Indonesia
NovelToon NovelToon
Mengejar Cinta Rania

Mengejar Cinta Rania

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:119.9k
Nilai: 4.8
Nama Author: Kopii Hitam

Tepat dua bulan yang lalu terjadi lakalantas yang disebabkan karena kelalaian si pengemudi.

Si pengemudi yang berada di dalam Lamborghini mengendarai mobil sambil menelepon, sedangkan si pengemudi yang berada di dalam L300 mengendarai mobil dalam keadaan mabuk hingga kecelakaan itu tak dapat dielakkan.

Rania Wirasana yang merupakan korban dari kecelakaan itu akhirnya harus membayar mahal atas kesalahan yang tidak dia lakukan sama sekali.

Dia terpaksa menikah dengan Matteo Balakosa yang kini mengalami kelumpuhan karena kejadian naas itu. Selain dipaksa oleh ibu Matteo, Rania juga terpaksa agar kasus itu tidak dibawa ke meja hijau.

Hai kak, bantu dukungannya ya agar author lebih semangat lagi dalam menulis.

Jangan lupa like, komen, subscribe, favorit sama bintang ⭐⭐⭐⭐⭐ ya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Operasi...

Setelah mobil Matteo tiba di rumah sakit, Rania segera dilarikan ke ruang IGD. Beberapa orang dokter spesialis penyakit dalam menyusul masuk untuk menangani keadaan Rania.

Sembari menunggu Rania yang tengah diperiksa, Matteo berjalan mondar-mandir di depan pintu dengan mulut komat-kamit memohon doa.

Dia terlihat sangat kacau, pikirannya tertuju ada hal negatif yang bisa saja terjadi di dalam sana. Dia tidak mau kehilangan Rania apalagi dengan cara seperti ini.

Matteo tidak tau apa yang terjadi dengan Rania sebenarnya. Dia berharap Rania baik-baik saja dan kembali pulih seperti semula.

Matteo belum sempat memberikan yang terbaik untuk istrinya, tentu saja ada guratan penyesalan di wajah tampannya.

Tidak berselang lama, pintu ruangan terbuka. Seorang dokter keluar dari dalam sana dan berdiri di hadapan Matteo.

"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Matteo khawatir. Berharap mendapatkan kabar positif dari dokter itu.

"Pasien sudah sadar, tapi-" Tiba-tiba ucapan dokter itu terhenti saat Matteo memotong perkataannya.

"Tapi kenapa, Dok?" Matteo tampak gelisah dengan mata menyipit menunggu jawaban.

"Sebenarnya istri Anda adalah pasien saya. Sudah beberapa kali dia datang ke sini untuk berobat. Saya sudah menyarankannya untuk operasi, tapi pasien menolak karena tidak memiliki biaya." Dokter itu menghela nafas sejenak.

"Istri Anda mengalami cedera di bagian dada. Dia pernah mengalami kecelakaan dan menyebabkan paru-parunya terluka. Ada pembekuan darah dan itu cukup berbahaya jika dibiarkan begitu saja." imbuh dokter itu.

"Cedera?" Matteo membulatkan mata dengan sempurna. Apa yang dimaksud dokter itu kecelakaan tempo hari? "Maksud dokter paru-paru istri saya sudah tidak berfungsi dengan normal, begitu?"

"Ya, kurang lebih seperti itu. Jika tidak segera ditangani takutnya paru-paru istri Anda semakin memburuk. Ada gumpalan darah yang sudah membeku, itu-"

"Jika operasi adalah jalan satu satunya, maka lakukan secepatnya. Berapapun biayanya akan saya bayar, yang penting istri saya bisa sembuh seperti sedia kala." potong Matteo.

Melihat keyakinan yang begitu besar di diri Matteo, membuat dokter itu tersenyum tipis sembari menganggukkan kepala.

Dokter itu kembali masuk, Matteo menyusulnya setelah mendapatkan izin.

Setelah berbicara dengan dokter lain dan dua orang suster yang ada di dalam, mereka semua meninggalkan ruangan untuk mengurus persiapan operasi dan surat izin.

