Indonesia
NovelToon NovelToon
Dewa Dua Dunia Yang Agung

Dewa Dua Dunia Yang Agung

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Spiritual / Epik Petualangan / Iblis / Mengubah Takdir / Kultivasi Modern
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Asif

Novel ini menceritakan tentang seorang laki laki remaja yang bernama Ren dalam petualangan dan perjuangan nya dalam membawa perdamaian ke dunia ini,dimana dunia nya di penuhi oleh peperangan tanpa henti yang membuat ibunya juga menjadi korban dari peperangan itu, setelah itu Ren bergabung dengan militer untuk mewujudkan janji nya kepada ibunya untuk membawa perdamaian ke dunia ini, di tinggal di markas nya bersama adik perempuan nya Lily, satu satunya keluarga nya yang tersisa, di saat itu, Ren secara tidak sengaja memperoleh 6 jiwa dewa yang bereinkarnasi di dalam tubuhnya, dia harus menyembunyikan nya dari semua orang, namun pada suatu saat, Ren diasingkan oleh negara nya sendiri karena telah mengetahui rahasia nya, Ren pergi dari negaranya dan menjalani hidupnya sebagai kultivator sejati setelah mengetahui kenyataan nya, dia kembali ke negaranya setelah beberapa tahun dan ada sebuah kejadian yang membuat nya mengamuk dan pergi dari dunia nya dan pergi ke alam kultivasi dan alam dewa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Penerimaan dan pengakuan

Ren hanya bisa berlutut lemah, sementara luka di tubuhnya terus mengeluarkan darah, dia menatap lurus kearah air danau yang berubah merah.

nafasnya berhenti berhembus, tubuhnya mulai kehilangan tenaga, dia hanya menatap bayangan nya yang penuh luka dan darah terpantul dari air danau yang kini berwarna merah.

"apa....apaan ini?....kenapa.....kenapa tubuhku menolak untuk melawan?"

Ucapnya di dalam hati, di saat dia melihat gelombang air lembut kearah nya, bayangan itu kembali menghampiri Ren dengan tatapan penuh amarah.

"menolak? cih....itu adalah kata yang dikatakan oleh orang yang lemah....setiap kekalahan bukan dari penolakan, tapi dari saat dimana kau melakukan penyangkalan terhadap suatu kenyataan...."

Mendengar kalimat terakhir itu, membuat Ren mengingat sesuatu, sesuatu tentang masa lalunya, dia sedikit mengangkat kepala nya dan menatap sepatu dari bayangan nya.

"k-kau.....siapa kau sebenarnya?..."

Tanya Ren dengan suara yang bergetar, mendengar pertanyaan itu, bayangan Ren hanya menyeringai kejam dan berkata.

"oh, setelah sekian lama akhirnya kau menanyakan hal itu, ha?....hahaha, cukup lucu bagaimana kau bisa setulus itu untuk melupakan ku"

Bayangan Ren mulai berlutut didepan Ren, menyandarkan tombak nya di pundaknya, kemudian mencengkram erat wajah Ren dengan kasar, mengangkat kepalanya hingga mata mereka saling bertemu.

"aku....adalah kau,Ren"

Ucap bayangan itu dengan tatapan yang mengerikan, Ren hanya bisa melihat tatapan nya dengan sebelah matanya dari sela sela jari bayangan nya.

Mendengar pernyataan itu membuat Ren sangat terkejut dan tidak percaya, dia melihat dirinya sendiri, Ren tidak bisa berpikir, kenapa dia memiliki sisi seperti ini? Sejak kapan? Dan kenapa bayangan nya menyerang dirinya?.

Ucapan itu menusuk telinga nya, matanya terbelalak kaget di saat dada nya mulai terasa berat dan sesak, kenapa dia merasakan hal seperti ini? Kenapa dia seolah olah takut dengan dirinya sendiri? Kenapa?.

"k-kau...."

Gumam Ren dengan suara yang pelan, sebelum bayangan itu menimpali nya dengan nada yang mengerikan.

