Indonesia
NovelToon NovelToon
Dearjuna

Dearjuna

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: blue_takoyaki

Kata orang, cinta itu datang karena terbiasa. Mungkin itu yang dirasakan Aruna semenjak Arjuna datang untuk memberi warna di dalam hidupnya. Meskipun pada awalnya, ia sangat terganggu dengan keberadaan cowok itu di sekitarnya.

Lantas, bagaimana kisah mereka selanjutnya? Apakah keduanya akan menemukan akhir yang bahagia untuk kisah cinta mereka? Atau malah sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_takoyaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dearjuna 21 - Unlucky Monday

Aruna perlahan membuka kedua mata saat kali ke-sekian ia merasa sesuatu bersentuhan dengan tangan kanan yang saat ini digunakan sebagai penyangga kepala. Gadis itu belum beranjak dari posisinya. Dia masih menunggu nyawanya berkumpul sambil meraba sesuatu yang ada di bawah permukaan telapak tangannya itu.

Sebentar ... kenapa tiba-tiba perasaan Aruna jadi tidak enak?

Aruna seketika menoleh ke arah tangannya sendiri. Dua obsidian itu tiba-tiba membulat penuh saat mendapati tangan besar Arjuna-lah yang dia sentuh beberapa kali. Lantas, si perempuan buru-buru menegakkan badan dan menarik tangannya dari punggung tangan pemuda itu.

“Huh, bisa-bisanya gue megang tangan dia. Untung aja si Juna belum bangun. Kalau udah, bisa-bisa lo dituduh modus sama dia, Aruna!” Aruna menggerutu kepada dirinya sendiri.

Usai itu dia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas salah satu halaman buku LKS. Pupil mata gadis itu membulat lagi tatkala melihat jam yang menunjukkan pukul 6 lewat 15 menit di layar benda elektronik tersebut. Lantas, gadis itu bangun dari tempat itu sambil memijat pinggangnya yang pegal akibat tidur dalam posisi duduk.

Aruna menutup LKS miliknya dan Arjuna, menumpuk dua buku tersebut di pinggir meja, lalu memasukkan beberapa alat tulis yang tergeletak di meja ke dalam tempat pensil. Selanjutnya, gadis itu kembali mendaratkan pantatnya di sebelah si cowok yang masih memejamkan matanya rapat-rapat.

“Hhhh, kenapa belum bangun juga, sih? Gue udah grasak-grusuk emang gak kedengeran, apa? Dasar kebluk!” Aruna menggerutu lagi. Wah, sepertinya gadis itu enggak sadar kalau dia lebih parah dari Arjuna.

“Arjuna, bangun!”

Mata Arjuna sayup-sayup terbuka pada tepukan terakhir yang mendarat di bahunya. Dia menggosok matanya yang berair sambil sesekali menguap, menandakan bahwa sang nyawa belum sepenuhnya kembali ke raga. Kemudian ia menoleh ke arah Aruna sambil mengubah posisi duduk menjadi tegak.

“Eh Aruna, kamu udah bangun?” tanya pemuda itu dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Tak lama dari itu, dia tiba-tiba tertawa sendiri sambil menepuk pelan keningnya. Ya iyalah! Kalau belum bangun gak mungkin Aruna ngebangunin kamu, Juna! Hahaha!”

Aruna berdecih. Dia melirik pemuda itu dengan sinis, lalu mengangkat badannya sambil membawa LKS (termasuk milik Arjuna) dan tempat pensil yang ia letakkan di pinggir meja. “Sekarang udah jam enam 6 lewat 25 menit, Arjuna. Kita cuma punya waktu sekitar setengah jam sebelum gerbang ditutup sama Pak Ito.”

Habis itu Aruna berlari tergesa-gesa menaiki anak tangga menuju lantai dua. Lalu dia menghilang dibalik pintu kamar Arjuna yang tertutup rapat.

Lima belas menit kemudian, Aruna kembali ke lantai satu dengan seragam putih abu-abu yang membungkus tubuh rampingnya. Saat ini dia sedang berjongkok di dapur sambil mengusap Hitler yang sedang menikmati sarapannya. Kemudian atensi gadis itu berpaling dari si gembul saat ekor matanya menangkap sosok Arjuna yang berdiri di samping lemari penyekat.

