Clara Nathalia. Seorang anak kecil berusia 8 tahun, memiliki paras yang cantik. Clara anak yang periang,cerdas dan cerewet. Namun, suatu malam yang kelam menghancurkan hati Clara. Membuat Clara tidak percaya lagi dengan kebersamaan.
10 tahun kemudian, Clara tumbuh menjadi gadis yang pendiam. Karena sebuah insiden, Clara terjerumus masuk ke dalam jebakan musuh orang lain.
Bagaimana kisah Clara selanjutnya?.
Pantengin terus cerita ini ya☺....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MellaMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musim Semi
Clara mengedarkan pandangannya "Aku dimana?".
"Clara, Kamu sudah bangun sayang". Sapa Oma Sinthya tersenyum haru matanya berbinar karena tak menyangka Clara akan kembali sadar.
Clara menoleh ke arah oma Sinthya,menatapnya bingung. "Nenek?". Ujar Clara sambil melepas selang oxygen yang terpasang.
"Jangan dulu di lepas,Clara". Ujar Smith menghentikan tangan Clara.
"Iya sayang, ini nenek. Kamu ingat kan? ". Ujar nenek yang semakin mengembangkan senyumnya.
Smith mengerutkan keningnya. "Oma,kalian saling kenal?". Tanya Smith menatap ke arah oma Sinthya.
Clara kemudian menatap Smith lekat. Batinnya menerka-nerka karena ingatannya masih belum stabil.
"Saya dokter Smith,Clara. Apa kamu masih mengingat saya?". Tanya Smith dengan lembut sambil mengeluarkan stetoskop untuk memeriksa Clara.
Clara menggelengkan kepalanya pelan namun Smith tersenyum hangat padanya. Clara tidak mengingat Smith mungkin karena pertemuan mereka di tempatkan di waktu Clara tak bisa menyimpan ingatannya.
"Oma, keadaan Clara sudah lebih membaik dari sebelumnya. Tapi Smith mohon sama oma, Clara jangan dulu di kasih perkataan yang membuat Clara tertekan dan mentalnya Clara down ya oma". Ucap Smith yang di angguki oma Sinthya.
Oma Sinthya dan Smith mengajak Clara ngobrol ringan dengan di selingi candaannya. Oma Sinthya merengut mendengar Clara memanggilnya dengan sebutan nenek.
"Panggil oma aja sayang". Titah oma Sinthya pada Clara.
Clara pun mengangguk pelan sambil tersenyum simpul yang menghiasai wajahnya yang masih pucat. Ketika mereka asik ngobrol, tiba-tiba ada suara yang mengajutkanbmereka.
Ceklekk!!.
Suara knop pintu di buka seorang pengawal dan pintu ruangan pun terbuka lebar. Semua yang ada di sana langsung menengok ke arah pintu yang terbuka lalu masuklah Satria dengan langkah gagahnya.
Oma Sinthya dan Smith sedikit terkejut lantaran mereka belum memberi tahu siapapun. Satria dengan santainya masuk walaupun semua pasang mata menatap padanya. Berbeda dengan oma dan Smith, Clara malah merasa ketakutan ketika melihat Satria. Ia merubah posisi tidurnya menjadi duduk.
"O-oma". Lirih Clara dengan suara yang bergetar.
Mata siaga Clara tak bisa lepas dari Satria. Dahi Clara mulai mengeluarkan keringat,tubuhnya menegang dan bergetar ketakutan. Oma Sinthya yang tangannya di genggam kuat oleh Clara langsung mengalihkan pandangannya pada Cara.
"Clara ada apa?". Tanya oma Sinthya khawatir.
"Omaa,". Lirih Clara lagi.
Clara menatap oma Sinthya lekat,oma Sinthya langsung faham akan situasi yang Clara alami. Karena semakin Satria melangkah mendekat,semakin terlihat pula rasa takut yang Clara tunjukkan.
