Indonesia
NovelToon NovelToon
DEKEKOUI

DEKEKOUI

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Vampir
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Muka Kanvas

Ketika penyihir dan Pemburu Penyihir bertemu dalam satu wilayah yang tak pernah mereka sangka. Satu berburu dan yang lain diburu, bagaimana jika akhirnya mereka jatuh cinta?

Dua makhluk Kekal bertikai sejak berabad-abad silam dan tak pernah mampu berdamai, berperang, bersembunyi dan akhirnya tertangkap, berulang tanpa pernah istirahat.

Apakah pada akhirnya mereka mampu bersatu? atau malah menjadi alasan peperangan terjadi lagi, seperti dulu Dekekuoi hancur lebur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muka Kanvas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Batuk Asti 4

“Kami kemarin ke rumah Asti, tapi Astinya nggak bisa dijenguk.” Lira terlihat kecewa karena masalah kemarin.

“Jangan dekat-dekatlah, aku takut ketularan, aku balik ke kelas duluan deh!” Dani takut kalau Lira dan Rani akan membawa virus dari rumah Asti, makanya dia berkata begitu.

Rani tertawa dan berteriak, “baguslah! Jadinya kan kau ngintilin kita mulu!”

Dani tidak menoleh dia hanya pergi saja.

“Tapi aku kasihan sama orang tuanya Asti, ibunya kelelahan sih kayaknya.”

“Iya Rani, aku juga melihat dia kelelahan, tapi baik ya, dia nggak tersinggung sama orang yang kayak Dani, dia malah kasih tahu kita untuk hati-hati dan tidak dekat Asti karena takut kita jadi sakit juga.”

“Iya, aku sama kayak kamu sih, aku penasaran, ingin lihat Asti, guru-guru aja nggak ada yang mau jenguk.”

“Iya, semoga Asti cepet sembuh ya, semoga mereka dia bisa sekolah lagi dan ....”

“Rani, Lira, kalian berdua jangan di sini, cepat ke pos satpam!” Seorang guru tiba-tiba berteriak dari luar kelas.

Lira dan Rani terkejut, mereka berlarian keluar perpustakaan, saat sudah di depan pintu, dua orang satpam mendekati mereka dan mendorong mereka dengan tongkat.

“Loh, kenapa bu?” Rani bertanya dengan heran.

“Kalian tunggu di pos, nanti diantar pulang naik becak ke rumah kalian ya, sampaikan surat ini ke orang tua kalian, jangan banyak tanya, antar mereka ke pos satpam ya pak!” Ibu guru yang mengajar IPA sekaligus memegang TU itu meminta satpam membawa Asti dan Lira ke pos satpam yang letaknya dekat gerbang masuk.

Begitu sampai pos satpam, mereka berdua duduk di luar pos, di lantai yang agar naik dari tanah pijakan kaki.

“Kalian ngapain sih ke rumah orang sakit, udah tahu dia juga sakitnya nggak sembuh-sembuh, sekarang kalian akan dipulangkan dan tunggu sampai memastikan kalian nggak ketularan, kalau ketularan, bisa-bisa sekolah ini nanti dicap sebagai sarang virus, duh, masih kecil aja pikirannya udah sok peduliin temen, solidaritaslah! Padahal yang bener mah kalian belajar aja, berprestasi, ngapain ribet-ribet jenguk temen sakit yang sakitnya nggak jelas!” salah satu satpam yang membawa mereka berkata dengan keras dan kejam. Lira melihat mereka dengan tatapan marah.

Jika saja dia boleh menggunakan sihir, dia akan membuat satpam itu menutup mulutnya dan tak bisa bicara lagi sampai Asti sembuh, dasar kejam! Tapi kan dia tak boleh pakai sihir sembarangan, makanya dia hanya diam saja.

“Maaf ya Lira, karena aku kamu jadi kebawa-bawa.”

