Indonesia
NovelToon NovelToon
Selingkuhan Berhasrat

Selingkuhan Berhasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Clue

Keluarga suamiku merendahkanku setiap hari, aku di jadikan babu di rumah itu, rumahku sendiri. Tapi suamiku tak peduli, ia hanya bisa terus berselingkuh dengan wanita di Bar.
Satu malam, aku mabuk berat dan tidur dengan pria asing yang ku temui di parkiran, kami melakukannya di mobil.
"Ah...lakukan dengan pelan." Kataku, karena hanya itu yang bisa ku balas pada dunia yang menyakitiku.
Tapi aku tak tau, pria itu ternyata....ketua organisasi paling berbahaya di kota ini.
Sekarang aku terjebak
Antara pernikahan yang akan membunuhku pelan pelan, atau pria yang bisa membunuhku dalam semalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Clue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Par Dirga berdiri dari kursinya, ia menggosok kedua tangannya, mata tajam terus melihat ke arah Sinta

"anda ingin apa!" ujar Sinta, ketakutan

"nona manis, apa kamu sudah tidak ingat! ibumu sudah menjual mu padaku!" ucapnya

Pak Dirga terus mendekat, penuh hasrat "kamu harus membuatku senang"

Sinta berdiri tegak, kursinya menggeser ke belakang, kasar "diam!" teriaknya histeris "Jangan mendekat!"

Pak Dirga tak getir, wajahnya semakin bersemangat melihat Sinta yang seperti itu

"berteriaklah sekencang mungkin, semua orang tak akan menghiraukan nya!"

Tubuh Sinta gemetar. Air matanya telah menggenang di pelupuk mata, tetapi ia menolak untuk menjatuhkannya. Ia mundur selangkah demi selangkah hingga punggungnya menyentuh dinding yang dingin.

"Jangan sentuh aku!" ucapnya dengan suara bergetar

Pak Dirga tertawa kecil. Suaranya serak membuat bulu kuduk Sinta meremang. Ia merapikan dasinya perlahan, seolah sedang menikmati permainan

"Apakah engkau mengira berteriak akan menyelamatkanmu, Sinta? Ruangan ini kedap suara. kamu harus menuruti kemauanku, ibumu sudah tidak peduli lagi!"

Sinta mengepalkan tangannya erat.

Dengan sisa keberanian yang dimilikinya, Sinta meraih vas bunga di atas meja terdekat dan melemparkannya sekuat tenaga ke arah Pak Dirga.

BRAK!

Vas itu pecah berhamburan. Pak Dirga mengumpat, lalu refleks menutup wajahnya

Tanpa berpikir panjang, Sinta berlari sekuat tenaga menuju pintu. Tangannya gemetar ketika memutar gagang pintu

"TOLONG!!!" teriaknya sekeras mungkin begitu pintu terbuka.

Di luar, dua orang petugas keamanan yang biasanya berjaga di ujung koridor langsung menoleh dengan terkejut

Melihat Sinta keluar dengan napas tersengal dan wajah pucat, keduanya segera menghampiri.

"Ada apa, Nona?" tanya salah satu petugas dengan nada cemas.

Sebelum Sinta sempat menjawab, suara bentakan dari dalam ruangan memecah suasana.

"Apa yang kalian lakukan di sini! Pergi dari tempat ini sekarang juga!" hardik Pak Dirga. Wajahnya tampak merah padam, di pelipisnya terdapat goresan kecil akibat pecahan vas

Namun Sinta sudah terlanjur berlari ke belakang para petugas. Tubuhnya gemetar, tetapi suaranya berusaha setegar mungkin.

"Tolong... selamatkan saya. Dia memaksa saya!"

Kedua petugas itu saling bertatapan. Raut wajah mereka berubah serius setelah melihat wajah pak Dirga "mohon maaf, Nona. Kami bukan tidak ingin membantu anda. Kami hanya tidak ingin mempunyai masalah dengan orang seperti" petugas itu melirik pak Dirga

Pak Dirga menyeringai sinis. Ia menatap Sinta tajam seolah hendak mengatakan bahwa begitu besar kuasanya

Petugas yang berbicara melirik dengan mata rasa bersalah kepada temannya, lalu berisyarat untuk pergi dari tempat itu

Mereka akhirnya pergi, meninggalkan Sinta seorang diri dengan ancaman yang nyata di hadapannya.

Jantung Sinta berdegup kencang. Harapan terakhirnya untuk mendapat pertolongan baru saja pupus. Kini hanya ada dirinya dan Pak Dirga yang berdiri di ambang pintu dengan senyum kemenangan.

"Lihat? Tidak ada seorang pun yang berani menolong mu," ujar Pak Dirga pelan. Suaranya terdengar seperti bisikan iblis. "Kekuasaan memang segalanya, Sinta."

Sinta mundur lagi. Punggungnya kembali menyentuh dinding. Air matanya jatuh deras, tetapi ia segera menghapusnya dengan punggung tangan. Menolak terlihat lemah.

"Surat perjanjian itu tidak sah," ujar Sinta dengan suara bergetar. "Ibu saya tidak mungkin menjual anaknya sendiri!"

