Alina Mustofa seorang gadis pendiam,tak banyak interaksi juga cuek. Mengacuhkan lawan jenisnya, menjadi karyawan baik bagi bos nya. Berusaha menghindari masalah adalah tujuannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sumi Yati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Ego
"Rafa capek ya sayang.. Sini sama mommy. " Alina mencoba mengambil alih Rafa namun tak diijinkan Liang. " Biarkan dia istirahat dan berbaring di sini." Seru Alina.
Liang membaringkan Rafa dan ia pun ikut berbaring. "Liang apa yang kau lakukan disini? Maaf rasanya itu bukan tempat mu!" Teguran Alina membuat senyuman membingkai diwajah lelaki tampan itu.
" Aku menginginkan nya mengapa? Lagi pula kau juga ditinggalkan oleh dia. Apa salahnya aku menyayangimu dan menjaga kalian." Kata Liang jumawa menarik tubuhnya yang mungil.
Alina jatuh dalam dekapannya, wanita itu tahu apa yang diinginkan oleh lelaki itu. Ia wanita dewasa yang tahu apa yang diinginkan oleh seorang lelaki.
"Tuan. Ku mohon jangan seperti ini. " Alina mencoba melepaskan dari rengkuhan nya Liang, namun itu hanyalah pekerjaan yang sia-sia.
Liang menciumi perutnya Alina setelah menyingkap baju hamil Alina. Lelaki itu mengusap perut besarnya. Alina malu, walaupun dia mengenakan celana panjang tapi lelaki itu melihat perutnya.
Menahan pinggulnya Alina Liang terus menciumi perutnya Alina. "Ayah datang sayang. Melihat kondisi mu, tunjukkan kekuatan mu!" Kata Liang menempelkan telinganya di perutnya Alina.
Ia mendengar pergerakannya bayi itu merespon nya. Alina juga merasakan hal itu keringat dingin menetes di pelipisnya.
"Aku menyukainya, kau sehat. " Ucapnya. Liang menutupi kembali perut Alina. Berdiri dan mengecup kening Alina kemudian lelaki itu berlalu. Meninggalkan Alina di kamar bersama Rafa. Lelaki itu langsung keluar rumah diikuti pengawalnya meninggalkan rumah tersebut.
Sementara itu mata-mata di kirimkan oleh Schiavo terus mengintai dan menghubungi atasannya. Alina shock duduk di ranjangnya dengan memberikan susu pada Rafa dia hanya tertegun menatapnya bingung.
Lelaki itu menginginkannya jelas terasa pada setiap sentuhannya beberapa waktu lalu. "Apa yang mesti lakukan tolong jangan lakukan ini padaku. Aku hanya ingin hidup damai. " Batin Alina gelisah.
Mata Rafa redup bersama dengan botolnya yang menggelinding di sisinya. Anak itu tertidur pulas. Alina mengambilnya dan menata tempat tidur kemudian ia berbaring di sisinya.
"Beri kami petunjuknya Tuhan. Aku tak mau disakiti lagi juga tak mau bersama dengan orang jahat seperti dia." Batinnya, gelisah tak mau bersama dengan diantara kedua lelaki itu.
Mereka berbahaya sama egois juga berkuasa apa arti dia bagi mereka? Hanya pelampiasan saja. Tapi mengapa harus dia? Apakah karena lemah? Karena letih ia pun tertidur.
Terjadi kegaduhan di depan rumah itu namun Alina tak mendengar suaranya. Karena faktor kelelahan karena hamil tua dia terlelap dalam tidurnya.
Sinar matahari masuk melalui celah tabir yang berkibar diterpa angin. Alina menggeliat, meregangkan otot-otot tubuh nya yang kaku. Matanya menatap sekilas sekitar nya setengah sadar.
Ruangan bersih berwarna putih hitam bentuk ranjangnya juga beda. Wanita itu langsung terduduk, " Rafa?" Batinnya ia melihat tak ada siapapun selain dirinya sendiri.
Alina bangkit dari tempat tidur hendak berjalan, baru selangkah ia melihat pintu terbuka. Reynold menggendong Rafa tersenyum lebar menatap nya. Alina terdiam di tempatnya berdiri.
"Surprise. I Miss u." Seru Reynold dengan langkah lebar nya ia mendekap erat tubuh Alina.
