Sejak awal, Arini tahu posisinya. Dia bukan pilihan pertama.
Dia hanya "rumah singgah" bagi Rayhan yang hatinya masih tertinggal di masa lalu, di pelukan Sahira.
Bertahun-tahun Arini bertahan, berharap Rayhan akan memilihnya.
Sampai suatu hari Sahira kembali, sakit, dan butuh Rayhan lebih dari siapapun.
Di persimpangan itu Arini dihadapkan dua pilihan: bertarung mempertahankan, atau pergi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Tiga hari berlalu sejak perceraian itu, Arini kini menuju rumah tempat dia tinggal bersama Rayhan dulu untuk mengepak semua barangnya, dia menatap sekelilingnya dengan tatapan nanar.
Dia akan memulai hidupnya yang baru tanpa Rayhan, tanpa masa lalu dan semua yang menyakitkan yang pernah dia rasakan, beruntung dia tidak bertemu dengan Rayhan untuk saat ini, dia tidak tahu harus berkata dan bersikap seperti apa saat mereka bertemu lagi sebagai orang asing.
Tapi harapannya itu hanya terasa kosong karena saat dirinya sedang sibuk mengepak barangnya Rayhan datang tanpa dia tahu.
"Arini?". cicitnya pelan.
Dia melihat perempuan yang dulu begitu mencintainya sepenuh hati dan dia sia-siakan selama ini untuk mengejar perempuan Matre dan hanya memanfaatkannya.
Rasa penyesalan begitu menumpuk didadanya kini, matanya langsung berkaca-kaca melihatnya.
Arini yang baru sadar jika Rayhan ada disekitarnya kini membeku, tapi kembali merilekskan badannya dan tidak berpaling dari benda-benda miliknya itu. Dia tidak peduli jika Rayhan sejak tadi memperhatikan dirinya, baginya dia hanya akan membawa barangnya dan keluar dari sini.
"Kamu datang?". Ucap Rayhan pelan.
Dia menatap Arini penuh penyesalan dan juga kehampaan tapi begitu melihat Arini berbalik dan menatapnya Dnegan tatapan dingin membuat darahnya membeku seketika.
Dulu mata itu memancarkan cinta dan kehangatan yang besar untuknya, kini tatapan itu hanya penuh dengan kebencian dan luka yang disebabkan olehnya.
"Tenang saja, saya tidak akan mengambil yang bukan hak saya, saya bukan orang yang tidak tahu diri seperti wanita mu itu". Jawabnya dengan sarkas
Rayhan menunduk dalam, kata-kata itu seperti pisau yang menancap pada relung hatinya, selama ini dia selalu mengatakan pada Arini jika dia bukan siapa-siapa dan tidak berhak atas apapun miliknya dan ketika dia mengatakan itu hatinya begitu nyeri.
"Bukan itu Rin, aku hanya ingin mengobrol denganmu sebentar". Jawabnya pelan nyaris terdengar seperti bisikan .
Tapi perkataan itu bisa didengar baik oleh Arini yang kini memalingkan wajahnya kembali sambil terus mengepak barangnya.
Dia tertawa sumbang dan dingin membuat Rayhan seakan hilang kata-kata.
"Kita sudah berakhir dan tidak ada yang perlu dibahas diantara kita, kamu dan aku hanya orang asing yang kebetulan bertemu lagi disini dan setelah ini jangan pernah memunculkan wajahmu dihadapanku dan bila kita bertemu tanpa sengaja, pastikan kamu tidak menyapa atau apapun itu". Jawabnya dengan dingin
Degh..
Aliran darah Rayhan berhenti seketika, matanya memanas mendengar perkataan telak dari Arini yang betul-betul menghancurkan hatinya.
"Aku tahu selama ini salah padamu Rin, bisakah kamu memberi aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya?". Tanyanya penuh harap dan suara bergetar.
Arini tertawa pelan dan suaranya ikut bergetar menahan amarahnya.
"Kesempatan?".
Kini dia berdiri dan berbalik menatap Rayhan dengan penuh luka.
"Kesempatan yang kuberikan sudah habis Rayhan".
"Kau sudah menghancurkan segala kesempatan yang kuberikan selama 6 tahun dan kamu menyia-nyiakan semuanya dan kamu berharap sekarang ingin diberi kesempatan?".
Arini tertawa sambil menggelengkan kepalanya Dnegan tatapan dingin.
"Apa jalang itu sudah menunjukkan sifat aslinya jadi kamu berpaling padaku karena sudah tahu bagaimana dirinya sebenarnya?".
