Sakit hati memang bisa merubah seseorang dengan sangat drastis, ini berawal dari putri bungsu kerajaan Zelda yang mendapatkan lamaran langsung dari Raja Federick untuk menikah dengan putra keduanya yaitu pangeran Christopher, karena demi aliansi dan keselamatan rakyatnya, akhirnya putri Licorice menyetujui dengan terpaksa.
Kehidupannya seakan mengalir seperti air, dan membiarkannya meninggalkan lubang besar di hatinya, semua terjadi akibat dari pengabaian sang pangeran dalam jangka dua tahun lamanya dan membuat putri sadar akan perjuangannya yang tak pernah terlihat, lambat laun hatinya mulai membeku.
akankah putri Licorice berhasil di dalam pernikahannya? atau hanya dendam yang akan menutupi hati Licorice?
Semoga cerita ini memotivasi para readers, ojo lali ndukung njih.... 😇😇
No plagiat broo karena mikirnya setengah mati buat bikin alurnya 🤣😅
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razia Athar Mirzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22 Setega itukah engkau Pangeran
Pertemuan dengan istri archduke Wiliam berjalan lancar, Licorice sangat senang bisa bertemu dengan nyonya Lavinia, dia wanita yang hebat dan kuat, bisa dijadikan sebagai contoh dalam keseharian hidup putri Licorice, terlebih untuk masalah yang kini sedang dia jalani.
Pagi ini adalah jadwal Licorice berkeliling kota Diamond, dan juga jika waktunya cukup dia akan melihat akademi kebangsawanan, pagi ini hari sangatlah cerah, langit sedang dalam keadaan indah sekarang, seperti biasa mereka sarapan pagi bersama.
"Aku akan mengajakmu berkeliling Licorice, apa kamu berkenan ikut denganku?." ada angin apa yang membuat pangeran Christopher mau mengajak Licorice berkeliling, yang pasti ini adalah kencan pertama mereka setelah beberapa bulan menikah.
"Tentu saja pengeran, dengan senang hati aku akan ikut denganmu." Licorice senang, ini pertama kalinya pangeran bersikap lembut padanya.
"Ya sudah sekarang bersiap-siaplah, aku akan menyuruh pelayan untuk menyiapkan kereta kudanya." Licorice masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Christopher.
"Ini bukan mimpi kan....? akhirnya pangeran mulai mau mengajakku pergi.. " gumamnya, dengan wajah berseri.
Hari ini Licorice memakai baju berwarna biru laut, dengan rambut yang di gerainya, dengan beberapa jepit bunga yang warnanya senada, dengan kalung mutiara pemberian ratu Karina beberapa hari lalu. Pangeran sudah menunggunya di dekat kereta kuda, dan harapan itu sekali lagi runtuh, pangeran terlihat sedang bergirau dengan Isabelle, tampak senyuman tulusnya selalu hadir di bibir indahnya, namun dengan tenang Licorice berjalan kearah mereka, untuk bisa meredakan gemuruh aneh dalam hatinya.
"Selamat pagi putri Licorice...pangeran mengajakku ikut berkeliling kota, katanya kamu juga akan ikut serta." ternyata Christopher sudah mengajak lebih dulu wanita itu, dibandingkan istrinya.
"Pagi juga nona Isabelle, tentu saja karena aku masih belum tahu tentang kota Diamond ini." Licorice memaksakan senyumnya, rasa bahagianya semudah itu hilang, ketika melihat pangeran mengobrol ria dengan nya.
"Ayo naiklah Isabelle... " Christopher memberikan tangannya untuk membantu Isabelle menaiki kereta kuda, dan setelahnya pangeran menaikinya tanpa mempedulikan Licorice. Licorice akhirnya dibantu oleh kusir nya, harian ini Adam dan Diana tidak ikut, ya karena ini perjalanan pribadi bersama pangeran, tapi jika sudah begini bukan pribadi lagi, melainkan Licorice hanya serangga diantara keduanya.
