Brianna Maxwell, seorang putri Duke yang di cap sebagai gadis sombong, kasar, seenaknya dan glamor harus menelan pil pahit kala dirinya terpaksa harus menjadi salah satu kandidat tunangan politik Ace, putra mahkota kerajaan Northernglass.
Dengan kemampuannya yang biasa-biasa saja, ia harus bersaing melawan para Nona muda untuk memenangkan hati Ace. Apa yang harus ia lakukan, sementara Brianna sama sekali tidak tertarik dengan posisi calon putri mahkota Northernglass?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyu S., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Brianna
Setelah berbicara dengan Ace, Brianna menuju kamarnya dengan langkah yang berat. Pikiran tentang apa yang telah dia ucapkan terus menghantui. Saat tiba di depan pintu, dia melihat Defne sudah menunggunya dengan ekspresi tegang di wajahnya. Brianna tahu, sahabatnya pasti sudah mendengar semuanya.
"Brianna, aku baru dengar cerita ini. Apa benar kau akan meninggalkan segalanya dan pergi dengan Erland?" suara Defne terdengar tegang, penuh emosi yang dia coba kendalikan.
Brianna menatap sahabatnya, berusaha menyusun kata-kata yang tepat. "Iya, Defne. Ini keputusanku."
Defne mendengus, berbalik dan berjalan ke jendela, menatap keluar dengan tatapan marah. "Ini bukan keputusan yang bisa diputuskan secepat ini, Brianna. Apa kau sudah memikirkan semua konsekuensinya? Bagaimana dengan keluargamu? Bagaimana dengan tanggung jawabmu sebagai kandidat Putri Mahkota?
"Aku tahu semua itu, Defne. Tapi..." Brianna mencoba menjelaskan, namun Defne memotongnya.
"Tapi apa? Kau pikir meninggalkan semuanya demi janji masa kecil itu adalah hal yang bijak? Ini bukan cerita dongeng, Brianna! Erland mungkin punya pesona, tapi kau berada di tengah intrik politik besar. Tidak ada yang sesederhana itu!" Suara Defne meninggi, memperlihatkan betapa kecewanya dia.
Brianna terdiam sejenak. Dia tahu bahwa Defne punya alasan kuat untuk marah. Namun, di saat yang sama, Brianna juga merasa bahwa inilah keputusan yang paling tepat untuk dirinya.
"Defne," ujar Brianna pelan. "Aku tahu ini sulit dimengerti, tapi aku mencintai Erland. Perasaanku untuknya lebih dalam dari yang kau tahu. Aku... sudah lama menunggu momen ini, dan sekarang dia kembali. Aku tidak bisa berpura-pura perasaan itu tidak ada."
Defne menutup matanya, mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. "Brianna, kau sahabatku, dan aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Tapi kau harus tahu, ini bukan hanya tentang cinta. Kau memiliki tanggung jawab lebih besar. Dan Ace..." Defne berhenti sejenak, menggigit bibirnya seolah ragu ingin melanjutkan.
"Ace... seharusnya dia tidak semudah itu membiarkanmu pergi," gumam Defne sambil mengumpat. "Bodoh. Kenapa dia begitu cepat luluh dan membiarkanmu pergi tanpa perlawanan? Dia seharusnya berjuang, menunjukkan padamu bahwa kau penting baginya!"
Brianna sedikit terhibur mendengar umpatan itu. Meski Defne tampak marah, ia tahu itu karena sahabatnya peduli. Ia tersenyum kecil, mendekat dan memeluk Defne.
"Aku menghargai kekhawatiranmu, Defne," ucap Brianna lembut. "Dan aku tahu kau hanya ingin yang terbaik. Tapi ini adalah hidupku, dan aku harus mengikuti apa yang hatiku katakan."
Defne menghela napas, melepaskan pelukan itu dengan enggan. Meskipun masih marah, dia menatap Brianna dengan pandangan yang lebih lembut.
"Aku tidak bisa menghalangimu," ujar Defne dengan suara pelan. "Tapi kau harus tahu, aku akan selalu berada di sini, siap mendukungmu. Meskipun aku marah, aku tetap berharap kau menemukan kebahagiaanmu. Hanya saja... aku benar-benar berharap keputusan ini bukanlah kesalahan."
Brianna tersenyum tipis, merasa sedikit lebih tenang setelah mendengar kata-kata sahabatnya. "Terima kasih, Defne. Itu lebih dari cukup untukku."
Defne menghela napas lagi, kali ini lebih panjang. "Ya, kita lihat saja nanti, Brianna. Tapi jangan salahkan aku jika aku tetap merasa Ace itu bodoh."