Alina membeku menerima hujaman ciuman ke seluruh wajahnya. "Kau sedang tidur saat mereka membawa mu sayang, dokter juga mendampingi mu dan memeriksa mu. Kalian hebat dan sehat." Kata Reynold dengan mata berbinar binar.
"Bersihkan diri mu. Kami akan menunggu di ruang makan, ada semuanya di sini. Daddy dan Sammy." Lanjut nya sambil memberikan kecupan di pelipisnya.
Ia pun berlalu meninggalkan Alina yang masih termenung dalam lamunan. Wanita itu tersadar lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Rafa di duduk kan di kursi balita dengan makanan Snack di mejanya. Sedangkan yang lain duduk di masing-masing kursi melingkar di meja makan. Alina mengamati semua nya dari ujung ruangan.
Melihat pemandangan di depannya yang terdiri empat pria beda generasi duduk bersama sarapan dan mengobrol.
"Sayang kau disana? Kemari lah, kita sudah menunggu mu sayang." Reynold berdiri dan menghampiri, mengajak nya duduk bersama.
"Selamat datang kembali kakak ipar." Seru Samuel menatap wanita hamil di depannya.
"Mengapa kau kabur sayang. Berhenti merajuk, aku yang salah. Maafkan dia. Aku yang meminta nya bersandiwara, demi mengungkapkan penggelapan dana perusahaan."
"Maafkan suami mu. Daddy yang salah. Tolong jaga kesehatan dan baby ok?" Lelaki itu menatap anak mantunya yang kebingungan, juga tegang di wajahnya.
"Aku bahagia memiliki cucu tidak hanya satu namun dua malah.." Lelaki itu terbahak-bahak melihat Rafa yang berceloteh dan makan makanannya walaupun berhamburan di sekitar nya.
Alina diam hanya menatapnya tanpa komentar dan Reynold mengambilkan makanan dan diletakkan di hadapan bumil.
"Hebat ya, kau sehat tanpa ada gejala sicknes layaknya ibu hamil umumnya. Seperti tidak suka ini itu. Bahkan konon juga muntah hebat di pagi harinya." Puji Samuel.
"Omong-omong kau sembunyi di mana? Sehingga baru kembali setelah hampir delapan bulan." Tanya Samuel.
"Aku tak kembali aku di culik. Entah siapa dan bagaimana aku sudah terjaga disini." Jawab Alina datar.
"Bagaimanapun suamimu cemas akan keberadaan mu. Yang tanpa kabar sayang. Lain kali jangan main kabur, klasifikasi dulu katakan yang ingin kau inginkan." Casemiro tua menjelaskan pada anak mantu nya.
"Dia tak akan cemas, banyak wanita cantik di sekelilingnya. Bagi nya saya hanya mesin pencetak bayi. Bukan aku yang diinginkan nya tapi bayi, penerusnya."
Alina tak menyentuh makanannya dan berjalan cepat menuju Rafa membawa pergi meninggalkan ruang makan. Ada suaranya bergetar dari setiap kalimat yang dilontarkannya.
Wanita itu menahan tangisnya, amarahnya seakan pion yang di pindahkan sesuai keinginannya. Alina mendudukkan Rafa di kursi taman, Alina menangis sejadi-jadinya di sana.
Raganya letih, harga dirinya tak berarti di mata mereka. Lelaki itu dengan mudahnya bersama dengan wanita lain dan masih melecehkan perasaan nya.
Bukan saja Reynold tapi juga Liang, orang berparas Asia itu juga melakukan hal sama walaupun tidak seagresif Reynold.
Namun di matanya lelaki itu adalah sama brengsek nya, Alina mendapatkan informasi dari para pelayan yang membantu nya kala itu.
Sementara itu ketiga lelaki itu hanya terdiam, Reynold ditahan ayahnya yang hendak menyusul sang istri. " Biarkan dia sendirian, dia sedang berbadan dua, mudah emosional."
"Jangan kau paksa atau kau tekan dia. Dia cemburu dengan kebiasaan mu yang belum kau tinggalkan. Dia marah karena kau acuhkan beberapa saat sebelum dia pergi." Jelas lelaki itu.
Reynold menarik nafasnya memburu, dia tersinggung saat Alina mengungkapkan perasaan nya yang seperti itu. Dia benar-benar menyayangi Alina, makanya dia memutuskan untuk menikahi nya walaupun tidak ada pesta.
