Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".
Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.
Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.
*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*
Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3: Lari Pagi
“Untuk memastikan seorang mahasiswi berhenti lari.”
Sayangnya, pada pukul setengah enam keesokan harinya, Kirana justru benar-benar berlari.
Ia memacu langkah di jogging track belakang apartemen, membiarkan udara pagi Depok mengusir sisa kantuk dan kekesalan. Semalam, nomor baru itu mengirim satu pesan lagi.
Besok jangan terlambat sarapan.
Tidak ada salam. Tidak ada penjelasan kenapa seorang dosen mengurusi perut mahasiswinya. Kirana membaca pesan itu enam kali, menyimpan nomor tersebut dengan nama Dosen Menyebalkan, lalu membalik ponsel agar tidak tergoda membalas.
“Aneh,” gumamnya sambil menambah kecepatan.
“Apa yang aneh?”
Suara rendah di tikungan membuat Kirana menoleh. Ujung sepatunya menginjak garis pembatas, tubuhnya oleng, lalu menabrak dada seseorang.
Sebuah lengan langsung melingkari pinggangnya.
Kirana mengenali aroma kayu itu bahkan sebelum mendongak.
Arya mengenakan kaus olahraga hitam dan celana jogger senada. Tanpa kemeja rapi dan meja dosen sebagai pembatas, bahunya tampak lebih lebar. Rambutnya basah oleh keringat. Kacamata emas tetap bertengger di hidung, anehnya tidak bergeser sedikit pun ketika menahan berat tubuh Kirana.
“Prof. Arya?”
“Pagi, Rana.”
Telapak tangannya terasa panas menembus kain tipis di pinggang Kirana. Posisi itu terlalu mirip dengan satu potongan malam di Singapura. Kirana buru-buru berdiri tegak dan melepaskan diri.
“Kenapa Prof ada di sini?”
“Lari pagi.”
“Di apartemen saya?”
“Jogging track ini fasilitas umum.” Arya memandang jalur yang kosong. “Atau kamu membeli seluruh kompleksnya?”
“Bukan begitu.”
“Berarti saya boleh lari di sini.”
Kirana menatapnya curiga. “Rumah Prof dekat?”
“Sekarang, cukup dekat.”
Jawaban itu tidak menjelaskan apa pun. Arya mulai berjalan dan Kirana, entah kenapa, ikut bergerak di sampingnya.
“Kamu tidur nyenyak?” tanyanya.
“Sangat.”
“Padahal kamu membaca pesan saya enam kali.”
Kirana berhenti. “Prof bisa lihat itu?”
“Pesan terakhir menunjukkan centang biru. Saya menebak sisanya.”
“Tebakannya salah.”
“Kalau begitu, kenapa wajahmu marah sejak tadi?”
“Ini wajah normal saya.”
Arya mengeluarkan suara tawa rendah. Sangat singkat, tetapi cukup membuat Kirana sadar ia belum pernah melihat pria itu benar-benar tertawa.
Mereka kembali berlari. Kirana sengaja mempercepat langkah, hanya untuk mendapati Arya mengimbanginya tanpa kesulitan.
“Soal uang itu,” kata Kirana setelah satu putaran. “Saya minta maaf kalau Prof merasa tersinggung.”
“Kalau?”
“Baik. Saya minta maaf karena sudah menyinggung Prof. Saya panik.”
“Lalu?”
“Lalu apa?”
“Kamu pikir satu permintaan maaf cukup untuk melunasi semuanya?”
Kirana menginjak rem langkah. “Melunasi apa? Kita sama-sama setuju malam itu.”
“Benar.” Arya ikut berhenti, berdiri di depannya. “Tapi hanya satu orang yang kabur pagi-pagi dan meninggalkan bayaran.”
“Saya nggak minta Prof mengejar.”
“Saya juga tidak meminta kamu mencium saya.”
Pipi Kirana menyala. Seorang ibu yang berjalan dengan anjing kecil melintas di dekat mereka. Kirana menunggu sampai perempuan itu menjauh sebelum mendesis, “Jangan bahas itu di tempat umum.”
Arya membungkuk sedikit, menurunkan suara di dekat telinganya. “Kalau begitu, beri saya tempat pribadi.”
Kirana mundur begitu cepat hingga hampir tersandung lagi.
“Mimpi.”
Ia berbalik dan berlari menuju gedung apartemen. Kali ini Arya tidak mengejar. Suara pria itu hanya menyusul dari belakang.
“Sarapan, Rana. Jangan cuma minum kopi.”
Kirana mengangkat tangan tanpa menoleh. Ia tidak tahu gerakan itu berarti baik, diam, atau pergi sana. Yang jelas, bibirnya nyaris membentuk senyum dan itu lebih mengganggu daripada pesan apa pun.
