Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.
Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.
Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.
Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Yang Murah dan Yang Berharga
Valerie terkekeh sinis, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan dada terbusung angkuh. Dia melangkah satu titik lebih dekat, menatap Kinanti dengan sorot mata menantang yang amat sangat menyebalkan.
"Kau pikir kata-kata sok sucimu itu bisa menutupi kenyataan, Kinanti?" desis Valerie dengan nada suara yang dibuat-buat, penuh provokasi yang memancing emosi. "Kau boleh memegang status istri sah di atas kertas, tapi asal kau tahu... Baskara itu masih sangat mencintaiku! Cinta pertamanya adalah aku, bukan gadis lugu seperti dirimu!"
Valerie memamerkan pergelangan tangan kirinya yang melingkar gelang emas putih bermata berlian, lalu mengibaskan rambut cokelat bergelombangnya dengan gaya meliuk-liuk yang sengaja dibuat untuk memamerkan kecantikannya.
"Setiap kali Baskara bersamaku di apartemen, dia selalu membicarakan betapa membosankannya dirimu!" lanjut Valerie tanpa rasa bersalah sedikit pun, kebohongan dan racun mengalir deras dari bibirnya yang berlipstik merah menyala. "Dia menyentuhku dengan rasa rindu yang sudah dia tahan belasan tahun! Dia hanya menjagamu karena kasihan dan karena janin di dalam perutmu itu Jadi, jangankan melarangku... kalau aku mau, detik ini juga aku bisa menyuruh Baskara untuk menceraikanmu dan mengusirmu kembali ke desamu yang kotor itu!"
Bi Asih yang berdiri di sudut ruangan sampai mengelus dada, menahan napas karena menahan kekesalan yang luar biasa melihat tingkah tidak tahu malu wanita di depannya. Ucapannya begitu licik, murahan, dan sangat menguji kesabaran.
Namun, rekayasa provokasi yang dirancang Valerie untuk meruntuhkan mental Kinanti justru menemui dinding batu karang yang kokoh.
Kinanti tidak berteriak. Dia tidak menangis, tidak pula maju untuk menampar atau mencakar wajah Valerie. Sebaliknya, Kinanti justru menatap Valerie dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan penuh rasa iba tatapan yang biasa diberikan seseorang saat melihat sebuah barang murah yang sedang memohon untuk dibeli.
Sebuah senyuman kecil senyuman yang teramat anggun, sinis, dan mematikan perlahan mengembang di bibir halus Kinanti.
Kinanti menarik napas pendek, lalu menghembuskannya secara perlahan. Dia menatap lurus ke dalam manik mata Valerie tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Kalau kau sangat menginginkannya... ambil saja, Nona," ucap Kinanti dengan suara yang mantap, jernih, dan begitu tenang. "Dengan senang hati aku memberikannya pada wanita sepertimu."
Valerie tersentak. Senyum angkuh di wajahnya seketika membeku. "Apa kau bilang?!"
Kinanti mengambil satu langkah maju, membuat aura elegannya mengintimidasi ruangan tersebut. Tangannya masih mengusap lembut perut buncitnya.
"Kau membanggakan seorang pria yang membohongi istrinya sendiri," lanjut Kinanti datar, setiap katanya menusuk bagai bilah pisau yang dingin. "Kau membanggakan pria yang pulang larut malam dengan kebohongan di mulutnya, dan kau merasa bangga menerima gelang bekas hadiah kompensasi rasa bersalahnya. Jika bagimu pria seperti itu adalah sebuah piala kemenangan... maka ambillah. Wanita sepertimu memang sangat cocok mendapatkan pria yang sudah kehilangan kejujuran dan kehormatannya."
Wajah Valerie yang semula dipoles riasan tebal kini memerah padam akibat tamparan verbal yang begitu telak. Napasnya mulai memburu, merasa harga dirinya dihantam di tempat yang paling menyakitkan.
"Kau... kau hanya berpura-pura tegar!" tuduh Valerie, suaranya mulai memekik melengking, kehilangan kontrol elegannya. "Kau pasti menangis tiap malam karena tahu suamimu berpaling padaku!"
Kinanti menyunggingkan senyumnya lebih lebar, senyuman penuh kemenangan moral yang membuat Valerie terlihat semakin kerdil.
