Pout for Me, Little Mouse.
Keylana Reinhardt, Putri seorang raja perbankan lokal Jerman, diatur ke dalam pertunangan dengan Julian Donnersmarck -- Seorang Miliarder muda dari Berlin yang arogan, pragmatis dan bergaul dengan bebas.
Setelah disatukan, mereka tinggal bersama di Berlin, Kota kelahiran Julian. Tidak ada satu hari pun tanpa perdebatan. Julian tidak meninggalkan kebiasaan moral yang buruk sedangkan Keylana tak kalah nakal, memanggil Julian dengan nama depannya.
Ini tentang Rasionalitas yang terus dipertanyakan dan Perasaan yang dianggap tidak penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubble🫧, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pavlova Di hari Minggu
"Baiklah, tapi jangan menangis jika itu tidak sesuai dengan ekspektasimu."
Lana sudah setengah jalan memecahkan beberapa butir telur. Julian meletakkan kopinya untuk membantunya mengambil beberapa bahan dan barang. Ia memperhatikan gerakan Lana yang sedang memasak, Ia tidak mahir tapi tidak sepenuhnya bodoh.
"Lupakan saja soal memasak, Lana. Ayo membeli Pavlova yang enak."
"Tidak mau, Aku mau membuat mahakarya ku sendiri."
Katanya dengan percaya diri saat memisahkan putih dan kuning telur di dalam wadah. Pada saat yang sama, Interkom berbunyi oleh pengantar makanan mereka.
"Aku saja." Julian berbalik dari meja dapur.
"Tetap di sana, sayangku. Jangan nyalakan mixer sendiri. Aku akan segera kembali."
Julian berjalan menuju panel interkom di dekat pintu depan. Dia menekan tombol untuk berbicara dengan kurir pengantar.
"Ya?" jawabnya singkat, suaranya berubah menjadi otoritas menyangkal kelembutan yang barusaja ia lontarkan pada Lana.
"Aku akan turun untuk mengambilnya."
Dia melepaskan tombolnya dan melirik Lana di dapur sebelum melangkah ke dalam lift, dadanya telanjang tanpa alas kaki.
Dia bersandar di dinding belakang, jari-jarinya mengetuk pahanya dengan tidak sabar sambil menunggu lift turun ke lantai dasar.
Interkom berbunyi lagi -- kurir itu sungguh tidak sabar. Julian menekan tombol untuk merespons.
"Aku datang, Aku datang."
Di saat seperti ini, ia malah memikirkan kembali penampilan Lana. Pintu lift terbuka dengan suara lembut menuju lobi pribadi penthouse.
Julian mengambil uang tunai dari saku celana dan melangkah keluar menemui petugas pengiriman yang berdiri di dekat pintu masuk.
"Ini, Simpan kembaliannya."
Katanya singkat sambil menyerahkan uang tunai tanpa menghitungnya dengan benar.
Mata petugas pengantar barang itu melebar lalu berterimakasih tapi Julian sudah berbalik, fokusnya sepenuhnya kembali ke atas membawa pesanan Lana. Dia tidak menunggu ucapan terima kasih atau bahkan tanda terima.
Di dapur, Lana selesai memisahkan putih telur dari lingkaran kuningnya, ia mencampur gula halus melewati saringan dengan panduan takaran resep di buku yang terbuka di sampingnya.
Ia kembali mencermati petunjuk sebelum mengamati takaran tepung dan menambahkan bahan lainnya, Lemon yang susah dibelah menjadi dua bagian oleh Julian dan menambahkan Vanila.
Julian melangkah kembali ke ruang tamu, mata birunya langsung tertuju pada Lana yang masih di dapur sambil mencampur bahan-bahan.
Meletakkan kotak sushi di atas meja kopi dengan kekuatan lebih dari yang diperlukan.
"Makan Siang disajikan. Sekarang dimana kita tadi?"
Julian kembali mendekat untuk memeriksa pekerjaan Lana dari balik pundak kecil gadis itu.
"Sudah, Mixer sekarang."
Lana mengulurkan wadah berisi adonan pada Julian.
"Makanlah, Aku akan mengawasi ini."
Lana mengangguk bersemangat dan mundur sambil menepuk debu gula halus di celemeknya. Julian meletakkan baskom dan mengambil Mixer besar di bawah.
"Waktunya makan..."
Sementara Julian bekerja, Lana duduk di kursi sarapan dan memulai membuka Kotak pesanan mereka.
Dia menarik sebotol Chardonnay Jukian dari dalam tas dan meletakkannya di atas meja, Kotak hitam besar sushi itu terbuka memperlihatkan makanan yang membuat Lana Ngiler.
Lana mengambil sepasang sumpit dan melahap satu potong gulungan setelah mencelupkan ke dalam kecap.
Suara mixer mulai mencemari musik Lana saat Julian menyalakannya.
"Julian, Ayo makan ini."
Julian menoleh, setelah memastikan mesin bekerja dengan baik, ia berbalik dan duduk di seberang Lana mengambil sumpit lainnya.
"Makanlah yang banyak, Atau aku akan menghabiskan semua ini sebelum kau kenyang jika kau terlalu lamban."
Dia memperingatkan sambil mengunyah perlahan memperhatikan mulut penuh Lana, Pemandangan mulutnya membuatnya terganggu lagi.
"Tidak bisa." Lana dengan mulut penuh.
Julian terus mencoba fokus pada makanannya sementara Lana menghabiskan makanannya dengan ceria.
Ketika mesin akhirnya mati sesuai timer, Julian berdiri dan segera memeriksanya. Ia mengangkat bagian atas mixer dan melihat adonan meringue.
