Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Sang Mafia

Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Pengantin Pengganti
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: L U N E

Aurora Valencia dipaksa menuruti permintaan kedua orang tuanya, yaitu menjadi pengantin pengganti, menggantikan kakaknya yang melarikan diri di hari pernikahan.

Demi menjaga kehormatan keluarga, Aurora akhirnya setuju dan menikah dengan Rozen Salvadore. Seorang pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan sulit ditebak.

Walau pernikahan itu berawal dari keterpaksaan, Aurora perlahan-lahan berusaha beradaptasi dengan kehidupan barunya. Gadis itu juga menyadari bahwa di balik sikap suaminya yang kaku, tersimpan perhatian yang tidak pernah pria itu tunjukkan secara terang-terangan.

Hingga di tengah kesalahpahaman, rahasia keluarga dan ancaman kecil dari dunia mafia, mereka dipaksa belajar untuk saling percaya.

Akankah pernikahan yang awalnya hanyalah sebuah pengganti berubah menjadi kisah cinta yang abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L U N E , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penerimaan yang Indah

Jamuan makan malam pertama di keluarga suaminya ternyata berlangsung dalam suasana yang jauh lebih menegangkan daripada bayangan Aurora.

Meja makan sepanjang belasan meter dipenuhi berbagai hidangan khas Italia. Cahaya lampu kristal memantul di atas peralatan makan berlapis perak, dimeriahkan oleh percakapan para anggota keluarga yang berlangsung dengan elegan.

Aurora duduk di sisi kanan Rozen dengan punggung tegak di kursinya, berusaha menikmati makan malam yang tersaji di hadapannya. Tangannya memegang sendok dengan hati-hati, walau sebenarnya ia sama sekali belum bisa benar-benar menikmati makan malamnya.

Hal itu terjadi karena Aurora tetap merasakan gelisah berkat beberapa tatapan yang diam-diam mengamatinya dari seberang meja. Ada yang segera mengalihkan pandangan ketika mata mereka bertemu, sementara yang lain justru tidak segan memperlihatkan rasa ingin tahu mereka.

Aurora menundukkan kepala, mengambil sedikit makanan lalu mengunyah perlahan. Tujuannya seolah Aurora tidak menyadari akan tatapan tersebut.

Beberapa menit mungkin berhasil Aurora lalui dengan cara berpura-pura tidak menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan dengan tatapan penuh selidik. Namun walau bagaimanapun, rasa tidak nyaman itu akan tetap ada.

"Apa mereka sedang membandingkanku dengan Isabella?" lirih Aurora dalam benaknya.

Ketidaknyamanannya telah berevolusi menjadi sebuah asumsi yang tidak-tidak.

Aurora menarik napas pelan dan berusaha menenangkan diri. Ia tidak ingin mengumbar fakta bahwa tatapan-tatapan tersebut berhasil membuatnya gugup. Apalagi sekarang ia duduk di meja keluarga suaminya sebagai Nyonya Salvadore.

Oleh karena itu, setiap kali seseorang menatapnya terlalu lama, Aurora hanya memberikan senyum kecil dan sopan.

Walau beberapa kali ketika salah seorang anggota keluarga Salvadore kerap memandanginya dengan tatapan penuh penilaian, senyum Aurora tetap perlahan menghilang.

"Jadi kamu Aurora?"

Suara seorang wanita paruh baya memecah keheningan. Dia adalah Bianca Salvadore, adik perempuan Don Vittorio Salvadore. Wanita berusia awal lima puluhan yang masih memancarkan kecantikan elegan meskipun usianya tidak lagi muda.

Aurora mengangkat wajah dan menyaksikan bagaimana wanita itu tersenyum ramah padanya.

"Aku Bianca, adik dari ayah suamimu."

Aurora segera membalas senyum itu, memperlihatkan senyumannya yang tulus juga. Di tengah kegelisahannya, Aurora sangat bersyukur. Ternyata dirinya juga menerima sebuah senyuman dari salah satu keluarga besar suaminya, setelah yang Aurora perkirakan bahwa dirinya hanya akan menerima tatapan penuh kewaspadaan saja.

"Senang bertemu dengan Bibi," dengan senang hati Aurora membalasnya.

Bianca mengangguk puas. Pemilik mata hazel dengan tatapan lembut itu memandang Aurora lekat-lekat, memperhatikan setiap perubahan kecil pada wajah wanita muda itu sejak awal.