Mereka duduk di dalam kereta kuda, yang benar-benar membuat lebih sakit lagi adalah Licorice hanya duduk seorang diri, sementara mereka duduk di kursi yang sama, kursi yang sudah diperuntukkan keduanya. Lagi dan lagi Licorice hanya bisa menghela nafas dalam, ini yang tidak dia inginkan, lebih baik tadi menolaknya saja.
Tanpa sepengetahuan mereka, di balkon ada yang memperhatikan tingkah mereka, ada rasa kesal melihat Licorice yang diacuhkan, bahkan seperti dihilangkan oleh nya.
"Apa-apaan dia...?." terlihat olehnya, jika wajah Licorice terlihat kecewa, bahkan senyumnya sisha tidak ada lagi.
"Apa kamu tahu pangeran... hal ini mengingatkan pada masa dulu kita remaja... pada saat aku kabur dari istana dan berlari keluar, kamu mengejarnya dengan berteriak memanggil namaku...'Isabelle.... Isabelle.... jangan merajuk lagi..' aku masih ingat itu, kamu sangat khawatir padaku." mulailah dengan menyiramkan minyak tanah pada bongkahan kayu.
"Ya karena aku khawatir Isabelle, aku khawatir kamu pergi menjauhi ku, jadi aku terus berteriak memanggil namamu itu... " ucap Christopher dengan mencubit hidung Isabelle, mereka memberi Licorice percikan api dalam kayu itu, rasa sesak mulai menjalar dalam hatinya.
"Oh ya putri.... apakah kamu tahu jika pangeran sangat menyukai bunga lily, sampai pada waktu itu aku tidak sengaja merusaknya, dan membuat taman lily milik pangeran rusak, tapi ternyata dia tidak marah.... malahan aku yang menangis, setelahnya pangeran memelukku untuk menenangkan tangis ku." Isabelle terus menerus membuat Licorice sadar akan posisinya, dia terus memojokkan dan memperlihatkan 'bahwa yang pantas dengan Christopher adalah aku'.
"Ternyata pangeran memiliki sisi lembut itu...pasti sangat menyenangkan bisa sedekat itu dengan pangeran." rasanya Licorice mulai paham, bahwa mereka selalu bersama sejak kecil, hingga tumbuhlah benih cinta diantara keduanya.
"Tentu saja putri, bahkan aku sudah mengetahui apa saja yang disukai dan yang tidak disukainya." Isabelle terus bercerita tanpa jeda, dan terus memberikan percikan api disetiap sisi bongkahan kayu itu, hingga membuatnya melebar.
"Wah hebat sekali.... bahkan aku belum mengetahui apapun tentang pangeran....sesekali aku ingin mendengarkan semuanya tentang pangeran Christopher... apakah kamu tidak keberatan nona Isabelle?." bahkan Licorice seakan dibuat paling tidak tahu apa-apa meski sudah menjadi istrinya, bagaimana bisa tahu, jika pangeran saja enggan berbicara dengannya?.
"Aku tidak masalah dengan hal itu putri, dengan senang hati aku akan memberitahumu semuanya tentang pangeran." Christopher hanya diam, mendengarkan pembicaraan mereka, tidak biasanya Licorice akan terus menjawab, padahal yang Christopher tahu jika Licorice tipe yang pendiam, tanpa banyak bicara.
Hingga mereka tiba di tujuan pertama mereka, yaitu perkebunan bunga tulip yang begitu besar dan jauh dari pemukiman masyarakat, disana hanya ada bunga tulip yang tersebar sangat banyak di sekitar ladang, bahkan dengan beragam warna yang indah, mereka turun dari sana, Licorice takjub melihat keindahan tersebut, dulu pada saat di kerajaan Zelda dia jarang sekali bisa melihat ladang bunga tulip.
Christopher membantu Isabelle turun dari kereta kuda, dan tetap mengabaikan Licorice, pandangan itu selalu pada wajah Isabelle, tidak pernah sekalipun Christopher melirik nya, lalu untuk apa dia mengajaknya? hanya untuk ini? jangan bercanda pangeran, ini bukanlah ajang.