"Terserah apa katamu, Nona Valerie," balas Kinanti santai. "Tapi ingat satu hal. Aku tidak sedang berebut pria denganmu. Aku di sini bertahan hanya demi keselamatan anakku dan keluargaku dari ancaman emosional suamiku. Sedangkan kau? Kau datang ke rumah orang lain di pagi hari, memamerkan kejahatan moralmu sendiri, hanya demi mendapatkan validasi bahwa kau diinginkan."
Kinanti berbalik sedikit, menoleh pada Bi Asih. "Bi Asih, tolong bukakan pintu lebar-lebar. Uang kembalian dari barang yang sudah saya buang ini ingin keluar."
"Baik, Nyonya Muda!" sahut Bi Asih cepat dengan nada puas yang tak bisa ditutupi.
Valerie mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan. Mukanya merah padam, matanya melotot penuh amarah dan rasa malu yang luar biasa. Niat awalnya untuk membuat Kinanti berlutut menangis, justru berbalik menjadi panggung di mana dirinya ditelanjangi sebagai wanita tidak tahu malu yang tak bernilai.
"Kau... kau akan menyesal, Kinanti!" jerit Valerie histeris, suaranya gemetar oleh perpaduan antara amarah dan keputusasaan. "Baskara akan membuangmu! Aku akan memastikan dia membuangmu!"
"Silakan dicoba," jawab Kinanti dingin tanpa menoleh lagi. "Pintu keluar ada di sebelah sana, Nona. Jangan mengotori lantai rumah ini lebih lama lagi dengan kehadiranmu."
Dengan menghentakkan kaki dan napas yang memburu penuh dendam, Valerie akhirnya berbalik dan berlari keluar menuju mobilnya, meninggalkan kediaman Dirgantara dengan kekalahan psikologis yang teramat menyakitkan.
Kinanti berdiri sendirian di tengah ruang tamu yang kembali sunyi. Dia memejamkan matanya sejenak, mengusap perutnya yang terasa hangat. Di dalam hatinya, sebuah keteguhan baru telah mengakar kuat. Dia telah membuktikan pada dirinya sendiri bahwa dia bukan lagi gadis desa yang bisa diintimidasi oleh siapa pun termasuk oleh bayang-bayang masa lalu suaminya.
Mobil sedan putih milik Valerie melesat meninggalkan halaman kediaman Dirgantara dengan deru mesin yang meraung kasar, menyisakan debu tipis yang beterbangan di udara pagi. Di dalam kabin mobil, wanita itu mencengkeram lingkar kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya yang dipoles riasan mahal kini tampak keruh, dipenuhi erangan amarah, malu, dan kekalahan yang teramat sangat. Tamparan verbal dari Kinanti terus bergema di telinganya bak kaset rusak, meruntuhkan seluruh kebanggaan dan kesombongan yang dia bangun selama ini.
Sementara itu, di dalam ruang tamu utama kediaman Dirgantara, keheningan kembali merayap pelan. Hawa dingin masih menyelimuti ruangan berlantai marmer tersebut, namun atmosfernya tidak lagi terasa mengintimidasi bagi Kinanti.
Bi Asih menghela napas lega yang teramat panjang, memegangi dadanya yang sempat berdebar kencang. Sepasang matanya menatap sang nyonya muda dengan rasa takjub dan haru yang mendalam. "Nyonya Muda... Nyonya tidak apa-apa? Wajah Nyonya agak pucat. Mari saya ambilkan air hangat dan teh chamomile untuk menenangkan pikiran."
Kinanti mengusap perut buncitnya dengan gerakan konstan yang lembut, menyunggingkan senyum tipis yang anggun ke arah Bi Asih. "Saya tidak apa-apa, Bi. Terima kasih. Tolong buatkan tehnya dan antarkan ke ruang kerja Bapak di lantai dasar, ya. Saya ingin bertemu dengan Bapak."
Kinanti tidak membiarkan dirinya larut dalam kemenangan kecil atas Valerie. Gadis desa itu menyadari sepenuhnya bahwa musuh terbesarnya bukanlah wanita tidak tahu malu seperti Valerie, melainkan kekuasaan, keegoisan, dan rasa memiliki yang obsesif dari suaminya sendiri Baskara Dirgantara. Kinanti tahu betul bahwa untuk lepas dari kurungan emas ini tanpa membahayakan keselamatan serta mata pencaharian orang tuanya dan warga desa di kampung, dia harus melangkah dengan kehati-hatian tingkat tinggi.
Langkah kaki Kinanti yang tenang dan berwibawa menuntunnya menuju ruang kerja Juragan Ramli di sayap timur rumah. Pintu kayu jati berukir itu terbuka pelan setelah Kinanti mengetuknya dua kali.