"tidak mungkin?" Pak Dirga tertawa. Ia melangkah masuk dan menutup pintu perlahan. Suara klik dari gagang pintu terdengar sangat nyaring di telinga Sinta.

"ibu dan adik kamu sudah membawa kabur uangnya, mereka tidak lagi menyayangimu haha!" ujar pak Dirga, di barengi tawa besar yang menggema

Di saat yang sama, ponsel di dalam tas Sinta bergetar. Layarnya menyala. Sebuah nama muncul: "Raka"

Satu-satunya orang yang mungkin masih bisa menolongnya.

Namun sebelum Sinta sempat meraih tasnya, Pak Dirga telah lebih dulu menarik pergelangan tangannya

Cengkeraman itu kuat dan dingin. Sinta memberontak, tetapi tenaganya tidak sebanding

"Lepaskan saya!" teriak Sinta. Suaranya pecah di dalam ruangan yang kedap itu.

"Berhenti melawan," desis Pak Dirga. Ia menyeret Sinta ke arah sofa di tengah ruangan. "Semakin engkau melawan, semakin aku ingin."

Ponsel di dalam tas Sinta terus bergetar. Nama "Raka" masih menyala di layar. Setiap getaran terasa seperti harapan yang semakin menjauh

Dengan sisa tenaga, Sinta mengayunkan kaki dan menendang meja kecil di sampingnya. Gelas di atasnya jatuh dan pecah. Suara berisik itu menggema.

"Dasar keras kepala!" Pak Dirga mendorong tubuh Sinta hingga ia terjatuh ke belakang

Tepat pada saat itu, terdengar suara gedoran keras dari luar pintu.

DUAR! DUAR!

"BUKA PINTUNYA SEKARANG!" Suara jeritan yang Sinta kenal, menggema dari luar

Mata Sinta membelalak. *Itu suara Raka*

Wajah Pak Dirga seketika berubah. Senyum sinis nya menghilang, berganti dengan geram. Ia melirik ke arah pintu, lalu kembali menatap Sinta dengan tatapan mengancam.

"Jika engkau berteriak, aku pastikan ibumu dan adikmu tidak akan selamat" bisiknya di telinga Sinta

Gedoran itu semakin kencang. Diiringi suara petugas lain yang mulai berdatangan.

Sinta menutup matanya sejenak. Antara takut dan harapan, ia harus memilih

"mohon maaf, pak. Anda jangan membuat kerusuhan di kantor kami" suara riuh terdengar, di luar petugas sedang menangani Raka yang membuat onar

"Di dalam ada teman saya yang sedang dalam bahaya, Pak!" teriak Raka dengan suara lantang. "Dia dijual kepada kakek tua mesum itu! Apakah Anda tahu?!"

Petugas keamanan tampak ragu. Mereka saling berpandangan, tidak berani mengambil tindakan gegabah karena nama Pak Dirga terlalu besar di perusahaan itu

Di dalam ruangan, Pak Dirga tertawa kecil. Ia menekan bahu Sinta agar tidak bisa bergerak.

"Lihat? Bahkan orang-orang ini tidak berani. Mereka tahu siapa yang berkuasa di sini."

Air mata Sinta kembali mengalir. Ancaman terhadap ibu dan adiknya masih terngiang di telinganya. Namun suara Raka yang tidak berhenti berteriak dari luar memberinya sedikit keberanian.

"Raka..." gumam Sinta lirih.

Pak Dirga mendekatkan wajahnya. Napasnya terasa panas di pipi Sinta.

"Jika engkau bersuara lagi, maka berakhirlah riwayat kamu dan keluargamu."

Gedoran di pintu semakin menjadi. Kali ini disusul suara bentakan lain.

"Buka pintunya! Kami menerima laporan pelecehan!"

Pak Dirga mengumpat pelan. Ia melangkah mundur, tetapi tetap menggenggam pergelangan Sinta erat. Dengan tangan satunya ia mengambil ponsel dari meja dan menekan satu nomor

"Halo? Siapkan orang-orangmu. Ada yang membuat keributan," perintahnya singkat, lalu menutup panggilan

Ia menoleh ke Sinta dan tersenyum miring

"Permainan baru saja dimulai, Sinta."

Tiba-tiba lampu di dalam ruangan berkedip beberapa kali lalu padam. Ruangan menjadi gelap gulita. Hanya suara napas Sinta dan Pak Dirga yang terdengar

Di tengah kegelapan itu, Sinta merasakan ada tangan lain yang meraih tangannya dari belakang Hangat, dan sangat dikenalinya.

Sebuah bisikan terdengar di telinganya

"Sinta... aku di sini."

1
Hamzah
W untuk mbok Lastri ❤️‍🩹
Hamzah
noo mertua matre 🥲
Hamzah
belum apa - apa udah tegang aja nih🗿
Hamzah
halo kak, aku mau baca kalau ada waktu, jangan lupa saling support 😇
Starval
Waduh kak jadi takut, jangan lupa mampir ya kak saling suport
Maharani Martosono
😄
Nona Cloe: rating dong kak, makasih 😘🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!