"ya....aku adalah kau, Ren....akulah dirimu yang sebenarnya....kau yang saat ini hanyalah ilusi semata"

Ucap bayangan itu sambil mengeratkan cengkraman di wajah Ren dengan kasar, Ren merasakan rasa sakit yang luar biasa di wajahnya, dia merasa seperti semua nya akan hancur dalam satu gerakan.

"kau tahu?...berapa menderitanya aku berada disini, sendirian...kedinginan diantara keheningan...kau tahu betapa aku merindukan rasanya udara segar dari alam"

lanjut bayangan itu, kali ini dengan suara yang sedikit lembut dan melonggarkan cengkraman nya.

"aku sangat merindukan Lily....aku rindu memeluk nya...aku rindu dengan suara manis nya....terkadang aku iri, disaat hanya topeng saja yang bisa menarik perhatian orang lain daripada wujud sebenarnya...."

Lanjut bayangan itu kali ini dengan suara yang sayu dan lembut, Ren yang masih menahan rasa sakit wajah dan tubuhnya, bisa melihat sekilas, mata bayangan nya mengeluarkan darah, seperti orang yang sedang menangis.

Darah nya jatuh kedalam air danau dibawah mereka, suara tetesan darah itu secara tiba-tiba membawa pengelihatan nya pada masa lalu nya.

Dia sekarang berada di sebuah taman bermain, dia melihat tubuhnya sembuh semula, seolah olah pertarungan tadi hanyalah mimpi, dia kemudian berdiri dan melihat sekeliling nya.

"hey hey, lihat kesini!! aku ada disini"

Teriak seorang anak itu, Ren sedikit tersentak dengan suara itu, suara nya sangat familiar, dia membalikkan badannya ke arah suara itu, mata birunya seketika menangkap pemandangan yang membuat nya terkejut.

Dia melihat dirinya sendiri, yang masih kecil, berdiri di dekat perosotan, senyuman di wajah nya saat masih kecil sangat manis dan tulus, Ren kecil itu melompat lompat sambil melambaikan kedua tangannya keatas udara dengan penuh semangat.

"itu....aku?"

Tanya Ren pada dirinya sendiri, dengan ekspresi wajah yang masih tak bisa percaya.

"hehehehe....kakak..."

Ren kembali mendengar suara itu, suara cekikikan gadis kecil, setelah beberapa saat seorang gadis kecil berjalan menghampiri Ren kecil dengan senyum yang lebar.

Tidak perlu waktu lama Ren langsung mengetahui gadis kecil itu.

"Lily?"

Ren menatap mereka dengan tatapan penuh kerinduan, rindu saat mereka masih polos, belum dirusak oleh kejamnya dunia yang mereka hadapi.

"Lily....Ren, hati hati..jangan ceroboh nanti kalian bisa terluka"

Ren mendengar suara lembut itu, suara yang penuh kasih sayang, dan suara yang paling dia rindukan, dia membalikkan badannya dan melihat nya, berdiri disana, menatap kearah nya.

"ibu!"

Teriaknya sambil berlari ke arah ibunya, kerinduan nya yang telah lama ia pendam seolah olah tidak lagi terbendung, dia bergegas ke arah ibunya, mencoba untuk memeluk nya.

Saat dia ingin memeluk ibunya, yang terjadi tanya tubuh nya melewati ibunya seolah olah dirinya itu transparan.

"t-tunggu...kenapa?"

Tanya nya dalam hatinya, dia menatap kearah kedua telapak tangannya, dia tidak percaya dia tidak bisa memeluk ibunya sebentar saja, alih alih hanya menembus dan melewati nya bagaikan roh.

"huaaaaaa...sakit..."

Ren mendengar teriakkan itu dan membalikan badannya lagi, dia melihat Ren kecil terluka di kakinya, itu adalah luka kecil, namun berdarah.

"astaga Ren...sudah ibu bilang, hati hati jika bermain...kau jadi terluka begini kan, kemarilah"

Ucap ibunya sambil menghampiri Ren kecil, dia menarik Ren kecil kedalam pelukannya, dan mulai mengobati luka di kakinya dengan penuh kasih sayang.

