Arien Riena Ridwanto menyembunyikan identitas sejatinya Kaisar Arbella J. Milea Inesh, penguasa Vinesha. Ratusan tahun ia hidup terpisah dari enam saudaranya, terus bereinkarnasi menggunakan segel sihir Mata Elang — menjadi bayangan mereka karena rasa bersalah masa lalu.
Di kehidupan ke-17 ini, ia hanya wanita biasa, istri dan ibu yang mencintai keluarga kecilnya. Namun ancaman terhadap Alan dan Arumie memaksanya membuka rahasia yang akan mengguncang dunia!
"Akulah asal mula semua yang telah terjadi. Akulah sang Pengendali...! sang Segel Elang…! Kaisar Suci Vinesha...! Kaisar Arbella!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Di era ini, kekuatan aura nyaris punah, tinggal menjadi legenda yang hanya tersimpan dalam catatan kuno dan ingatan para tetua. Namun, Vano dan Eren memikul beban rahasia yang jauh lebih berat daripada siapa pun: di dalam darah mereka mengalir aura murni—warisan tak ternilai dari garis keturunan bangsawan agung zaman dahulu.
Di dunia modern yang nyaris tak menyisakan pemilik kekuatan serupa, ada hukum mutlak yang tak boleh dilanggar: keberadaan aura harus dirahasiakan dari dunia luar, dan tak boleh digunakan sembarangan. Keduanya kini berbakti di bawah pimpinan para penguasa aura tertinggi, terpilih menjadi pasukan khusus berkat energi luar biasa yang diwariskan turun-temurun dari nenek moyang mereka.
Tugas mereka sungguh krusial: menjaga informasi rahasia milik para penguasa aura di seluruh dunia, data yang begitu sensitif hingga kebocoran sekecil apa pun dapat memicu malapetaka. Berkat pengabdian dan kekuatan yang tak tertandingi, nama Vano dan Eren pun tercatat sebagai bagian dari Tiga Belas Penjaga Aura Terkuat di Dunia.
Untuk menutupi jejak, mereka bergerak di bawah bendera SGroup—konglomerasi raksasa yang namanya diketahui di berbagai penjuru dunia. Terdiri dari tujuh perusahaan inti di bawah naungan para penguasa yang tersebar di benua-benua, serta tiga belas anak perusahaan yang dikelola secara turun-temurun oleh keluarga-keluarga terpilih. Vano sendiri merupakan pewaris sah sekaligus perwakilan dari anak perusahaan ketiga belas yang berpusat di Singapura. Di sanalah markas utama mereka, tempat ia dan Eren mengendalikan setiap operasi rahasia dari balik layar.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu memecah kesunyian ruang kerja yang elegan namun dingin itu.
Come in!
"Masuk!" seru Vano, mengalihkan pandangannya dari berkas di meja ke arah pintu.
Asistennya melangkah masuk, berdiri tegak dengan sedikit ketegangan di bahu, lalu melapor.
Chairman...!
"Presdir...!"
Vano langsung mendongak, nada bicaranya tajam dan dingin seketika.
Watch your mouth!
"Jangan sembarangan!"
Wajah sang asisten pucat. Ia gemetar, sadar baru saja melontarkan panggilan formal yang dilarang keras digunakan di ruang operasional khusus ini.
Eren, yang lebih memahami tabiat temannya itu, segera menyela dengan nada lembut guna meredakan ketegangan.
Your report?
"Laporanmu?"
“Ah...” Asisten itu mengerjap, berusaha menguasai dirinya.
Forgive me, Director! The private jet is ready,
"Maafkan saya, Direktur! Pesawat pribadi sudah siap,"
Mendengar itu, kedua pria tersebut bangkit berdiri berbarengan.
Alright,
"Baiklah" ucap Vano tegas.
We’re leaving right now.
"Kita langsung pergi sekarang."
Sebelum melangkah pergi, ia menatap tajam ke arah asistennya.
You... get back to work.
"Kau... lanjutkan pekerjaanmu."
Tanpa menunggu balasan, Vano dan Eren melangkah lebar keluar ruangan, meninggalkan pemuda itu yang masih terpaku sendirian di tempat.
...****************...
Sementara itu, di tempat yang jauh berbeda—sebuah pasar tradisional yang riuh rendah—Arien baru saja membereskan pekerjaannya. Jam menunjukkan pukul sembilan malam, waktu pulang yang sudah lama ia nantikan.
Rien! Ti payun, nya!
"Rien! Duluan, ya!" seru Elisha dari pintu keluar, melambaikan tangan.