Bianca Salvadore melihat bagaimana Aurora berusaha tetap tersenyum meski beberapa pasang mata masih tertuju kepadanya dengan sorot curiga. Tidak ada keluhan yang keluar dari bibirnya. Bahkan ketika merasa tidak nyaman, Aurora tetap berusaha menjaga sikap dan menghormati semua orang di meja makan.

Hal itu membuat Bianca diam-diam merasa simpatik.

"Tentu saja, dia bukan Isabella," ujarnya dalam hati.

Bianca telah mengenal Isabella cukup lama untuk mengetahui bahwa kedua saudara kembar itu memiliki kepribadian yang ternyata berbeda. Isabella lebih percaya diri, mudah mendapatkan perhatian dan terbiasa berada di tengah lingkungan keluarga Salvadore.

Sementara Aurora tidak. Aurora jauh lebih sederhana. Bahkan tidak berusaha untuk mencuri perhatian dengan memanfaatkan nama Salvadore.

Entah kenapa, Bianca mulai memahami mengapa Rozen memilih mempertahankan pernikahan tersebut.

"Tidak perlu terlalu tegang." Bianca mengatakannya dengan tersenyum hangat. Sebuah bentuk penerimaan yang nyata di perlihatkan.

Aurora sedikit terkejut. Atau mungkin kalang kabut karena tertangkap basah.

"Aku tidak tegang, Bibi," dusta Aurora dengan suara sedikit lebih pelan.

Bianca terkekeh kecil. "Benarkah?"

Tatapan Bianca turun sebentar pada jemari Aurora yang sejak tadi menggenggam serbet terlalu erat.

"Kamu sudah meremas serbet itu seperti ingin menghukumnya."

Beberapa orang di meja menahan tawa. Aurora secepat kilat melihat tangannya sendiri. Ia baru menyadari bahwa jemarinya memang menggenggam serbet itu dari tadi.

Pipi Aurora memerah. Ia cukup malu dengan ucapannya sendiri.

"Maaf. Aku hanya...."

"Jangan meminta maaf," ucap Bianca cepat, memotong perkataan Aurora kemudian tersenyum hangat.

"Ini pertama kalinya kamu duduk bersama keluarga besar Salvadore. Wajar kalau merasa gugup."

Aurora mengangguk pelan dengan senyum tipis yang masih tertahan di bibirnya, kemudian melirik ke sekeliling meja makan. Ada begitu banyak wajah yang belum dikenalnya. Beberapa tampak ramah, sebagian lainnya hanya mengamatinya dengan rasa ingin tahu.

Aurora sadar bahwa dirinya bukan Isabella. Ia datang ke keluarga Salvadore hanya sebagai pengantin pengganti. Dan pikiran itu selalu berhasil membuat dadanya terasa sesak.

"Aku hanya takut melakukan sesuatu yang salah," ungkap Aurora dengan jujur.

"Rasanya seperti sedang mengikuti ujian yang semua orang sudah tahu jawabannya, kecuali aku," lanjut Aurora lagi setelah menjeda kalimatnya selama beberapa detik.

Beberapa orang di meja makan tersenyum mendengar ucapan Aurora, termasuk Bianca.

Bianca menatap Aurora dengan lembut sebelum berbicara.

"Kami memang belum mengenalmu."

Perkataan itu membuat Aurora kembali menunduk.

"Karena itu, kami akan mengenalmu," sambung Bianca kemudian.

Aurora mengangkat wajahnya, memperlihatkan raut wajah terkejutnya setelah mendengar perkataan yang sama sekali belum pernah dibayangkan olehnya sebelumnya.

"Dan kamu tidak perlu menjadi Isabella agar kami bisa menerimamu."

Sepenggal kalimat yang membuat suasana meja makan kembali hening.

Bianca tersenyum melihat respon Aurora.

"Isabella adalah Isabella. Dan kamu adalah Aurora."

Bianca menjadi satu-satunya yang berbicara dalam jamuan makan malam itu. Dan seluruh keluarga tidak merasa terganggu olehnya. Mereka justru turut menyimak percakapan yang terjalin antara Aurora dan Bianca tersebut.

Beberapa detik berlalu, Bianca mengangkat gelasnya dengan elegan dan meneguk sedikit sebelum kembali berbicara.

"Kalau Rozen memilih menjadikanmu istrinya, setidaknya berikan kami kesempatan untuk mengenal wanita yang membuat pria keras kepala itu mengambil keputusan sebesar ini."

Aurora terdiam. Senyum perlahan muncul di wajahnya.