"Lu tahu kabar Clara dari mana?". Ujar Smith menatap Satria heran.
Satria menatap Smith malas "Lu lupa gue itu siapa?". Ketus Satria.
"Gue masih inget. Lu itu cucunya oma Sinthya dan lu sepupu gue".Ucap Smith gamblang.
"Cih". Umpat Satria.
Saat Satria hendak mendekat ke arah Clara, Oma Sinthya berteriak.
"Jangan mendekat,Satria!". Titah oma Sinthya.
Satria memicingkan matanya "Kenapa oma?".
Tapi Satria tidak mengindahkan perkataan oma Sinthya dan terus berjalan. Clara semakin ketakutan,kakinya ia tekuk dan tangannya mencengkram kuat tangan oma sampai berkeringat dingin.
"Jangan. Jangan dekati saya. Jangaann". Clara yang suaranya dari pelan kemudian meninggi saking takutnya.
"Wow. so jual mahal". Decak Satria.
Smith yang mengerti bahwa akan berbahaya jika Clara merasa stres pun angkat bicara. "Berhenti Satria. Lihatlah Clara dia sangat ketakutan jika di dekatmu". Ucap Smith.
Jari tangan Satria mengangkat dagu Clara agar Clara menatapnya. Rasa takut Clara semakin memuncak hingga Clara sampai tak sanggup lagi menahan air matanya.
"Jangan. Jangan hukum saya. Saya mohon,tuan". Ucap Clara di tengah tangisnya.
Oma Sinthya tak hentinya mengoceh agar Satria menjauh dan Smith tak masuk ke telinga Satria. Mereka tidak tinggal diam,Smith menarik tangan Satria untuk menjauh tapi sayang kalah tenaga.
"Aaaa". Rintih Clara sambil menangis.
Kedua tangannya yang tadinya mencengkram tangan oma Sinthya dengan cepat memindahkan tangan ke perutnya yang terasa sangat sakit.
Reaksi Clara sontak membuat mereka terkejut terutama Satria. Smith sudah sangat frustasi karena tingkah sepupunya itu.
Tanpa basa -basi Smith mendorong tubuh Satria agar menjauhi Clara. Dengan cepat Smith memanggil dokter spesialis kandungan.
"Clara ada apa?". Tanya oma Sinthya.
"Aaa perut Clara sakit oma". Rengek Clara. Oma Sinthya lagi-lagi dibuat panik.
"Halah palingan akting!". Ejek Satria namun raut wajahnya tak bisa membohongi. Matanya bereaksi khawatir dengan calon anaknya.
"Permisi". Ucap dokter kandungan.
Smith menarik Satria untuk mundur dan duduk di kursi sofa di ruangan itu. Disampingnya ada oma Sinthya yang merasa bahwa kakinya tidak cukup kuat untuk terus berdiri.
"Nona, bisakah nona berbaring". Pinta sang Dokter.
Smith pun menggeserkan selimutnya supaya mempermudah Clara untuk berbaring. Seketika mata Smith membulat sempurna.
"Hah! darah!".
Mereka di kejutkan teriakan Smith. Dokter segera memeriksa Clara yang terus menangis serta merintih kesakitan. Darah terus keluar yang membuat mereka semakin panik.
"Nona Clara mohon tenang ya, biar saya cek dulu". Ujar sang dokter menenangkan lalu dengan telaten memeriksa keadaan Clara.
Saat sedang memeriksa keadaan janin Clara, dokter mengerutkan keningnya setelah itu menghembuskan nafasnya dengan berat. Clara terus meringis kesakitan.
"Apa boleh saya bicarakannya di sini?". Tanya dokter menatap bergantian semua orang yang berada dihadapannya.
"Katakanlah". Ucap Satria.
"Sebelumnya saya ucapkan permohonan maaf, mungkin nona Clara terlalu stres di kehamilannya yang masih muda sehingga janin yang sedang lemah harus berhenti berkembang dan hancur melebur". Jelas sang dokter.
