Langit memancarkan aurora yang indah, namun pertanda kabar buruk sudah tersebar. Pecahnya batu permata suci Thindrel ditanah Landow itu pun harus ditemukan. Tanah berguncang pertanda keseimbangan mulai menghilang, hingga pengaruh sihir di utara Erast terlihat menyeramkan karena bara api serta awan hitam yang menyelimuti. Tidak lagi terlihat kehidupan di tanah Erast itu, berubah menjadi perkumpulan mahkluk purba kala Durog dan Ragor.
Disaat Anora datang dan tidak sengaja menyerap unsur murni dari batu suci Thindrel, keseimbangan kini berada ditangannya. Melawan Balthazar penguasa api dan angin serta Lilith yang dapat berubah bentuk. Anora pun harus dihadapkan melawan Durog dan Ragor dengan kedua tangannya sendiri. Akankah sihir ditanah Erast dapat kembali menyelamatkan Landow dan segala seisinya dengan Anora bersama pasukan Brandir yang berjuang bersamanya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fidia K.R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Erast Landow 21
Langit kian muram dengan kabut yang menyelimutinya. Sosok bayangan itu berjalan memutar mengelilingi, entah karena alasan apa lagi yang mereka inginkan saat ini. Penuh amarah akan terpaksa kehilangan sosok yang amat penting, jiwa suci pun mulai ternodai.
Ilmu dunia yang tidak akan ada habisnya, seperti itulah kiasan yang tepat bagi pikiran yang haus akan pengetahuan. Tapi pada saat hati terlupakan hingga menimbulkan bekas luka, menurutmu akal pikiran itu akan lebih rasional dari biasanya?.
“KEMANA KALIAN SEMBUNYIKAN VALOR DAN VILIRIS?! ... JAWAB AKU!” sentak Anora yang kini diliputi duka lara.
“Anora ... bagaimana jika kita me—“ Raymond mencoba membujuknya namun terhenti disaat melihat tatatap Anora begitu dingin.
“Jika saja kalian tidak menyembunyikan Valor dan Viliris, aku tidak akan menggunakan sihirku untuk memanggil Durog itu! KALIAN PENYEBAB KEMATIAN CARRAN! KALIAN HARUS MEMBAYARNYA!” Anora kian menjadi tak kala berada diambang puncak kegelisahan.
“Sssttt ... Hussttt ... Anora, lihat aku ... kita akan baik-baik saja ... semua akan baik-baik saja.”
Tak lagi dapat menahan perasaannya, Anora pun menangis dipelukan Raymond dengan tidak bersuara. Tatapan iba yang diberikan Hezekiah dan Dolrak pun terlihat bingung akan apa yang harus mereka lakukan untuk menghibur Anora saat ini.
Kini yang bisa dilakukan Hezekiah dan Dolrak adalah berbicara dengan penghuni perbatasan yang terlihat begitu terkejut akan kedatangan Durog. Beberapa nyawa melayang, tak kala rumah kediaman mereka pun hancur berantakan.
Kini mereka menyadari bahwa kedatangan pasukan Brandir kemari bukanlah untuk mencari masalah, namun justru untuk melindungi mereka. Kesalahpahaman pun membuat penghuni perbatasan begitu merasa bersalah, terlebih saat menatap pada Anora yang masih menangis tersendu pilu.
Tidak lagi memerlukan argumen yang berlebih, beberapa penghuni perbatasan berjalan menuju sebuah tempat yang diikuti oelh Hezekiah dan Dolrak. Mereka tidak menyangka bahwa ditempat ini, penghuni perbatasan mendirikan sebuah benteng yang dijadikan penjara untuk para penghuni Leadale atau buronan.
Penjara itu pun begitu tidak layak dengan semak belukar berduri yang siap mengoyak sayap indah mereka jika salah melakukan gerakan. Tanah berlumpur yang dijadikan tempat pijakan pun diberi batu kerikil dengan atap bangunan yang rendah.
“HEZEKIAH! ... DOLRAK!” teriak Valor dari suatu jeruji penjara.
“KAU DIMANA VALOR? APA VILIRIS BAIK-BAIK SAJA?” tanya Hezekiah dan Dolrak yang mencari mengitari beberapa jeruji penjara yang dipenuhi penduduk Leadale atau makhluk penghuni lain.
“PALING UJUNG KANAN! VILIRIS BAIK!” balas Valor dengan suara kencang.
