Season 1 sudah tamat, season 2 masih berlanjut.
"Saya yang akan menggantikan Firly," kata Chika mantap.
Dengan ucapan itu, berarti Chika siap untuk mengubah jalur hidupnya. Chika yang suka keliaran malam, nongkrong di pinggir jalan, dan balapan liar, kini ia harus menjadi istri dari seorang Alfan. Menikah dengan Alfan yang memiliki latar belakang keluarga terhormat dan terpandang, itu sama saja mengubah jati dirinya.
Rumah tangga bukanlah hal yang mudah. Chika yang tidak siap membina rumah tangga dengan Alfan, membuat Alfan harus banyak bersabar.
Bagaimana Alfan menanggapi sifat dan sikap Chika? Dapatkah Chika berubah? Apakah mereka bisa saling mencintai? Yuk simak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sely Rahmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anggap saja bulan madu
Chika dan Alfan sedang duduk berhadapan di meja makan. Mereka sedang menyantap sarapan pagi yang disiapkan oleh Lasih. Selama mereka makan, Alfan terus menahan senyum. Entah mengapa obrolan mereka tadi malam masih terngiang di telinganya.
Chika menghentikan suapannya. "Lo kesambet apaan sih? Dari tadi senyam-senyum sendiri."
"Gak kenapa-kenapa," jawab Alfan, ia kembali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
Beberapa menit kemudian, Alfan dan Chika sudah selesai sarapan. Kini mereka sudah siap untuk berangkat ke tempat tujuan masing-masing. Alfan akan ke kantor, sedangkan Chika akan ke kampus. Chika akan diantar oleh Ramli.
"Pak, jangan sampai dia mampir ketempat yang aneh-aneh ya," kata Alfan sebelum masuk ke dalam mobilnya.
"Siap, Den." Ramli mengangguk sambil tersenyum.
Chika tidak menanggapi, ia langsung masuk ke dalam mobil.
Walaupun Alfan sudah masuk ke dalam mobil, tapi ia tidak langsung maju karena ia menunggu mobil Chika maju lebih dulu.
Setelah mobil yang ditumpangi Chika meninggalkan halaman rumah, Alfan baru menginjak pedal gas.
* * * *
Alfan langsung membuka laptop setelah tiba di ruang kerjanya. Ia mengeluarkan beberapa dokumen yang harus ia kerjakan. Sebenarnya pekerjaan banyak sekali, namun ia tidak ingin menjadikan perkerjaan itu menjadi Beban pikiran. Ia harus enjoy jika ingin bekerja dengan baik.
Baru beberapa detik mengerjakan pekerjaannya, Alfan mendengar pintu diketuk. Ia melirik sekilas. Ia tahu bahwa orang itu pasti Fania. Siapa lagi yang datang ke ruangannya sepagi ini kalau bukan Fania.
"Masuk," kata Alfan mempersilahkan.
Ya benar saja, orang itu adalah Fania dan ia masuk ke dalam dengan santai. "Selamat pagi, Pak."
"Pagi juga. Ada apa?" tanya Alfan.
"Begini, Pak. Pak Wiro ingin Bapak mengunjungi proyeknya di Bandung. Berhubung semua rekan bisnis yang bekerjasama dengan perusahaan kita ikut semua, saya sarankan agar Bapak juga ikut serta," jawab Fania.
Alfan mempersilahkan Fania duduk di hadapannya dengan isyarat tangan. "Kenapa dia minta saya untuk ikut berkunjung ke sana?" tanya Alfan.
"Mungkin supaya semuanya menyaksikan pembangunan proyek tersebut. Biar nanti gak ada yang namanya saling mencurigai karena takut dicurangi."
Alfan berpikir sejenak. "Berapa lama? Dan kapan?" tanya Alfan.
"Dua hari, Pak. Kalau Bapak bersedia ikut, berarti besok kita berangkat," jawab Fania.
Alfan berpikir lagi. "Ok. Persiapkan aja semuanya. Atur jadwal saya dengan baik." Akhirnya Alfan setuju untuk ikut melihat progres pembangunan proyek baru di Bandung.
"Tapi, Pak. Semuanya membawa sekretaris. Apa saya harus ikut juga?" tanya Fania penuh hati-hati dan ragu.
"Kalau memang begitu seharusnya, ya kamu ikut aja. Yang penting pekerjaan kantor gak terbengkalai," jawab Alfan sambil kembali membuka lembaran dokumen.
"Baik, Pak." Fania mengangguk dan tersenyum.
"Yes, akhirnya aku bisa deket-deket sama pak Alfan di luar kota. Kali ini istrinya gak akan ganggu kami. Semoga aja pak Alfan bisa tertarik sama aku."
"Apa yang kamu pikirin? Ada lagi yang perlu kamu omongin? Kalau gak ada, kamu bisa pergi dari ruangan saya."
Fania mengangguk. Tidak perlu diperintah, Fania sudah berdiri dan pergi dari ruangan Alfan.
* * * *
Hari sudah sore dan Alfan baru sampai di rumah. Ia berjalan sambil membawa jas dan tas ditangan. Saat memasuki ruang tengah, ia melihat Lasih sedang sibuk menyapu ruang tengah tersebut.
"Eh, Aden udah pulang. Mau dibuatin minuman apa?" tanya Lasih dengan penuh senyum.
"Gak usah, Bu," jawab Alfan ramah. "Oh ya, Chika udah pulang?" tanya Alfan.
