Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.
Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.
Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.
"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"
Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.
Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jual Mahal
"Masuklah!"
Suara Anggara pendek. Tidak ada ramah, tidak ada senyum.
Elisa melangkah masuk dengan kepala terus menunduk. Pintu hotel yang berat itu tertutup di belakangnya dengan bunyi klik yang membuat jantungnya seperti berhenti.
Kamar itu sangat luas, sangat wangi, dan sangat dingin. Jauh berbeda dengan kos sempit miliknya.
Anggara menatapnya. Riasan di wajah gadis itu, dress hitam yang kebesaran di bagian dadanya, sepatu hak yang jelas bukan ukurannya. Semua terlihat dipaksakan.
"Siapa yang mendandani mu seperti ini?" tanya Anggara dingin.
Elisa tidak menjawab. Bibirnya gemetar.
Anggara menghela napas. Ia sudah muak dengan parfum menyengat dan lipstik mencolok.
"Buka sepatu mu. Masuk ke kamar mandi. Bersihkan semua itu."
Anggara memberikan perintah yang sangat tegas. Dan harus dilakukan segera.
Elisa mendongak kaget. "Ma... maksud Bapak?"
"Aku tidak suka riasan. Aku mau kamu bersih. Mandi! Di sana sudah ada perlengkapan."
Sekali lagi itu bukan permintaan. Itu perintah.
Elisa mengangguk pelan dan berjalan menuju kamar mandi dengan langkah yang masih gontai. Pintu kaca kamar mandi itu ia tutup, tapi tangannya terlalu gemetar untuk menguncinya. Di dalam, ia menatap wajahnya sendiri di cermin besar.
Lipstik merah. Alis tebal. Pipi yang dipoles blush on. Ini bukan dia. Dengan air yang hangat, ia mencuci wajahnya berkali-kali. Ia menggosoknya sampai kulitnya memerah. Ia ingin menghapus bukan hanya make-up itu, tapi juga rasa malu yang menempel di dirinya.
Lima belas menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka.
Elisa keluar.
Wajahnya tanpa make-up sama sekali. Rambut panjangnya basah dan terurai. Ia hanya memakai bath robe putih tebal milik hotel yang ukurannya kebesaran, yang tadi sudah disiapkan di dalam kamar mandi. Tangannya memegang ujung robe itu erat-erat, menutupi tubuhnya rapat-rapat. Seolah di depannya ada bahaya mengancam.
Dan Anggara yang sedang duduk di sofa sambil menuang air putih, terdiam sedetik.
Tanpa riasan, gadis itu terlihat jauh berbeda. Lebih muda dari 20 tahun. Wajahnya polos, bersih, cantik alami. Matanya yang sembab karena menangis justru membuatnya terlihat begitu lugu. Bukan seperti wanita-wanita langganan yang biasa datang. Menarik.
Ada rasa lain yang aneh di dada Anggara saat melihatnya. Tapi sedetik kemudian, logikanya kembali.
(Sama saja. Semua sama saja ...)
"Pantas," gumam Anggara pelan, nadanya kembali dingin dan merendahkan. "Tanpa polesan pun kamu memang cantik. Tidak heran kamu dibayar mahal."
Elisa menunduk. Kata-kata itu terasa seperti tamparan di mukanya.
"Demi uang, perempuan bisa melakukan apa saja ..." gumam Anggara yang terkesan merendahkan.
Air mata Elisa yang tadi sudah berhenti, kembali menggenang.
"Bukan... bukan seperti itu, Pak," suaranya lirih hampir tidak terdengar. "Saya memang sedang terdesak, terpaksa!"
Anggara tertawa pendek. Tawa yang tidak ada lucunya sama sekali.
"Alasan klasik. Aku sudah sering dengar."
Elisa terdiam membisu. Pembelaan apapun, pasti tidak akan mempengaruhi apapun. Nyatanya dia sudah ada di kamar hotel tersebut, bersama seorang pria asing, demi sejumlah uang.
"Tunggu di sini! Aku akan mandi!"
Anggara pergi, suasana di kamar langsung hening seperti tak ada penghuni. Elisa memegangi jantungnya yang berdegup kencang. Ia melirik pintu, rasanya ingin lari dan kabur dari sana. Tapi bagaimana dengan uang yang dijanjikan Tante Rita?
Tidak lama kemudian, muncul Anggara. Pria itu keluar dari kamar mandi hanya pakai handuk putih yang melilit di pinggangnya. Rambutnya masih sedikit basah. Ia berjalan mendekati Elisa. Jarak mereka kini hanya tinggal satu meter.
Elisa mundur selangkah, punggungnya hampir menempel di dinding. Kelihatan takut. Tubuhnya gemetar. Ia memejamkan mata, sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi. Ia sudah menyiapkan hati untuk malam terburuk dalam hidupnya.
