Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab_26
Aku memang tidak punya semua itu." jawab Adrian tenang. Wajahnya terlihat tegas. "Tapi aku bekerja untuk mendapatkannya."
Raka mengepalkan tangan.
"Dan sekarang kau punya semuanya!" bentaknya. Wajahnya dipenuhi iri. "Perusahaan besar. Rumah mewah. Orang-orang yang menghormatimu!"
Adrian menatap Raka dengan sorot mata dingin. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Ia sudah terlalu lama menahan amarah kepada pria yang terus menyalahkan keadaan dan memilih jalan yang salah.
"Kalau kau ingin sukses, kenapa kau tidak bekerja untuk mendapatkannya?" tanyanya tegas. Wajahnya menunjukkan kekecewaan.
Raka tertawa getir. Tawa itu terdengar hambar, tetapi menyimpan kebencian yang begitu dalam. Ia mengusap wajahnya kasar sebelum menatap Adrian dengan mata yang memerah karena emosi.
"Karena aku tidak tahan melihatmu berhasil!" jawabnya keras. Wajahnya dipenuhi kebencian. "Aku tidak terima anak miskin yang dulu kami hina sekarang berada jauh di atasku!"
Tangannya mengepal kuat. Wajahnya menunjukkan rasa iri yang selama ini ia pendam.
Rani menatap Raka dengan jijik. Ia tidak menyangka semua kekacauan yang terjadi hanya berawal dari rasa iri seseorang yang tidak mampu menerima keberhasilan orang lain.
"Jadi semua ini hanya karena iri?" tanyanya tegas. Wajahnya dipenuhi ketidakpercayaan.
Raka menoleh kepadanya. Tatapannya berubah buas.
"Diam!" bentaknya. Wajahnya dipenuhi amarah. Urat di lehernya tampak menegang. Ia melangkah maju dengan penuh amarah.
Raka bergerak hendak mendekati Rani. Namun Adrian langsung bergerak dan berdiri di depan Rani. Tubuhnya menjadi penghalang di antara mereka. Tatapan Adrian berubah semakin tajam.
"Jangan sentuh dia." ucap Adrian rendah. Wajahnya mengeras.
Raka tersenyum. Kemudian sebuah senyum sinis muncul di sudut bibirnya.
"Aku tahu kau akan mengatakan itu." balasnya santai. Ia memiringkan kepala, seolah sudah menduga Adrian akan melindungi Rani. "Itulah kelemahanmu."
Adrian menyipitkan mata.
"Aku tidak punya kelemahan." bantah Adrian tegas.
"Kau punya." Raka tersenyum penuh kemenangan. "Namanya Rani."
Rani terdiam. Jantungnya berdegup semakin cepat.
Sebelum Adrian sempat menjawab, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari sisi bangunan.
Dua pria keluar dari balik tembok dengan gerakan cepat. Keduanya langsung menatap ke arah Rani.
Nathan langsung berteriak.
"Jaga Rani!" teriaknya panik. Wajahnya berubah waspada ketika melihat dua pria tersebut mulai mendekat.
Dua orang anak buah Raka menyerang.
Nathan menangkis pukulan pertama, sementara Leonard menahan serangan pria lainnya. Suara benturan tangan dan tubuh terdengar keras di tengah suasana yang semakin kacau.
"Jangan biarkan mereka mendekati Bu Rani!" seru Leonard sambil menahan serangan lawannya. Wajahnya menegang karena mengerahkan seluruh tenaga.
Rani berdiri terpaku. Napasnya memburu ketika melihat orang-orang mulai bertarung di sekelilingnya.
Sementara itu, Adrian sendiri berhadapan langsung dengan Raka.
Keduanya saling menatap dalam diam.
Tidak ada lagi kata-kata. Hanya amarah yang memenuhi tatapan mereka.
Raka tiba-tiba melayangkan pukulan.
Adrian memiringkan tubuh dan berhasil menghindar. Pukulan itu hanya melewati sisi wajahnya.
Raka tidak berhenti. Pukulan kedua datang lebih cepat.
Adrian mengangkat lengannya untuk menangkis, tetapi Raka langsung memanfaatkan celah tersebut dengan menghantam bahunya.
Brak!
Adrian terhuyung beberapa langkah. Ia menahan bahunya yang terasa nyeri, lalu mengangkat wajahnya kembali.
"Adrian!" teriak Rani. Wajahnya dipenuhi kepanikan.
"Aku tidak apa-apa!" jawab Adrian keras. Wajahnya menahan rasa sakit. Tetapi berusaha menunjukkan bahwa dirinya masih mampu bertarung.
Raka kembali menyerang.
Kali ini Adrian membalas. Pukulan Adrian mengenai wajah Raka hingga pria itu mundur beberapa langkah.
Raka menyentuh sudut bibirnya yang terluka.
"Kau berani memukulku?" tanyanya geram. Wajahnya dipenuhi amarah.
Adrian menatapnya tajam.
"Ini bukan lagi tentang masa lalu." jawab Adrian dingin. Wajahnya dipenuhi tekad. "Kau sudah menyentuh orang yang tidak seharusnya kau libatkan."
Raka menyerang kembali. Pertarungan semakin sengit.
Adrian berhasil menjatuhkan salah satu anak buah Raka, tetapi Raka memanfaatkan kesempatan ketika Adrian lengah.
Sebuah benda keras menghantam sisi tubuh Adrian.
"Ah!" desis Adrian. Wajahnya meringis menahan sakit.
"Adrian!" teriak Rani. Air matanya mulai mengalir.