Indonesia
NovelToon NovelToon
Balas Dendam Jalur Pernikahan

Balas Dendam Jalur Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / Angst / Dendam Kesumat / Chicklit
Popularitas:17.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anjana

Yang seharusnya menikah dengan seseorang yang menjadi pilihannya, justru harus menerima kenyataan pahit untuk menikah dengan seseorang yang tidak dicintainya.

Siapa lagi kalau bukan Zevila, perempuan yang ingin fokus dengan masa depannya, kini harus menikah paksa dengan lelaki yang akan dijodohkan dengan saudara sepupunya.

Selain itu, tujuan menikah dengan Razan yang tidak lain untuk membalaskan dendam atas kematian ayahnya.

Penasaran dengan kisahnya? yuk ikutin jalan ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ajakan pertemuan

Zevila begitu serius untuk mendengarkan jawaban dari asisten rumah, dan berharap jawabannya tidak mengada-ngada, pikirnya.

"Saya tidak begitu tahu soal Tuan Razan, Nona. Soalnya saya hanya fokus bekerja, tidak lebih," ucapnya saat mendapat pertanyaan dari istri majikannya.

Zevila yang udah serius untuk mendengarnya, mendadak berubah lesu. Namun, tetap saja tidak mau menyerah.

"Gak mungkin Mbak Riana gak tahu, walau hanya sedikiiiiit saja," Zevila sambil memperagakan saat menunjukkan sesuatu yang sangat sedikit penilaiannya.

Mbak Reina justru tersenyum ketika istri majikannya dihantui dengan rasa penasaran.

"Nah, 'kan, malah senyum-senyum gitu, males ah, mendingan juga Mbak Reina keluar, dan ini dibawa makanannya. Aku gak mau habisin ini makanan, biar Mbak Reina yang kena marah sama suami saya." Dengan ketus dan memang sengaja, Zevila berharap dirinya mendapatkan jawaban mengenai sosok suaminya.

"Jangan dong, Non, nanti saya bisa dipecat kalau Nona mengadu," jawab Mbak Riana karena lupa jika di setiap sudut ruangan dipastikan ada CCTV, terkecuali yang ia tahu milik Tuan Arta, Rivan, dah cuma itu.

"Makanya cerita dong, Mbak, ya, iya, ya, ya, Mbak." Zevila masih tetap membujuk dan merayu.

"Baiklah, jika Nona tetap memaksa," jawabnya yang akhirnya menyerah.

Namun, meski dirinya menyerah untuk membicarakan soal majikannya, tidak ada pilihan lain selain mengobrol tentang suami dari Zevila.

"Nah, gitu dong, Mbak, saya bakalan serius untuk mendengarkannya langsung," kata Zevila penuh antusias untuk menjadi pendengar yang setia.

"Dari yang saya tahu lewat Bibi Retno, Tuan Razan sudah dididik dengan keras oleh ayahnya sejak masih kecil. Jadi, Tuan Razan selalu memprioritaskan apa yang menjadi miliknya, termasuk Nona yang telah menjadi istri dari Tuan Razan," kata Mbak Riana menjelaskan tentang majikannya.

'Maafkan saya, Tuan, jika saya telah lancang membicarakan Tuan.' Batin Mbak Riana sambil menunduk.

"Mbak Riana mah bisa aja mujinya, tapi bukan itu yang ingin aku dengarkan, Mbak. Tapi, soal sikapnya itu loh, nyebelin plus bikin kesel, pokoknya tuh, pingin iiih! jitak, bila perlu tuh---"

"Iya, Non, gimana?"

Zevila yang tidak mungkin mengatakannya dengan jujur soal dirinya akan balas dendam, memilih nyengir untuk menutupi tujuannya menikah dengan Razan.

"Ya udah ya, Nona, saya mau mengembalikan piring sama gelas kotornya. Kalau Nona butuh sesuatu, Nona tinggal tekan tombol remotnya, nanti saya atau Bi Retno yang akan segera menemui Nona, permisi," ucap Mbak Riana yang memilih keluar dari kamar majikannya demi menghindari pertanyaan pertanyaan dari Zevila.

