka, dan tidur karena Arga menatapnya seperti sipir rumah sakit setiap kali dia membuka laptop.
"Aku hanya cek email," kata Naya.
"Tidak."
"Kamu belum lihat emailku."
"Aku lihat wajahmu. Itu wajah orang yang akan bekerja tiga jam."
"Aku punya wajah seperti itu?"
"Aku sedang menghafalnya."
Naya meletakkan ponsel dengan kesal. "Suami menyebalkan."
"Pasien bandel."
Di sudut ruangan, Rendra makan bubur kacang hijau sambil menonton mereka seperti menonton drama. "Kalian sadar sedang romantis?"
Naya dan Arga menoleh bersamaan.
Rendra langsung berdiri. "Aku keluar."
Dia benar-benar keluar.
Tidak lama setelah itu, Harun Wiratama datang.
Kali ini tanpa Rina.
Pria itu tampak jauh lebih tua daripada dua hari lalu. Setelan jasnya rapi, tapi pundaknya turun. Dia meminta izin pada Bima sebelum masuk, lalu berdiri di dekat pintu, tidak berani mendekat.
"Naya," ucapnya pelan.
Arga berada di samping ranjang. Wajahnya langsung berubah dingin.
Naya duduk lebih tegak. "Pak Harun."
"Saya datang untuk meminta maaf."
"Baik. Saya dengar."
Harun menelan ludah. "Dimas salah. Saya tidak akan membela tindakannya. Saya hanya... meminta kebijaksanaan."
Naya menatapnya tanpa berkedip.
Kata itu.
Kebijaksanaan.
Selalu dipakai orang berkuasa saat ingin korban menanggung akibat lebih banyak.
"Kebijaksanaan seperti apa?"
Harun mengeluarkan map dari tasnya, tapi tidak berani langsung menyerahkan. "Kami siap mengganti semua kerugian. Biaya rumah sakit, kompensasi, bahkan saham yang sudah kamu jual bisa kami beli kembali dengan harga lebih tinggi jika kamu mau. Saya juga akan meminta Dimas menjalani konseling."
Arga berkata, "Konseling bukan pengganti proses pidana."
Harun menunduk. "Saya tahu, Pak Arga."
"Kalau tahu, lanjutkan dengan hati-hati."
Harun makin pucat.
Naya hampir kasihan. Tapi dia ingat tangan Dimas di pergelangannya. Pintu terkunci. Aroma manis. Kotak kayu yang dipakai sebagai umpan.
Rasa kasihan itu mati cepat.
"Pak Harun," kata Naya, "ketika Dimas menarik saya di depan butik, keluarga Anda berkata saya memancing dia."
Harun menutup mata.
"Ketika saya membatalkan pernikahan, keluarga Anda berkata saya tidak tahu diri."
"Saya minta maaf."
"Ketika ibu Anda--"
"Istri saya," koreksi Harun pelan.
"Ketika Bu Rina membawa amplop dan ancaman, itu juga demi Dimas. Ketika Dimas membawa kamera dan mempermalukan saya, itu juga karena dia emosional. Sekarang dia mengunci saya dalam ruangan dengan zat yang sedang diuji polisi, dan Anda datang meminta kebijaksanaan."
Ruangan sunyi.
Naya melanjutkan, "Di mana kebijaksanaan keluarga Wiratama saat saya yang berdarah?"
Harun tidak punya jawaban.
Arga menatap Naya. Tidak menyela. Tidak mengambil alih.
Naya menghargai itu.
Harun berkata lirih, "Dia anak saya satu-satunya."
"Saya juga anak seseorang."
Kalimat itu membuat Harun terdiam total.
Naya memegang kotak kayu di pangkuannya. "Mungkin bukan anak yang keluarga Adisatria besarkan. Mungkin bukan anak yang keluarga Wiratama anggap pantas dihormati. Tapi saya anak dari orang-orang yang mengajari saya untuk tidak membiarkan orang jahat terus merusak hidup orang lain."
Mata Harun memerah.
"Jadi jawabannya tidak. Saya tidak akan mencabut laporan. Saya tidak akan berdamai. Saya tidak akan memberi surat maaf."
"Naya..."
"Kalau Dimas menyesal, biarkan dia menyesal di depan penyidik."
Harun menggenggam map itu sampai kertasnya melengkung.
Arga akhirnya bicara. "Pak Harun, pengacara kami akan menghubungi Anda. Setelah ini, jangan datang langsung pada istri saya."
Harun mengangguk lemah.
Dia berbalik hendak keluar, lalu berhenti. "Naya, saya benar-benar minta maaf."
Naya tidak menjawab dengan lembut.
Dia hanya berkata, "Saya harap kali ini Bapak tidak datang terlambat untuk mendidik anak Bapak."
Harun pergi.
Setelah pintu tertutup, Naya menyandarkan punggung ke bantal. Tenaganya terkuras lebih banyak daripada saat memberi keterangan polisi.
Arga menyerahkan air.
Naya menerimanya. "Kamu diam."
"Kamu tidak butuh aku bicara."
"Biasanya kamu tetap bicara."
"Aku belajar."
Naya minum sedikit. "Bagus."