Lana berdiri setelah selesai makan, Membuang Kotak ke tempat sampah.
"Sudah berhasil?" dengan bersemangat.
Lana mendekat dan menengok adonan yang di pindahkan Julian ke nampan yang dilapisi kertas.
"Ini masih harus dipanggang, Lana."
"Aku, aku. biarkan aku melakukannya!"
Lana mengambil spatula lain dan mulai ikut membantu membentuk adonan menjadi lingkaran yang lebih tinggi.
Julian tersenyum kecil melihat kerja tidak becus Lana, Ia mengambil adonan yang berantakan di wajah dan mengoleskannya ke pipi gadis itu, membuat wajahnya berubah dari senang menjadi terkejut.
"Ah! Apa ini."
"Ini adalah make-up paling manis. Secara harfiah."
Julian terus menempelkan beberapa sisa adonan pada Lana yang dibalas dengan susah payah olehnya.
Julian mengamankan nampan ke dalam oven saat lana mulai menyerangnya, Dia hanya menahannya dengan satu tangan sementara tangan lainnya mengatur oven.
"Ini dia untukmu."
Lana berhasil mencapai bagian leher atau bawah wajah Julian yang tidak melawan sambil terkekeh. Pria itu akhirnya menangkap kedua pergelangan tangan lana dalam satu genggaman tangan.
"Permainan selesai."
Julian mengarahkan wadah yang hampir kosong ke wajah Lana, menyatukan wajah gadis itu dengan permukaan cekung wadah.
"Ahhh! Julian.."
Wajah Lana benar-benar tertutup dengan adonan, Wadah stainless itu jatuh dengan bunyi keras sementara Julian tertawa terbahak-bahak. Untungnya, Adonan untuk Pavlova sudah aman dalam oven.
"Lihat dirimu, Seperti pria salju!" Julian terbahak-bahak.
"Beraninya kau!"
Lana menggedor lengan Julian yang sedang melindungi dirinya dari amukan tinjunya. Dengan gerakan lebih cepat dari lompat tupai, Julian menarik lana mendekat sambil menjilat krim di pipinya.
"Hei! itu Menjijikan."
"Ini lebih enak dari makanan penutup apapun."
Julian menyeringai di dekat wajah lana yang tertutup adonan. Lana terbakar kekesalan.
"Kau sudah menjadi Pavlova itu sendiri, Schatz."
"Emm, Aku tidak mau memasak lagi."
Lana membawa nada bergelombang dengan mata berkaca-kaca kesal, Ia terlihat sudah merajuk dan berusaha menarik diri. Julian tersenyum penuh kasih sayang dan menariknya.
"Sudah menangis, Aku berlebihan?"
Ejeknya menjilat wajahnya lagi, Nadanya tidak menunjukkan rasa bersalah. Mengangkat tubuh Lana ke gendongnya membawanya ke kamar mandi.
"Lepaskan aku, aku mau melakukannya sendiri!"
Lana memberontak kesal yang hanya membuat Julian semakin gemas melihatnya seperti itu dan juga dengan penampilan ini.
Julian benar-benar mendudukkannya di wastafel untuk segera membantunya mencuci wajah.
"Baiklah, aku salah. Aku akan membayarnya dengan menyelesaikan hidangan mu."
Bujuknya lembut sambil membasuh Lana yang terus memberontak dengan mata yang hampir meneteskan air mata itu.
"Tidak mau!"
"Baiklah... bagaimana dengan Mobil baru?
"Aku bilang tidak mau! Awas."
Lana mendorong tangannya dari wajahnya. Julian mendesaknya dengan tubuhnya dan membersihkan adonan di wajahnya yang lucu itu walaupun ia enggan.
"Tidak? Lalu bagaimana dengan liburan, Kita bisa ke Tuscany... atau ke bali seperti yang kau lakukan saat itu."
Bujuknya sambil mencium pelipisnya yang sudah bersih, menyisakan bagian hidung dan bibir.
"Maafkan aku, sayang. Aku berlebihan. Mari kita lanjutkan masakan mu yang cantik. kau hanya perlu duduk dan aku akan menyelesaikannya."
Lana membiarkannya membersihkannya. perlahan wajahnya kembali memperlihatkan anak kecil yang merajuk karena diganggu terlalu banyak. Tapi aroma manis adonan itu masih bersisa.
Setelah pembersihan itu, Julian berhasil membawa Lana kembali ke dapur untuk melanjutkan kembali kegiatan memasak mereka.
Lana bertugas memotong buah sekarang sementara Julian membuat krim untuk kue itu. Julian membujuk dan menjahilinya di saat bersamaan saat lana memotong stoberi dengan wajah muram sepanjang kegiatan mereka.
"Kau melakukannya miring, Chef Lana."
"Kau menghalangi, jariku bisa terluka!"
"Lihat? aku bisa melakukannya bersamaan, Mengaduk krim sambil memotong dengan benar."
"Wajahmu terlihat seperti ingin menggigitku."
"Ah, Julian! Kau membuat ku kotor lagi!"
Gerutu Lana saat Julian membuka jendela yang menyebabkan tepung beterbangan ke arah Lana.
"Itu bedak alami, tidak perlu membeli lagi di Tom Ford."
Pavlova mereka sempurna hanya jika bentuknya sedikit lebih manusiawi. Itu adalah bentuk yang miring dan tidak seimbang sementara dapur baru Mereka lebih kacau dari sebuah perahu yang pecah.
Sepanjang menghias hidangan, Julian terus mengganggu dan membujuk disaat yang bersamaan. Lana tidak lagi kesal karena melihat hasil pavlovanya tapi ia tetap merajuk, tidak mau mengakui bahwa ia memberi pengampunan yang mudah.