Raja Series 4 : Beside You
Dua orang yang sama-sama menyembunyikan kebenaran masa lalunya, sama-sama merantau demi membuang jauh masa lalu mereka.
Dua orang yang terlihat ceria didepan semua orang namun sebenarnya memiliki kepribadian yanh dingin dan tak tersentuh.
Mencoba bersama tetapi banyak orang disekitar mereka, bahkan terkadang diri mereka sendiri sadar jika tidak pantas satu sama lain, terlebih saat tahu apa yang mereka berdua sembunyikan.
Alaric Lorenzo Romanov (30 Tahun) memilih menjadi Model International dan Artis sebagai kedok untuk menutupi siapa dirinya yang sebenarnya.
Almera Milazendra (27 Tahun), merantau ke ibu kota demi hidup tenang, tentram dan jauh dari omongan orang akan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unik Muaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Status
Seperti biasa, hari jum'at adalah waktu bagi para owner Raja Throne Hotel berkumpul di lantai Raja Crown atau di ruangan sang Direktur yang memiliki empat meja kerja.
Jam sudah menunjukkan jam sepuluh malam, Regan yang pertama kali menyelesaikan pekerjaannya mulai sibuk dengan ponselnya membalas setiap chat Belda.
Aslan mulai bersiap-siap keluar untuk balapan liar, Javir sedang berkutat dengan leptopnya, pasti mendapat tugas dari Papanya untuk melacak seseorang.
Lanin halnya dengan Alaric yang tidak kunjung selesai dengan setumpuk berkas hotel yang baru selesai setengah. Otaknya selalu tidak bisa fokus dengan pekerjaannya, sesekali dia mengecek ponselnya dan mendengus kesal.
Plak ...
Satu pukulan keras dipundaknya membuat Alaric terkesiap hingga ponsel ditangannya terlepas, untung jatuh keatas meja bukan langsung ke lantai.
"Tumben belum kelar"
Kepala Aslan menunduk menatap lembaran berkas didepan Alaric yang masih terbuka.
Tangan Alaric mendorong kepala Aslan menjauh, "berangkat gih sana, nanti telat."
"Cuma butuh lima belas menit kesana" kilah Aslan, "cepet selesain biar cepet istirahat."
"Perasaan diantara kita kerjaan loe yang gak nguras" tukas Javir, meaki tangannya masih sibuk dengan tombol keyboard komputernya, telinganya sepertinya masih mendengar dengan baik.
"Cepet selesain, gue bantu ganti perban" ujar Regan.
Otaknya sedang tidak bisa diajak fokus, bagaimana bisa dia cepat menyelesaikan semuanya?.
Ingin rasanya beetanya pada Regan tentang Ameera diman, tetapi dia takut temannya itu malah melacak keberadaan Ameera dan mengetahui Ameera dimana, nanti yang ada Ameera semakin tidak mau dekat dengannya karena tidak bisa menjaga rahasia.
"Ameera"
Nyatanya Alaric tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
Satu kata yang dia ucapkan itu berhasil menarik perhatian semua orang, langkah Aslan yang sudah mengambil kunci motor dan akan memencet tombol lift terhenti seketika, berbalik badan menatap Alaric penasaran.
"Apa dia ngubungin loe?" Tanya Alaric, kali ini kepalanya menoleh pada Regan.
Tangan Regan berhenti bergerak diatas layar ponsenya sejak Alaric menyebut nama sahabatnya itu hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Alaric.
"Dia gak ngangkat telepon gue" jelasnya, "dia baik-baik aja kan?."
Tak ...
Regan meletakkan ponselnya diatas menaja dan balas menatap Alaric, tatapan matanya begitu tenang namun terkesan mengintimidasi lawan bicara.
Merasa apa yang akan mereka berdua bicarakan cukup serius, Aslan buru-buru memencet tombol lift, sedangkan Javir langaung pergi dari sana.
Sepuluh tahun hidup bersama dan selalu mengerjakan beberapa hal bersama, mereka paham satu sama lain, bahkan habya melalui tatapan tampa mengatakan sesuatu mereka akan paham apa yang terjadi.
"Cukup gue biarin Ameera sebagai objek healing loe dulu" Regan mulai membuka suara, "tolong ... cukup sekedar hubungan mantan online jangan mencoba menjalin hubungan didunia nyata."
Alaric tertegun ditempatnya.
Lagi-lagi ....
Ameera tidak mau berbacaran dengannya, Enzo memperingatinya agar menjauhi Ameera, kali ini Regan yang juga tidak mau dirinya bersama Ameera.
Memangnya apa salahnya?.
^-^
Sudah tengah malam, Ameera masih belum tidur, sejak tadi dia hanya bisa membolak-balikkan tubuhbya diatas ranjang. Perutnya lapar, jadi dia susah untuk tidur.
Merasa kepalanya mulai berdebyut dan butuh tidur, Ameera bakhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar dan mencari makanan apapun didekat kosannya.
Kosannya yang tidak jauh dari jalan raya tidak membuatnya merasa takut, karena masih ada beberapa orang penjual kaki lima yang masih berjualan. Niat awal yang ingin membeli makanan untuk mengenyangkan perutnya buyat kala melihat mini market yang buka dua puluh penjat jam.
Buru-buru Ameera melangkah memasuki mini market itu kejajaran kulkas showcase mencari susu favoritnya.
"Ameera?"
Tangan Ameera yang semuala terurlur ubtuk membuka pintu kulkas mengambang diudar, degup jantungnya derdetak tak karuan."
"Mela!" Seru orang itu lagi, kali ini terdengar jelas.
Mela?