Dia menonton pemandangan itu dengan penuh kerinduan, pelukan hangat ibunya, dirinya yang waktu kecil masih polos, selalu berlomba untuk mendapatkan perhatian dari ibunya dengan adiknya, namun pahitnya, kini dia hanya bisa menonton nya, tanpa melakukan apapun.

Setelah itu, bayangan Ren kecil, ibunya dan adiknya perlahan memudar, dan kemudian dia kembali berpindah tempat, kini dia berada di sebuah lorong kelas.

Dia melirik ke sekeliling nya, setelah beberapa saat kemudian dia menyadari sesuatu, ini adalah lorong akademi militer sebelum dia menjadi pasukan militer resmi.

"tempat ini.....ya, aku berada disini di umur 15 tahun....aku masih mengingat nya"

Ucapnya sambil menatap ke ujung lorong, tatapan nya kosong, seolah olah tidak menyukai tempat itu.

"hahaha, hey lihatlah babi kotor itu, bau sekali bukan?"

Dia mendengar suara seseorang dari dalam ruangan, suara itu keluar dengan nada yang merendahkan dan mengejek, Ren tahu apa yang terjadi dan siapa itu.

Dia perlahan lahan mulai melangkahkan kakinya, menuju sebuah ruangan dengan tulisan 'toilet' dia sudah ada di depan pintu itu, dia hanya diam saja, mendengar suara suara itu terus mengeluarkan kata-kata yang dipenuhi ejekan dan merendahkan.

"hey babi kotor, kenapa menundukkan kepala mu? Kau takut ya? Hahahaha"

"sebaiknya kau jangan terlalu kecanduan dengan wajah mu di toilet itu, kau akan lebih terlihat seperti babi, kau tau?"

"hey ayolah, dari awal dia sudah menjadi seekor babi, jadi biarkan saja, lagipula memang kebiasaan babi menyukai hal hal kotor"

"hahahaha, kau benar sekali, babi memang kotor, entah hidupnya, dirinya bahkan kebiasaan, sungguh menjijikan"

Mendengar setiap ucapan itu, menyulut amarah Ren yang berdiri di depan pintu, dia mengepal kan tinju nya hingga buku jari memutih dan tangannya bergetar.

Di dalam ruangan itu, Ren yang masih remaja hanya duduk di atas toilet dengan pakaian yang basah, di saat dirinya di tindas oleh 6 seniornya.

Ren yang saat ini menahan amarah, kembali menyalahkan dirinya sendiri.

"brengsek nya...aku tidak melakukan apapun untuk membela diri....aku memang orang lemah"

Ucapnya sambil menundukkan kepalanya, setelah beberapa saat kemudian, tempat disekitar nya kembali memudar, membawanya ke lokasi yang berbeda lagi, kali ini dia berada di halaman akademi.

Saat dia mengangkat kepalanya, matanya langsung menangkap pemandangan yang membuat nya semakin tertekan.

Dia melihat di depan matanya, dirinya yang masih berumur 15 tahun, diikat dengan kabel di sebuah pilar pemancar sinyal oleh beberapa orang.

Bahkan para pengawas yang ada disana tidak peduli dengan Ren, dia dipukul, di tendang dan di guyur oleh air, hingga dipukul menggunakan botol kaca, membuat Ren tidak bisa menahan emosi nya.

"DASAR BRENGSEK....HENTIKAN ITU SEMUA!"

Teriaknya, disaat tombak nya kembali muncul di genggaman tangannya, dan aura berwarna biru kembali berkobar di tubuhnya, dia segera menerjang ke arah orang orang yang mengikat Ren, ujung tombak nya terhunus kearah mereka.

"tolong....aku..."

Sebelum Ren sampai di depan mereka, Ren remaja itu mengangkat kepalanya menatap Ren yang sedang menerjang ke arah nya, tatapan mereka bertemu satu sama lain.

Secara tiba-tiba Ren berpindah lokasi, tombak nya yang masih terhunus, kini menampilkan pemandangan yang paling menakutkan, dia melihat tombaknya menembus dada seorang wanita, hingga suara teriakan dari Ren yang lain terdengar.

