"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembaran
Liburan sudah usai. Hari ini aku kembali ke pondok. Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, kuletakkan tas di sudut kamar, lalu membaringkan tubuh di atas kasur.
Santriwati masih akan datang dua jam lagi. Setidaknya masih ada sedikit waktu untuk beristirahat sebelum kembali disibukkan dengan aktivitas pondok.
“Ustadzah Aisyah datang pertama,” celetuk salah satu ustadzah. Namanya Afifah.
Mendengar itu, aku akhirnya bangkit dan duduk di atas kasur.
“Alhamdulillah, capek perjalanan nih,” jawabku sambil menghela napas.
“Nih, biar segar.” Afifah menyodorkan segelas es kelapa kepadaku.
“Wah, makasih. Pas banget nih.” Mataku langsung berbinar. Kalau sudah soal es, aku memang nomor satu.
Belum sempat kuminum, terdengar suara salam dari arah pintu.
“Assalamu’alaikum.”
Seseorang masuk ke dalam kamar. Wajahnya masih asing bagiku.
“Eh, Ustadzah Aisyah. Marhaban, lama nggak ketemu,” sapa Afifah.
“Iya. Kaifa haluk?” tanyanya.
“Alhamdulillah, selalu baik. Pondoknya yang sedih ditinggal ustadzah,” jawab Afifah sambil bercanda.
Ustadzah Aisyah terkekeh. Kemudian pandangannya beralih kepadaku. Aku yang sejak tadi hanya duduk sambil memegang es kelapa mendadak merasa canggung.
“Ada wajah baru?” tanyanya.
“Aisyah,” jawabku singkat sambil memperkenalkan diri.
Dia tampak terkejut, kemudian tersenyum lebar.
“Nama kita sama.”
“Aku punya kembaran nih!” sambungnya dengan nada bangga.
Aku hanya tersenyum. Entah kenapa, kata kembaran justru membuatku sedikit kikuk. Rasanya aku tidak pantas disebut kembarannya.
Dia lebih cantik dariku. Pembawaannya juga terlihat lebih percaya diri, pintar, dan mudah bergaul. Sedangkan aku masih sering canggung ketika harus berhadapan dengan orang baru.
Tapi tentu saja semua itu hanya kusimpan dalam hati.
“Bagaimana nih kita membedakannya?” Afifah tiba-tiba ikut berpikir. “Nanti aku panggil, ‘Ustadzah Aisyah!’ Dua-duanya noleh.”
Kami bertiga saling pandang, lalu tertawa.
“Panggil aku Ais aja,” usulku. “Toh, di rumah aku juga dipanggil begitu.”
“Aku setuju,” sahut Ustadzah Aisyah.
Masalah dua Aisyah pun akhirnya terselesaikan.
Kami kemudian sibuk merapikan barang-barang sambil bercerita tentang liburan. Tentang tempat yang dikunjungi, keluarga, makanan yang dicicipi, hingga kejadian-kejadian kecil yang membuat kami tertawa.
Tidak terasa, satu jam berlalu.
Kami pun mulai bersiap menyambut para santriwati yang akan berdatangan.
Mungkin ini akan menjadi awal yang melelahkan. Akan ada banyak barang yang harus diperiksa, banyak wajah yang harus disambut, dan mungkin berbagai tingkah santri yang akan menguji kesabaran.
Tapi semoga setiap lelah ini menjadi pahala.
Aku sudah siap berdiri di depan kamar Khansa’. Setiap santriwati yang datang memang wajib memeriksakan barang bawaannya kepada ustadzah sebelum masuk ke kamar.
Jam-jam awal seperti ini biasanya masih sepi. Kebanyakan santri memilih datang mendekati batas waktu yang telah ditentukan. Mungkin karena mereka masih ingin berlama-lama bersama keluarga sebelum kembali menjalani rutinitas pondok.
Aku berdiri sambil sesekali memandang ke arah gerbang.
Belum banyak yang datang.
Suasana pondok masih terasa tenang. Namun, aku tahu ketenangan ini tidak akan berlangsung lama.
Sebentar lagi, gerbang itu akan dipenuhi santriwati dengan koper, tas, kardus, dan berbagai macam bawaan. Ada yang datang dengan wajah ceria, ada yang masih terlihat berat meninggalkan orang tua, bahkan mungkin ada yang menangis ketika harus berpisah.
Aku menarik napas panjang.
“Bismillah,” gumamku pelan.
Liburan telah selesai.
Saatnya kembali menjadi ustadzah.
Tidak lama setelah aku selesai mengucapkan bismillah, suara kendaraan mulai terdengar dari arah gerbang pondok.
Satu mobil berhenti.
Kemudian disusul mobil lainnya.
Sepertinya para santriwati mulai berdatangan.
“Ustadzah, siap-siap. Kayaknya sebentar lagi ramai,” ujar Afifah yang berdiri tidak jauh dariku.
Aku terkekeh.
