Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Datang Dari ALLAH

Cinta Datang Dari ALLAH

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cintamanis / Patahhati / Contest / Tamat
Popularitas:31.7k
Nilai: 5
Nama Author: Eva Anisa

"Aku rela Allah mengambil semua dariku. Harta, keluarga, maupun kekasih, tapi aku hanya minta satu, jangan ambil iman yang sudah tertanam di diriku." Sabil.

Gadis remaja yang harus berjuang menjadi seorang muslimah untuk dirinya sendiri. Ia berpura-pura di depan mamahnya yang menginginkan ia untuk mengikuti keyakinan mamahnya.

Sabil juga rela melepas semua kenikmatan yang ada pada dirinya hanya karena satu alasan, bahwa ia ingin menjadi seorang muslimah sejati. Hingga suatu ketika setelah ia menutup auratnya, di situlah masalah akan dimulai, dari mamahnya dan keluarga besarnya yang menentang keputusannya.

Guncangan batin Sabil pun kembali diuji saat ia tahu bahwa laki-laki yang ia cintai ternyata menikah dengan wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Anisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21| Liburan

Semenjak kepulangan mamahnya, Sabil menjadi tidak nyaman di rumah. Terkadang ia bermalam di rumah Nichole. Sabil melakukan hal itu bukan untuk melarikan diri dari masalah, justru ia sengaja melakukan hal seperti itu supaya mamahnya sadar dengan semua ucapan yang ia katakan tentang orang-orang Islam dan wanita bercadar.

Minggu pagi, Sabil datang ke rumah Aisyah untuk mengajaknya berlibur. Meskipun mereka sedang menjalani ibadah puasa tidak menghambat rencana Sabil yang sudah ia pikirkan sejak jauh hari.

Namun kali ini Sabil pergi liburan menggunakan mobil pamannya, ia meminjamnya kemarin lusa. Seluruh keluarga besar papahnya sudah tahu dengan masalah yang sedang di hadapi oleh keponakannya itu bersama Yunus dan mamahnya. Mereka sangat mendukung keputusan Sabil dan mereka juga akan membela serta menjaga Sabil jika mamahnya bertindak kasar kepadanya.

Sabil menunggu Aisyah di depan rumahnya, sambil melihat beberapa tanaman bunga yang berada di halaman rumahnya. Semua bunga yang terhampar di depan matanya mengingatkan pada satu suasana yang tidak bisa ia lupakan begitu saja. Pesantren Aslam, di sanalah senyuman Sabil terukir. Baik dari lingkungannya maupun orang-orang di sekitar, sungguh membuat nyaman dirinya.

"Maaf ya lama." Ucap Aisyah keluar dari dalam rumahnya.

"Aah, tidak apa-apa kok. Berangkat sekarang?"

"Tunggu Nichole, dia mau ikut katanya." Kata Aisyah ikut duduk bersama Sabil.

"Oke."

15 menit kemudian datanglah Nichole. Mereka pun segera berangkat menuju salah satu pantai milik om Ahmad, adik dari papahnya Sabil.

Sepanjang perjalanan Sabil mengendarai dengan sangat tenang, mereka bercanda dan bertukar cerita satu sama lain. Sesampainya mereka di pantai, Sabil langsung mengeluarkan barang-barang bawaannya dan menyuruh pegawai om Ahmad untuk memasukkan ke dalam villa.

"Alhamdulillah akhirnya sampai juga." Ucap Nichole keluar dari mobil.

"Kalian berdua puasa?" Tanya Sabil.

"Lagi datang bulan bil." Jawab Aisyah.

"Kamu juga Nic?"

Nichole mengangguk.

"Kalau begitu kalian masuk duluan ke villa, kata om Ahmad makanan udah tersedia di meja."

"Tapi bil..."

"Udah tidak apa-apa. Aku mau jalan-jalan sebentar. Daaah." Sabil pun pergi meninggalkan kedua sahabatnya di depan villa.

Sabil menarik nafas panjang supaya semua perkataan mamahnya tidak tersimpan di memorinya. Ia pun jalan-jalan sendirian di sekitar pantai sambil memandang anak-anak yang sedang bermain pasir. Ia duduk di bawah pohon sambil menatap pantai yang terbentang luas dari jarak matanya memandang.