"Udah, Den. Udah dari jam setengah dua siang. Mungkin sekarang lagi istirahat di kamar," jawab Lasih.
"Owh, kalau gitu Alfan naik dulu ya, Bu. Semangat kerjanya, tapi jangan lupa istirahat," kata Alfan sambil berjalan menaiki anak tangga.
"Iya, Den." Lasih tersenyum.
Majikannya itu sangat baik dan ramah sekali. Tidak pernah sekalipun Alfan memperlakukannya sebagai pembantu. Contohnya saat ia menawarkan membuatkan minuman, Alfan menolaknya. Ia tahu, Alfan mengatakan tidak perlu karena tidak ingin merepotkan nya.
Di kamar, Alfan membuka pintu perlahan. Ia memasukkan kepala lebih dulu untuk melihat ke dalam. Dilihatnya Chika sedang tidur di sofa. Melihat istrinya tidur, Alfan langsung masuk dan menghampiri sofa.
"Kenapa dia selalu tidur siang? Mungkinkah karena dia pemalesan?" Alfan menggeleng kepala. Ia baru tahu bahwa Chika suka tidur siang.
Alfan melepaskan dasi dan mengambil handuk. Ia ingin mandi terlebih dahulu sebelum beristirahat.
Beberapa menit kemudian, Alfan sudah selesai mandi. Ia keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk saja karena ia pikir Chika masih tidur. Ternyata dugaannya salah, Chika sudah terbangun dan kini sedang duduk di sofa.
Alfan yang sudah terlanjur keluar kamar mandi hanya bisa meneruskan langkahnya. Ia segera menuju lemari dan mencari pakaian. Sedangkan Chika, ia kesulitan bernapas karena melihat tubuh atletis milik Alfan.
"Jaga mata."
Tiba-tiba saja Alfan yang membelakangi Chika berbicara seperti itu, seolah ia tahu Chika sedang memandangi nya. Chika langsung mengalihkan pandangannya dari Alfan.
Dengan cepat Alfan memakai baju di depan Chika. Untung saja Chika sama sekali tidak berniat untuk mengintipnya. Beberapa saat kemudian, Alfan sudah memakai pakaian lengkap. Segera ia berbalik menghadap Chika.
"Masukin baju kamu ke koper," kata Alfan.
Chika menoleh cepat pada Alfan. "Maksud lo apa? Lo mau ngusir gue gara-gara lo masih marah atas kejadian waktu itu?" Belum apa-apa Chika sudah naik pitam.
Alfan menarik nafas dalam. "Kamu bisa gak, gak usah sensi terus sama aku? Aku salah apa sih sama kamu?"
Chika terdiam mendengar nada bicara Alfan yang sepertinya sedang berusaha untuk sabar.
"Besok aku sama Fania mau ke Bandung, jadi aku ngajak kamu juga. Kita nginap dua hari di sana." Alfan berjalan menuju meja rias untuk menyisir rambut.
"Owh, jadi kalau gak karena ada Fania, lo gak mau ngajak gue gitu?" tanya Chika dengan nada menyudutkan.
Alfan melihat Chika dari pantulan cermin. "Jadi kamu mau aku ajak keluar kota? Kenapa kamu gak ngomong kalau kamu mau bulan madu? Aku bisa pesen tiket ke kota manapun yang kamu mau." Alfan berbicara dengan sangat santai.
"Idih, amit-amit gue bulan madu sama lo. Mending gue bulan empedu di pinggir jalan. Biar pun pahit, asalkan gak sama lo," jawab Chika ketus.
Alfan mengangkat alis sambil menahan senyum. "Jadi kamu gak mau ikut sama aku?" tanya Alfan. Padahal ia yakin Chika pasti akan ikut mengingat Chika yang sepertinya cemberu pada Fania.
"Kalau gue gak ikut, pasti Alfan sama Fania bisa berduan. Pasti si Curut itu terus lengket sama si Alfan." Chika menarik nafas setelah berpikir.
"Ok gue ikut," kata Chika menjawab pertanyaan Alfan tadi.
Alfan mulai menyisir rambutnya. "Ok kalau gitu. Nanti aku pesankan kamar yang ukuranya besar dan kasur yang besar. Ya hitung-hitung kita bulan madu di Bandung."
Tanpa diduga oleh Alfan, sebuah bantal sofa melayang dan menghantam kepalanya. Ia tidak marah, ia malah tertawa terbahak-bahak. Dilihatnya Chika sama sekali tidak tersenyum, istrinya itu memasang wajah cemberut.
oh ya alfan kan holanj kaya knp gak di ruang vvip aja waktu di rs nggu cikha .kan bs pesen ranjang tidur jg..jd gak tidur di kursi..apa sih yg gak bs di dpt asal ada uang mah gampang.
kali ini hamidun cika kasih sehat selamat thor biar mereka berdua bahagia dg kehadiran si buah hati mereka..jauhkan dr konflik atau pun pelakor ya ..buat yg damai aman sentosa..tamat yg happy anding.
ayo thor sembuhkan cikha ya dan satukan kembali dg alfan..aku gak suka cara licik runji dlm hal ingin memiliki cikha...gak gentelmen.
sggh bnyk cobaan hdp si cika dan alfan.
kasihan 😭😭
ungkp thor klo mmg bayi nya terbunuh..
dan cpt buay cika sehat dan kuat lg..biar sgr bs hamil lg ya thor