“Bismillah. Semoga kita masih kuat sampai malam.”
Belum sempat Afifah menjawab, beberapa santriwati sudah berjalan masuk sambil membawa koper. Ada yang menyeret koper besar dengan susah payah, ada yang membawa kardus, bahkan ada yang datang dengan tas berukuran hampir sebesar tubuhnya.
“Assalamu’alaikum, Ustadzah!”
“Wa’alaikumussalam. Selamat datang kembali.”
“Ustadzah, ini barang saya.”
“Taruh di sini dulu, Nak. Kita periksa bersama.”
Satu per satu barang mereka diperiksa. Kami memastikan tidak ada barang yang memang tidak diperbolehkan dibawa ke pondok.
Suasana yang semula sunyi perlahan berubah menjadi ramai.
Dari kejauhan terdengar suara orang tua yang memberikan nasihat terakhir kepada anaknya.
“Jangan lupa makan.”
“Iya, Bu.”
“Jangan tidur terlalu malam.”
“Iya.”
“Kalau sudah sampai kamar, kabari Ibu.”
“Iya, Bu.”
Aku tersenyum melihat pemandangan itu.
Beberapa santri terlihat begitu ceria ketika bertemu teman-temannya. Ada yang langsung berpelukan, ada yang sibuk menceritakan pengalaman liburan, dan ada pula yang masih berdiri di samping orang tuanya dengan mata berkaca-kaca.
Wajar.
Meninggalkan rumah setelah liburan panjang memang tidak pernah mudah.
“Ustadzah, ini barang saya sudah diperiksa?”
“Sudah. Silakan masuk.”
“Terima kasih, Ustadzah.”
“Semangat ya.”
“Iya!”
Satu per satu mereka masuk ke kamar.
Aku kembali memeriksa barang santri berikutnya. Sampai tiba-tiba, dari antrean yang ada di depanku, kulihat seorang gadis berdiri sambil tersenyum.
Aku mengernyitkan dahi.
Wajah itu terasa begitu kukenal.
Dia berjalan mendekat.
“Assalamu’alaikum, Ustadzah.”
Aku terdiam sesaat.
“Firda?”
Gadis itu langsung tersenyum lebih lebar.
“Iya, Ustadzah.”
Aku hampir tidak percaya melihatnya berdiri di hadapanku.
“MasyaAllah... kamu sudah sembuh?”
Firda mengangguk.
“Alhamdulillah. Sudah jauh lebih baik.”
Aku memperhatikannya dari atas sampai bawah. Wajahnya memang terlihat jauh lebih segar dibanding terakhir kali aku melihatnya. Tidak ada lagi wajah pucat dan lemah seperti sebelumnya.
“Alhamdulillah...” ucapku spontan. Rasanya ada kelegaan yang sulit kujelaskan.
Firda tersenyum.
“Ustadzah kangen sama saya, ya?”
Aku terkekeh.
“Siapa bilang?”
“Kelihatan dari wajahnya.”
“Geer kamu.”
Firda tertawa kecil.
Aku ikut tersenyum. Entah kenapa, melihatnya kembali sehat membuat hatiku ikut bahagia.
“Bagaimana sekarang? Masih sering merasa tidak enak badan?”
“Sudah tidak, Ustadzah. Kata dokter saya harus lebih menjaga kondisi dan jangan terlalu capek.”
“Nah, itu. Jangan merasa sudah sehat lalu langsung beraktivitas berlebihan.”
“Iya, Ustadzah.”
“Dan jangan lupa makan.”
Firda mengangguk patuh.
“Siap.”
Aku kemudian memeriksa barang bawaannya.
“Sudah lengkap?”
“Sudah.”
“Kalau begitu, silakan masuk.”
Firda hendak pergi, tetapi kemudian berhenti.
“Ustadzah...”
“Iya?”
“Senang bisa kembali ke pondok.”
Aku tersenyum.
“Aku juga senang kamu kembali.”
Firda mengangguk, lalu berjalan menuju kamarnya.
Aku memandang punggungnya yang semakin menjauh.
Ada rasa syukur yang memenuhi dada.
Di tengah riuhnya kedatangan santriwati hari itu, ternyata Allah memberiku satu kebahagiaan kecil—melihat seorang santri yang pernah membuatku khawatir kini kembali dengan senyum sehat di wajahnya.
“Ustadzah Aisyah!”
Aku tersentak.
Afifah sudah berdiri di sampingku sambil menunjuk antrean santri yang semakin panjang.
“Lamunannya nanti saja. Ini masih banyak.”
Aku melihat antrean di depanku, lalu tertawa kecil.
“Ya Allah... ternyata benar. Baru mulai saja sudah ramai.”
“Makanya, jangan kebanyakan melamun.”
Aku menarik napas panjang, kemudian kembali berdiri tegak.
“Bismillah.”
Hari pertama setelah liburan pun benar-benar dimulai.
jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