Rayhan menunduk pelan, dan itu sudah cukup menjadi bukti bahwa perkataan nya itu benar adanya.
Arini terkekeh penuh tatapan mengejek.
"Kamu pikir aku barang yang bisa kamu ambil dan buang sesuka hatimu ketika kamu suka dan begitu kamu tidak menginginkannya kamu bisa membuangnya seenaknya?".
Rayhan semakin menunduk dengan airmata mulai mengalir dipipinya, ini pertama kalinya dia melihat Arini sebagai seorang berbeda dan sekarang dia menyesali segalanya, dia menyesal karena telah membuat orang yang begitu mencintainya terluka sedalam ini.
"Kamu sudah Tidka cukup berharga untuk bisa meraih aku lagi Rayhan, bagiku kamu cuma lelaki sialan yang tidak tahu malu dan tidak layak untuk diperjuangkan, aku terlalu bodoh pernah jatuh cinta pada lelaki otak udang seperti mu".
Kalimat sarkas dan penuh penghinaan itu dia layangkan kepada Rayhan, dia sudah tidak peduli jika Rayhan marah dan membencinya ,toh mereka sudah bukan siapa-siapa lagi.
"Rin". Ucapnya dengan suara bergetar hebat.
Ini pertama kalinya dia merendahkan harga dirinya pada seorang wanita selain Sahira saat itu, dan Arini bahkan tidak sudi melihat dan bahkan memakinya, harga dirinya begitu terhina dan terluka.
"Diamlah Rayhan, aku sudah tidak ingin berurusan denganmu, aku datang hanya mengambil barangku saja, dan tenang saja tidak ada barangmu sepeserpun aku ambil".
Dia lalu terkekeh miris, mengingat jika selama bertahun-tahun menikah Rayhan bahkan tidak pernah menafkahi dirinya jadi barang apa yang ada dia beli dari uangnya, tidak ada.
"Lagian selama ini, kamu Tidka pernah menjalankan tugasmu sebagai suami, kau hanya menyediakan rumah tapi kamu tidak tahu, didalamnya akulah yang membayar dan mengatur segalanya , jadi tidak ada satu sen pun uangmu yang bisa kurasakan".
Rayhan semakin menunduk malu, dia sangat royal pada Sahira selama ini tapi untuk istrinya sendiri tidak ada uang apapun yang dia berikan walau hanya 100 rupiah saja.
Tapi Arini Tidka pernah mengatakan apapun, dia bahkan masih sempat memberikannya makanan enak walau tidak pernah dia makan, masih tetap membayar listrik dan air, membersihkan rumah dan juga mengurus pakaiannya.
Uang dari hasil kerja kerasnya malah lebih banyak dia beri kepada orang yang jelas-jelas memanfaatkan dirinya.
"Maafkan aku". Ucapnya Dnegan penuh penyesalan
"Jika kata maaf bisa menyelesaikan semua masalah maka tidak akan ada Penjara tuan Rayhan".
"Lagian permintaan maaf mu itu sudah basi dan sudah tidak bermanfaat, untuk apa?".
Rayhan semakin menunduk mendapatkan luapan emosi dan amarah dari Arini, dia tidak tahu bagaimana menyembunyikan wajahnya yang sangat malu itu.
"Sudahlah, aku tidak ingin bicara denganmu, pergilah dan menjauh dariku karena aku akan menyelesaikan pekerjaanku sekarang juga karena mobil yang aku pesan akan datang sejam lagi".
Rayhan tak bergeming, dia berdiri ditempatnya tetap menatap Arini dengan perasaan tak menentu, andai bisa mengulang waktu dia tidak akan bertindak bodoh dengan menyia-nyiakan gadis baik dan juga sabar seperti Arini.
Sekarang dia sudah kehilangan segalanya, kehilangan orang tuanya, kehilangan orang yang begitu mencintainya dan juga dia ditipu oleh orang di cintainya, entah kesialan apa lagi yang dia dapatkan setelahnya.
Arini yang melihat Rayhan mematung ditempatnya langsung membuang muka, dia semakin bergegas untuk membereskan barang miliknya tanpa memperdulikan kehadiran lelaki itu.
Masa bodoh dengan penyesalan yang tidak ada gunanya itu, hatinya sudah mati dan beku pada lelaki yang dulu dia cintai sepenuh hati itu.
"Rin, apa kita tidak bisa kembali, aku menyesal".
semoga bos nya gk pilih kasih walau rayhan Salah ttp hrs di Pecat.
Cerita ini bagus tidak bertele-tele ,tapi sayang upnya lama , hingga lupa alurnya.