"Tentu saja aku kalah dalam segala hal... lihatlah bahkan sejak tadi mereka hanya menikmati momen ini bersama." Licorice melihat mereka begitu menikmati ini semua, padahal tadi dia sudah merasa bahagia bisa pergi berdua dengan pangeran.
Dengan langkah berat Licorice pergi ke sisi yang tidak terlihat mereka berdua, Licorice menikmati hembusan angin, aroma bunga seemrbak disekitarnya, Licorice terduduk dengan berpangku tangan, dia duduk di rumput sekitar padang tulip, yang berarti jaraknya agak jauh dari Christopher dan Isabelle.
"Huft..... seandainya aku bisa menikmati ini terus, boleh tidak ya aku membangun mansion disekitar taman ini? akhh kenapa malah berfikir begitu, pasti yang mulia raja tidak akan memberi izin. "
"Pangeran sepertinya aku tidak enak badan... bagaimana kalau kita pulang saja? kepalaku sakit sekali." mendengar hal tersebut Christopher menjadi khawatir.
"Kenapa kamu tidak bilang tadi hmm...? jika tahu kamu kamu sakit aku tidak akan pergi kemana-mana, terlebih jauh dari istana." Christopher memang pergi karena keinginan Isabelle, dan mengajak Licorice juga atas kemauannya.
"Ya sudah ayo aku bantu, kita sudahi dulu berkeliling nya, lihatlah langit sudah mulai menggelap tertutup awan hitam, sebentar lagi akan turun hujan." Christopher membantu Isabelle menaiki kereta kuda, ada senyuman iblis tersingkap disana, sungguh rencana yang amat sempurna.
"Kita kembali ke istana segera, keadaan Isabelle sedang tidak sehat." kusir tersebut juga melupakan Licorice, karena pangeran terus menyuruhnya cepat.
"Baik pangeran...... "
Hembusan anginnya semakin kencang, dan terlihatlah dengan jelas awan hitam menutupi langit biru cerah, padahal tadi masih bersinar terang, dan kini sudah mendung.
"Sepertinya akan turun hujan... aku harus segera kembali ke kereta kuda." Licorice berjalan untuk menemui keduanya, tapi dia sangat terkejut dengan apa yang terjadi, mereka sudah tidak ada bahkan sudah tidak terlihat.
"Aku tertinggal..... bagaimana ini? sebentar lagi akan hujan... aku tidak bisa terus disini." pikirannya kalut, dikala tahu jika dirinya tertinggal, tiba-tiba saja dia teringat masa kecilnya. Lalu terdengarlah suara rintik hujan yang semakin jelas di telinganya, dan benar saja hanya beberapa detik hujan turun begitu detasnya, seketika itu membasahi tanah.
"Akhhh hujannya deras sekali... bagaiamana ini...?" Licorice sedikit berlari mencari pohon atau gubuk untuk berteduh, tapi sayangnya dia belum menemukan hal tersebut, terlebih sekarang dia sendiri, tidak ada pohon di ladang bunga tulip tersebut.
Gaun Licorice yang panjang membuat dia kesulitan untuk berjalan, dia sedikit mengangkat gaunnya agar bisa memudahkan dia bergerak. Dia terus berlari untuk segera ke pemukiman warga, tapi tiba-tiba saja kepalanya berdenyut nyeri, dia ingat dulu pernah terjadi hal semacam ini.
"Aku tidak boleh berlama-lama saat terkena hujan, sakit nya pasti akan kambuh lagi, aku harus segera keluar dari ladang ini." langkah nya terhenti, karena Licorice merasa lemas, hingga akhirnya terduduk ditanah yang sudah basah, dan membuat gaunnya kotor.
"Aku tidak bisa bertahan.... siapa saja tolong aku... tolong.... " Licorice sudah tidak bisa mempertahankan kesadarannya, rasanya sangat berat untuk bergerak, hidungnya sudah berdarah, kepalanya semakin sakit.
Tubuhnya tumbang karena Licorice sudah tidak bisa menahannya.
"Licorice... " samar-samar dia mendengar namanya dipanggil.
"Setega itukah kau pangeran... dia bahkan meninggalkan ku dengan keadaan seperti ini."