Saat Sabil sedang memejamkan kedua matanya, tiba-tiba ia mendengar ada suara jatuh di sampingnya. Kedua mata indahnya terbuka dan melihat ada sebuah bola berada tepat di sebelahnya, ia mencari-cari siapa seseorang yang memiliki bola tersebut.

"Maaf kalau bola saya udah mengganggu istirahat kamu." Ucap seorang laki-laki bertubuh tinggi sambil memandang Sabil.

"Oh, iya tidak apa-apa. Ini bolanya." Kata Sabil memberikan bola tersebut kepada sang pemiliknya.

"Terimakasih." Ujarnya seraya berlari dari hadapan Sabil.

Dengan wajah lelah, Sabil pun memutuskan untuk segera pergi dari pantai dan berjalan menuju ke dalam villa. Ia melihat kedua sahabatnya sudah tertidur lelap, Sabil langsung ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya supaya lebih segar. Ia melihat pantulan wajahnya dari cermin, ada raut kesedihan yang berada di wajahnya namun tidak ada satu orangpun tahu bahwa ia sedang  ada masalah. Sabil memang gadis yang pandai menyembunyikan masalahnya dari orang lain, ia tidak mau berbagi kesedihan kepada sahabat-sahabatnya maupun orang lain.

Sekitar pukul 5 sore, ketiga gadis itu bermain di pantai. Mereka tertawa dan senang-senang di sana, meskipun tidak bisa di tampik kalau sebagian pengunjung pantai menatap mereka dengan tatapan sinis. Tatapan mata yang ditunjukkan oleh orang-orang itu tidak membuat hati mereka menjadi merasa terkucilkan, justru Sabil dengan sengaja membuat kedua sahabatnya senang dan bahagia tanpa mempedulikan pengunjung yang mereka lihat sedang memperhatikannya.

Selesai bermain di pantai Aisyah dan Nichole masuk ke dalam villa. Sedangkan Sabil, ia menunggu azan Maghrib di salah satu tempat makan yang berada tidak jauh dari villanya. Dengan membawa laptop Sabil duduk di meja makan paling pojok agar ia tidak terlalu terganggu dengan kebisingan pelanggan rumah makan tersebut.

"Saya seorang Muslimah"

Sabil langsung menutup laptopnya dan menoleh ke belakangnya. Ternyata ia melihat laki-laki pemilik bola yang ia lihat di pantai.

"Maaf-maaf kalau saya ganggu. Saya cuma mau cari tempat duduk, dan ternyata di sini masih kosong." Ujarnya lagi.

Sabil masih diam, ia tidak menanggapi ucapan laki-laki itu.

"Boleh saya duduk di sini?" Tanyanya.

Sabil mengangguk memperbolehkan laki-laki itu duduk bersamanya.

"Kamu penulis blog "saya seorang muslimah"?" Tanya laki-laki itu melihat Sabil bersama laptopnya.

"Bukan." Jawab Sabil.

"Aah, saya pikir kamu penulisnya. Karena saya suka dengan tulisan itu, dan saya juga akan sangat senang jika bertemu dengan penulis aslinya." Kata laki-laki itu.

"Oh, iya, kita belum kenalan. Saya..."

"Woy! gue cariin juga lu, ternyata ada di sini, sama cewek lagi." Laki-laki bertubuh kurus datang menghampiri laki-laki itu sebelum ia sempat menyebutkan namanya.

Laki-laki itu tersenyum kepada Sabil dan pamit untuk mengajak temannya pergi dari hadapan Sabil.

"lo tuh kenapa dateng sih!" Kata laki-laki itu kepada temannya sambil melirik Sabil yang mulai membuka laptopnya lagi.

"gue nyariin lo. Eh, malah ada di sini."

"Nanti setelah buka puasa gue ke sana."

"Janji lo!"

"Iya. Udah deh lo sana!" Usir laki-laki itu.

Melihat temannya sudah pergi dia pun menghampiri Sabil lagi dan duduk di depannya sambil membawakan dua pesanan untuk buka puasa.

"Tapi saya belum pesan." Kata Sabil melihat laki-laki itu membawakan nasi goreng untuknya.

"Hampir semua orang suka nasi goreng, dan kurasa kamu pun menyukainya." Ucapnya.

"Makasih."

"Sama-sama. Oh, iya, saya Azam." Kata laki-laki itu memperkenalkan namanya.

"Sabil."

"Eh, udah azan. Kita buka puasa dulu deh."