“Apa kita cari sarapan dulu sebelum ke sekolah? Bubur yang di sekitaran ruko deket gerbang kayaknya enak deh.”

“Waktunya enggak keburu, Juna,” jawab Aruna sambil mengangkat badannya. Kemudian ia bergegas menghampiri cowok itu. “Kita masuk jam tujuh, sementara sekarang udah jam 6.50. Waktunya tinggal sekitar sepuluh menit lagi, Arjuna. Lo mau kita beneran terlambat?”

“Enggak sih ... tapi kamu gimana? Masa gak sarapan? Kalau sakit gimana?”

Aruna menggelengkan kepala sambil menatap Arjuna dengan penuh keyakinan. “Gue bisa beli roti setelah upacara kok. Lo tenang aja.”

Arjuna menghela napas panjang lalu menganggukkan kepala setelah Aruna berhasil meluluhkannya. "Ya udah. Tapi kalau ada apa-apa, bilang aku ya?”

“Iya-iya! Dasar cerewet!”

...****************...

“Aku mau ngebut, Run. Kamu pegangan yang erat, ya!’

Aruna mengangguk. Dia mengeratkan pelukan di tubuh Arjuna saat sepeda yang dikayuh oleh si pemuda bertambah semakin cepat. Gadis itu sontak memejamkan matanya rapat-rapat sambil merapalkan doa saat Arjuna berkali-kali menerobos polisi tidur tanpa mengurangi laju sepedanya.

Sebenarnya, Aruna ingin sekali membentak Arjuna karena tidak berhati-hati. Namun ia urungkan karena tahu alasan cowok itu ugal-ugalan kali ini adalah agar mereka bisa sampai di sekolah sebelum pak Ito yang bertugas piket hari ini menutup gerbang sekolah. Kalau gerbang sudah ditutup, mau tak mau mereka harus menunggu di luar sampai sesi upacara bendera selesai.

Duh, Aruna enggak mau hal itu terjadi pada mereka!

Setelah keluar dari gang kecil di sekitar pertokoan, Arjuna membelokkan sepedanya ke arah kanan menuju jalan besar di depan sekolah mereka. Dia semakin mempercepat laju sepedanya, tak peduli berapa kali menerjang polisi tidur (lagi) yang tersebar di jalan. Yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya mereka sampai di sekolah sebelum pak Ito benar-benar menutup gerbang sekolah.

Sementara itu, Aruna yang duduk di belakang Arjuna terlihat sangat gelisah tatkala sudut matanya menangkap pak Ito yang kini mulai menarik railing pagar supaya yang terbuka hanya cukup untuk pengguna kendaraan roda dua dan pejalan kaki. ‘Semoga Juna berhasil masuk sebelum gerbang ditutup, Ya Tuhan!’ gumam Aruna di dalam hati sembari menutup kedua mata.

Tapi sepertinya Tuhan belum mengabulkan permintaan Aruna. Pak Ito menutup pagar kecil yang masih terbuka tepat ketika dua remaja itu sampai di depan pelataran sekolah mereka. Pria itu menggelengkan kepalanya sambil menghela napas tatkala melihat Aruna turun dari sepeda.

“Aduh, Aruna! Padahal udah hampir beberapa bulan saya enggak lihat kamu terlambat loh. Saya kira kamu udah tobat, ternyata balik lagi ke setelan awal,” ujar pak Ito. Kemudian pandangannya berpindah kepada Arjuna yang juga ikut turun dari sepeda tersebut. “Mana sekarang ngajak temen pula.”

Aruna cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal. “Maaf atuh, Pak! Namanya juga manusia, tempatnya khilaf. Jadi, saya sama Arjuna boleh masuk gak, Pak?”

Pak Ito menggelengkan kepalanya lagi. Kali ini tatapan matanya memancarkan aura serius saat memandangi dua remaja yang berdiri di depannya. “Gak bisa. Kalian harus nunggu sampai upacara bendera selesai.” Kemudian beliau membagikan masing-masing selembar kertas kepada Arjuna dan Aruna.

“Sekarang, isi form ini dulu. Habis itu kumpulkan ke saya selesai upacara,” sambung pak Ito. Usai itu beliau kembali mengunci pagar dan berjalan dengan santai menjauh dari dua siswa yang terlambat ini.

