Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Ditinggalkannya

Rahasia Yang Ditinggalkannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta
Popularitas:385
Nilai: 5
Nama Author: Momowen

Dia kehilangan segalanya dalam sekejap.
Kecelakaan merenggut nyawa pria yang paling mencintainya, meninggalkan hanya rekaman suara terakhir...yang tiba-tiba menghilang.

Di balik air mata dan luka, Silvia Pliis menemukan rahasia besar yang tidak pernah dia ketahui dari pria yang mencintainya.

Antara cinta yang tak sempat tersampaikan, persahabatan yang setia, dan intrik keluarga penuh ambisi...ia harus memilih:
Tetap jadi gadis polos yang dilindungi, atau membuka pintu menuju kebenaran yang akan menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momowen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pusat Penelitian Bawah Tanah

Malam hari.

Angin malam berembus pelan, membuat tirai di dekat jendela bergerak lembut. Kaki Nelia masih terbiasa diletakkan di atas tubuh Silvia. Lingkar hitam di bawah matanya sudah tak mampu lagi menyembunyikan rasa kantuk, tetapi ia tetap enggan memejamkan mata.

Nelia memiringkan tubuhnya, menatap Silvia yang bernapas pelan di sampingnya. Jarinya menyentuh ujung hidung Silvia dengan lembut. Air mata diam-diam mengalir menuju sarung bantal, meninggalkan noda samar di sana.

Keesokan harinya.

Begitu bangun, telapak tangan Nelia secara refleks meraba sisi ranjang di sebelahnya. Yang tersisa di atas seprai hanyalah kehangatan yang perlahan memudar.

Nelia panik dan langsung bangkit dari tempat tidur, “Sil, kamu di mana?”

Dengan terburu-buru, Nelia keluar dari kamar untuk mencari keberadaan Silvia.

Ruang tamu, kamar mandi, bahkan kamar Chris pun tidak ada sosoknya.

Nelia akhirnya duduk lemas di lantai dekat sofa. Rambutnya berantakan dan menempel di pipinya. Ia menundukkan kepala, sementara kedua matanya perlahan memerah.

“Klik—”

Pintu apartemen didorong dari luar.

Nelia sontak mengangkat kepala.

Silvia masuk dari luar sambil membawa telur dadar gulung yang masih hangat di tangannya.

Melihat Nelia duduk tanpa alas kaki di lantai yang dingin, Silvia buru-buru menghampirinya, “Kenapa kamu tidak pakai sepatu lagi?”

Melihat sahabatnya yang akhirnya kembali setelah sempat membuatnya panik, Nelia langsung memeluk kaki Silvia sambil menangis, “Sil… aku kira kamu sudah tidak menginginkanku lagi.”

Silvia mengangkat sudut bibirnya. Melihat wajah Nelia yang begitu menggemaskan, ia tak kuasa menahan senyum, “Aku tidak akan tiba-tiba pergi.”

Cahaya matahari dari luar jendela tanpa sengaja terpantul melalui kaca dan jatuh tepat ke mata Silvia.

Silvia terdiam sejenak. Jari-jarinya berhenti bergerak sebelum akhirnya ia berkata dengan suara yang jauh lebih lembut, “Sebelum pergi, setidaknya aku akan memelukmu erat-erat sekali.”

Nelia membenamkan wajahnya ke perut Silvia sambil terisak pelan, “Hmm… kita janjian ya.”

“Baik.”

Silvia mengelap tangannya, lalu berbalik dan berjalan menuju kamar, “Aku belajar dulu. Kalau ada apa-apa, ketok pintunya aja ya.”

Masih ada noda minyak di sudut bibir Nelia. Ia memalingkan wajah sambil melambaikan tangannya, “Pergilah. Aku juga mau sibuk mengerjakan gambar.”

Silvia menutup tirai, matanya langsung tertuju pada lembar soal yang baru saja dicetak tadi malam. Ia mengulurkan tangan dan menyalakan komputer layar besar di hadapannya. Cahaya dari layar memantul di wajahnya, menerangi wajahnya dengan semburat putih.

Silvia menunduk tanpa berkata apa-apa, mengambil pena dan mulai mengerjakan soal. Lagu lembut mengalun dari earphone yang terpasang di telinganya.

