Indonesia
NovelToon NovelToon
Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.

​Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.

​Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21

Sorot lampu merah darah dari puluhan menara meriam otomatis yang mendadak mengunci posisi mereka berdua di luar dinding pangkalan memantulkan bayangan gemetar di atas dinding es yang membeku. Udara di sekitar saluran ventilasi seolah membeku seketika, menahan napas Ren dan Soju dalam ketegangan yang teramat sangat. Di dalam earpiece, teriakan panik Gavin menggema putus asa, memperingatkan bahwa sistem pertahanan pangkalan telah diambil alih oleh kecerdasan buatan pusat.

Namun, di tengah detik-detik paling krusial di mana peluru plasma berkaliber besar siap menghujam tubuh mereka, desis uap panas dari pipa ventilasi mendadak berembus lebih kencang.

Tanpa membuang waktu sepersekian detik pun, Ren meraih kerah mantel Soju, menarik gadis itu melompat masuk ke dalam kegelapan pipa pembuangan tepat saat deruman pengisi daya meriam otomatis menyalak di luar. Mereka meluncur deras menembus lorong logam yang panas, meninggalkan permukaan atas yang mematikan dan terperosok jatuh ke dalam perut fasilitas bawah tanah pos pemeriksaan Frost-Guard.

Bruk!

Ren dan Soju mendarat di atas lantai baja berkarat dengan suara dentuman berat. Bau belerang, uap masakan yang pekat, dan aroma rempah-rempah tajam langsung menusuk rongga hidung mereka, sangat kontras dengan bau anyir dan dinginnya terowongan es di luar.

Mereka berdua terbatuk-batuk kecil, merayap cepat di balik tumpukan kontainer bahan makanan kosong untuk menghindari sorotan kamera pengawas interior. Begitu suasana dirasa aman, Ren menegakkan tubuhnya, memadamkan pendaran cahaya biru berlebih di dadanya agar tidak terdeteksi sensor termal ruangan.

Soju merapikan tudung mantelnya, napasnya memburu pelan. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tempat mereka mendarat. Tempat ini bukanlah ruang kendali generator yang dipetakan Gavin. Lorong-lorong di sini berbaris rapi dengan pintu-pintu kedap udara berlabel baja tebal, diiringi suara dentingan pisau, desis uap panci bertekanan tinggi, dan deru kipas ventilasi industri yang berputar konstan.

"Di mana kita?" bisik Soju pelan, melirik ke arah Ren dengan dahi berkerut. "Ini bukan ruang generator utama. Ini... seperti sebuah fasilitas dapur raksasa."

Sebelum Ren sempat menjawab, suara langkah kaki berat berlapis baja dan bentakan kasar terdengar dari balik koridor tikungan di dekat mereka.

"Cepat selesaikan batch makanan berikutnya! Para petinggi korporasi dari Sektor Alpha akan tiba dalam waktu kurang dari satu jam! Jika hidangan penutupnya kurang sempurna, kalian semua akan dikurung di sel pendingin es!"

Ren dan Soju segera merapatkan punggung mereka ke dinding baja, mengintip pelan dari balik sudut koridor.

Di hadapan mereka terbentang sebuah fasilitas penahanan bawah tanah yang disulap menjadi dapur industri massal yang sangat luas. Ratusan meja baja panjang dipenuhi oleh bahan-bahan makanan beku langka, panci-panci raksasa yang mengepulkan uap panas, dan dinding-dinding sel kaca tebal di sisi ruangan yang dipenuhi oleh para pekerja tahanan berpakaian seragam kumal.

Namun, bukan kemegahan fasilitas dapur itu yang merampas perhatian mereka. Di tengah ruangan yang sibuk itu, pandangan Ren dan Soju terkunci pada sesosok gadis yang berdiri di hadapan meja pemotong besar.

Gadis itu mengenakan apron putih usang di atas seragam tahanannya yang kotor. Rambutnya diikat asal-asalan ke belakang, memperlihatkan garis leher yang jenjang dan wajah yang memancarkan ketegasan luar biasa di tengah kelelahan yang nyata. Di hadapannya, tiga orang penjaga keamanan korporasi berbadan besar dengan senjata laras panjang tampak membentak-bentak, memaksa gadis itu untuk mempercepat pekerjaannya.

"Hei, Koki! Jangan banyak melamun! Potong daging itu lebih cepat! Petinggi Aether tidak suka menunggu!" bentak salah seorang penjaga sambil menggebrak meja baja menggunakan senjatanya.

Gadis itu—sang koki—tidak mengindahkan bentakan tersebut. Ia mengangkat pisau koki kesayangannya dengan gerakan begitu tenang, mengiris daging beku dengan presisi ketebalan yang sempurna, seolah dunia di sekelilingnya yang penuh ancaman sama sekali tidak ada artinya.