Bahkan lebih dikata jika disembunyikan, karena ia ingin sang istri damai dan nyaman karena reputasinya juga takut dia diincar oleh musuhnya.
Bagaimanapun Alina adalah kelemahannya yang terbesar. Sudah sewajarnya jika ia memutuskan demikian toh orang menikah adalah tujuan utama adalah mendapatkan keturunan secara legal.
Dan merasakan kenyamanan pada pasangannya, selain pengertian serta saling melengkapi satu sama lainnya.
Alina mengganti pakaiannya Rafa dibantu dengan baby sitter di kamar Rafa. Yang berada di samping kamar yang Alina tempati. Juga ada pintu penghubung juga.
"Bagaimanapun kau harus makan sayang, dia membutuhkan tenaga dan asupan gizi." Reynold berkata sambil meletakkan baki makanan di meja kecil di kamar Rafa.
Alina meliriknya sekilas, " Aku malas juga tak lapar, nanti saja makannya." Alina masih mengajak Rafa bermain di box nya.
Rafa berdiri dengan berpegangan dinding box bayi. Berceloteh tentang sesuatu memakai bahasa bayinya. Reynold langsung menarik nya dan mengajaknya duduk.
"Makanlah. Biarpun itu sedikit saja." Ujarnya sambil tersenyum. Lelaki itu menyuapi nya seperti anak kecil.
Alina tetap mengunyahnya walaupun wajahnya masam, Reynold melihat wajahnya yang sembab terlihat jelas wanita itu habis menangis.
Tidak ada kalimat yang mereka katakan hanya keheningan serta suara Rafa yang sesekali terdengar.
******
Praang. Liang mengamuk membabi buta. Seluruh ruangan hancur karena dibanting akibat ulahnya.
"Bagaimana bisa kalian dapat dikalahkan oleh cecunguk itu! Kalian adalah pasukan elit ku! Dan semua tertidur pulas karena obat?" Geram Liang.
"Bukankah kau tahu jika kita di intai oleh mereka? Kenapa justru kalian bisa di lumpuhkan?" Teriaknya sambil mengambil guci dan melemparnya ke sembarang arah.
Semuanya hanya tertunduk diam, tak ada yang berani mengangkat kepala. Di ranjangnya Alina ada boneka Barbie dengan stiker Joker yang membuat Liang kesal.
Kecolongan karena wanita idamannya di culik, jika malam itu ia tak pulang untuk melampiaskan nafsunya. Mungkin Alina masih di sampingnya.
Bersama dengan nya menatap wajah cantiknya yang alami, merasakan masakannya yang enak di lidahnya.
Kemarin dia hampir kehilangan kendali saat bersama nya mulai menyentuh nya, dia merasakan ketakutannya saat ia menyentuhnya.
A Liang tak terima markasnya kebobolan dan kehilangan wanita nya. Wanita yang disembunyikan nya dan bermaksud memilikinya jika bayi itu sudah keluar.
Hampir gelap mata ia saat pertama kali menyentuh nya. Untung dia masih menggunakan kewarasan nya. Demi wanita itu ia menjaga, menahannya kebengisannya juga sifat liarnya.
Karena Alina mengingatkan tentang istri nya dulu sebelum ia menjadi gangster. Wanita sederhana yang cantik natural. Dan istrinya mati dalam keadaan hamil diperkosa bergiliran oleh anak buahnya rentenir.
Dia menghajar semuanya hingga mati, bukan A Liang yang berhutang namun keluarga istrinya. Dan karena lelaki itu tidak ingin istrinya kesulitan dan di caci mertuanya.
Maka Liang ikut membayarnya. Namun bukannya berkurang hutangnya makin membengkak mereka tak memperdulikan istri nya. Liang marah pada puncak nya saat sang istri meninggal setelah digilir di rumah nya.
Dia juga baru tahu jika orang tua nya hanya orang tua angkat. Karena emosi Liang membunuh semuanya. Mertua dan keluarganya juga si rentenir.
Maka di sinilah dia menjadi terkenal karena parasnya tampan juga perangainya yang menjadi sadis jika ia marah.
Sangat tegas saat menghukum mereka yang salah. Seperti semua orang yang berjaga malam itu. Semuanya di tembak mati oleh Liang tanpa ada sisa.
Jangan lupa mampir di novel ku juga ya~ Judulnya cinta kedua
Terimakasih🤗