Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
"Kita balik kantor aja, Dul!" perintah Miranti.
"Siap, Bu."
Entah karena Abdul yang terburu-buru membalikkan badan, atau memang posisi Gadis itu yang salah. Tapi dalam hitungan kurang dari 3 detik Gadis itu jatuh ke tanah. Tertabrak Abdul. Gadis yang sama yang tertabrak Miranti di dalam cafe tadi.
"Eh, maaf maaf." Abdul menolong Gadis itu berdiri.
Gadis itu menatap Abdul dan Miranti. "Maaf saya yang kurang fokus."
Gadis berkacamata tebal itu hendak pergi tapi dia mengaduh, ternyata kakinya sakit.
Miranti bergegas mendekati gadis itu. "Kali kamu keseleo?"
"Mungkin, Tante, tapi nggak papa." dia tersenyum dan tertatih-tatih berniat meninggalkan Miranti, namun tubuhnya oleng. Beruntung Miranti sigap menangkap tubuhnya.
"Terima kasih, Tante." kata gadis itu. Lagi- lagi dengan tersenyum meski terlihat dipaksakan.
"Kita ke klinik ya, sepertinya tadi kita melewati klinik, Nggak jauh kok dari sini, ya kan, Dul?" Miranti menatap Abdul.
"Iya, Bu."
" Ya udah kita bawa gadis ini..... Eh namamu siapa?" Miranti ganti menoleh pada gadis itu.
"Uli, Tante." Gadis itu meringis. "Tapi saya nggak papa, saya pulang aja. Rumah saya dekat kok, naik ojek cuma 10 menit."
"Nggak, kamu saya antar ke klinik. Kamu dari tadi meringis kesakitan kan?" Miranti tetap memegangi lengan Uli, takut kalau dia jatuh lagi. "Sebagai permintaan maaf saya dan Abdul, saya tadi juga menabrak kamu demi mengejar laki-laki itu jadi saya mengabaikan kamu."
Uli meringis lagi. Menunduk dan melirik malu. " Saya meringis bukan karena kesakitan. Tapi karena teman saya nggak muncul-muncul Tante. Saya udah nunggu hampir 2 jam, mana udah pesan makanan banyak."
"Oh." memang Miranti tadi melihat meja Uli penuh dengan makanan.
"Kasihan." Abdul dengan berani menepuk pundak Uli. "Pasti kamu nungguin cowok yang kamu taksir ya?"
Uli tambah menunduk, namun sempat mengangguk kecil.
"Teman sekolah?" Abdul bertanya lagi.
"Hush, kepo kamu, Dul!" Miranti membeli, namun menampakkan muka ramah ketika menoleh pada Uli. "Ayo kita ke klinik, nanti Tante akan antar pulang sekalian ke rumah."
Uli tidak kuasa menolak. Miranti dan Abdul menolongnya masuk ke dalam mobil.
Ternyata hanya 5 menit, mereka sudah sampai ke klinik.
"Biar saya masuk sendiri, Tante. Saya nggak mau merepotkan." Uli menatap Miranti ketika pintu dibukakan oleh Abdul.
"Nurut aja, Uli. Kami ini yang menyebabkan kakimu sakit loh." Miranti tetap dengan penuh perhatian menuntun gadis yang berjalan dengan berjingkat itu. " Tuh, jalan aja masih susah kan?"
"Makasih ya, Tante baik sekali. Jarang-jarang loh orang kaya baik sama saya."
Miranti diam tidak merespon.
"Tante, Saya pengen pipis." Kata Uli saat mereka akan masuk ke ruang pendaftaran.
"Ayo, Tante antar."
"Nggak usah, Tan, biar saya sendiri."
"Udah nggak apa-apa."
Sebelum mencapai toilet, di korider clinik yang agak sepi, tiba-tiba Uli mengibaskan lengan Miranti. Genggaman Miranti pada lengannya pun terlepas.
Wajah cantik Uli menampakkan seringai. "Dan sekarang kita tinggal berdua saja Ibu Miranti!"
Uli mundur dengan lincah, kakinya tampak sehat-sehat saja.
"Hai ternyata kamu......"
"Iya, kaki aku nggak papa, nih, nih!" Uli tertawa sambil melompat-lompat.
"Uli......"
Tiba-tiba Uli memegang tangan Miranti dan dengan cepat dia sedikit memelintir Miranti. Miranti hendak berteriak namun sebuah benda keras menempel di perut bagian sampingnya.
"Berteriak lah, kalau ingin melihat ususmu berserakan di tanah!" desis Uli tepat di telinga Miranti. "Sebaiknya 30 juta itu benar-benar kamu bawa, kalau tidak......"
Miranti terkesiap. "Jadi kamu. Kamu....."
Uli terkikik senang. "Iya, Ibu bodoh, namaku Ulu, lengkapnya Peduli Kamoe!"
