Safa Zaina adalah seorang gadis yang tumbuh dalam keluarga yang sederhana. Namun karena kecerdasannya dia berhasil mendapatkan beasiswa di Universita Negeri terbaik di kotanya. Pertemuannya dengan Azka Imam Haqiqi, seorang pria kaya membawa perubahan pada dirinya. Imam adalah cinta pertama Safa. Namun berbeda dengan Azka. Safa adalah wanitanya yang entah yang ke berapa. Tak dapat lagi di hitung saking banyaknya. Namun satu yang pasti, Safa adalah pelabuhan cinta terakhirnya. Hubungan jarak jauh tak menjadi halangan bagi kisah cinta mereka. Dan di usia hubungan mereka yang ke 8 tahun, mereka akan melangsungkan pernikahan. Bertepatan dengan selesainya masa program dokter internship Imam.
Namun manusia hanya mahir berencana, dan Tuhanlah yang menentukan takdirnya. Malapetaka itu datang. Malapetaka yang membuat hidup Safa hancur. Malapetaka yang membuatnya tak lagi mempunyai alasan untuk hidup.
Mampukah safa bertahan? Atau dia akan mengalah pada takdirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristiyana Nopiyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Berhak Marah 3
Azka Imam Haqiqi
Azka melangkah keluar kamar dengan langkah panjang-panjang. Dengan sudut matanya, dia sempat melihat Dinda, mammi dan Tante Amira sedang duduk di ruang keluarga, sembari menikmati teh di sore hari. Langkahnya sempat terhenti ketika Mammi memanggilnya untuk bergabung dengan suara lembut seorang ibu.
"Azka, kemari sayang" kata Mammi sembari mengembangkan senyum manis.
"Bentar, Mi. Aku ada janji ketemu sama temen" jawabnya sambil menatap Mami sesaat, lantas kembali melangkahkan kakinya.
"Gak aja Dinda?" Tanya Mammi lagi yang masih terdengar meski dia telah berada di garasi. Namun dia tak berniat menjawab ucapan Mammi kali ini. Berpura-pura tak mendengar adalah jalan keluar yang paling baik.
Dia langsung menancab gas keluar dari garasi. Sekelebat, dia melihat bayang Dinda yang berdiri mematung di pintu yang menghubungkan garasi dan lorong antara kamar tamu juga ruang baca di rumahnya dari spion belakang. Namun tak dia hiraukan. Dia terus saja menancab gas, dan membunyikan klakson mobil guna menyuruh satpam di rumahnya untuk membuka gerbang.
Tadi sebelum dia keluar kamar, Ghea sempat memberinya alamat kedai yang akan menjadi tujuannya kali ini. Dengan panduan google maps dia meluncur membelah jalanan sepi menuju komplek perumahan elite tempatnya tinggal. Perjalanan yang cukup jauh. Hampir 1 jam perjalanan. Dia menyalakan radio di mobilnya, untuk sekedar menemani perjalannya kali ini. Sambil menggerutu panjang pendek karena Ghea memintanya datang ke tempat yang sangat jauh dari rumahnya. "Awas saja jika tak penting" begitu umpatnya saat jalanan yang di laluinya macet.
Mobil Ghea sudah terparkir di halaman kedai yang tampak sepi sore ini. Hanya ada beberapa mobil dan motor yang terparkir. Sembari dia membuka seatbelt tangannya mencoba menghubungi nomor Ghea.
"Gue udah sampe. Lo dimana?" Tanyanya dengan nada sedikit kesal, karena tadi beberapa kali dia terjebak macet. Membuat perjalanan yang seharusnya hanya di tempuh 1 jam kurang, molor hingga setengah jam. "Awas kal..."
"Di dalem. Masuk aja. Ruang VVIP 3 atas nama Ghea"
"Oke"
Klik. Hubungan terputus. Dia bergegas melangkahkan kaki ke dalam kedai yang ternyata di luar dugaannya begitu luas dan cukup nyaman. 1 ruangan besar dengan banyak kursi. Dan kemudian ada satu lorong yang membawanya menuju ruang lain dimana terletak beberapa bilik yang terpisah dari bambu menyerupai gazebo tertutup. Lengkap dengan pintu dan kaca besar-besar.
Dengan diantar seorang pelayan, dia di arahkan menuju room VVIP 3 tempat yang Ghea sebutkan tadi.
"Ada apa?" Tanyanya saat pertama membuka pintu ruang itu.
"Duduk dulu. Terus makan. Gue udah pesenin makanan favorit lo" jawab Ghea santai.
"Gue gak ada waktu" jawabnya lagi yang sama sekali tak berniat menyentuh makanan yang telah di sodorkan Ghea. "Apa? Cepetan?" Lanjutnya lagi.