"Ya, Mbak, makasih ya Mbak, udah repot-repot nganter sarapan sama menemani saya makan," jawab Zevila berterimakasih.

"Sama-sama, Nona, kalau begitu saya permisi, mari, Nona." Kata Mbak Riana bergegas untuk segera keluar.

Sedangkan Zevila yang tidak mempunyai. kesibukan, alih-alih menyibukkan diri dengan ponselnya. Tentu saja dirinya teringat dengan Erlando, anak asuh Tantenya. Mendapat kabar soal kecelakaan, Zevila benar-benar ingin mengetahui kondisinya.

Berbeda lagi di ditempat lain, Razan yang tengah sibuk menyelesaikan pekerjaannya yang lumayan cukup padat jadwalnya, tidak ada kesempatan untuk mengawasi istrinya.

Begitu juga dengan Rivan, juga sama halnya tengah sibuk dengan pekerjaan yang diemban. Sambil menunggu rekan kerja, alih-alih menyibukkan diri dengan ponselnya untuk membuka galeri yang berisi banyak foto-foto bersama Zevila dengan keseruan di waktu masa kuliah.

Begitu lama menyimpan rasa, tak juga ia dapatkan, lantaran menunggu momen yang tepat. Sayangnya, momen itu lenyap saat saudara sepupunya mengatakan untuk menikahi Zevila ketimbang Vira, yang jelas-jelas ia tahu bahwa Razan dan Vira sudah tertulis di wasiat mendiang orang tuanya Razan, yakni Tuan Arival.

Razan yang entah apa tujuannya menikahi Zevila, sampai-sampai bersikukuh untuk menjadikannya istri. Bahkan, dengan entengnya menolak perjodohan dengan Vira.

"Bos, ada telpon dari Tuan Vikto, ini," ucap Dendi selaku sekretaris dan orang kepercayaannya.

Tanpa menjawab, Razan langsung menyambar ponsel yang ada di tangan Dendi.

Dengan fokus, Razan mendengarkan apa yang diucapkan oleh Tuan Vikto.

"Baik, Tuan, nanti saya akan segera menyusul. Tapi sebelumnya saya minta maaf kalau nanti saya datangnya sedikit terlambat. Soalnya ini hari saya sedang melakukan pertemuan dengan para karyawan, tepat hari ini saya memegang kendali Perusahaan yang pernah diduduki oleh Paman Arta, dan sekarang saya lah yang memegang kendali atas Perusahaan ini," jawab Razan menjelaskan.

Tuan Vikto yang mendengar lewat sambungan telepon, tidak bisa memaksakan kehendak, dan memilih untuk mengiyakan, meski Razan datang terlambat sekalipun.

Setelah menyetujui, sambungan telepon pun putus.

"Gimana katanya, Bos?" tanya Dendi.

"Aku diminta untuk tetap datang, dan ikut serta dalam melakukan pertemuan bersamanya, jadinya ya, mau tidak mau ya aku harus datang meski terlambat," jawab Razan.

"Terus, kalau Tuan Rivan tersinggung, bagaimana? takutnya nanti si Bos disangka akan tetap berkuasa, gimana, Bos?"

"Gak lah, itu hanya pikiran kamu yang sempit, Rivan gak mungkin berprasangka kek gitu. Dah lah sana kamu pergi, selesaikan pekerjaan kamu. Nih, ponsel kamu, dah sana pergi," jawab Razan yang langsung mengusir Dendi untuk segera keluar.

Setelah itu, Razan segera menyelesaikan pekerjaannya, dan dilanjut untuk mengawasi para karyawannya, juga memperkenalkan diri jika dirinya yang akan memegang kendali Perusahaan.

Di tempat lain, Zevila yang merasa bosan di dalam kamar, akhirnya ia bangkit dan mengamati isi dalam ruangan.

Karena tidak ada hal yang bisa menghilangkan kejenuhan, Zevila nekad keluar dari kamar tanpa memberi tahu kepada asisten rumah. Dengan penuh hati-hati, Zevila menuruni anak tangga sambil berpegangan karena takut jatuh.

