Niatnya menolong orang, malah membuat seorang gadis bernama Rara Aprilia jatuh ke dalam kehancuran yang tak bisa diindahkan.
"Welcome to the hell, Rara Aprilia!"
"Jangan coba-coba menjauh apalagi kabur dari gue, karena jika sampai itu terjadi ... maka orang tersayang lo akan mat*!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
Berlin mondar-mandir di depan kamar yang berada di lantai tiga club malam tersebut. Lantai tiga ini memang di khususkan bagi mereka-mereka yang ingin ONS. Cowok bermodel rambut mirip aktor korea Park Seo Joon itu resah, sebab adik kecilnya sudah meronta-ronta ingin keluar dari bungkusnya. "Duh, Si Saga kok lama banget sih? Gue udah nggak tahan nih!" Gusar, dia mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Wajah hingga telinganya sudah memerah, akibat menahan gejolak nafs* yang sudah di ubun-ubun.
Sementara itu di dalam kamar, Sagara membatu, mendapati jaguarnya malah bobo lagi. Padahal waktu di bawah tadi, jaguarnya jelas-jelas sudah berdiri.
"Babe, kok malah diem? Ayo dong kita goyang!" rengek si wanita seksi dengan suara serak. Dia sudah bergelendot mesra di tubuh tinggi Sagara. Bibir bergincunya tengah rakus menciumi dada putih itu. Kedua tangan nakalnya juga sudah turun ke bawah perut, bersiap membuka ikat pinggang Sagara.
"STOP BITCH!" Sagara mendorong tubuh sintal yang sudah setengah tela njang itu hingga terpental ke atas kasur. Sagara menggeram lalu memungut kaos hitamnya yang tergeletak di atas kasur, kemudian memakainya kembali. Dia membalikkan badan lalu keluar dari kamar itu. "Kok nggak bangun sih?!" erangnya dalam hati.
Berlin segera mengangkat kepala saat pintu di depannya terbuka dari dalam. Sagara keluar dengan wajah ditekuk dan kusut.
"Ga, udah? Gimana, masih bagus nggak?" Berlin memberondong Sagara dengan dua pertanyaan sekaligus.
"Gue nggak jadi make!" dengus Sagara sambil pergi dari hadapan Berlin.
"KENAPA NGGAK JADI?" Teriakan Berlin sama sekali tidak diindahkan oleh Sagara. Lelaki berkaos hitam itu melangkah lebar turun dari lantai tiga.
"SHIT!" Sagara terus memukuli setir mobilnya. Kini ia sudah berada di parkiran. Merenungi kejadian tadi kenapa jaguarnya tidak mau bangun. "Lo kenapa sih Roarr? Kok nggak mau bangun?" Sagara menunduk, mengajak bicara pada sesuatu yang bersembunyi di balik celana jeans-nya. "Lo sakit?" Ia berbicara sendiri seperti orang gila. "Atau lo mau punya Rara?" Sagara merasakan pergerakan dari jaguarnya saat ia menyebut nama Rara. Ia sampai berjengit kaget. "Eh anj*ng!" Matanya membola.
Dia pun mencoba memancing dengan mengkhayalkan pergulatan panasnya bersama Rara beberapa hari ke belakang. Dan ROARR ... di bawah sana langsung terasa sesak. "Anjr*t! Jadi beneran lo pengen Rara?" Dia terkekeh merasa geli dan juga aneh. "Tahu aja lo sama barang bagus!" sambungnya sambil menyeringai. Dia pun men-dial nomor wanita yang sedang dibicarakannya.
Tersambung namun tidak diangkat. Sagara mendesis sebal. Dia terus menghubungi nomor Rara. Dan akhirnya diangkat juga.
"Halo?" sapa Rara dengan suara serak. Sagara yakin jika gadis itu sedang terlelap saat ponselnya berdering tadi. Mengingat sekarang sudah jam satu malam.
"Rara, lo ada di mana?"
"Di rumah. Ada apa kamu nelepon aku dini hari begini?" Suara Rara sudah terdengar sedikit normal.
Sagara menyeringai. "Gue ke rumah lo sekarang!" Tentu saja langsung membuat Rara memekik kaget.
"Mau ngapain?!"
"Bobo bareng," jawab Sagara enteng.
"Gila kamu! Di sini ada Raja!" Sagara malah tergelak tawa mendengar semburan Rara.
"Biarin. Gue tetep mau ke sana. Gue rindu sama lo!"
"Sa-" Sagara mematikan panggilan itu secara sepihak. Dia tidak mau berdebat dengan Rara karena jaguarnya sudah meronta-ronta. Bodo amat dengan adiknya Rara. Itu biar dia urus nanti saja.