Matteo yang tinggal sendirian kemudian menghampiri Rania yang masih terbaring lemah di atas brankar.

Dengan air muka sedih bercampur takut Matteo berdiri di sisi brankar dan menggenggam tangan Rania erat.

Ingin sekali dia berteriak dan menangis sejadi-jadinya, tapi dia tidak ingin menambah beban pikiran istrinya.

Matteo menahan tangisnya, dia mengulas senyum sembari mengecup punggung tangan Rania.

"Mas..." lirih Rania dengan tatapan sendu.

"Iya sayang, kenapa? Ada yang sakit?" tanya Matteo. Dia membungkukkan punggung dan mengusap kepala Rania, lalu mengecupnya dengan sayang.

Sulit bagi Matteo menahan diri untuk tidak menangis, tapi dia harus kuat demi Rania. Dia tidak boleh lemah dan menyerah untuk menyemangati istrinya.

Dulu saat dia lumpuh, hanya Rania yang betah dan sabar menjaga dirinya. Kini Matteo juga akan melakukan hal yang sama.

"Mas, aku mau pulang. Aku tidak mau di sini," gumam Rania dengan suara yang nyaris menghilang.

"Kata dokter kamu harus dirawat dulu di sini, pulangnya nanti dulu ya." ucap Matteo.

"Mas... Aku tidak mau dirawat, aku tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit. Aku tidak apa-apa kok Mas, biarkan aku istirahat di rumah saja!" pinta Rania.

Mendengar itu, sebongkah cairan bening tiba-tiba jatuh di sudut mata Matteo. Hatinya benar-benar hancur, seakan dia hanyalah orang asing di mata Rania.

Sampai kapan Rania akan bersikap seperti ini padanya? Dengan cara apa lagi Matteo harus membujuk Rania agar menganggapnya suami yang sah?

Segera Matteo menghapus jejak air mata di pipinya dan duduk di sisi ranjang dengan posisi setengah berbaring. Dia membentangkan sebelah tangan dan menjadikannya bantalan untuk kepala Rania.

"Mas..." Belum selesai Rania bicara, Matteo sudah menaruh telunjuknya di bibir Rania.

"Sssttt... Jangan bicara lagi, diam dan tidurlah!" lirih Matteo menahan tangisan. Dia tidak ingin mendengar apa-apa lagi dari mulut Rania, dia juga tidak ingin berdebat. Dia hanya ingin memeluk Rania untuk meringankan beban di hatinya.

"Mas, aku tidak apa-apa. Kenapa Mas menangis?" tanya Rania yang tak sengaja merasakan basah di sisi telinganya.

Matteo diam tanpa menyahut. Dia membelit tubuh Rania dengan erat dan menyembunyikan wajahnya di rambut Rania.

Sulit sekali rasanya untuk bicara, apalagi mengingat kondisi Rania yang semakin memprihatinkan. Tapi wanita itu masih saja memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik saja.

Andai dari awal Matteo tau bahwa Rania juga korban seperti dirinya, tidak mungkin dia membenci Rania sebelumnya. Tidak mungkin Rania menanggung penderitaan ini sendirian.

"Ceklek!"

Terdengar suara pintu terbuka dari arah luar. Matteo memperbaiki posisinya dan turun dari brankar.

"Permisi, bisa Bapak ikut kami sebentar." ucap seorang suster dari ambang pintu yang terbuka.

"Iya, tunggu sebentar." angguk Matteo, lalu dia meminta izin keluar sebentar pada Rania dan meninggalkan ruangan itu.

Sesampainya di luar sana, Matteo diminta menandatangani surat persetujuan untuk melakukan operasi lalu mengurus administrasi.

Setelah semua selesai diurus, Matteo kembali ke ruang IGD. Mau tidak mau dia terpaksa mengatakan semuanya pada Rania.

Awalnya Rania menolak karena merasa tidak penting untuk melakukan operasi, dia juga tidak memiliki uang untuk membayar biayanya.