Mereka pun menyantap makanannya tanpa ada yang bicara. Sabil begitu heran dengan cara laki-laki yang baru saja ia kenal. Memang ia tahu Islam mengajarkan kalau sedang makan tidak boleh bicara, dan masih banyak yang melanggar itu. Tetapi untuk Azam, dia benar-benar tidak bicara sampai dia selesai makan.

"Mau shalat Maghrib berjamaah?" Tanya Azam pada Sabil yang masih kikuk dengan pertemuannya.

"Iya." Entah mengapa Sabil langsung menerima apa yang diucapkan oleh Azam.

"Yuk!" Ajak Azam jalan lebih dulu menuju musholah.

Saat imam mulai takbiratul ihram, Sabil mengenal suaranya, dia adalah Azam. Laki-laki yang baru saja bersamanya kini menjadi imam untuk para jamaah yang hadir. Selesai shalat Maghrib Sabil mengambil Al-Qur'an dan mulai untuk tadarus sambil menunggu azan isya. Ia membuka surah Ar-rahman, dan mulai membacanya meskipun masih terbata-bata namun ia tetap membacanya dan tidak berputus asa.

Saat Sabil membacanya, ia mendengar suara Azam membantunya dan tanpa ia sangka, Azam duduk membawa lekar lalu menaruh Al-Qur'an Sabil di atas lekar tersebut dan mengajari Sabil membaca Al-Qur'an.

Surah Ar-Rahman sudah Sabil baca, dan ia mengucapkan terimakasih kepada Azam karena sudah mau mengajarinya.

"Saya guru ngaji di pesantren kawan saya." Ucap Azam, tanpa ditanya oleh gadis yang sedang bersamanya ia langsung mengatakannya supaya tidak ada rasa penasaran pada diri Sabil.

"Oh, a-aku baru hijrah. Jadi bacaanku masih terbata-bata. Maaf udah merepotkanmu." Kata Sabil.

"Alhamdulillah. Saya senang mendengarnya dan saya tidak merasa di repotin."

"Zam!" Panggil temannya.

"Iya?"

"Azan." Suruhnya.

"Oke. Saya azan dulu ya."

Sabil mengangguk dan melirik langkah kaki Azam.

Selesai shalat tarawih, Sabil langsung pulang ke villa menemui Aisyah dan Nichole yang sedang berada di atas loteng villa sambil memandang suasana malam pantai.

"Baru pulang bil?" Tanya Aisyah.

"Iya. Kalian udah makan malam?"

"Udah." Jawab Aisyah.

"Sepertinya ada sesuatu yang baru saja kau temui." Nichole mencoba menebak ekspresi wajah Sabil yang tampak senang sehabis pulang shalat tarawih.

"Aku tidak bertemu siapapun. Dan aku hanya mau menikmati liburanku ini tanpa ada rasa..."

"Apa mamah kamu tidak terima dengan keputusanmu?" Tanya Aisyah memotong ucapan Sabil.

Sabil menyunggingkan senyumnya, "tidak. Tapi aku berharap semoga mamahku bisa mengerti semuanya dan menerima setiap keputusanku syah." Jawabnya.

"Lalu Tio?" Tanya Nichole.

"Aku udah tidak lagi berhubungan dengannya. Tio laki-laki yang bisa mengerti diriku." Jawab Sabil.

Saat mereka sedang berbincang-bincang,  terdengar suara laki-laki mengucapkan salam dari luar villa. Mereka pun saling pandang, namun Sabil menyuruh Aisyah dan Nichole untuk tetap di tempat mereka karena Sabil yang akan melihat siapa laki-laki itu.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam." Sabil membuka pintu villanya.

"Emm, saya mau tau kalian udah makan apa belum?" Tanya Azam, yang tengah berdiri dengan temannya.

"Kalian?" Gumam Sabil.

"Itu teman kamu kan?" Tanyanya lagi.

Sabil melihat ke belakang dan sudah ada Aisyah serta Nichole di dekatnya.

"Aah, iya, mereka sahabatku. Kami udah makan, jadi makasih atas pertanyaannya." Jawab Sabil sedikit gugup karena ke pergok oleh sahabat-sahabatnya telah mengenal laki-laki itu.

"Oh, yaudah kalau begitu saya permisi dulu, assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

Sabil menutup pintunya dan memandang kedua sahabatnya itu bergantian.

"Siapa dia bil?" Tanya Aisyah.

"Dia guru ngaji." Jawab Sabil.