Namun, dari balik bayangan koridor tempat mereka bersembunyi, Soju menyandarkan sikunya di dinding, memperhatikan gerak-gerik gadis itu dengan tatapan mata yang berbinar-binar penuh kekaguman. Soju mendekatkan bibirnya ke dekat telinga Ren, membisikkan sesuatu dengan nada suara yang nyaris tak terdengar.

"Perhatikan tangannya, Ren," bisik Soju pelan, matanya tidak lepas dari sosok gadis di tengah dapur itu. "Kau lihat bagaimana ia memegang pisau itu? Begitu suci, begitu bersih dari niat kekerasan. Bagi dia, tangan itu hanya diciptakan untuk satu hal yang mulia: meracik mahakarya kuliner terbaik di dunia es ini."

Ren menaikkan sebelah alisnya, melirik Soju dengan tatapan datar. "Maksudmu?"

"Dia tidak pernah menggunakan tangannya untuk memukul musuh," lanjut Soju menjelaskan dengan senyuman tipis penuh arti. "Gadis itu... dia adalah koki terhebat yang pernah ada di bawah tanah Sektor ini, sekaligus seorang ahli bela diri aliran kaki yang mematikan. Karena tangannya terlalu suci untuk menyentuh kotornya darah pertarungan, ia menyerahkan seluruh urusan 'menghajar orang' sepenuhnya pada kedua kakinya."

Seolah membuktikan perkataan Soju, insiden di tengah ruangan itu mendadak memanas.

Penjaga keamanan yang merasa diabaikan oleh sang koki mendadak kehilangan kesabarannya. Ia maju menonjok ke depan, berniat mencengkeram bahu gadis itu dengan kasar untuk menariknya menjauh dari meja kerja.

"Kau tuli, hah?! Kuperintahkan kau bergerak lebih cepat—!"

Sebelum tangan penjaga itu menyentuh bahu sang koki, gadis tersebut bergerak dengan kecepatan yang melampaui nalar manusia biasa.

Tanpa melepaskan pisau dari tangan kanannya—menjaga agar tangan sucinya tetap steril dari kekerasan—tubuhnya berputar cepat bagai gasing dalam poros gravitasi yang sempurna. Kaki kirinya melesat menendang ke udara dengan tenaga sentrifugal yang begitu dahsyat.

Bugh!

Tumit sepatu bot baja gadis itu menghantam telak rahang sang penjaga keamanan. Suara hantaman tulang yang berderak keras menggema ke seluruh sudut ruangan dapur. Penjaga berbadan besar itu terpental sejauh tiga meter ke belakang, menghantam tumpukan panci besar hingga tersungkur pingsan tak berdaya di lantai dengan darah segar mengucur dari sudut bibirnya.

Dua penjaga lainnya terperanjat kaget, langsung mengangkat senapan mereka dengan panik. "Sialan! Tangkap dia!"

Namun, gadis itu tidak memberi mereka kesempatan. Dengan satu lompatan akrobatik yang anggun di atas meja baja, ia melepaskan serangkaian tendangan beruntun—Axe Kick cepat yang menghantam laras senapan hingga patah, dilanjutkan dengan tendangan putar samping (Roundhouse Kick) berkecepatan tinggi yang menghantam dada penjaga kedua hingga terpental menembus dinding kaca sel tahanan.

Dalam kurun waktu kurang dari lima detik, dua penjaga tambahan terkapar tak sadarkan diri di lantai, sementara sang koki kembali mendarat dengan ringan di tempatnya semula, merapikan apron putihnya, dan melanjutkan mengiris sayuran seolah-olah tidak ada hal luar biasa barusan yang terjadi di hadapannya.

Seluruh pekerja tahanan dan staf dapur mematung ketakutan, tidak ada yang berani bernapas terlalu keras.

Di balik dinding koridor persembunyian, Soju bertepuk tangan pelan tanpa suara, matanya berbinar kagum. "Sudah kubilang... tendangan maut yang sangat elegan."

Ren terdiam, menatap tajam ke arah gadis koki tersebut. Di dalam dadanya, denyut The Core Engine beresonansi aneh, seolah mengenali frekuensi energi disiplin fisik yang luar biasa dari tendangan gadis itu.

Namun, di saat ketegangan di dalam dapur perlahan mereda, lampu-lampu darurat di seluruh fasilitas tiba-tiba berubah menjadi merah terang, diiringi suara sirene peringatan yang melengking nyaring. Dari balik pengeras suara sentral pangkalan, suara dingin sang komandan korporasi menggema ke seluruh sudut ruangan:

"Perhatian seluruh unit! Penyusup telah memasuki fasilitas penahanan bawah tanah! Aktifkan protokol penguncian total, dan pastikan target utama—termasuk sang koki tahanan yang membelot—dieksekusi di tempat tanpa ampun!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!