“Ih, apa sih Rani! Justru beruntung kita berdua, jadinya kamu nggak kesepian kalau diasingkan begini, dasar manusia kejam! Sakitnya aja belum tentu menular, udah pada ketakutan! Nanti kalau anak atau saudaranya yang kena, baru tahu rasa!” Lira sengaja mengencangkan suaranya sambil melihat ke arah satpam, satpam itu tak menggubris, dia berjalan keluar karena becak sudah satang.

Dua becak yang dipesan sekolah untuk mengantar Lira dan Rani masing-masing pulang ke rumah.

Rani dan Lira berpamitan, berpelukan lalu pulang dengan arah yang berbeda.

Lira sampai di rumah dan berlari masuk lalu menangis, ibunya memeluk Lira, mereka ada di ruang tamu.

“Kok udah pulang? Ada apa?”

“Guru mengusir aku dan Rani, katanya takut kami membawa virus, ini surat untuk papa dan mama, aku kesal sekali, satpam saja tidak punya empati, aku sumpahin sakit kayak Asti baru tahu rasa dia!”

“Hussh! Jangan begitu, ingat, mulutnya Dekekuoi tidak boleh berkata sembarangan, karena seluruh tubuh kita sudah terisi Sila, itu berbahaya.”

“Tapi kan aku tidak membaca mantra, hanya mengumpat!”

“Yasudah, Lira tidur siang saja ya, baru abis itu makan, karena sekarang masih marah kan? Suratnya sini ibu baca dulu, jangan marah, anggap aja ini liburan sementara.” Mama berusaha menenangkan, Lira patuh dan dia masuk ke kamar untuk ganti baju dan tidur.

Mamanya Lira membuka surat itu dan ternyata isinya adalah Lira dan Rani akan dirumahkan dulu sementara waktu sampai dipastikan mereka tidak sakit, mamanya Lira geram membacanya, bagaimana mungkin mereka sungguh tak ada empati, bahkan anaknya segar bugar begitu ditakuti tertular, ibunya Asti berjuang sendirian, itu membuat Nyonya Yelak sangat ingin membantu keluarga itu.

...

“Asti sudah membaik Pak, lihat dia sudah tak terlalu batuk lagi, hanya sesekali, dia juga jadi mau makan nih!” Ibunya senang, karena untuk pertama kalinya setelah beberapa waktu ini dia tak mau makan.

“Iya, aku juga semalam kaget, kok aku bisa nyenyak tidurnya, tidak mendengar Asti batuk, bangun tidur tubuhku jadi terasa bugar.”

“Sama pak, aku juga, terima kasih ya Asti, sudah jadi anak yang sabar, kita pelan-pelan merawat tubuhmu ya, supaya kamu bisa beraktifitas lagi.”

Ibunya Asti senang sekali, karena Asti telah membaik dan dia juga sudah bugar, tidak seperti sebelumnya selalu mengantuk.

Tapi sayang kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama, tiba-tiba suara ketukan keras datang dari pintu depan rumah, bapaknya Asti berlari ke depan karena takut ada yang genting sampai orang mengetuk pintu sekeras itu.

Pintu rumah dibuka dan ternyata yang datang adalah pak RT.

“Anakmu bagaimana? Apakah sudah sembuh atau semakin buruk keadaannya?”

“Pak RT, terima kasih sudah jenguk, Alhamdulillah anak saya sudah membaik!”

“Baiklah, aku hanya kasih info saja ya, di gang sebelah, sudah ada 3 orang anak terkena batuk yang sama kayak anakmu tidak sembuh dan tidak tahu penyebabnya, aku takut warga mulai ketakutan karena merasa ini wabah, kalian bersiap saja, aku akan infokan ke warga kalau Asti membaik.”

“I-iya pak, terima kasih ya, semoga ini tidak jadi gosip miring yang membahayakan keluargaku, pak.”

“Aku juga tak mau kalau kita jadi warga yang harus diisolasi, akan sangat berbahaya, karena di saat seperti ini, negara lagi genting, orang macam kita itu tak terlalu penting bagi mereka, jadi sebisa mungkin kira saling jaga ya.”