Aruna menarik napas panjang saat memandangi kertas formulir keterlambatan yang kini bertengger di telapak tangannya. Kemudian dia menghempaskan pantatnya di tanah, melepas salah satu tali ransel dan mengeluarkan sebuah pulpen dari sana, lalu mulai mengisi formulir dengan menjadikan tanah sebagai alasnya.

“Nanti aku pinjem pulpen kamu, ya.” Arjuna ikut duduk di samping Aruna. Laki-laki itu sempat mengukir senyuman tipis saat matanya tertuju kepada lawan jenisnya ini. Habis itu ia mengalihkn pandangannya kepada formulir keterlambatan yang berada di tangannya. “Ini mana aja bagian yang kita isi, Run?”

Aruna menoleh ke arah Arjuna usai menyelesaikan formulir tersebut. Gadis itu menyodorkan pulpennya, lalu menggeser tubuh agar sedikit lebih dekat kepada si lelaki. “Isi aja bagian nama, kelas, tanggal hari ini, dan alasan terlambatnya. Terus, nanti lo tandatangan di sini,” jelasnya sembari menunjuk bagian nama pemohon yang terletak di pojok kiri bawah.

Singkat cerita, upacara di hari Senin itu berakhir. Pak Ito kembali membuka gembok pagar kecil tersebut, lalu menandatangani formulir yang diisi Aruna dan Arjuna. Usai memberikan hukuman yang harus dikerjakan mereka sepulang sekolah, beliau pun mengizinkan dua remaja itu memasuki area sekolah.

...****************...

Aruna menghentikan langkahnya sejenak ketika sampai di depan kelas XI IPA 3. Dia menarik napas lega setelah mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut di ruangan itu. Guru pengampu mata pelajaran Fisika bernama pak Damar yang dikenal galak ini belum menampakkan diri.

Syukurlah, kalau begini Aruna tidak perlu merasa malu karena diusir oleh pria itu di depan seisi kelas

“Arjuna, tumben kamu terlambat?” tanya Kinara saat Arjuna menempati tempat duduknya. Kemudian pandangan dan ekspresi wajah gadis cantik itu berubah saat melihat Aruna yang juga tengah menempati kursinya. “Kamu terlambat gara-gara Aruna, ya? Aduh, padahal aku udah sering bilang, kan? Aruna itu bawa sial. Kok kamu masih betah sih deket-deket dia?”

“Ih, Juna! Kok kamu cuekin aku, sih?”

Arjuna hanya merespon celotehan Kinara dengan helaan napas panjang sembari menggelengkan kepala. Kemudian ia mengeluarkan beberapa buku dan tempat pensil dari ransel hitam miliknya, lalu menoleh ke arah Aruna yang sedang memainkan telepon genggamnya. “Oh iya, Run. LKS aku ada di kamu, kan?”

“Ada. Sebentar, ya.”

Lantas Aruna mematikan layar ponselnya dan menyimpan benda itu di saku almamater. Selanjutnya, ia memasukkan tangannya ke dalam ransel ukuran sedang yang tergeletak di atas meja. Telapak tangannya mulai bergerak ke sana kemari, meraba setiap permukaan sampul buku di dalam tas tersebut.

“Ini Matematika, Biologi, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia ... sebentar ... LKS Fisika kok gak ada?”

Rasa panik tiba-tiba muncul di dalam hati Aruna saat dia tidak menemukan buku LKS yang dimaksud Arjuna. Lantas gadis itu buru-buru beranjak dari tempatnya. Dia membalikkan tas dan membiarkan isinya jatuh dan berserakan di meja. Selanjutnya tangannya kembali bekerja mencari LKS Fisika di antara tumpukan buku lainnya.

“Selamat pagi anak-anak!”

Wajah Aruna semakin kelihatan panik saat matanya menangkap pak Damar saat pria itu memasuki ruangan. Lantas gadis itu buru-buru mendaratkan pantatnya di kursi, lalu memasukkan kembali barang-barang yang tidak diperlukan ke dalam tas.

“Ya, sekarang kumpulkan LKS kalian masing-masing ke meja barisan paling depan!”