"IBU!!!!"

Mendengar kata itu, Ren mengangkat tatapan nya, menatap wajah ibunya, matanya terbuka lebar melihat tubuh ibunya jatuh tergeletak di lantai, tangan nya bergetar melepaskan tombak itu, membiarkan nya menancap di dada ibunya.

"ibu!!....ibu, kumohon katakan padaku kau baik baik saja, kau masih bisa mendengar ku kan, ibu! Kumohon katakan padaku ini hanya mimpi...kumohon...kumohon bertahan lah"

Dia melihat dirinya yang lain memeluk tubuh ibu nya yang sudah tidak bernyawa, dia mengingat jelas, kejadian itu hari dimana hari pertama dia menjadi pasukan militer.

Dia menatap dirinya sendiri menangis sambil memeluk tubuh ibunya yang berlumuran darah, Ren yang saat itu menonton hanya bisa berpikir.

"aku...aku telah membunuh ibuku? Aku...aku membunuhnya"

ucap batin nya tidak percaya, dia kemudian mendengar dirinya yang lain masih memeluk tubuh ibunya berkata.

"mereka yang membunuh mu adalah iblis, aku bersumpah aku akan membunuh mereka hingga tak tersisa, aku tidak peduli meskipun aku harus melawan panas nya neraka....aku akan tetap membunuh mereka"

Ucapan itu memberikan tekanan tersendiri bagi Ren, dada nya terasa berat dan sesak, tubuhnya bergetar dan lutut nya terasa lemas, tak bisa menopang tubuhnya untuk tetap berdiri.

Dia menatap tombak nya dan menatap kearah telapak tangannya, tangan nya penuh dengan darah, melihat darah itu membuat Ren ketakutan dan berteriak keras.

"ARGHHHHHHH...."

Teriaknya sambil mencengkram erat kepalanya, seolah olah dia tidak ingin ada disini lebih lama lagi.

"SUDAHLAH..KUMOHON HENTIKAN INI SEMUA, TOLONG HENTIKAN......SIAPAPUN TOLONG HENTIKAN"

Teriaknya keras dengan suara memohon, beberapa tetes air mata mengalir di pipinya, dengan mata terpejam rapat dia terus terisak dengan kedua tangannya mencengkram erat kepalanya.

"Ren...."

Ren mendengar suara itu lagi, suara lembut dan penuh kasih sayang, dia mengangkat kepalanya keatas dengan mata yang merah, dia melihat sosok wajah ibunya tersenyum manis kearah nya.

Mendapati kepalanya sedang berbaring di atas pangkuan sang ibu, dia hanya bisa menggumamkan kata ibunya saja, tidak bisa mengatakan yang lain.

"I-ibu?..."

Ucapnya lirih, suara bergetar namun tatapan matanya penuh dengan kerinduan, setelah itu Ren merasakan sentuhan dan belaian lembut dan penuh kasih dari ibunya di atas rambutnya.

"putra ku Ren....ibu tahu kau anak yang hebat, tapi jangan paksakan dirimu demi hal yang diluar kemampuan mu"

Ucap ibunya dengan lembut, dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan nya sambil terus mengelus rambut Ren dengan lembut.

"Ren, jika suatu saat nanti aku tidak lagi disisi mu, tolong jaga Lily, ya? Hanya kamu yang bisa dia andalkan"

"Ren, ingatlah satu hal....jangan biarkan satu kejadian merubah siapa dirimu, terima lah kenyataan itu, dan yakin pada dirimu sendiri, kau yang apa adanya lebih baik daripada memiliki segalanya"

"terimalah dirimu sendiri, maka kau akan melupakan bahwa hal terburuk dalam hidup mu itu tidak pernah terjadi.....aku yakin, putra ku adalah anak yang hebat, ibu percaya pada mu Ren....aku akan selalu menyayangi mu"

ucap ibunya, Ren hanya mendengar nya penuh haru, dan kali ini dia sadar, yang ibunya inginkan selain kedamaian adalah, kebahagiaan dan kesejahteraan Ren, dia adalah rumah terakhir yang Lily miliki, jika dia tidak menjadi dirinya sendiri, dimana Lily bisa menemukan rumah nya?.