Nya, sok, El. Kade, ati-ati...
"Ya, udah, El. Awas, hati-hati..." balas Arien tersenyum tipis, lalu ikut melambaikan tangan.
Ia menunggu sampai sosok temannya hilang di keramaian, sebelum akhirnya kerutan halus muncul di dahinya. Hari ini terasa ganjil, dan perasaan itu tak kunjung hilang. Ia pun bergegas menutup tempat kerjanya, ingin segera pulang dan menemui suami serta anak perempuannya.
Langkahnya terhenti sejenak saat ingatannya melayang kembali ke kejadian siang tadi.
Langit Bandung mulai berubah kelabu, hujan tampak sebentar lagi turun. Tiba-tiba, sebuah hantaman energi tak kasat mata menyengat seluruh indranya. Arien terbelalak, napasnya tertahan. Getaran itu—aura yang sangat ia kenali—memancar kuat di tengah hiruk-pikuk kota.
Jantungnya berpacu liar. Tanpa berpikir dua kali, kakinya melesat membelah keramaian.
“Astaga!!!”
Ia berlari sekuat tenaga, mengabaikan tatapan heran orang-orang di sekitarnya. Fokusnya hanya satu: mencapai titik sumber energi yang sedetik lalu terasa begitu masif dan nyata. Angin menerpa wajahnya, keringat dingin mulai bercucuran, namun kakinya tak berhenti melangkah.
Namun sesampainya di sana, tempat itu sunyi senyap. Kosong.
Arien terengah-engah, mengedarkan pandangan ke segala arah. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada jejak, tidak ada sisa energi, tidak ada tanda fisik apa pun yang menunjukkan adanya seseorang dengan kekuatan aura di sana. Semuanya lenyap seketika, seolah-olah apa yang ia rasakan hanyalah ilusi belaka.
'Tidak mungkin...’ batinnya gemetar.
‘Aku yakin itu pengguna aura!’
Pertanyaan-pertanyaan mulai menyerbu benaknya satu per satu.
‘Apa yang sebenarnya terjadi?’
‘Mengapa getaran aura muncul di sini?’
Keputusasaan yang sunyi mulai merayap di dadanya. Bayangan-bayangan buruk mulai bermunculan, membuatnya semakin gelisah.
‘Semoga tidak terjadi apa-apa,’ bisiknya lirih, menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan, berusaha menenangkan kepanikan yang hampir melumpuhkannya. Setelah memastikan tak ada lagi yang bisa dicari, ia berbalik arah—kembali ke tempat kerja dengan sejuta tanda tanya yang masih menggantung tinggi.
Sesampainya di rumah, Arien melepaskan sepatu di depan pintu sambil menengok ke sekeliling ruangan. Heran, tak ia temukan sosok suami maupun anak perempuannya yang biasanya sudah menunggu di sana menyambut kepulangannya.
Kamarana nya penghuni rumah teh?
"Pada ke mana ya para penghuni rumah?" gumamnya pelan sambil melangkah masuk, memeriksa ruang tamu.
“Deee?”
Tak ada jawaban.
Aba?
"Ayah?" panggilnya lagi sedikit lebih keras. Tetap sunyi.
Aya di dapur kitu?
"Ada di dapur mungkin?" gumamnya berharap, lalu bergegas ke area belakang.
Sami, teu araya! Kamarana?
"Sama, tidak ada! Pada ke mana?" keluhnya cemas saat dapur pun sepi.
Ia mencoba menenangkan diri, berpikir positif—mungkin mereka sedang pergi sebentar. Arien melangkah ke kamar tidur, lalu menjatuhkan tubuhnya yang lelah ke atas kasur. Menatap langit-langit kamar, ia menghela napas panjang.
‘Hari ini aku kenapa ya...’ gumamnya pelan.
Namun pikirannya tak kunjung tenang. Sesosok tubuhnya terangkat tiba-tiba, matanya membulat.
‘Cincinku!’
Cincin nikahnya yang hilang secara misterius kemarin sore—apa hubungannya dengan kejadian hari ini?
Pertanyaan itu menggantung di udara, menyisakan ketakutan yang mulai merayap perlahan.
^^^Bersambung...^^^
liat gekagatnya arien yg sefrustrasi itu cincin hilang aku jadi ikutan ngeri, takut suaminya galak 😭
tapi ini konteks nya benda sakral .. seharusnya mending di jadiin kalung atau simpen di rumah .. jadi repot kan kalau ilang begini ... beda cerita kalau emng cincinnya yang bisa teleportasi 🤭