Hezekiah dan Dolrak segera berlari dan menghampiri jeruji besi tempat Valor dan Viliris berada. Begitu miris melihat penampilan mereka saat ini yang berdiri mematung penuh sesak. Wajah mereka yang terukir bagai lukisan hidup, terpaksa tergores duri yang tajam.
“Bagaimana bisa kalian melakukan ini pada mereka?!” ucap Hezekiah mulai merasa kesal saat membuka pengunci jeruji bersama Dolrak.
“Apa kalian tahu, siapa yang kalian kurung saat ini?” tanya Dolrak pada penghuni perbatasan.
“Hentikan ... jangan.” Valor menghentikan Dolrak melanjutkan perkataannya.
Sebagai Raja dari wilayah Beckton dan Mareen tentu saja posisi mereka berdua bagai kehilangan muka akan nama naik dan harga diri yang dijunjung sejak dulu. Tidak menyadari akan penghuni serta anggota keamanan kerajaan, Hezekiah dan Dolrak pun bagai ditampar dengan sangat keras.
Namun berbeda dengan Valor dan Viliris yang begitu mencintai perdamaian meski mereka diperlakukan tidak layak, mereka masih mencoba untuk berpikir rasional untuk menghindari perpecahan antara kerajaan ditanah Landow.
Air pada api yang menjalar, seperti itulah kiasan para penghuni Leadale sebenarnya. Namun sejak Anurag mulai terlepas, seringkali merubah jiwa yang kosong terisi dengan rayuan-rayuan akan kedudukan yang lebih baik meski hanya menyengsarakan diri sendiri.
“Kalian tidak apa-apa? bagaimana dengan sayap kalian?” tanya Hezekiah begitu khawatir.
“KALIAN LEPASKAN SEMUA PENGHUNI LEADALE SEKARANG JUGA, ATAU AKU AKAN MEMOHON PADA POHON SUCI UNTUK MENGHUKUM KALIAN LEBIH DARI INI!” ucap lantang Dolrak sembari memperlihatkan sebuah bukti bahwa dia adalah Raja Beckton.
Begitu para penghuni perbatasan mengetahui siapa Dolrak, mereka langsung menunduk penuh hormat dengan tidak lagi memperlihatkan keangkuhan diwajah mereka. Tidak hanya satu atau dua alasan, mereka pun dapat tahu siapa saja yang kini berada disekitar Dolrak meski hanya berprasangka
Penghuni perbatasan sama sekali tidak memiliki prajurit pertahanan karena dianggap sebagai perusak penyeimbang, mereka hanya saling terikat satu sama lain dan oleh karena alasan inilah mereka berprilaku seperti ini.
Pandangan Dolrak tidak berubah dengan sisi penuh wibawa agung yang dimiliki setiap wilayah kerajaan, membuat para penghuni perbatasan pun melepaskan semua penghuni Leadale dan mempersilahkan mereka untuk segera kembali ke wilayah kerajaan awan.
Namun ternyata ini semua tidak berhenti sampai disitu tak kala bagi Hezekiah, mereka tetap harus dihukum karena melakukan pelanggaran berat hingga terjadilah kesalahpahaman lainnya antara kepemimpinan Hezekiah dan Dolrak.
“Entah berapa banyak nyawa yang akan melayang lagi jika mereka tidak diberi pelajaran! Kau tidak lihat yang penghuni perbatasan pada penghuni Leadale?!” jawab kesal Hezekiah pada Dolrak.
“Hukum alam akan mengaturnya. Mereka terpaksa melakukan hal itu! Apa kau tidak lihat bagaimana menyeramkannya tempat ini?!” balas Dolrak dengan menghentak kapak sucinya.
“Dolrak, kala mereka bergerak menuju pohon suci untuk meminta restu saat akan menyerang kerajaan Leadale, kemana kau saat itu? Kenapa kau sampai tidak tahu hal ini?” tanya Hezekiah seolah menyudutkan.
“SAAT ITU MENDIANG AYAHKULAH YANG BERTAHTA! Aku masih menjadi pangeran yang tidak memiliki kekuatan besar. Aku mencoba menghentikan mereka kala itu, hingga mendapatkan luka ini!” kekesalan Dolrak memuncak disaat memperlihatkan luka panjang dan dalam dipunggungnya.