Lagipula dia yakin jika Raja tidak akan tahu karena anak SMP itu masih dalam masa pemulihan. Dia juga belum bisa berjalan seperti sediakala. Jadi menurutnya aman-aman saja kalau ia melakukan hal itu di rumah Rara.
Tepat di persimpangan rumah Rara, ia menelepon Edwin, orang kepercayaannya. Menyuruh lelaki itu untuk datang menemuinya. Kebetulan rumah Edwin tidak jauh dari kediaman Rara.
"Mas!" Edwin mengetuk kaca mobil Sagara. Si empunya pun keluar dari mobil dan menyuruh Edwin mengemudi sedangkan dia duduk di kursi penumpang.
"Subuh nanti jemput gue lagi di sini!" titah Sagara pada Edwin saat sudah sampai di jalanan tidak jauh dari rumah Rara.
Edwin mengangguk. "Hati-hati Mas! Di kampung ini suka ada ronda keliling! Nanti kalau ketahuan bisa gawat. Mas Saga dan Rara bisa di arak keliling kampung sambil ditel*njang*." Edwin memberi peringatan sebelum bos mudanya itu keluar dari mobil.
Sagara hanya tersenyum miring tanpa mengeluarkan sepatah kata pun menanggapi peringatan dari orang kepercayaannya.
Rara terlihat gusar di dalam kamarnya. Sesekali gadis itu menyingkap tirai kamar. Batinnya terus bertanya. Apakah Sagara benar-benar akan menemuinya?
Ponselnya kembali berdering. Cepat-cepat ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas bantal. "Saga ..." Dia segera menggeser ikon gagang telepon berwarna hijau yang ada di layar ponsel bututnya.
Belum sempat ia bicara, suara Sagara sudah lebih dulu mengintruksi. "Buka pintu! Gue udah ada di depan." Jantungnya langsung berpacu dengan keringat yang sudah mengucur di wajahnya. Rara berjalan gontai menuju pintu depan. Harapannya untuk tidur nyenyak sampai pagi kandas sudah.
Dengan tangan gemetar, ia memutar knop pintu dan Sagara langsung menyerobot masuk dan mengunci pintu rumah Rara dengan cepat. Lelaki jangkung itu berbalik dan langsung meraup bibir ranum milik wanitanya.
Tanpa mereka ketahui, sedari tadi saat Sagara masih menunggu Rara membuka pintu, ada sepasang mata yang memperhatikannya. Orang itu tersenyum smirk. "Menarik," gumamnya sembari menutup kembali tirai jendela kamarnya.
Sagara mendorong tubuh Rara agar masuk ke kamarnya masih dengan posisi yang sama. Saling bertukar saliva. Sejenak Sagara melepaskan tautan bibirnya dari bibir Rara. Dia berbalik dan mengunci pintu. Lalu secepat kilat menarik pinggang ramping gadis di hadapannya. "I want you!" bisik Sagara dengan suara berat dan sensual.
Rara bergeming dengan perasaan campur aduk. Antara takut ketahuan Raja dan takut ketahuan oleh para tetangga. Tapi lelaki yang tengah memagut bibirnya ini tidak mungkin bisa dicegah atau dinasehati. Jadi, Rara memilih membiarkan Sagara menjelajahi tubuhnya.
"Kenapa tadi jaguar gue nggak bangun? Padahal body cewek tadi aduhai banget. Tapi di depan Rara, dia langsung mencuat aja. Jangan-jangan Roarr gue cuma mau sama krystal milik Rara?" Sagara membatin sambil terus menghujamkan jaguarnya ke krystal milik Rara.
Menatap lekat wajah cantik yang ada di bawah kungkungannya. Rara memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan desahan agar tidak keluar dari bibirnya.
Sagara mengulum senyum, melihat ekspresi Rara yang lucu sekaligus menggairahkan. Membuat ia semakin bersemangat untuk memberikan sentuhan serta kenikmatan kepada wanitanya. "Desah aja Ra! Adek lo nggak bakalan denger!" ejek Sagara disertai senyum miring.
Rara tidak menjawab. Dia memalingkan kepalanya ke sebelah kiri agar tidak bertatapan dengan Sagara. Namun kesempatan itu digunakan Sagara untuk menjahili Rara. Ia menjilat serta menyesap leher putih Rara dan ...
"Ahh ..."
aku di sini dri sekian banyak novel yg sdh Kk buat..
semoga kita bisa saling dukung, dan aku bisa punya banyak judul jga,,
aamiin..
semangat trs utk kita..
🥰🥰🥰
bàgus bikin emosi juga 😀