Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.
Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Kejujuran yang Menyembuhkan
Minggu berikutnya, Farhan dapet surat dari yayasan beasiswa. Dia buka di meja belajar, pelan-pelan. Matanya melirik ke baris atas, lalu diam lama banget.
"Gimana?" tanya gue pelan, duduk di sebelahnya.
Dia serahkan surat itu ke gue. Di paragraf bawah tertulis jelas: "Persyaratan terakhir: surat keterangan asal-usul dan riwayat keluarga lengkap."
Gue tarik napas dalam. "Mereka mau tau semuanya ya?"
"Iya. Semua. Nama ayah, ibu, alamat lengkap, sejarah keluarga." Dia tutup muka dengan kedua tangan, napasnya berat. "Gue takut, Mir. Kalau mereka tau cerita aslinya — gue anak di luar nikah, ayah gue meninggal tanpa pernah resmi mengakui gue... gue takut beasiswa dicabut. Takut gue dibilang gak layak."
"Han..." Gue pegang bahunya pelan. "Lo mau bohong?"
Dia angkat muka, matanya merah dan bingung. "Kalau gue jujur, semuanya hancur. Kalau gue bohong... gue hidup di kebohongan itu selamanya."
Malam itu dia pulang ke rumah Bu Sari. Gue nunggu di kos, gelisah banget. Sampai telepon berbunyi, suaranya pelan dan gemetar.
"Mir... gue cerita semuanya ke Bu Sari."
"Dan beliau bilang apa?"
"Duduklah dulu." Dia hening sebentar, lalu lanjut. "Beliau bilang: 'Kejujuran itu bukan jaminan diterima semua orang. Tapi itu jaminan kamu bisa tidur tenang setiap malam.'"
"Beliau benar, Han."
"Gue tau. Tapi takut banget."
"Takut itu wajar. Tapi jangan biarkan takut yang milih buat lo."
Besok paginya, kita datang ke kantor yayasan bersama. Di ruangan itu, petugas menunggu dokumen lengkap. Farhan tarik napas dalam, lalu letakkan dua berkas di meja — akta kelahiran asli, surat pernyataan Bu Sari, dan surat pernyataan Ibu angkat.
"Ini semua data lengkap saya," katanya mantap, walau tangannya gemetar. "Saya tidak menyembunyikan apa pun. Nama ayah saya... dan kenyataan bahwa saya dibesarkan oleh orang lain sejak bayi. Semua ada di sini."
Petugas baca pelan, lama banget. Farhan berdiri tegak, gak nunduk, gak menghindar. Gue di sebelahnya, pegang tangan di belakang punggung, kasih kekuatan tanpa kata.
Setelah selesai, petugas tutup berkas, natap Farhan. "Terima kasih sudah jujur. Banyak pelamar menyembunyikan hal-hal seperti ini. Kejujuranmu itu sendiri sudah nilai tambah."
"Apakah... saya masih berpeluang?" tanya Farhan hati-hati.
"Kami pertimbangkan dari keseluruhan. Bukan dari asal-usul." Petugas senyum tipis. "Tunggu kabar dua minggu ke depan."
Keluar dari gedung, Farhan langsung duduk di tangga depan, menutup wajah, lalu menangis — pelan, lega, seperti batu besar baru jatuh dari pundaknya.
"Gue lakuin itu, Mir..." isaknya pelan. "Gue bilang semuanya."
"Dan lo hebat banget." Gue duduk di sebelah, usap punggungnya pelan. "Bukan karena pasti diterima. Tapi karena lo jujur walau takut."
Dua minggu itu terasa dua tahun. Setiap hari Farhan buka surat, cek HP, cek surel. Tiap kali bunyi, jantungnya seakan ikut keluar.
Hari pengumuman, kita datang bareng lagi. Di papan nama, daftar penerima terpajang jelas. Farhan berdiri di depan, matanya menyapu baris demi baris. Tangan gue pegang lengannya erat.
Sampai di nama tengah — Raka Aditya.
Dia diam. Gak bergerak. Kayak belum percaya.
"Han..."
"Di situ..." suaranya bergetar, tunjuk jari gemetar. "Itu nama gue."
"Lo diterima!"
Dia berbalik pelan, menatap gue, lalu senyum mekar penuh air mata. Langsung peluk gue erat, di depan semua orang, gak peduli dilihat siapa.
"Gue jujur, Mir. Dan gak ditinggalkan."
"Karena kejujuran itu membawa orang ke tempat yang benar."
Sore itu, kita kabari keempat orang yang paling berarti. Bu Sari menangis bahagia di seberang telepon. Bapak dan Ibu angkat berdoa bersama di rumah. Dimas kirim pesan penuh seruan bangga:
"NAIS! Itu kemenangan terbesar! Bukan beasiswanya — tapi keberanian jujur. Lo buktiin: masa depan gak harus dibayar dengan masa lalu. Bangga banget, Han!"
Malam itu, di beranda rumah Bu Sari, kita bertiga duduk makan malam sederhana. Lampu temaram, angin sepoi-sepoi.
"Kakekmu pasti tersenyum," kata Bu Sari pelan sambil pegang punggung tangan anaknya. "Dia juga jujur sampai akhir. Walau berat."
"Gue paham sekarang, Bu." Farhan tuang teh ke gelas beliau. "Rahasia itu berat banget. Kayak bawa batu di dada tiap hari. Sekarang... rasanya dada gue lega. Bisa napas penuh."
"Kejujuran memang berat di awal. Tapi makin lama makin ringan." Bu Sari senyum lembut ke arah kita berdua. "Sedangkan kebohongan ringan di awal. Makin lama makin berat sampai tak bisa jalan."
Pulang ke kos, kita jalan pelan di bawah lampu jalan. Langit penuh bintang, udara segar banget.
"Lo tau apa yang paling gue syukuri?" kata Farhan tiba-tiba. "Bukan beasiswanya. Tapi kalau ternyata ditolak... gue tetap bisa tidur tenang. Karena gue gak bohong."
"Benar. Itu kemenangan yang gak bisa diambil siapa pun."
Dia berhenti di depan pintu kos, natap gue dalam-dalam.
"Mir... sejak awal lo selalu bilang: jujur dulu, baru apa pun. Dan hari ini... gue ngerti sepenuhnya. Kejujuran bukan cuma soal gak bohong. Itu soal hormat sama diri sendiri."
"Dan lo lakuin itu."
"Karena lo ajarin gue." Dia senyum lembut, sentuh pelan pipi gue. "Makasih udah pegang tangan gue waktu takut."
"Selalu. Sampai kapan pun."
Malamnya, gue tulis panjang di buku catatan:
"Hari ini kita belajar pelajaran paling berat dan paling indah. Kejujuran itu mahal — butuh keberanian, butuh menanggung takut, butuh siap menerima apa pun hasilnya. Tapi hadiahnya bukan sekadar diterima orang lain. Hadiahnya: kamu tahu siapa dirimu. Dan kamu berani berdiri di atas kebenaran itu."
"Farhan — Raka — akhirnya utuh. Nama lengkapnya, masa lalunya, kebenarannya... semuanya terang. Dan di atas fondasi yang jujur ini, kita bangun masa depan."
Di halaman berikutnya, gue tulis tebal:
Langkah berikutnya: Masa Depan.