"Gue bilang makan dulu. Habis makan gue baru cerita" Ghea masih tetap santai menanggapi kalimat tanya darinya.
"Gue udah jauh-jauh kesini, awas kalau gak penting" ancamnya seraya menyuapkan sesendok nasi dengan lauk sapi asap lada hitam. "An jrit. Makanannya enak gila. Pinter lu milih tempat makan" katanya sambil terus memasukan sesendok demi sesendok makanan yang ada di hadapannya. "Besok-besok gue ajak Safa kesini ahh" lanjutnya lagi.
"Safa?" Kata ghea seraya mengernyitkan dahinya.
"Eh gue belum sempet cerita ya sama lo?" Dengan mulut penuh yang sesekali mengunyah dia menjawab keheranan Ghea "Kali ini gue jatuh cinta beneran. Namanya Safa. Anak asrama. Yang kemaren menang LKIR. Anak kelas 2" lanjutnya yang terus saja mengunyah makanan di mulutnya.
"Yang anaknya pendiem itu?" Tanya Ghea memastikan jika dugaannya tak salah.
" Yang mana lagi? Emang nama Safa di sekolah kita ada berapa?"
"Ya cuma ada satu sih setahu gue. Yang kerja di perpus juga kan"
"Thats right. Cantik gak menurut lo?"
"Bisa'an lo. Cewek selugu dan sealim itu lo ajak tidur" jawab Ghea seraya tertawa.
"Gila lo" jawab Azka seraya melemparkan tisue ke arah Ghea. "Emang hidup gue se breng sek itu? Tiap kencan harus berakhir di ranjang? Gak lah. Gue mau jaga dia sampe nanti married"
"Alah modus lo" jawab Ghea dengan gelak tawa yang semakin kencang. Namun dia tak lagi menimpali kalimat Ghea. Dia lebih memilih menghabiskan hidangan di hadapannya. Selain karena seharian ini tak ada makanan yang masuk ke lambungnya, juga karena cita rasa makanan yang tengah di santapnya sangat lezat.
"Jadi lo mau ngomong apa?" Tanya Azka yang kini tengah menghabiskan makanan di piringnya tanpa sisa. Dan langsung meneguk lemon tea yang ada di hadapannya.
Lemon tea? Ahh ya dia menjadi ingat dengan Safa, yang saat dia mengajaknya makan untuk pertama kali safa hanya memesan lemon tea panas.
"Lo beneran suka sama Safa?" Tanya Ghea dengan wajah oenuh selidik.
"Lebih dari suka. Gue cinta sama dia. Kenapa? Lo cemburu? Hahah" tanyanya setelah menghabiskan setengah gelas lemon tea.
"Dih, na jis. Kita itu cuma masa lalu. Ma sa la lu catet" jawab Ghea sembari menekankan dan mengeja kata masa lalu. "Masa lalu yang salah" lanjutnya denga tawa meledek. "Ya gue dulu bo doh. Mau aja di ajak ngamar sama cowok breng sek macem lo. Hahah" lanjutnya lagi.
"Halah. Lo juga menikmati dulu. Kalau gak mana mungkin lo teriak-teriak 'give me more give me more' hahaha" jawab Azka dengan nada bicara tak kalah meledek.
"Si alan lo" gerutu Ghea seraya melempar garpu di hadapannya, namun hanya mengenai udara, karena Azka keburu menghindar. "Itu kesalahan" jawabnya sembari menatap Azka pura-pura marah. "Oke. Cukup. Back to topic" lanjut Ghea. "Kalau lo suka sama Safa, ngapain lo tidur sama Dinda?" Tanya Ghea to the point.
"Apa lo bilang? Tidur sama Dinda? Gak mung..."
"Gue yakin lo pasti ngelak. Tapi gue punya bukti" jawab Ghea seraya menyodorkan ponsel pada Azka.
Azka mengeraskan rahangnya, guna melihat layar ponsel milik Ghea. Photo punggung miliknya saat di kamar tadi malam dengan caption 'Bersamamu malam ini akan terasa sangat indah'. Sesiapapun yang melihat foto ini sudah pasti akan berfikir jika dirinya dan Dinda tadi malam sudah melakukan itu.
"Aaarrrggghh si alan. Breng sek..." Dia kesal setengah mati. "Apa sih maunya dia. An jing memang" lanjutnya lagi terus mengumpat. "Siapa aja yang udah liat ini?" Tanyanya masih dengan nada marah.
"Satu sekolah mungkin?" Jawab ghea sembari mengangkat kedua bahunya. "Anak-anak juga tadi sempet bahas ini. Masalahnya ini ini di kamar lo kan? Itu yang bikin anak-anak beranggapan kalau hubungan lo sama Dinda udah lebih dari sekedar...."
#gadis imut diantara dua raja
mksh ya ka
lanjut