Dua tahun lalu, Rian dengan dingin meletakkan surat perceraian di hadapan Nadia. Saat itu, Nadia rela melepaskan segalanya demi mendukung impian suaminya. Namun Rian memandangnya rendah, menganggapnya tak berguna, dan memilih meninggalkannya demi wanita yang ia harap bisa mempercepat kesuksesannya.
Rian tak pernah tahu, wanita yang ia usir itu adalah pewaris tunggal Grup Arka—perusahaan raksasa yang namanya disegani. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya saat menikah, ingin dicintai apa adanya, namun justru diperlakukan semena-mena.
Setelah berpisah, Nadia bangkit kembali. Ia memimpin Grup Arka dengan tegas dan cerdas, menjadi CEO misterius yang dikagumi banyak orang. Sementara itu, Rian berjuang mengembangkan usahanya sendiri, tak sadar bahwa semua peluang besar yang ia cari kini berada di tangan mantan istrinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: MEMORI YANG KEMBALI MENGHANTUI
BAB 35: MEMORI YANG KEMBALI MENGHANTUIBeberapa hari setelah pertemuan di rumah lama itu, ketenangan yang sempat terjalin perlahan mulai kembali goyah—bukan karena orang lain, melainkan karena kenangan sendiri yang tiba-tiba menyeruak masuk tanpa diundang.
Rian mulai sering terbangun di tengah malam, keringat dingin, dengan bayangan wajah Nadia yang terluka di hadapannya seolah baru saja terjadi kemarin. Setiap kali melihat meja makan, ia teringat surat perceraian yang ia letakkan di sana dengan dingin. Setiap kali mendengar suara hujan, ia teringat bagaimana Nadia dulu menunggunya pulang dengan pakaian basah dan wajah penuh harap, namun sering kali hanya disambut dengan ketidakpedulian.
Memori itu bukan lagi sekadar ingatan, melainkan seperti suara yang terus berbisik di telinganya: "Kau yang membuangnya. Kau yang memilih jalan ini. Dan sekarang, meski kau menyesal sekuat tenaga, apa yang bisa kau berikan padanya yang belum pernah kau ambil dulu?"
Pikiran itu membuatnya gelisah di siang hari. Ia menjadi lebih pendiam, sering melamun di tengah rapat, dan wajahnya terlihat semakin lelah seiring berjalannya waktu. Nadia yang peka terhadap perubahan sikapnya pun menyadari hal itu. Suatu sore, saat semua orang sudah pulang, ia mampir ke ruang kerja Rian yang pintunya masih sedikit terbuka.
"Kau seharusnya sudah pulang sejak tadi," ucap Nadia pelan sambil melangkah masuk. Ia melihat Rian menatap foto lama di meja—foto pernikahan mereka yang sedikit kusut, seolah sering dipegang dan disimpan kembali. "Dan sejak kapan kau menyimpannya?"
Rian tersentuh, segera menutup foto itu dengan tangan yang bergetar. "Maaf... aku tidak bermaksud menyembunyikannya. Aku menemukannya di dalam buku yang kau kembalikan dulu. Dan sejak hari di rumah itu... semuanya kembali datang. Semua hal yang dulu aku abaikan, semua kata-kata kasar yang pernah aku ucapkan... seolah tertulis jelas di kepalaku."
Nadia duduk di kursi seberang, menatapnya dengan tatapan yang penuh pengertian namun tetap tegar. "Memori itu memang begitu, Rian. Ia tidak akan pergi begitu saja hanya karena kita menginginkannya. Ia datang untuk mengingatkan kita agar tidak mengulang kesalahan yang sama."
"Tapi rasanya seperti dihukum setiap hari," keluh Rian pelan, suaranya bergetar. "Setiap kali melihatmu berdiri tegak dan begitu hebat, aku justru semakin teringat betapa kecilnya aku di hadapanmu dulu. Aku ingat bagaimana kau selalu menanyakan hariku, bagaimana kau menyiapkan makanan kesukaanku meski lelah, bagaimana kau tersenyum agar aku tidak khawatir... padahal hatimu sedang hancur."
Air mata perlahan menetes di pipi Rian. Ia tidak lagi malu menangis di hadapan wanita itu. "Mengapa aku baru bisa melihat semua kebaikan itu saat semuanya sudah terlambat? Mengapa kenangan terindah bagiku justru menjadi kenangan yang paling menyakitkan bagimu?"
Nadia terdiam sejenak, menatap jendela yang mulai digelapkan senja. "Aku juga masih sering mengingatnya. Kadang aku teringat hal-hal yang menyakitkan, dan aku harus berusaha keras untuk tidak kembali merasakan sakit itu. Tapi aku belajar satu hal: masa lalu tidak bisa diubah, tidak bisa diperbaiki, dan tidak bisa diulang. Yang bisa kita lakukan hanyalah tidak membiarkannya menguasai masa depan kita."
"Bagaimana caranya?" tanya Rian lemah. "Bagaimana caranya tidak dihantui oleh kesalahan yang tak bisa ditarik kembali?"
"Dengan tidak membiarkan rasa bersalah membuatmu berhenti melangkah," jawab Nadia tegas. "Kesadaran akan kesalahan itu seharusnya menjadi kekuatan, bukan belenggu. Jika kau terus menghukum dirimu sendiri, kau tidak akan pernah bisa menjadi pria yang lebih baik—pria yang setidaknya pantas dihargai, meski tidak lagi untukku."
Kata-kata itu menembus ke dalam hati Rian. Ia menyadari bahwa terus terjebak dalam penyesalan tidak akan mengembalikan waktu yang hilang, dan tidak akan membuat luka Nadia menjadi sembuh. Justru sebaliknya—jika ia terus lemah dan terpuruk, ia hanya akan menambah beban bagi wanita yang sudah terlalu banyak menanggung rasa sakit karena dirinya.
"Kau benar," ucap Rian perlahan, menyeka air matanya dan menarik napas panjang. "Aku tidak boleh membiarkan masa lalu mengalahkanku. Aku harus membuktikan bahwa penyesalan ini bukan sekadar kata-kata, tapi alasan untuk berubah sepenuhnya."
Nadia tersenyum tipis, secercah harap yang lembut namun nyata. "Itulah yang ingin kulihat. Bukan air mata, bukan penyesalan tanpa akhir—tapi perubahan yang nyata. Dan percayalah... saat kau akhirnya bisa berdiri tegak tanpa bayang-bayang masa lalu yang menindihimu, mungkin saat itu luka di antara kita juga akan mulai berhenti berdarah."
Malam itu, Rian pulang dengan perasaan yang masih berat namun lebih ringan dibanding sebelumnya. Ia tidak lagi berusaha melupakan masa lalu—ia hanya berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membiarkan memori itu menjadi penjara baginya. Sebaliknya, ia akan menjadikannya sebagai pelita yang mengingatkan: jangan pernah lagi menutup mata dari orang yang tulus mencintaimu, karena kesempatan kedua tidak selalu datang dua kali, dan cahaya yang kau padamkan suatu hari nanti mungkin akan bersinar jauh lebih terang tanpa dirimu di sampingnya.
(Lanjut ke Bab 36?)