Satu per satu murid mulai mengumpulkan tugas masing-masing ke meja paling depan. Perasaan panik semakin menguasai Aruna. Gadis itu kerap kali menggigit kuku sambil merutuki kecerobohannya sendiri saat melihat beberapa temannya maju ke depan kelas.

“Aruna.”

“Aruna?”

“Aruna!”

Aruna spontan menghentikan giginya yang memotong sang kuku dengan abstrak. Dia menoleh ke arah Arjuna sambil meringis, lalu buru-buru menjauhkan tangannya dari bibir. “Juna ... itu ... LKS lo ... kayaknya ketinggalan di rumah ... sorry ... “

Arjuna melongo. Sebenarnya dia ingin marah karena kecerobohan Aruna. Namun setelah melihat ekspresi bersalah yang ditunjukkan gadis itu, hatinya meluluh. Dia jadi tidak tega untuk sekedar menunjukkan wajah kesalnya kepada Aruna.  “Gak papa, Run. Kamu pasti gak sengaja, kan? Udah, sekarang jangan gigitin kuku. Gak baik tau!”

“T-tapi tetep aja, Juna. Gue—“

Perhatian Aruna seketika beralih kepada pak Damar ketika pria itu kembali membuka suara. Guru fisika yang mengajar di kelas mereka ini mengedarkan pandangan ke seluruh siswa usai menghitung jumlah LKS yang dikumpulkan di meja barisan depan. “Masih ada dua LKS yang belum dikumpulkan ke saya. Bagi yang merasa silakan maju ke depan sebelum saya seret dari tempat duduk kalian!”

Aruna kembali melirik Arjuna. Laki-laki itu memberikan senyuman tipis yang manis dan memberi kode agar mereka berdiri sebelum pak Damar menyeret keduanya. Lantas Aruna pun mengangkat tangan sambil beranjak dari tempat duduknya. “Maaf, Pak! LKS saya ketinggalan di rumah,” aku gadis itu.

Tak lama dari itu, Arjuna juga ikut berdiri dan mengangkat tangannya. “Saya juga, Pak. LKS saya ketinggalan di rumah.”

Pak Damar berdecak pelan sambil menggelengkan kepalanya kala menatap Aruna dan Arjuna secara bergantian. “Kalian ini sengaja janjian agar tidak mengerjakan tugas dari saya, ya? Ya sudah, hari ini kalian tidak boleh ikut kelas saya hari ini! Silakan keluar dan renungkan kesalahan kalian!”

Aruna buru-buru menundukkan kepala saat merasakan pandangan semua orang tertuju kepadanya. Kemudian ia berjalan gontai melewati barisan kursi di depannya, lalu keluar dari kelas XI IPA 3.

1
||Leoni_oni 🌻♌
aku mampir kak /Kiss/
Putra Al - Bantani
langsung Subcrebe
Putra Al - Bantani
baru mampir kak wah keeen 🌹🌹 untk kak Author.
Mampir juga ya kak ke raya ku, tetap saling mendukung
Putra Al - Bantani
wah cubitannya berbisa. juga ya...
Dear_Y
dear_Y siap berkenalan dg DearJuna..
semangat...
Solomon72
semangat Thor lanjutkan mampir juga ya 😁
putrii kelinci
Halo kak.. aku mampir..
Kalau sempat feedback ya.. 🙏 thankyuuu... 😊😊
putrii kelinci
Sok kecantikan sihh.. jadi gemes aku tuh.. pengen kucubit deh.. 😂😂
Aicanil
"United Enemies" menyapa, jangan lupa mampir yuk
Fatisya
semangat...
lanjut...
Cici Itdha
kak up lagi kak
Cici Itdha
gue juga punya run, Yoongi namanya🤣
Xavivuvour
Ceritanyaa lucuu, cocok buat orang jomblo kek Saya haha. Mangat terus kak Author up nya ✌
Angelika
Halo, aku udah baca sama like ni, aku tunggu kelanjutan chapternya ya , ohiya ku salfok itu emang nasi duduk atau harusnya nasi uduk?😭 Ohiya jgn lupa mampir sm like karyaku ya💗✨
Pucukbiru
👍
Liu Zhi
up, Thor
Liu Zhi
hahahaha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!