Ren mendengar setiap kata dengan penuh perhatian, setelah ibunya berhenti bicara, dia memberikan sebuah ciuman di dahinya Ren, ciuman itu lembut dan hangat.

Saat merasakan bibir ibu nya di dahinya, Ren memejamkan matanya, menikmati kasih sayang dan kehangatan dari ibunya.

"sudah puas tidur nya?"

Tanya seseorang dengan suara yang menggema, Ren terbangun dan kembali membuka matanya, dia kali ini berada di sebuah Padang rumput yang hijau dan luas.

Dia melirik ke arah sumber suara itu dan melihat, bayangan dirinya yang dia lawan di danau, duduk di atas rerumputan sambil memeluk lututnya, mata merah darah nya tertuju pada matahari dengan tatapan kosong.

Ren merenung beberapa saat sebelum akhirnya bangkit dari berbaring nya, dan berdiri tegak.

"kau benar....aku terlalu fokus untuk menepati janji ku tentang perdamaian, hingga aku lupa arti dari kehidupan"

Ucapnya dengan tegas sambil menatap kearah matahari, dia menatap matahari dengan tatapan tekad dan pengakuan.

"kehidupan bukan hanya tentang kedamaian, apa gunanya kedamaian jika kita tidak merasa seperti kehidupan? tidak semua kedamaian itu kehidupan dan tidak semua kehidupan itu harus ada kedamaian"

Ucapnya dengan nada suara yang lembut, dia kemudian melirik ke arah bayangan nya, dan berkata.

"dan pada akhirnya aku mengerti satu hal....iblis bukan mereka yang merenggut orang yang berharga dari kehidupan kita, tapi mereka yang membuat kita lupa bahwa mereka pernah ada"

Ucapnya dengan lembut, dia berjalan menghampiri bayangan nya yang masih menatap matahari, dengan tatapan kosongnya.

"aku dan kau, kita berdua nyata, yang membedakan adalah, kapan kau ada dan kapan kau ku sembunyikan, aku tidak dapat mengelak, sejatinya aku adalah kau dan kau adalah aku....aku yang telah membuat mu ada dalam kehidupan dan aku juga yang membuat mu tiada dimata mereka"

Ucap Ren sambil menundukkan kepalanya, suara Ren penuh dengan pengakuan dan penerimaan yang tulus, dia kemudian membalikkan badannya dan menepuk pundak bayangan.

"mulai sekarang....aku tidak akan menyembunyikan mu lagi....kita berdua sama"

Ucapnya sambil tersenyum lembut dengan suara yang hangat, setelah itu angin berhembus, membuat beberapa kelopak bunga disana berterbangan.

Begitupun dengan bayangan Ren, dia perlahan lahan kembali berwarna dan memiliki penampilan seperti Ren, rambut coklat dan mata biru, bayangan Ren perlahan lahan memudar menjadi butiran cahaya.

Menyatu dengan kelopak bunga yang terhembus angin yang lembut, setelah bayangan nya benar benar pergi, Ren merasakan sebuah sensasi baru, dia merasa lebih lega dan lebih segar dari sebelumnya.

Dia menatap kearah matahari sebelum akhirnya tubuh nya juga memudar, menjadi butiran cahaya yang berterbangan di udara, setelah itu Ren kembali di tempat danau itu lagi.

Dia membuka matanya, dia kemudian bangkit dan berdiri lagi, dia melihat tubuhnya masih bersih dan utuh tanpa luka, dan airnya juga kembali jernih, dia berdiri di atas permukaan danau itu.

"jadi....ini rasanya jadi diri sendiri ya? sangat melegakan"

Ucapnya sambil tersenyum lembut, dia kemudian mengangkat kepalanya dan melihat kedepan, dia kembali melihat ibunya berdiri di depan nya, dia tersenyum penuh kasih sayang pada Ren.

