"Ana Uhibbuka Fillah"
Izinkan aku untuk mengucapkannya dengan segala rasa yang membendung di hati ini, rasa yang tak pernah tersampaikan.
Izinkan aku untuk mengungkapkannya tulus, ikhlas karena Allah.
_______
Introvert Panda 🐼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon introvertpanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 20 : Tersadar
Seperti yang sudah dijanjikan, kini Aisyah sudah duduk di kursi penumpang sebelah Fardhan seraya memangku Alif yang terus bercerita selama perjalanan menuju Mesjid Al-Huda.
Jika biasanya Fardhan selalu mengendarai motornya saat bepergian yang tidak terlalu jauh dari kediamannya, kali ini ia lebih memilih menggunakan mobilnya karna mengingat Alif dan Aisyah ikut bersamanya.
Setibanya di tempat tujuan, banyak sekali bisikan para ibu pengajian yang sepertinya penasaran dengan kehadiran Aisyah karena setahu mereka Ustadz yang merupakan sosok menantu idaman itu belum melepas titelnya sebagai ayah tunggal.
"Nanti mau langsung ke mobil atau gimana?" Tanya Fardhan sebelum masuk ke dalam mesjid.
"Di mobil aja, langsung jalan kan abis ini?" Ucap Aisyah sedikit risih karena sepertinya semua orang sedang memperhatikan interaksi mereka.
"Yasudah ini kuncinya kamu yang pegang. Alif nanti jangan berisik sama lari-lari ya, duduk sama bunda." Fardhan menyerahkan kunci mobilnya pada Aisyah dan mengingatkan putranya untuk tidak menggangu para jama'ah pengajian.
Sekitar satu jam lebih Fardhan membahas topik yang masih banyak simpang siur di kalangan masyarakat, topik yang sensitif bagi para istri atau bagi kaum perempuan. Poligami.
Sebenarnya pembahasan yang Fardhan paparkan tidak sampai memakan waktu selama itu tapi dikarenakan banyak para ibu yang aktif bertanya, jadilah sesi tanya jawab yang cukup menguras waktu.
Tiba-tiba ada beberapa perempuan paruh baya dan satu perempuan yang sepertinya seumuran dengan Fardhan menghampiri Aisyah yang tengah membantu Alif mengenakan sepatunya.
"Bukannya kamu itu yang buat keributan di kampus, kan?" Tanya perempuan anggun dengan setelan gamis yang terlihat cocok dipakainya, ia memastikan jika pertanyaan nya benar.
"Jadi bener ini anak yang mukulin mahasiswa kamu itu? Kok bisa sama pak Ustadz?" Tanya salah satu ibu-ibu yang bertubuh gempal dengan sinis.
"Iya mana anaknya nempel-nempel dia terus tuh." Ujar ibu-ibu dengan gincu merah merona itu tak kalah sinis.
"Sudah-sudah, kalian ini banyak banget pertanyaannya, dia kan jadi bingung mau jawab yang mana." Lerai ibu-ibu di sebelah perempuan muda itu menengahi.
"Bunda, Aif ngantuk." Ucap Alif yang tiba-tiba membuat mereka terkejut mendengar penuturan Alif.
"Iya sayang, ayo kita tunggu ayah di mobil. Kalo begitu saya permisi." Aisyah langsung menggendong Alif yang terus mengucek matanya setelah berpamitan pada kumpulan perempuan yang sangat penasaran itu.
"E-eh jawab dulu dong, maen pergi aja." Sergah ibu gincu merah seraya menarik lengan Aisyah, membuatnya sedikit terhuyung hampir jatuh.
"Iya saya yang buat keributan di kampus, tolong lepasin tangan saya." Jelas Aisyah sedikit meringis karena cekalan ibu itu terlalu kencang.
Sebenarnya Aisyah risih jika ada yang membahas tentang kejadian itu, kejadian yang membuatnya semakin jauh dengan keluarganya, kejadian yang semakin membuat keluarganya tidak suka sehingga dengan tega membuang dirinya.
"Pak Ustadz gak nikahin kamu kan sampe anaknya manggil kamu bunda gitu, lagian bukannya kamu itu masih SMA jadi gak mungkin. Gak cocok jadi sandingan beliau, kalau sama Nidia baru cocok karena sama-sama berpendidikan." Cecar ibu bergincu merah itu mengutarakan ketidaksukaannya pada Aisyah.
Aisyah sepenuhnya sadar jika ia tidak mungkin bersanding dengan Fardhan seperti yang di ucapkan Ibu itu, ia tak pernah sampai memimpikan hal itu karena yang terpikirkan hanya agar Alif tidak kekurangan kasih sayang dari sosok seorang Bunda. Aisyah paham betul akan kegelisahan Alif yang selalu meminta bertemu dengan Bundanya.