"Terima kasih, Bibi."

Bianca mengangguk sebelum kembali berbicara, "Mulai sekarang, panggil aku Bibi Bianca. Jangan terlalu formal. Kita keluarga."

Untuk pertama kalinya malam itu, dada Aurora terasa sedikit lebih ringan. Hal itu karena Aurora merasa bahwa dirinya telah benar-benar diterima.

Perasaan bahagia yang murni karena di tengah tatapan penuh rasa ingin tahu dan tatapan curiga yang masih mengarah kepadanya, ada satu orang yang akhirnya membuat Aurora yakin bahwa dirinya tidak benar-benar sendirian di meja keluarga Salvadore tersebut.

"Baik, Bibi Bianca."

Bianca tersenyum tipis.

"Kudengar kamu sangat pandai merangkai bunga. Rosa bahkan tidak berhenti membicarakannya."

Aurora tertawa pelan, tidak menyangka juga kalau kegiatannya dengan Bibi Rosa di ruang tamu akan tersebar hingga ke kediaman utama keluarga Salvadore.

"Itu hanya kebetulan saja, Bibi." Sejujurnya Aurora merasa sedikit malu. Tapi siapa sangka bahwa percakapan sederhana itu yang membuat suasana tegang perlahan mencair.

Aurora menatap piring di hadapannya beberapa detik, lalu tanpa sadar merapikan posisi sendok dan garpunya, kemudian mengambil gelas air dan meneguknya perlahan. Selesai membasahi tenggorokannya, Aurora kembali menatap hidangan di hadapannya, melanjutkan makannya.

Bianca melihat bagaimana Aurora tetap sopan meskipun merasakan ketidaknyamanan. Bagaimana Aurora tidak pernah menggunakan nama besar Salvadore untuk mendapatkan keuntungan, bahkan masih merasa tidak pantas menyandang nama keluarga tersebut.

Bagi Bianca, sifat itu menunjukkan ketulusan.

Bianca tahu. Semua anggota keluarga Salvadore tahu bahwa Aurora datang ke keluarga Salvadore dalam keadaan yang tidak mudah.

Terpaksa menjadi seorang pengantin dengan tiba-tiba karena harus menggantikan saudari kembarnya.

Seorang wanita berhati lembut yang menikah dengan pria paling berkuasa dalam keluarga.

Dan seorang istri yang bahkan belum dicintai oleh suaminya sendiri.

Karena itulah Bianca memilih menjadi orang pertama dari keluarga besarnya yang benar-benar membuka tangannya untuk Aurora.

Bukan karena Bianca sudah melupakan Isabella. Melainkan karena Bianca percaya bahwa Aurora tidak seharusnya dihukum atas kesalahan yang dilakukan kakaknya.

Dan perlu diketahui bahwa dalam keluarga Salvadore, Bianca dikenal sebagai wanita yang lembut ketika berbicara, tetapi sangat tegas ketika menyangkut keluarga.

Bianca dengan inginnya sendiri akan menjadi orang yang membuat Aurora merasa bahwa dirinya benar-benar memiliki tempat di keluarga Salvadore.

"Kau melakukannya dengan baik."

Aurora menoleh karena secara tiba-tiba pria dingin di sampingnya berbicara pelan kepadanya. Bahkan nyaris terdengar seperti sedang berbisik.

Rozen memasang ekspresi datarnya. Tatapannya fokus pada hidangan yang masih dinikmatinya. Pria tanpa ekspresi itu berbicara santai seolah kalimat itu hanyalah fakta biasa.

Namun bagi Aurora, pujian singkat tersebut terasa jauh lebih berarti daripada seratus kata penghiburan.

Aurora tersenyum kecil. Tidak sanggup menyembunyikan rasa bahagianya. Karena malam itu Aurora mendapati kabar yang menurutnya baik. Yaitu selain suaminya, Bibi Rosa dan ayah mertuanya, telah bertambah Bibi Bianca yang menerima kehadirannya.

"Terima kasih."

Rozen tidak membalas senyum itu namun tidak lupa mengangguk singkat diakhir.

Meski begitu, kali ini hati Aurora terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya. Seolah beban yang sejak awal pernikahan yang menyesakkan dadanya perlahan mulai terangkat satu per satu.

...***...

1
Anonim
lanjut tor aku penasaran dgn cerita nya
Lumina Vivian
Seru, tulisannya juga rapi.
Lumina Vivian
Lanjutkan ceritanya kak, semangat!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!