Ren membalas senyuman nya, dan berjalan menghampiri nya, tidak pikir lama, Ren melingkarkan tangannya di tubuh ibunya menariknya kedalam sebuah pelukan.

"meskipun kau sudah menjadi laki-laki yang kuat dan dewasa, kau masih manja seperti dulu Re"

Ucap ibunya dengan suara yang lembut, dia membalas pelukannya dengan pelukan yang lebih erat.

"kenapa? Tidak ada salahnya kan jika anak laki-laki ini merindukan ibunya"

Ucap Ren sambil terus memeluk ibunya, ibunya sedikit terkekeh mendengar ucapan Ren, dia mengelus kepala belakang Ren dengan penuh kasih sayang.

"tidak...justru ibu senang, kau masih merindukan ibu, itu tandanya kau masih mengingat ibu"

"tentu saja ibu, bagaimana mungkin aku bisa melepaskan diriku dari kenangan bersama ibu"

Ucap Ren dengan suara yang lembut, dia juga tidak bisa menahan senyumnya saat ini, dia merasa bersyukur bisa berbincang dengan ibunya meskipun tidak lama.

"baiklah baiklah....ibu senang kau menepati janji mu Ren, ibu bangga padamu"

"aku hanya menjalankan perintah mu ibu, aku hanya melindungi Lily saja"

Jawab Ren sambil melepaskan pelukannya, dia kemudian menatap lurus kearah mata ibunya dan tersenyum padanya.

"tetap saja, tidak mudah untuk menjaga adikmu disaat kau juga harus melaksanakan tanggung jawab mu sebagai anggota pasukan militer Ren"

Ucap ibunya sambil tersenyum dan membelai pipi Ren dengan penuh kasih sayang, Ren tersenyum manis menikmati belaian itu, dia kemudian melihat tubuh ibunya bercahaya, tanda bahwa dia akan segera kembali.

Sedikit kekecewaan dan kesedihan terlintas di tatapan Ren, namun dia segera menepis nya, dia masih bersyukur bisa berbincang dengan ibunya meskipun hanya sebentar.

"sepertinya mereka sudah memanggil ku untuk kembali, aku berharap bisa berbicara dengan mu lebih lama lagi"

Ucap ibunya dengan suara yang lembut dan masih dihiasi dengan kerinduan, Ren memberikan tatapan dan senyuman yang meyakinkan pada ibunya dan berkata.

"aku juga berharap begitu, ada banyak hal yang ingin aku ceritakan pada mu....tapi, kurasa kita bisa menceritakan nya saat kita berkumpul bersama"

Ucap Ren sambil menatap ibunya, ibunya yang mendengar pernyataan itu sedikit terkekeh di saat tubuhnya semakin samar dan memudar.

"dasar kau ini, aku tahu kau merindukanku tapi jangan terlalu cepat menyusul ku, ya?"

Ucap ibunya, di saat tubuhnya mulai menghilang menjadi butiran cahaya.

"baiklah aku mengerti, tenang saja....aku tidak akan mati secepatnya"

Ucap Ren dengan suara yang penuh keyakinan dan tekad, mendengar itu Ibunya hanya tersenyum lembut kearah Ren, di saat tubuhnya kini benar-benar melebur menjadi butiran cahaya yang terbang ke angkasa, menyatu dengan bintang bintang di angkasa, menemani diantar cahaya bulan yang bersinar di atas danau.

1
Nur Santi
lanjut tor
Nur Santi
ceritanya buat penasaran lanjut cerita kk
Fan Compás Chivi Ans
Wah, kepala otakmu pasti kreatif banget, thor!
Axiowriter: makasih ya udah mau baca, kalau ada tambahan atau ada kekurangan jangan sungkan untuk bilang ya, nanti akan saya usahakan untuk saya perbaiki dan kalau ada saran juga boleh /Smile//Heart/
total 1 replies
Naruto Uzumaki
Gak bisa berhenti baca
Axiowriter: akan aku usahakan untuk update setiap hari, jadi tunggu saja, ya!? terima kasih atas komentarnya /Heart/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!