“Mereka membawa perlengkapan senjata dari kerajaanmu yang tidak dimiliki kerajaanku! Bagaimana aku bisa melawan mereka? Sekarang katakan padaku Hezekiah, bagaimana bisa ini terlewat darimu disaat mereka membawa senjata dari kerajaanmu?!” lanjut Dolrak dengan angkuh.
“Kumohon ... hentikan kalian berdua! Kita adalah pasukan Brandir. Ikatan kita lebih dari pada ini!” ucap Valor yang mencoba menengahi mereka.
Keadaan semakin memuncak tak kala penghuni perbatasan berdiri tegap hingga tidak ada lagi sisi penghormatan pada Raja mereka. Tatapan mereka dipenuhi amarah dengan kedua tangan mereka yang mengepal seolah siap melakukan perlawanan.
“RAYMOND! ... ANORA!” teriak Viliris dari kejauhan yang meminta bantuan.
Tahu akan mereka yang tidak akan sanggup menghadapi ini, hanya sosok Alumir dan Olgora terpilih yang dapat menyelesaikannya. Pasukan Brandir disibukkan dengan egoisnya masing-masing akan pembenaran dari pendapat mereka yang terdengar masuk akal.
Valor dan Viliris pun akhirnya memberi kekuatan yang tersisa dalam diri mereka untuk diberikan kepada penghuni Leadale yang terluka agar dapat terbang kembali ke kerajaan Leadale melihat suasana tanah Landow yang berbahaya.
“Anora ... singkarkan kemarahanmu pada penghuni disini, dan bantu aku membereskan masalah ini. Kau tahu kekuatanku tidak cukup besar untuk memindahkan kerajaan Leadale ... aku membutuhkanmu.” Ucap lembut Raymond saat menyentuh lembut wajah Anora.
Anora seketika menutup matanya menyadari akan dirinya yang saat ini adalah Ratu dari kerajaan Halivara. Jika maslaah seperti ini saja menguasai pikiran dan hatinya, maka ia sungguh tidak pantas untuk memimpin kerajaan sama seperti yang Prof. Oswold pernah katakan padanya.
Anora membuka kedua matanya dengan menatap pada wajah tampan Raymond yang saat ini memohon padanya. Dengan menundukkan kepalanya seraya menyetujui, keduanya pun menyepakati sebuah pemikiran akan tidak perlu lagi untuk menahan aura runa sihir mereka.
Kejadian yang meluluh lantahkan penghuni perbatasan oleh Durog pun pasti saat ini sudah terdengar sampai kepada Balthazar dan Lilith. Sungguh hanya membuang waktu mereka jika kejadian yang tidak terduga terjadi hingga menimbulkan masalah lain hanya karena menutup runa sihir mereka.
“VOLAREZ!” ucap lantang Anora dan Raymond untuk segera melayang menuju tempat yang dijadikan penjara penghuni perbatasan. “Anora, periksa kondisi Valor dan Vilirs. Aku akan mencoba berbicara dengan mereka.”
Mengangguk seraya mengiyakan, Anora memberikan sihir penyembuh pada Valor dan Viliris yang terlihat begitu lemah. Namun saat Anora menatap mereka, senyuman diwajah mereka seolah tidak pernah pudar hingga Anora merasa tersipu melihatnya.
“SURSUM.” Sebuah mantra lainnya yang kembali Anora ucapkan untuk memberikan runa sihir penyembuh pada jiwa dan raga milik Valor dan Viliris.
Disatu sisi lainnya, Raymond mencoba untuk menengahi Dolrak dan Hezekiah dengan masih mempertahankan pendapat mereka dan tidak ada sifat ingin mengalah satu pun. Tindakan mereka ini hanya membuat penghuni perbatasan semakin terbawa aura peperangan yang bodoh.
“Hentikan. Jangan buat aku melakukan hal yang tidak seharusnya aku lakukan karena tingkah laku kalian berdua! Apa kalian tidak melihat saat ini mereka sedang melihat pemimpin yang beradu argumen? Dimana akal sehat kalian, apa kalian ingin berperang?!”
Perkataan Raymond seketika menghentikan Dolrak dan Hezekiah. Mereka kini hanya tertunduk merasa malu akan apa yang sudah mereka lakukan beberapa saat lalu. Perkataan pengganti Alumir agung yang akhirnya menampar keras wajah mereka hingga menyisakan bekas.
WINGARDIUM LEVIOSAR
tapi Hemione yang mengucapkannya, sangat rapi dan tertata bacaannya
aaaahhh kanget keuwuan ronald weasly dan hemione... /Applaud/