Arga menatapnya. "Kamu gemetar."
Naya melihat tangannya. Benar. Jemarinya sedikit gemetar.
"Marah."
"Sedih?"
"Mungkin."
"Takut?"
Naya ingin menolak.
Tapi setelah malam terkunci itu, dia lelah berpura-pura terlalu sempurna.
"Sedikit."
Arga mengulurkan tangan, berhenti di udara. "Boleh?"
Naya meletakkan tangannya di tangan Arga.
Genggaman pria itu menutup pelan.
"Takut bukan berarti kalah," kata Arga.
"Aku tahu."
"Aku hanya mengingatkan."
"Kamu selalu mengingatkan."
"Aku suami."
"Itu bukan lisensi untuk cerewet."
"Sayang sekali. Aku sudah menganggapnya begitu."
Naya menghela napas, tapi tidak menarik tangan.
Siang itu, hasil uji awal dari diffuser keluar. Ada kandungan sedatif ringan yang jika terhirup dalam ruang tertutup dapat menyebabkan pusing, kantuk, dan penurunan respons. Tidak mematikan, tapi cukup untuk memperkuat dugaan bahwa Dimas sengaja membuat Naya lemah.
Laras membacakan laporan dengan wajah puas.
"Ini memperberat posisi Pak Dimas. Ditambah pintu terkunci, ponsel dirampas, dan ancaman sebelumnya."
"Bagus," kata Naya.
Rendra yang kembali masuk bersama kopi berkata, "Bagus sekali. Aku berharap dia dapat kamar dengan ventilasi buruk."
"Rendra," tegur Arga.
"Apa? Aku tidak bilang mau melakukan sesuatu. Aku hanya berharap."
Naya hampir tertawa, tapi tangannya sakit.
Menjelang sore, polisi meminta keterangan tambahan. Arga ingin menemani masuk, tapi Naya berkata dia bisa sendiri. Arga tidak suka, jelas sekali, namun dia tetap menunggu di luar.
Prosesnya melelahkan.
Penyidik menanyakan kronologi dari pesan pertama sampai pintu didobrak. Naya menjawab rinci. Dia menyerahkan rekaman, tangkapan layar, foto, dan daftar saksi. Dia juga menegaskan tidak ada kesepakatan damai.
"Apakah Saudari bersedia jika nanti ada mediasi?"
"Tidak."
"Sama sekali?"
"Sama sekali."
Penyidik mengangguk dan mencatat.
Saat keluar dari ruang pemeriksaan, Naya melihat Arga menunggu di koridor. Dia tidak memakai kursi roda saat itu, melainkan duduk di kursi biasa dengan tongkat di samping. Wajahnya lelah, tapi begitu melihat Naya, dia berdiri sedikit.
"Jangan berdiri," kata Naya.
Arga langsung duduk lagi.
Bima tampak lega.
Naya berjalan ke arahnya. "Aku selesai."
"Mau pulang?"
"Mau."
"Ke rumah sakit atau rumah?"
Naya menatapnya. "Rumah."
Arga mengangguk, lalu memberi isyarat pada Bima.
Di mobil, Naya bersandar. Arga duduk di sampingnya, tidak bertanya apa pun. Dia hanya membuka selimut tipis dan menutupkannya ke pangkuan Naya.
"Aku tidak kedinginan."
"Aku yang kedinginan melihatmu pucat."
"Alasanmu makin buruk."
"Tapi efektif."
Naya membiarkan selimut itu.
Ketika mobil memasuki halaman rumah, Bu Sri sudah menunggu di teras dengan mata berkaca-kaca. Wanita itu ingin memeluk Naya, tapi menahan diri karena takut menyentuh lukanya.
"Mbak Naya, masuk. Sup sudah hangat."
Naya teringat surat Papa Pradipta.
Rumah adalah tempat orang menunggu kamu makan.
Dia menatap rumah Arga.
Lampunya hangat.
Bu Sri menunggu.
Arga di sampingnya.
Untuk pertama kalinya, kata pulang tidak terasa terlalu asing.
Malam itu, sebelum tidur, Naya membuka ponsel dan mengirim pesan pada nomor lama yang sudah bertahun-tahun ada di daftar kontak khususnya. Teman anonim yang ia kenal sejak masa kuliah, yang tidak pernah bertanya lebih dari yang boleh ditanya.
Naya: Aku menikah. Hidupku kacau, tapi mungkin aku baik-baik saja.
Balasan datang beberapa menit kemudian.
Teman itu memakai nama pengguna: Masih Ada Esok.
Masih Ada Esok: Kalau kamu masih bisa menulis "mungkin", berarti masih ada ruang untuk baik-baik saja.
Naya membaca pesan itu lama.
Di sisi kiri ranjang, Arga sudah berbaring, matanya terpejam.
Naya tidak tahu kenapa, tapi malam itu dia meletakkan ponsel lebih dekat ke dada.
Dan saat Arga bertanya pelan, "Mimpi buruk?"
Naya menjawab, "Belum."
Arga berkata, "Kalau datang, aku di sini."
Naya memejamkan mata.
"Aku tahu."
setiap pemeran memiliki karakternya kuat .
authornya the best