Miranti dan Uli bertatapan. Wajah mereka hanya berjarak 40 cm. Dan Miranti merasa seperti mengenal wajah dibalik kacamata tebal ini. Tapi siapa? Apakah bekas anak buahnya di kantor?
"Kenapa? Merasa pernah melihat aku?" Uli meringis lucu, seakan-akan dia bisa menebak isi pikiran Miranti. Dia terbahak sambil mengendurkan cengkramannya pada Miranti.
"Kam- Kamu?" tanya Miranti penuh keragu-raguan.
"Apa?! Kamu pikir aku hanya main-main? Bercanda? Melawak?" Uli mencebik jelek. Miranti mundur 2 langkah dan gadis berambut sebahu itu membiarkan Miranti. "Hai, mau ke mana, Tante? Maaf aku telah membuat tante takut."
Uli mengangkat tangannya. Sebuah pisang rebus teracung, benda yang dia tempelkan pada perut Miranti tadi. Mulut Uli mulai melebar dan tertawa khas Nismara dia keluarkan.
"Halo, Mir, perkenalkan aku Sofia Elena." merentangkan tangan meminta pelukan.
Miranti akhirnya tersadar langsung menghambur. "Astaga, Nisssss."
Nismara tertawa kencang. "Gimana akting ku? Mantap kan?"
Miranti menjawab dengan tonjokan kecil. "Brengsek, aku sampai sedikit pipis di celana."
"Hahaha." puas sekali Nismara mengerjai sahabatnya itu.
Akhirnya mereka menuju kantin, membeli air mineral dan duduk di salah satu kursi panjang di situ.
"Kamu beneran butuh 30 juta, Nis?" tanya Miranti serius.
Nismara menggeleng. "Itu hanya supaya kamu terpancing dan dramanya dapat hehehe."
"Sialan." Lagi-lagi Miranti menonjok bahu Nismara.
"Aku sudah menjiwai sebagai sosok Sofia Elena kan? Udah nggak ada Nismara - Nismara nya kan? Hihihi bahkan Abdul pun terkecoh, padahal aku sempat dag dig dug waktu Abdul menolong ku bangun tadi."
"Jantung ku mau lepas saat baca pengirim email tadi, Nis." timpal Miranti.
Nismara tertawa. " Kamu menganggap itu pesan dari Peduli Kamu? Padahal aku menulis Peduli Kamoe, tapi aku yakin kamu pun membaca sebagai Peduli Kamu saking paniknya, iya kan?"
"Ah masa sih." ucap Miranti tak percaya. Dia meraih telepon genggamnya dan membuka email. Memang benar di situ tertulis: Peduli Kamoe. "Luar biasa memang kamu, sukses membuatku pipis di celana!"
Penjelmaan Sofia Elena itu terkikik lagi.
"Kamu tinggal di mana sekarang, Nis?" tanya Miranti sambil menatap wajah baru Nismara.
"Rahasia."
"Nissss." wajah Miranti cepat berubah. Menjadi cemberut.
"Tidak usah pakai merajuk. nggak mempan! Aku akan menjalani kehidupan sebagai Sofia Elena seutuhnya, tanpa kamu, tanpa kekuasaan Nismara. Mungkin pertemuan kita berikutnya akan lama lagi, mungkin juga kita tidak akan bertemu. Kita lihat nanti." Nismara berkata panjang lebar. Sudah bisa menerka jika Miranti pasti akan mendesaknya.
Wajah Miranti layu seketika. "Okey deh, yang penting kita kontak di email ya!"
"Mungkin." Jawab Nismara sambil mengering. Dia mulai memainkan perannya lagi sebagai Sofiia Elena. "Kalau Tante sudah nggak ada kepentingan, mending pergi deh. Ke salon atau ke klinik kecantikan, biar wajah tua tante tetap menarik."
Otak Miranti berproses lambat. Dia tidak paham dengan apa yang diucapkan Nismara barusan, mulut dan matanya membuka lebar, kaget dengan kalimat Nismara, terlebih dengan nadanya.
"Gimana? Udah songong belum?" Nismara bertanya, tetapi dia harus menepuk pundak Miranti dua kali agar Miranti tidak bengong lagi.
Miranti mengerjap, menggelengkan kepala lalu meringis. "Emang paling bener, aku tidak terus-menerus di dekatmu, Nis. Takut gila aku lama-lama denganmu disini."
Nismara berdiri terlebih dulu. "Ya udah, sana kamu pergi. Jangan sampai Abdul masuk mencarimu dan menemukan kita di sini."
Miranti ikut berdiri, tanpa berkata lagi dia memeluk Nismara. "Jaga dirimu."
"Okey."
"Oh, iya, sebenarnya ada soal penting yang berkaitan proyek kita dengan Samudra, Nis." Miranti urung pergi. Tiba-tiba dia ingat kejadian siang tadi.
"Uruslah, Mir. Aku percaya sepenuhnya padamu dan apapun keputusan yang kamu ambil aku setuju."
Miranti pun pergi meninggalkan Nismara alias Sofia Elena.