Hanya orang-orang tertentu yang memanggilnya begutu, terlebih ini Jakarta mana ada yang mengenal nama kecilnya.
Kepala Ameera menoleh kesamping, tidak jauh darinya ada Aslan yang berdiri dengan mata membulat sersenyum padanya.
Perlahan Ameera menghela nafas lega hingga bersandar pada kulkas disampingnya, entah kenapa dia akhir-akhir ini menjadi parno dan selalu berfikir negatif.
"Kak Aslan ..." keluh Ameera sambil memegangi dadanya, "ngagetin aja."
Aslan mencebikkan bibirnya, "cek lebay."
Ameera mengerut.
Sadar akan sesuatu, kepala Ameera langsung menoleh kanan kiri, bahkan tybuhnya berkutar mencari keberadaan Javir, Regan dan Alaric.
"Aku sendirian" ujar Aslan melihat gelagat Ameera, "habis refreshing di sekitar sini."
"Hem ... Untunglah" Ameera bernafas lega mendengarnya.
"Kerjaan Alaric belum selesai jadi dia gak bisa kemana-mana, Alaric harus ..."
"Siapa juga yang cari Alaric" putus Ameera dengan mata melotot, "aku cari Ar, Adam Regan. Bukan Alaric!. Lagian Kak Aslan kalau mau nyebut nama Alaric kira-kira, fansnya banyak bisa-bisa kita diserbu."
Ameera mengomel sambil mengambil beberapa susu, minuman dan snack, satu persatu dia memasukkannya kedalam keranjang yang dia bawa.
Aslan mengikuti setiap langkah Ameera menyusuri lorong demi lorong sambil terus mendengarkan omelen dan gerutuan Ameera tentang Alaric.
"Kalau ke Alaric aja gak manggik Kakak, kenapa aku dipanggil kakak?" Aslan mengambil keranjang Ameera yang mulai terlihat penuh, "padahal umurku dan Alaric sama."
"Kebiasaan manggil anda begitu."
Aslan terkekeh kecil, "panggil As aja seperti Ar yang tidak menggunakan embel-embel Kakak meski aku Kakaknya."
Kepala Ameera manggut-manggut menyetujui.
"Oh iya, sudah di Jakarta berapa lama?"
"Tiga harian."
Kening Aslan mengerut, menghentikan langkahnya lalu berbalik badan menatap Ameera tajam.
Ameera langsung menatapnga dengan tatapan aneh, "kenapa natap aku begitu?."
"Beberapa hari yang lalu kamu ada di Taja Throne Hotel?" Aslan malah balik tanya.
Tidak langsung menjawab, Ameera menatap kelain arah dan mengangguk pelan.
"Tuh kan ... Benar, aku kira salah lihat" Aslan terkekeh kecil. "Padahal kita di restaurant hotel waktu itu, kenapa malah pergi gak menghampiri kami?."
"Aku sudah bilang kalau Ar tidak tahu aku disini."
"Kenapa?"
Mereka kembali berjalan kekasir untuk membayar belanjaan mereka, lebih tepatnya belanjaan Ameera, karena Aslan hanya membeli sekaleng kopi yang masih dia pegang ditangan kirinya meski tangan kanannya memegangi keranjang belanjaan Ameera.
"Nanti saja kalau sudha diterima di rumah sakitnya baru aku bilang."
"Kamu melamar di rumah sakit Ar?"
Keplaa Ameera mengangguk antusiaa.
"Ini sekalian mas" Aslan menjulurkan kaler kopinya untuk di scen dan beberapa lembar uang kearah kasih. "Aku yg bayar sebagai ganti uang menginap di hotel."
Ameera terkekeh memukul lengan Aslan, "kalau tahu aku belanja banyak sebabyak uang yang aku keluarkan untuk meginap dihotel kalian."
Mendengar ucapan Ameera Aslan tertawa ngakak.
Setelah urusan pembayaran selesai, mereka tidak langsung memutuskan untuk pulang.
Didepan mini market ada kursi dan meja yang bisa mereka duduki, Ameera yang pertama kali duduk dan diikuti Aslan yang duduk tepat disampingnya.
"Em ... Begini ..."
Ameera mengerutkan kening melihat raut wajah Aslan yang tapkan salah tingkah, bahkan ada nada ragu dalam suaranya barusan.
Jemari Aslan emngetuk-ngetuk meja seakan menimbang-nimbangbjngin melontarkan apa yang ada dalam ktaknya.
"Mungkin ini sedikit privasi" ungkap Aslan, "apa kamu ... dan Alaric berhubungan ... Maksudnya lagi?."
Seketika kerutan kening Ameera semakin dalam, diam beberapa saat tidak langsung menjawab pertanyaan Aslan.
Diamnya Ameera yang terus menatap kearahnya membuat Aslan sangsi merasa salah atau tidak sudah emlontarkan pertanyaan tersebut.
"Kenapa bisa bertanya begitu?" Pada akhirnya Ameera malah balik bertanya.
"Jujur saja" Aslan menegakkan posisi duduknya, "jika Alaric yang memaksa dan kamu mulai bosan untuk menolak. Jangan pernah menggunakan hati Mel. Tapi jika kalian sama sama punya rasa ..." Aslan menggantungkan kalimatnya, "jalan kalian akan sulit dan bukan hanya karena perbedaan culture atau reatu orang tua, complicated dari semua itu."
"Karena statusku?"
Kepala Aslan menggeleng kuat, "aku tidak membicarakan tentang status jandamu disini."
^-^
.
If you don't mind please leave a 👍Like and 💬Comment
Because it means a lot to me 😇 Thank you 😉 have a nice day 😄
Love You 😘
Unik Muaaa