Indonesia
NovelToon NovelToon
IBU TIRI LUAR BIASA

IBU TIRI LUAR BIASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Tiri / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Duda / Cinta Murni
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: YoshuaSatrio

Karena tak tahan dengan desakan keluarga dan masalah yang bertubi menghimpit keluarganya, Sutami(28tahun) menerima pinangan Juragan Waluyo(45tahun), seorang duda kaya yang memiliki seorang putra dan dua putri yang berbeda watak.

Menjadi ibu tiri bukan impian Sutami, tapi demi menyelamatkan kehormatan keluarga dari stigma 'perawan tua pembawa sial', maka pernikahan pun dilangsungkan.

Mampukah Sutami menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu tiri?
Bagaimana cara Sutami menghapus stigma masyarakat tentang 'ibu tiri jahat?’

Mari berimajinasi bersama. Semua tokoh dan kejadian dalam cerita hanya sebuah karangan. Jika ada kebetulan yang dibetulkan, silahkan disalahkan kebetulannya yang disama-samakan.
Semoga semua berbahagia. —yosh—

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ALASAN

"Kus! Bangun! Aku mau tutup!" Ardi mengguncang tubuh Kuswara yang terlelap.

Lampu neon yang redup menyorot tubuh Kuswara yang meringkuk di atas sofa tua. Jam di dinding menunjukkan pukul tujuh sore. Sejak tadi pagi ia diusir oleh Pak Waluyo, Kuswara memang tinggal di sana. Ia tidur di ruang ganti yang sempit itu.

Kuswara bangun dengan malas. Kemejanya kusut, begitu juga dengan wajah dan rambutnya. "Di, pinjem uang ada? Agak banyak tapi," ujarnya dengan suara parau.

"Nggak ada lah, kau tahu sendiri akhir-akhir ini kedaiku sepi!" ujar Ardi bernada kesal.

"Ayolah Di, cuma kamu temanku," bujuk Kuswara sembari mengusap wajahnya.

"Teman? Kau datang mencariku cuma kalau butuh, pas uangmu banyak, kau kemana aja? Waktu para preman pajak itu datang lagi sambil ngancem kalau aku nggak bayar pajak usaha lima juta, kedaiku harus tutup, kamu kemana?!" jawab Ardi sedikit meninggikan suaranya.

Ardi berdiri di tepi pintu, membuka lebar-lebar daun pintunya. "Pulang sana, melihatmu malas-malasan di sini, cuma bikin usahaku makin sepi!" usir Ardi tegas.

"Dih! Dasar nggak setia kawan lu! Tak sumpahin nggak ada lagi yang akan beli kopi buatanmu!" Bukannya menyadari kekeliruannya, Kuswara justru melenggang pergi meninggalkan Ardi yang susah payah menahan amarah sambil mengelus dada menatap punggung Kuswara yang menjauh.

.........

Kuswara mendorong pintu rumah dengan dua kantong plastik besar di tangan. Wajahnya sumringah, senyumnya lebar.

“Pak! Mak!” serunya lantang.

Dari dapur, Mak Mia langsung keluar. "Kadingaren bocah iki ora isin manggil aku Emak?" celetuk Mak Mia sambil berjalan menuju ke ruang tengah. [trslt: Nggak biasanya, anak ini nggak malu manggil aku Emak—sebutan 'ibu' di beberapa wilayah di Jawa tengah]

Pak Sukimin yang sedang menonton TV dan Sutami yang duduk disebelahnya sambil melipat baju pun ikut menoleh ke sumber suara.

“Eh, wes pulang, Le? Kok sumringah tenan, sajak'e ada berita bagus iki!” Mak Mia menyambut putranya.

“Donat kentang gula halus kesukaannya Mbak Tami!” Kuswara mengangkat kantong pertama. “Sama martabak manis coklat keju buat Bapak sama Emak!” Dia angkat kantong kedua.

Sutami langsung menutup mulutnya, rasanya tak percaya, hingga reaksi mata berkaca-kaca tak bisa ia sembunyikan. "Makasih ya...." Sutami berdiri menerima kantong kresek yang diulurkan Kuswara padanya. "Ya ampun, akhirnya dia sadar?" batin lega Sutami.

"Berita baiknya... Akhirnya aku naik jabatan!" seru Kuswara berbohong.

"Wah, selamat ya!" Riuh pak Sukimin, Sutami dan Mak Mia bergantian memeluk Kuswara dan memberikan ucapan selamat.

"Jadi apa sekarang?" celetuk Sutami penasaran.

"Sekarang aku diangkat jadi kepala bagian. Gajinya naik tiga kali lipat.” Dia melirik Sutami sekilas. “Nggak kayak kamu, dari jaman baheula cuma jadi guru TK!”

“Hush... Jangan gitu, Le.” Mak Mia nyubit lengan Kuswara pelan. “Kalau bukan karena mbakmu, kamu nggak akan pernah bisa kuliah. Dulu Mbak Tami selesai ngajar, langsung jualan kue keliling buat nyari tambahan, biar kamu bisa bayar UKT yang katanya makin mahal itu!"

“Ah iyaa...” Kuswara langsung merangkul bahu Sutami. "Makasih ya mbakku yg paling baik hati sedunia!” seru Kuswara dengan senyum yang stabil.