"Guru ngaji siapa?" Timpal Nichole.

"Emm... Gu... Guru ngaji di pesantrennya. Hehehe." Ucap Sabil lagi sambil cengengesan.

"Kamu udah saling kenal ya?" Tanya Aisyah lagi.

"Iya, udah lama." Jawab Sabil memberikan cengiran kudanya pada Aisyah.

"Calon imam itu bil." Goda Nichole.

"Dia udah punya calon juga." Sahut Sabil.

"Masa?" Kata Nichole lagi sambil tersenyum padanya.

Sabil melihat Aisyah ikut tersenyum karena melihat dirinya merasa tersudutkan. Ia pun memilih untuk masuk ke dalam kamar meninggalkan semua dugaan yang Nichole ciptakan kepadanya. Sabil mengintip jendela kamarnya dan terlihat Azam sedang duduk bersama teman-temannya. Tanpa ia sadar senyuman yang biasa ia ukir karena melihat Aslam, kini hadir saat kedua mata Sabil melihat Azam.

Pertemuan dengan Azam, sungguh di luar dugaan Sabil. Sosok laki-laki yang memiliki 3 karakter sekaligus di dalam dirinya, 3 sifat yang ada pada Aslam, Yunus dan Ervan melekat jelas pada diri Azam. Itulah yang membuat liburan Sabil kali ini menyenangkan. Selain karena ada Aisyah dan Nichole, ia juga bisa berbincang-bincang dengan Azam.

Setelah liburan, Sabil harus kembali ke dalam rumah. Rumah yang awalnya membuat isi hatinya senang dan nyaman, kini berubah 180 derajat. Sabil tidak nyaman dengan semua peraturan mamahnya, ia merasa dirinya dan Yunus tidak ada di dalam rumah itu. Setiap kali sarapan atau makan malam, maka hanya tersedia satu piring dengan lauk yang hanya bisa dimakan oleh seorang saja. Sehingga Sabil dan Yunus memilih untuk makan di luar, dan menyisihkan uangnya untuk keperluan kuliah dan sekolah.

1
dewi rofiqoh
Sarat dengan ilmu
Rasa sayang dan hormat pada orang tua, meski berbeda
dewi rofiqoh
Ceritanya Sarat dengan ilmu
❤muslimah❤
terharu 😭
Eva Anisa: Makasih ya udah baca ☺
total 1 replies
❤muslimah❤
wah.. sabil bakal patah hati nih
Hardila Suhardini
terus terang saya suka cerita nya mengajarkan betapa kita harus menyayangi orang tua,tidak melawan wlpn SDH disakiti tp ttp diam,mengajarkan kita sebagai umat Islam harus memegang teguh terhadap agama yang kita yakini sekrg,seperti saya menikah dgn lelaki berbeda agama,dan Alhamdulillah sy ttp memegang teguh agama saya,wlpn banyak klrg suami memohon kepd sy utk pindah agama,tp sy ttp PD pendirian sy,
mengajarkan kita bahwa jodoh kita itu ada dan harus sabar jgn berputus asa Krn kita sbg manusia diciptakan berpasang pasangan
dewi rofiqoh: Ceritanya Sarat ilmu
total 2 replies
Pin-Up Yang Elegan
Semangat ya, thor! Jangan lupa ambil komen yg positif dan membangun, ya
Eva Anisa: okeh☺
total 1 replies
LiveChic
Aduh aku sampe tahan napas baca beberapa bagian ceritanya. Excited banget
Eva Anisa: Jangan tahan napas nanti buang gas 😂
total 1 replies
Ibke Rafli
lanjut aq tunggu up nua thor😊😊
Dinda Natalisa
Hai author aku mampir nih kasih like jangan lupa mampir di novel ku "menyimpan perasaan" mari saling mendukung.
Eva Anisa: okeh, nanti aku baca novelnya. Makasih buat like nya :)
total 1 replies
Madu Yang Luar Biasa
Kak jangan lupa jaga kesehatan, biar tetep bisa berkarya! Aku menunggumu~
Eva Anisa: aku juga menunggumu baca novel2ku ☺
total 1 replies
SnowySecret
hallo kakak semangat berkarya ya kak🤭
Eva Anisa: okeh siaaap😁
total 1 replies
flower bean
Katanya galau itu obatnya cuma satu thor. Tungguin aja lanjutan cerita author. Kamu segalanya untukku, Thor *uhui
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!