Saat sudah dianak tangga paling akhir, Zevila merasa lega.

"Zevila, kaki kamu kenapa, Nak?" tanya istri Tuan Arta saat melihat Zevila berjalan dengan susah payah.

"Gak kenapa-napa kok, Tante, tadi gak sengaja kaki Zevila terkilir, tapi udah diurut kok tadi sama suami. Sekarang cuma tinggal sedikit nyeri aja kok, Tante," jawab Zevila yang tidak merepotkan banyak orang, pikirnya.

"Syukur lah kalau udah di urut, takutnya kalau tidak diurut, nantinya kaki kamu bisa bengkak. Oh iya, kamu udah sarapan belum? soalnya tadi Tante gak lihat kamu, Tante pikir kamu ikut Razan pergi ke kantor."

Zevila berusaha tersenyum.

"Gak kok, Tante, di rumah aja, lagi pula kakinya Zevila sakit, jadi di rumah aja. Tante sendiri gak sibuk kah? soalnya dengar dengar dari Rivan, kalau Tante kesibukannya di butik, benar kah Tante?"

"Itu dulu, sekarang semuanya sudah dikendalikan oleh suami kamu. Jadi, Tante dan Paman cuma bersantai di rumah, paling-paling kalau mau nyari kesibukan cuma di panti jompo,"

"Panti jompo, Tante?"

Ibunya Rivan menganggukkan kepalanya.

"Iya, benar. Keluarga Wigunanta selain mempunyai Yayasan anak panti asuhan, juga mempunyai Panti jompo. Di sana tempat kami memulai kesibukan, tapi Tante dan Paman belum ke sana, kamu mau ikut?"

Mendengar tawaran soal pergi ke panti jompo, membuat Zevila ingin ikut. Namun, semua itu tidak memungkinkan, lantaran sang suami yang siap siaga menjaga dirinya dengan sangat ketat. Tentu saja harus berpikir lebih jauh lagi. Ditambah jika dirinya ada sebuah misi, harus hati-hati untuk mendekati suaminya agar tidak menaruh curiga atas tujuannya untuk membalaskan dendamnya.

1
Piet Mayong
ini diolog suami istri apa tetangga kontrakan sih, julid amat zev
Piet Mayong
akhirnya benang merahnya mulai teruraii
Wicih Rasmita
makanya Razan jangan galak" sama bini Baek Baek y jangan dicuekin zevilanya😁
Anjana: Suami galak tapi pencemburuan ya kak😁
total 1 replies
Piet Mayong
akhinya aku faham....
oke deh lanjutt...
yok gassss up next...
makin seruuuu
Piet Mayong
senengnya udh ada kelanjutannya...
ayo thor semanggad up terus...
Piet Mayong
razan, kamu wajib sadap hp istrimu kalau main licik itu kudu total....
atik
lanjut thor...
Tini Suhartini
msh menyimak 😌
jenny
astaga.... ini musibah apa berkah??
Anjana: Dua duanya kak.. 😃
total 1 replies
Piet Mayong
oh si razan tau kalau keluarganya itu musang berbulu domba kayaknya...
makanya dia bener2 waspada tingkat dewa...
Piet Mayong
razan ini tipe cowok yg bagaimana sih???
Anjana: misterius kak.. 🤭
total 1 replies
Piet Mayong
iyo, ngapain kalian capek capek'in hati ngasih selamat...
gue mah ogah...
ckckckkckc
Piet Mayong
asli ya masih teka teki ini, razan hati2 sma istrimu...
Piet Mayong
bener2 keluarga toxic...
udah razan aku pndukungmu nomer wahid deh...
Piet Mayong
nah loh....
siapa yg paling kuat y kira kira pemirsahhh...
Anjana: Siapa ya kak.. kira-kira 🤭
total 1 replies
Piet Mayong
nah jd yg sok.baik disini sapa y???
Piet Mayong
siapa yg buntuti tadi ya...
Piet Mayong
keren
Piet Mayong
masih nebak nebak,....
Piet Mayong
masih nyimak dulu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!