Anggara menatap gadis yang gemetar ketakutan di depannya itu. Seperti kelinci kecil yang siap dimakan serigala lapar di hutan.
Ia melihat bahu kecil yang naik turun karena menahan tangis. Ia melihat tangan yang memegang kerah bath robe begitu erat sampai kuku jarinya memutih, bukan untuk menggoda, tapi untuk melindungi diri.
"Cih!"
(Kau sedang berakting ya)
Penilaian negatif tertuju pada Elisa. Di mata Anggara, mungkin Elisa sangat hina dina.
Padahal, sesungguhnya ini bukan tatapan seorang wanita yang menginginkan uang. Ini tatapan seorang anak kecil yang tersesat dan tidak tahu harus pulang ke mana.
Tiba-tiba, Elisa mundur lagi. Sudah tidak ada sekat antara tubuhnya dan tembok. Hatinya ketakutan manakala merasakan tangan asing menyentuh tengkuknya.
(Selamatkan aku ... selamatkan aku!!!)
Berkali-kali Elisa berharap ini adalah mimpi buruk, saat ia bangun, semuanya kembali seperti semula. Ia jadi anak ibu yang tidak pernah aneh-aneh. Menjaga diri dan pergaulan. Tidak pacaran, tidak ciuman.
Namun, harapan Elisa hanya tinggal angan-angan. Sebab, bibirnya kemudian merasakan sesuatu yang dingin dan terasa seperti mint.
Matanya terbelalak, bibir pria di depannya melahap habis, tidak mengijinkan dia berbicara barang sedetik saja. Elisa hampir kehilangan kontrol napas, Anggara menyesap sangat dalam dan lama.
Setelah ciuman itu selesai, Elisa terisak dan mendorong pelan dada Anggara. Bukan dorongan menggoda. Dorongan orang yang benar-benar ketakutan.
Anggara berhenti.
Ia menatap gadis di depannya yang kini menunduk, bahunya naik turun menahan tangis. Bath robe putih itu ia pegang erat-erat.
Biasanya, wanita yang dikirim Alex akan memeluknya balik, merayu, membuatnya lupa penat. Malam ini tidak.
"Jual mahal?" desis Anggara dingin. Nada kecewanya jelas. "Kamu tahu berapa yang sudah aku bayar malam ini?"
Elisa menangis. "Maaf, Pak... maaf... saya tidak bisa..."
Bersambung
**Tulis komentar yaaa 🤣 🤭
Bukan nya minta maaf ini koq malah semakin semena mena yak
tenin ki loe,,,,jangan di hina kan Loe tau lagi hamil muda hormon ambur adul jangan selalu nya menyamakan wanita di masa lalu nya yang lihat duit loe ijo mirip
kolor ijo,,, Anissa beda paham salah haduhhh mumet mumet,, bolak balik di kandani ga mudeng mudeng,,😇😇😇😇lope yuuuuuu sekebon bunga' buat,,, BESTie. Sept iki wis Oktober 🤣🤣
di kurung emang manuk Podang aiiiss,,,MBG parah Mas Bro Gara ga ngenai odol usus bukan Pepsodent,,,Mas Bro pisan kolo bikin ketawa Elisa jangan cuma di takuti 😂 ya emang fasilitas dan segala di penuhi Mergo GEMBOL Anaknya saja ,,,
cuma coba yen ga Gung karuan,,,Elisa dah
gadis gini saja di suruh tanda tangan dan Kamu juga usul kalau yang tidak sesuai,,,loh ko enak sing karep sopo Yo ga Elisa,,, jangan mau ya siap perang tak ewangi wis GE endang,,,jaluk rujak jingur
apel malang sing lagi metik tapi kudu moro kapok koen Mas Bro Gara,,
dan punya anak sudah tipis harapan nya lontong sayur jangan di makan ontong
ehhh si Eneng meh kabur ta,,,mugo mugo di sirep wong penjaga hahah jadi bisa kabur deh Elisa,,,, mimpi bukan tu malah nyambung ya ketangkap duhh ngelu ko bisa ya ga jadi di serep yae orang orang itu
di bim salabim Abra kadabra jadi cacing semua dalam satu jam saja 🤣 pasti ketangkep nih sama KPK wahh gaswat Gatot tenan ki 🤔🤔 cari jalan tembus Mba Elisa biar biar ga ketangkap ayo brojol tu anak baru juga beberapa minggu melas men yo,,,Mas Bro Gara kejam tapi ganteng 😁😁
Bukti kan kalau kamu bukan gadis matre , kamu masih mengutamakan hati nurani 👍👍👍