Dilihatnya satu persatu perempuan berbeda usia dihadapannya dengan raut sulit diartikan, kesal namun yang dikatakan ibu itu memang benar. Nidia yang di sebutkan namanya itu terlihat salah tingkah dengan pipi merona, sudah jelas bukan jika perempuan itu menaruh hati pada Fardhan.
Perempuan penampilan anggun itu memang cocok, lebih tepatnya sangat cocok disandingkan dengan Fardhan. Wajah cantik tanpa polesan make up dengan bulu matanya yang indah itu bisa membuat lelaki manapun yang melihatnya akan terpesona. Benar-benar calon istri idaman.
"Maaf Bu, saya emang masih SMA tapi bukan berarti saya tidak bisa memberi kenyamanan untuk Alif." Tegas Aisyah sedikit ketus, kemudian ia pamit dan langsung melangkahkan kakinya menuju Fardhan yang sedang berbincang dengan lelaki paruh baya yang sepertinya marbot mesjid di sana.
Masih terdengar oleh Aisyah bisikan-bisikan yang berpendapat jika ia tidak sopan, tak banyak juga yang menyayangkan jika sampai Ustadz muda itu mempunyai hubungan dengan Aisyah. Risih tentunya, namun lebih baik ia tak mengindahkan pernyataan mereka.
"Alif, sayang bangun yuk. Bukannya mau bantuin Ayah belanja?" Tanya Fardhan sembari mengelus pipi putranya itu dengan lembut.
"Mau gendong." Alif merentangkan kedua tangannya dengan manja, langsung saja diangkatnya tubuh mungil itu dari pangkuan Aisyah.
Merekapun memasuki area supermarket, Aisyah mendorong troli belanja seraya mengabsen satu persatu barang yang harus dibeli dalam secarik kertas dari Umi Sarah.
Tak banyak yang dibeli karena hanya sebagian dari belanja bulanannya, Alif pun ikut mengambilkan belanjaan dengan riangnya. Fardhan sedikit kewalahan karena Alif yang berlarian kesana-kemari, takut jika terjatuh atau menabrak pengunjung lain.
"Ustadz ini tinggal keperluannya Alif yang belum." Ucap Aisyah yang tidak tahu apa saja yang termasuk kedalam kategori keperluan Alif yang tertulis di sana.
"Yasudah ayo ke sebelah sana, Alif sini nak jangan lari-lari terus." Ajak Fardhan yang langsung menggendong Alif seraya mendorong troli belanjaannya.
Aisyah tiba-tiba teringat masa dimana ia yang ikut berbelanja bersama dengan orangtuanya dan kedua kakaknya, sepertinya tak jauh berbeda dengan Fardhan yang mengejar putranya itu. Ia pun sering berlarian kala diajak ke supermarket oleh kedua orangtuanya. Rindu rasanya.
"Bagaimana kabar mereka? Apa mereka bahagia tanpa aku?" Lirih Aisyah.
Dengan cekatan Fardhan mengambil barang-barang yang diperlukannya untuk Alif. Seperti minyak telon, bedak, sabun mandi, shampo, sikat gigi beserta pasta giginya. Sungguh ayah idaman bukan, dan sekali lagi Aisyah di sadarkan kembali akan ketidak serasiannya dengan sosok dihadapannya ini.
Selesai membayar semua belanjaan, merekapun segera kembali pulang mengingat sebentar lagi akan memasuki waktu Maghrib.
"Terimakasih Aisy sudah bantu saya." Ucap Fardhan melirik sekilas ke arah Aisyah.
"Sama-sama Ustadz."
Entah mengapa Aisyah tiba-tiba ingin menjaga jarak dengan Fardhan, salah satunya dengan tidak terlalu banyak berinteraksi. Walau sebenarnya dari awal mereka tidak banyak mengobrol jika bukan bersama Alif, tapi tetap saja rasanya kurang nyaman apalagi setelah mendengar para Ibu pengajian yang tidak menyukai kehadirannya diantara ayah dan anak yang mereka kagumi itu.
🐼🐼🐼
Halo halo semuanya, masih ada yang ngikutin cerita ini kah? Jangan lupa apresiasinya ya guyss☺️ XOXO 🥰🥰
Salam mata panda 🐼
Lanjutkan ceritanya ya kak. semangat
semangat up dong thorr
lanjut dong
semangaat , aku setia menunggu
lanjuut
jangan lama² dh penasaran ini
ikut nyesek mewek sendiri bacanya