Malam itu suasana rumah Mak Mia begitu hangat, obrolan pun mengalir begitu akrab. Kuswara duduk bersama, berbincang, bercanda dan tertawa bersama, tanpa ada kata-kata kasar dari mulutnya. Hal yang sudah sangat lama tak pernah terjadi di keluarga itu.

Hingga pagi pun tiba. Mak Mia mengguncang Pelang tubuh Kuswara. “Le... udah hampir jam tujuh, kamu kerja ngga hari ini? Hari pertama di jabatan baru jangan sampai terlambat." Lirih dan penuh kasih sayang Mak Mia mencoba membangunkan putranya.

Kuswara menggeliat malas. “Ah, Emak. Apaan sih! Ngantuk banget aku!" Suara serak Kuswara terdengar sedikit membentak. "Kepala bagian itu masuknya siang! Kerjanya santai!" imbuhnya dengan bentakan yang lebih keras.

Dari ambang pintu, Sutami muncul dengan setelan rapi dan wajah yang tenang. “Sejak kapan ada aturan seperti itu?” tanyanya lembut.

Mendengar komentar Sutami, Kuswara duduk dengan cepat, wajahnya langsung memerah karena marah. “Heh! Kau cuma guru TK, tau apa kau soal dunia kerja?! Jangan jadi kompor!” tuduhnya dengan mata melotot tajam.

Kuswara berjalan dengan langkah kesal, lalu berhenti sejenak tepat di depan Sutami. "Kawin aja kamu, biar nggak perlu ngurusin hidup orang terus, Berisik!" bisiknya pelan tapi sangat menusuk.

Sutami menghela napas, menatap punggung Kuswara yang menghilang dibalik pintu kamar mandi.

Mak Mia mendekatinya, menggenggam tangan putrinya. "Sabar, Ya Nduk. Salahnya Emak yang bangunin dia, pasti dia cuma lagi kesel sama Emak."

Sutami memaksa bibirnya untuk mengulas senyum, meski dadanya saat ini sedang bergemuruh penuh amarah. "Nggak apa-apa, Mak. kita semua tahu dia memang begitu." Sanga lembut dan sabar tutur kata Sutami. "Ya Sudah, Mak. Tami berangkat ngajar dulu, ya, kita saling mendoakan ya, Mak!" pamit Tami kemudian mengecup punggung tangan Mak Mia.

Tak lama kemudian, Kuswara keluar dari kamar mandi. Mak Mia sudah menunggunya di meja makan. Bukan untuk mekan bersama, tapi untuk berpamitan.

"Emak berangkat kerja dulu, ya, sarapan sudah di meja, jangan lupa tutup pintu kalau kamu nanti berangkat juga," ujarnya.

"Hmm, ya. Bapak juga sudah berangkat?" tanya Kuswara, kali ini dengan nada bicara yang enak didengar.

"Sudah. Bapakmu bagian ompreng MBG, jadi jam empat harus sudah berangkat buat ngelap yang dia cuci semalam."

Begitulah akhirnya Kuswara tinggal sendirian dirumah karena semua orang bekerja. Mak Mia pun berangkat kerja bersepeda, ke rumah salah satu warga di desa sebelah sebagai pengupas bawang yang upahnya tujuh ratus rupiah per setengah kilogram. Sekali lagi cuma tujuh ratus rupiah per setengah kilogram.

Kuswara segera mengunci pintu depan. Langkah kakinya berbalik cepat menuju kamar Sutami. Menggeledah seluruh isi lemari kakaknya itu, bahkan membuka nakas dengan kasar hingga membuat isi didalamnya berhamburan keluar.

"Ayolah, pasti orang itu punya tabungan!" seru Kuswara. Matanya jelalatan mengitari seluruh sisi kamar yang tak begitu besar itu. Hingga matanya terpaku pada kotak sepatu diatas lemari.

Matanya melotot tajam, senyum licik pun terkembang di sudut bibirnya. "Ini tangkapan besar! Dua kalung, satu cincin, dan...." Kuswara mengambil sebuah buku tabungan lalu membukanya dan membuat matanya semakin melotot. "Dua puluh juta!"

Kuswara bergegas memasukkan semua barang berharga itu ke dalam kantong plastik yang sudah ia siapkan sebelumnya. "Sekarang ganti ke kamar Emak!"

Seperti itulah tindakan Kuswara, dan menemukan sebuah kalung emas dan uang sejumlah satu juta dua ratus di lemari Mak Mia. Tanpa belas kasihan, Kuswara mengambil semuanya.

"Tapi ini belum cukup!" seru Kuswara. "Rumah reyot ini... lalu berapa kalau dijual cepat?"

...****************...

Bersambung

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh 😣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sabar Tami,jgn sampai kau jadi stres 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ga bisalah,
rasain tuh 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
pengen ku lempar pk sendal tuh mulutnya 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
berpindah duduk
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Enak aja, kamu hrs berusaha dari bawah
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
itu kan salahmu sendiri, kenapa korupsi 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
jangan bikin gara" 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
mau apalagi kamu 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dara biasa makan cake 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
sembarangan 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
ga sakit tuh tenggorokan Bu 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
semua itu bukan salahmu Tami 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
apa ini jalan terbaik 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
bicarakan dengan kepala dingin 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dara dong 🤣
yosh—: 😮‍💨apesnya jadi author nggk ada yg dukung😁
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Waduh jgn berantem diluar, malu sama tetangga 🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!