Lalu Matteo mencoba meyakinkan Rania. Dia yang akan menanggung semuanya karena itu adalah tanggung jawabnya sebagai seorang suami.

Setelah bersusah payah membujuk Rania, akhirnya wanita itu mengangguk meski sedikit dipaksakan.

Beberapa jam kemudian, dua orang suster masuk dan mengatakan bahwa operasi akan segera dilakukan. Rania dipindahkan ke kursi roda dan didorong menuju ruangan operasi. Matteo berjalan di samping kursi roda Rania sembari menggenggam tangan istrinya dengan erat.

"Mas..." lirih Rania sembari mendongakkan kepalanya.

"Tidak apa-apa, Mas ada di sini. Kamu tidak sendirian," ucap Matteo. Dia mengukir senyum agar Rania tidak merasa takut menghadapi ini.

Sesampainya di ruang operasi, Rania dipindahkan ke brankar. Matteo duduk di sampingnya setelah mengenakan jubah khusus pengunjung.

"Mas..." Rania terlihat gugup, dia menggenggam tangan Matteo dengan erat.

"Jangan takut sayang, Mas tidak akan pergi!" ucap Matteo sembari menggenggam tangan Rania dan mengecupnya.

Tidak lama dua orang dokter spesialis penyakit dalam masuk ke ruangan itu dengan jubah yang membungkus tubuh mereka.

Kemudian Rania diberikan suntikan anestesi hingga matanya mulai mengantuk.

"Kalau Anda tidak kuat, lebih baik tunggu saja di luar." ucap salah seorang dokter kepada Matteo.

"Tidak, saya tidak akan kemana-mana. Saya akan tetap di sini sampai istri saya membuka matanya kembali." tegas Matteo.

Mau tidak mau, dokter itu terpaksa mengizinkannya. Operasi pun dimulai, tapi Matteo tidak berani melihatnya. Manik matanya hanya fokus pada wajah Rania.

Bersambung...

1
Rini Nenggolan
terlalu lebay bgett rania egois & sbgai ny.. shrs ny rania bersykur d cintai am teo ehh mlh sok jual mhl sok hrs jga prasaan raina, prasaan dr sndri am teo tdk d jga dsr raina egois bgett 😡
Rini Nenggolan
dkit2 mas2 lebay bgett si rania 🤦‍♀️
Rini Nenggolan
ujung2 ny terpesona & jtuh cinta am toe 😒
Rini Nenggolan
mertua kejam
Rini Nenggolan
lemah bgett rania d ancam dkt luluh 😝
Vebe Kabenaran
Luar biasa
Yunerty Blessa
Makasih banyak kak thor buat karya indah nya
sungguh mantap sekali ✌️🌹🌹
terus lah berkarya dan sehat selalu 😘😘
Yunerty Blessa
mantap sekali kak thor
Yunerty Blessa
kalau John sudah pergi, pasti Matteo tidak tahu bahawa Rania hamil...
Yunerty Blessa
Rania terlalu bodoh 😡 kau ingat Matteo tu tidak punya hati.... jangan sampai menyesal kalau Matteo pergi meninggalkan mu 😏
Yunerty Blessa
Rania bodoh kalau menyerah kan Matteo kepada Arini....kau yakin kah Rania kalau Matteo mahu menerima Arini... sanggup kah kau melihat Matteo dan Arini bahagia....tanya kan dalam hati mu 😏
Yunerty Blessa
sedihnya.....
Yunerty Blessa
akhirnya,Matteo pun puas balas dendam nya....
Yunerty Blessa
astaga 🤣🤣🤣
Yunerty Blessa
sabar lah Matteo 🤣🤣🤣
Yunerty Blessa
Rania ni memang bodoh, walaupun pun kau saudara dengan Arini tidak mungkin kau lepaskan hubungan mu dengan suami mu...
Yunerty Blessa
Rania sangat beruntung masih memiliki ibu kandung....
Yunerty Blessa
betul Rania....
Yunerty Blessa
takut juga ya Rania 🤣🤣
Yunerty Blessa
ranjang adalah cara ampuh untuk menyelesaikan masalah 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!