Brianna tertawa kecil, merasa beban di hatinya sedikit terangkat oleh sikap blak-blakan Defne. "Aku tidak akan salahkan kau soal itu," jawabnya sambil tersenyum.
Mereka berdua saling bertukar pandang, meski suasana tegang masih tersisa, tapi cinta persahabatan mereka terasa begitu kuat.
🌿🌿🌿
Malam itu sunyi, langit dipenuhi bintang, namun hati Brianna dipenuhi dengan kegelisahan. Dengan mengenakan cape hijau yang menutupi tubuhnya, ia menyelinap keluar dari istana. Udara malam terasa dingin di kulitnya, tapi itu tidak menghentikan langkahnya. Setiap detik yang berlalu hanya membuat hasratnya untuk segera bertemu Erland semakin kuat. Malam ini, ia akan meninggalkan semua—keluarga, tanggung jawab sebagai kandidat, dan Northernglass. Tujuannya hanya satu: Erland dan kehidupan baru di Earthania.
Di pelataran istana yang gelap, langkah Brianna tiba-tiba terhenti. Sebuah sosok berdiri di tengah jalan, menghadangnya. Dari jarak itu, ia tahu siapa orang tersebut—Ace. Cahaya bulan memantulkan kilauan samar dari jubah hitam yang dikenakan Ace.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Brianna langsung bertanya, suaranya terdengar tegang, namun dipenuhi kemarahan yang disembunyikan.
Ace mendekat, wajahnya tetap tenang seperti biasanya. "Aku bisa saja bertanya hal yang sama padamu, Brianna. Tapi aku tidak perlu. Aku tahu kau ingin pergi."
Brianna menegakkan punggungnya, bersiap untuk melawan jika perlu. "Lalu, apa kau akan menghalangiku? Ini adalah pilihanku."
Ace tidak menjawab pertanyaan itu langsung, malah mengeluarkan sehelai cape hitam dari balik jubahnya dan melemparkannya ke arah Brianna. "Gantilah jubahmu. Warna hijau akan membuatmu ketahuan. Terlalu mencolok."
Brianna tertegun sejenak, menatap cape hitam itu sebelum beralih kembali pada Ace. "Kenapa kau membantuku?"
Ace mendekati Brianna dan, tanpa menunggu persetujuan, mulai membantu Brianna melepas cape hijaunya. "Aku tahu kau sudah menunggu Erland sangat lama. Sejak kalian kecil." Tangan Ace bekerja cepat dan rapi saat ia membantu Brianna mengenakan cape hitam yang lebih gelap, membuatnya lebih sulit terlihat dalam gelapnya malam.
"Setidaknya, di saat seperti ini, turunkan egomu, Brianna. Jika kau ingin pergi tanpa ada yang tahu, jangan mempermudah mereka menemukanmu," ujar Ace sambil mengencangkan ikatan jubah itu.
Brianna mendengus, setengah kesal karena harus mengakui bahwa Ace benar. "Aku tidak suka berhutang," gumamnya. "Lain kali, aku akan membayarnya."
Ace tersenyum tipis, namun tidak ada sedikit pun canda dalam sorot matanya. "Tidak perlu. Ucapkan saja terima kasih."
Namun, Brianna enggan memberinya itu. "Aku tidak akan mengatakan itu," katanya tegas, sebelum melangkah maju, melewati Ace tanpa menoleh lagi.
Ace tidak bergerak, hanya memperhatikan langkah Brianna yang semakin menjauh. Dalam diam, hatinya bergemuruh. Namun, dia tahu Brianna sudah membuat pilihan. Meski begitu, ada sesuatu dalam dirinya yang merasa belum sepenuhnya menyerah.
"Berhati-hatilah, Brianna," gumam Ace pelan, hampir tak terdengar, sebelum dia berbalik menuju istana.
"Jangan berbalik, atau aku akan membuatmu tidak akan pernah meninggalkan Northernglass selamanya."
Malam itu, Brianna melangkah lebih cepat, memastikan bahwa langkahnya tidak sia-sia. Setiap kali ia mengingat tatapan tenang Ace, ada sedikit kegundahan di hatinya, tapi ia segera menyingkirkan pikiran itu. Erland menunggunya. Ia tidak mau kehilangan kesempatan untuk bersama orang yang telah memenuhi hatinya sejak kecil.
Di kejauhan, istana mulai memudar dari pandangan, dan dengan setiap langkah yang diambil, Brianna merasa semakin dekat dengan kebebasan dan cintanya yang selama ini tertahan.
TBC...