Di dalam ruangan beraroma kayu cendana dan buku-buku tua tersebut, Juragan Ramli sedang duduk di balik meja kerjanya yang megah. Di sampingnya, Pengacara Ikhsan tampak sedang memeriksa beberapa lembar dokumen hukum dengan raut wajah yang amat tegang.
Begitu melihat sosok Kinanti melangkah masuk, Juragan Ramli seketika menegakkan tubuhnya. Pria tua yang dihormati di seluruh penjuru daerah itu menatap menantunya dengan pandangan penuh rasa iba sekaligus kebanggaan yang mendalam.
"Kinanti... duduklah, Nduk," ucap Juragan Ramli dengan nada suara yang hangat namun berat.
Kinanti menarik kursi kayu di hadapan meja mertuanya dan duduk dengan perlahan, menjaga agar posisi tubuhnya tetap nyaman bagi janin di kandungannya.
Pengacara Ikhsan menata letak kacamata minusnya, menatap Kinanti dengan rasa hormat yang tinggi. "Mengenai ancaman Pak Baskara semalam tentang desa dan pabrik beras, Nyonya Muda?"
Kinanti mengangguk perlahan. Matanya berkilat penuh ketegasan. "Ya, Pak Ikhsan. Mas Baskara mengancam akan mencabut seluruh investasi, memutus jalur distribusi gabah, dan membeli tanah orang tua saya secara paksa jika saya nekad melangkah keluar dari rumah ini. Saya tidak bisa membiarkan orang tua saya dan warga desa menjadi korban dari emosi dan keegoisan Mas Baskara. Saya minta bantuan Pak Ikhsan dan Bapak... bagaimana cara kita mengikat kekuasaan Mas Baskara secara hukum agar dia tidak bisa menyentuh desa saya sedikit pun saat saya pergi nanti?"
Juragan Ramli menggemertakkan giginya, memukulkan telapak tangannya ke atas meja dengan amarah yang tertahan. "Baskara benar-benar sudah gila! Bagaimana bisa dia menggunakan kekuasaan keluarga untuk mengancam mertuanya sendiri?! Dia sudah dibutakan oleh egonya!"
"Bapak mohon tenang," pangkas Pengacara Ikhsan dengan sikap profesionalnya. Dia lalu menggeser sebuah map tebal berlogo hukum ke hadapan Kinanti. "Nyonya Muda, Anda tidak perlu khawatir berlebihan. Secara hukum perdata dan struktur korporasi Dirgantara Sejahtera, Pak Baskara memang menjabat sebagai Direktur Utama. Namun, pemegang saham pengendali mutlak dan pemilik sertifikat induk atas lahan pabrik beras di desa adalah Pak Juragan Ramli."
Ikhsan membuka lembar demi lembar dokumen tersebut di depan Kinanti.
"Artinya," lanjut Ikhsan dengan senyuman tipis yang sarat akan kemenangan hukum, "Pak Baskara tidak memiliki wewenang secara sepihak untuk mencabut investasi, membatalkan kontrak distribusi gabah, atau melakukan pembebasan lahan secara paksa di desa tanpa persetujuan tertulis dari Pak Juragan Ramli. Ancaman yang dilontarkan Pak Baskara semalam murni adalah gertakan emosional dari seorang pria yang panik karena takut kehilangan kendali atas istrinya."
Mendengar penjelasan gamblang dari Pengacara Ikhsan, sebuah beban berat yang menindih dada Kinanti selama belasan jam terakhir seketika terangkat. Matanya berbinar jernih.
"Bukan hanya itu, Kinanti," sela Juragan Ramli, menatap menantunya dengan tatapan penuh perlindungan seorang ayah. "Bapak sudah menandatangani surat pengalihan aset kepemilikan pabrik beras di desa atas namamu dan anak di dalam kandunganmu secara resmi pagi ini. Jadi, jika Baskara berani menyentuh desamu, dia bukan hanya berhadapan dengan hukum, tapi dia berhadapan langsung dengan Bapak!"
Air mata haru menyembul di sudut mata Kinanti. Dia menggenggam jemari tua mertuanya dengan rasa terima kasih yang tak terhingga. Di tengah pengkhianatan dan kebohongan sang suami, Tuhan masih memberikannya perlindungan yang begitu kokoh melalui sosok mertua dan hukum yang adil.
"Terima kasih, Bapak... Terima kasih banyak," bisik Kinanti lirih.
🤣🤣🤣