“Iya pak, terima kasih.” Bapaknya asti lalu menutup pintu, dia bersiap untuk mandi dan akan pergi kerja, sementara Asti makan disuapi ibunya.

Tak lama kemudian bapaknya Asti selesai mandi dan dia akan berangkat kerja, tapi saat dia membuka pintu, betapa kagetnya dia karena sudah ada beberap tentara yang hendak masuk ke rumah, bahkan di antaranya ada yang langsung berjaga dan berkeliling.

Bapaknya Asti mundur, dia sungguh takut, ada apa ini, apakah ini berbahaya untuk mereka atau ini justru penjagaan dari pemerintah?

“Pak, kita bicara sebentar ya.” Seorang tentara yang memakai pakaian lengkap dan juga penutup wajah dengan kain yang diikatkan seadanya, karena di tahun itu, masker medis tentu belum ada.

“Saya mau berangkat kerja pak, takut telat.” Bapaknya Asti berkata dengan cemas.

“Tidak perlu takut terlambat, kantor sudah tahu kalau bapak tidak akan masuk kerja hari ini.”

“Loh, kok nggak masuk kerja, saya ....”

“Masuk dulu pak, kalau bapak menolak, kami akan paksa, lagi pula, kita semua di sini juga harus menjaga jarak supaya tidak tertular, untuk itu, bapak harus kooperatif ya.”

Bapaknya Asti menatap tentara itu dengan khawatir dan akhirnya dia masuk, sementara para tentara duduk di luar halaman rumahnya, mereka akan bicara dengan jarak yang  cukup jauh.

1
Vie Vie Sue
/Good/
Vie Vie Sue: iya. sama2 kk. aku masih disini cuma nungguin karya² kk. sukses selalu ya
total 2 replies
Betri kardina
berarti jagabaya kasipin jahat ya
Muka Kanvas: nah, akhirnya ada yang ngeh
total 1 replies
Tini Nurhenti
alurnya maju mundur ea thor,😁🤭💪💪💪
Muka Kanvas: Iya nih, stuck di 1965 dulu yaaaa
total 1 replies
Tini Nurhenti
penuh misteri 👍💪💪💪
Tini Nurhenti
hadir thor, cepy story lanjutane to ??
Tini Nurhenti: ok kk
total 2 replies
Arla
mungkin Dani atau orangtuanya
Muka Kanvas: bukan kok, bukan.
total 1 replies
Dea Suci
zombie ya kak
Muka Kanvas: Hampir
total 1 replies
Dea Suci
mei
Dea Suci
wadidaw,,, ternyata ohhh ternyata,, Dani pun sama.
Zakia
sambil nunggu PKJ3 baca ini dulu, sebenarnya heran kok eps beda karena sebelumnya sudah aku baca semua thor
Muka Kanvas: Sudah ganti judul, setelah melalui pertimbangan yang cukup berat, akhirnya aku memutuskan membawa kisah Dekekuoi jadi novel yang panjang.
total 1 replies
Arla
kenapa dihapus kak thor,, pantesan error tadi pas aku mau like🤭
Yosh Pontoh: Pantesan barusan aku cari di rak buku gak ada.
total 2 replies
Damn Nwtch
curiga sama pamannya,Napa Dani g boleh ikut
Muka Kanvas: Lanjt ya, udah ada part selanjutnya
total 1 replies
Tini Nurhenti
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Arla
kasihannya dokter itu
Arla
ngeri jiwa psikonya...
Ayuk Witanto
hiii serem
Ayuk Witanto
gila dia
Ayuk Witanto
bagus
Ayuk Witanto
seru sih...tapi gantung🤭
Wahyu ningsing: lha yaitu...gak enak digantung....pastinya sakit
total 3 replies
Tini Nurhenti
kek cerpen kk👍💪💪
Muka Kanvas: Iya betul, tapi lebih tepatnya antologi horor
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!