Di layar komputer, tulisan hitam memenuhi latar putih dalam barisan yang begitu padat.

Silvia fokus mengerjakan soal.

Namun, samar-samar, sebuah tanda seru berwarna merah tiba-tiba muncul di layar komputer.

Silvia mengangkat pandangan. Kursor mouse dan berbagai pengaturan di layar mulai bergerak sendiri di luar kendali. Ia menatap halaman web yang terus berpindah tanpa henti.

Tatapannya akhirnya berhenti pada nama yang muncul di sudut kanan bawah layar: [SpeedRush]

Tepat di tengah layar, sederet tulisan berwarna merah darah tiba-tiba muncul.

【Tugas Baru】

Kening Silvia sedikit berkerut. Ia mengklik titik merah yang terus berkedip itu.

Halaman kembali dimuat. Sebuah informasi tugas perlahan muncul di tengah layar.

Nilai Bounty: ¥200.000.000

Pupil mata Silvia seketika mengecil, dua ratus juta…

Ini pertama kalinya ia melihat nilai bounty setinggi itu.

Namun, pada detik berikutnya, tatapannya justru membeku.

Target tugas ini bukan sebuah Perusahaan, bukan pula rahasia bisnis.

Melainkan—

sebuah universitas.

Dan yang lebih kebetulan lagi, universitas tersebut adalah Hills University, tempat yang akan ia datangi dua bulan lagi.

Detik berikutnya—

Situs itu seolah benar-benar kehilangan kendali. Halaman-halaman terus berpindah dengan liar.

Pada akhirnya, seluruh jendela tertutup secara bersamaan. Di tengah layar hitam, hanya tersisa sederet angka berwarna merah menyala.

¥500.000.000

Jari Silvia berhenti di udara.

Lima ratus juta.

Jauh lebih besar daripada tugas sebelumnya.

Tugas seperti apa yang layak dihargai dengan uang sebesar ini?

Silvia terdiam selama beberapa saat. Pada akhirnya, ia tetap mengulurkan tangan dan mengekliknya.

Halaman perlahan dimuat.

Sederet tulisan hitam mulai muncul.

【Target Tugas: ……】

Napas Silvia seketika terhenti.

【Target Tugas: Hills University, Pusat Penelitian Bawah Tanah, Nomor Arsip A-001】

“Pusat penelitian bawah tanah?” Silvia bergumam pelan.

Matanya terpaku pada beberapa kata di layar itu. Keningnya semakin berkerut.

Hills University…

Pusat penelitian bawah tanah…

A-001…

Ia tidak pernah mendengar siapa pun membicarakan hal-hal ini.

Yang lebih aneh lagi…

Mengapa SpeedRush menjadikan sebuah pusat penelitian di dalam universitas sebagai tugas senilai lima ratus juta?

Telapak tangan Silvia masih bertumpu di atas mouse…

“Ding dong—”

Bel pintu tiba-tiba berbunyi.

Jari Silvia sontak berhenti. Halaman di layar seketika tertutup.

Ia menatap layar komputer yang sudah kembali menjadi desktop biasa selama beberapa detik dalam diam.

Silvia kemudian membuka pintu. Dan di sana berdirilah Kelvin Pollis dengan kedua tangannya yang dipenuhi kantong plastik.

Nelia berdiri tepat di belakang Kelvin. Kedua tangannya bertumpu di depan dada, sementara tatapannya terlihat sedikit tak berdaya saat menatap Silvia.

Seolah-olah sedang berkata:

Bukan aku. Aku tidak melakukan apa-apa. Dia datang sendiri.

Tatapan Kelvin mengembara saat melihat adiknya yang tampak terkejut. Ia sedikit mengangkat kantong-kantong di tangannya, “Aku membelikan kalian beberapa snack.”

Silvia dengan kaku mengangkat sudut bibirnya, “Terima kasih.”

Suasana seketika berubah menjadi canggung.

Keduanya hanya berdiri di tempat dan saling menatap tanpa tahu harus berkata apa.

Melihat suasana yang jelas-jelas tidak beres, Nelia buru-buru maju mengambil semua kantong dari tangan Kelvin dan meletakkannya di atas meja.

“Terima kasih atas traktirannya, Tuan Muda Kelvin.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!