"Dengan berat hati, saya katakan bahwa janin nona Clara mengalami keguguran. Sekali lagi maaf beribu maaf". Tambah sang dokter.
"Apa". Teriak mereka bersamaan.
Oma Sinthya berlari tergopoh-gopoh ke arah Clara yang tengah menangis. Satria kecewa, marah, merasa kehilangan. Begitu pula dengan harapannya yang ia bangun sangat tinggi akan mempunyai penerus akhirnya hancur. Ia mengusap wajahnya kasar.
"Aaaa".
Satria terus membanting meja kaca di depannya sampai pecah berkeping.Emosinya memuncak wajahnya pun merah padam. Satria melangkahkan kakinya hendak ke luar dari ruangan itu, namun Satria menghentikan langkahnya tepat di depan Clara.
"Dasar manusia bodoh". Bentak Satria.
Lalu pergi melanjutkan langkahnya dengan emosi yang sudah di ubun-ubun. Semua bawahannya tidak ada yang berani membuka suaranya ketika melihat Satria di tengah amarahnya.
"Kamu kuat. Kamu hebat sayang, dialah yang bodoh". Hibur oma Sinthya sambil mencuri kesempatan menghapus air matanya.
"Anak Clara". Lirih Clara di tengah tangisnya.
satu minggu kemudian.
Sinar matahari yang hangat meluluhkan salju yang sangat dingin. Tumpukan bunga es kini mencair,mengalir. Dari ranting keranting dengan lincah nya tupai melompat. Burung bercicit,bernyanyi riang gembira menyambut musim baru yang telah tiba. Ya, musim semi telah tiba.
Musim yang membuat tubuh menggigil kedinginan kini telah berlalu pergi meninggalkan butiran bunga salju yang masih berserakan seperti debu.
Hari ini adalah hari dimana Clara di bolehkan untuk pulang. Oma Sinthya lah yang selalu memberi kasih sayangnya pada Clara. Clara bingung dengan arah jalan, karena sudah hampir satu jam mereka belum menghentikan mobilnya.
"Oma, kok jadi jauh banget".
Clara menatap oma Sinthya.Oma Sinthya tersenyum hangat,tangannya menyentuh pundak Clara.
"Sabar ya, kamu pasti akan sangat suka". Ucap oma Sinthya di angguki Clara yang membalas senyuman oma.
Sampailah mereka di sebuah taman bunga yang sangat luas. Berbagai macam bunga tersenyum ramah memamerkan kelopak bunga mereka yang indah. Clara membalas senyuman para bunga dengan perasaan bahagia.Melihat Clara tersenyum oma Sinthya merasa lega.
"Kamu suka kan?". Tanya oma Sinthya.
"Terimakasih oma. Ini adalah impianku dari dulu". Timpal Clara dengan perasaan berbunga-bunga.
Tetapi baru saja merasa bahagia, Clara mengubah ekspresinya menjadi murung. Ia menyentuh perutnya kemudian perlahan menatap langit. Oma yang mengerti akan ada hal buruk yang terjadi,ia pun segera mengalihkan perhatian Clara
"Sayang, kamu mau lihat bunga yang paling cantik ngga". Tawar oma Sinthya.
"Bunga apa oma?". Tanya Clara penasaran.
"Sini ikut oma". Ajak oma Sinthya menarik satu lengan Clara.
"Jika daunmu berguguran, aku takakan membiarkan rantingnya patah Clara". Batin oma Sinthya.
Biar mampus lu
Ish... geregetan pen dipiting gitu 😅😅
Ditunggu ya. Nanti mampir lagi. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan bapaknya nih
Semangka
Kenapa gak jadi ibu sambungnya aja sih. Sayang banget kan. Putus ge dari tunangannya sana
Tragis banget kamu nak 😭😭