Begitu sampai di lobi, senyum itu lenyap.
Gilang berdiri di depan pintu masuk dengan tas olahraga tersampir di bahu dan dua kantong besar di tangan. Aroma bubur ayam, roti bakar, dan kopi susu memenuhi ruangan.
“Pagi, Kirana!” serunya. “Pas banget. Aku bawain sarapan.”
Kirana menatap kantong-kantong itu. “Buat satu RT?”
“Biar kamu bisa pilih. Ada bubur tanpa daun bawang, nasi uduk, roti, sama buah.”
“Gilang, aku sudah pernah bilang, nggak usah bawain apa-apa.”
“Santai aja. Kebetulan lewat.”
Petugas keamanan di meja depan menahan senyum. Kirana menekan pelipis. “Kos kamu berlawanan arah dari sini.”
“Aku habis latihan.”
“Lapangan kampus juga berlawanan arah.”
Gilang terkekeh, sama sekali tidak merasa tertangkap basah. “Yang penting niatnya, kan?”
Pintu lift terbuka. Winda keluar dengan kaus tidur longgar dan sandal jepit, tampaknya berniat mengambil paket.
Matanya langsung membesar melihat makanan.
“Ya ampun. Kira, hidup lo diberkati. Pagi-pagi sudah ada katering berjalan.”
“Ambil semuanya kalau lo mau.”
“Serius?”
“Winda,” tegur Kirana.
Winda mengatupkan bibir, tetapi tangannya sudah menerima satu kantong dari Gilang.
“Aku cuma mau nganter,” kata Gilang. “Nanti siang aku jemput ke kampus, ya?”
“Nggak perlu. Aku sama Winda.”
“Motor aku lebih cepat.”
“Aku bilang nggak perlu.” Suara Kirana tetap datar, tetapi tegas. “Dan setelah ini jangan tunggu di depan apartemen lagi. Aku nggak nyaman.”
Senyum Gilang turun sedikit. Sebelum ia sempat menjawab, pintu lobi kembali terbuka.
Arya masuk dengan langkah tenang. Keringat masih membasahi lehernya, tetapi tatapannya telah berubah dingin saat melihat Gilang berdiri terlalu dekat dengan Kirana.
“Pagi, Prof,” sapa Gilang, mendadak sopan.
Arya mengangguk tipis. Matanya beralih ke kantong sarapan di tangan Winda, lalu pada Kirana.
“Ternyata kamu memang tidak akan melewatkan sarapan.”
Kirana menangkap nada halus yang tidak disadari dua orang lain. “Itu bukan punya saya.”
“Belum,” sahut Gilang cepat. “Tapi saya bawakan khusus untuk Kirana.”
Rahang Arya mengeras nyaris tak terlihat.
“Mahasiswa UN punya banyak waktu luang rupanya.”
Gilang terkekeh canggung. “Sebelum kelas saja, Prof.”
“Bagus.” Arya menatap jam tangannya. “Gunakan sisanya untuk membaca materi pekan ini. Saya tidak suka mahasiswa yang sibuk mengejar hal lain lalu tertinggal di kelas.”
Winda menunduk, bahunya bergetar menahan tawa.
Gilang berpamitan beberapa menit kemudian. Ia tetap meninggalkan makanan, tetapi langkahnya tidak lagi seringan saat datang.
Begitu pintu menutup, Winda menatap Kirana, lalu Arya, lalu tumpukan sarapan di tangannya.
“Kira, lo laris banget,” katanya. “Ini baru jam enam pagi dan antreannya sudah dua.”
“Nggak ada antrean,” balas Kirana.
Arya menggeser tatapan ke arahnya. Mata gelap itu tenang, tetapi hawa di sekelilingnya terasa beberapa derajat lebih dingin.
“Pastikan memang tidak ada,” ucapnya pelan.
Ia berjalan menuju lift, meninggalkan Kirana di antara rasa jengkel, malu, dan detak jantung yang tidak tahu aturan.
“Dia barusan cemburu, ya?” bisik Winda.
“Dia barusan mengingatkan mahasiswa supaya belajar.”
“Sambil menatap Gilang kayak mau menghapus namanya dari sistem akademik?”
Kirana merebut kantong bubur dari tangan sahabatnya. “Lo kebanyakan nonton sinetron.”
“Dan lo kebanyakan menyangkal.” Winda menunjuk lift dengan dagu. “Prof. Arya tinggal di sini sejak kapan?”
Sendok plastik di tangan Kirana berhenti. Itu pertanyaan yang sama sekali belum terpikir olehnya.
Namun sebelum pintu lift menutup, Arya memandang Gilang yang masih terlihat di balik kaca lobi.
Tatapannya tidak lagi menyerupai seorang dosen.