Arga, seorang pemuda yang jenuh dengan hiruk-pikuk kota, memutuskan untuk pindah ke desa terpencil bernama Wening Sari. Desa itu tidak tercatat di peta, namun cerita tentang ketenangannya membuat Arga penasaran. Saat tiba, ia disambut oleh penduduk yang ramah, suasana alam yang asri, dan kehidupan yang tampak sederhana. Semuanya terasa terlalu sempurna, hingga membuatnya curiga ada sesuatu yang tidak wajar.
Seiring waktu, Arga mulai mengalami kejadian aneh: bisikan misterius dari hutan setiap malam, penduduk yang tiba-tiba menghilang saat bulan purnama, serta jam desa yang selalu berhenti tepat tengah malam. Dari penyelidikannya, Arga menemukan rahasia besar: Wening Sari adalah desa gaib, tempat manusia dan makhluk halus hidup berdampingan dengan perjanjian kuno yang tidak boleh dilanggar. Siapa pun yang mengetahui rahasia itu, tidak bisa pergi dengan mudah.
Kini Arga harus menentukan nasibnya—tetap tinggal di desa dengan segala misterinya, atau mencari jalan keluar meski nyawa menja
Episode 22
Laila.itu namanya. "Cas ndisek!.." laila mengangguk lalu segera pamit pergi, aku menatap kepergiannya dengan hati yang ntahlah. “Itu putri pak dalim?.. pak dalim mengangguk “Semata wayang pak?” "Nga, mereka kembar.." pak dalim menekan puntung terakhir ro kok yang telah pendek kedalam asbak yang terbuat dari bambu, hampir lima menit menunggu untuk mencairkan sedikit suasana. "Oh, dimana satunya pak?" "Itu-anu..." sebelum pak dalim berucap. laila datang dengan membawa ponsel ku ditangannya.
"Udah ngisi sepuluh persen mas.." aku mengangguk menghidupkan tombel on untuk menyalakan kembali beda pipih itu, tak butuh waktu lama, layar ponsel embali menyala. Tring Tring. Ratusan pesan beruntun memenuhi layar ponselku, bahkan puluhan panggilan dari nomor yang tak dikenal. Aku menekan logo ponsel pada aplikasi berwarna hijau itu. [Lee, pulang. Mamakmu nakok jangan terus awakmu !] [Lee, sampean neng endi saiki?. Pulang lee...] [lian... Mamak ngenteni koe lee, kok ndak ada kabar.]
[Angkat to lee, lee. Piye kabar mu saiki? Kapan pulang. Udah 2 bulan mamakmu nungguin, katanya sudah dekat!] [Angkat telpon pakde, iki pakde taiman!] Deg! Pakde taiman? adik kandung mamak. Masyaallah, berarti mamakku masih sehat dan hidup. "Allhamdulilah ya allah!.." aku berucap syukur, tak terasa bulir bening menetes begitu saja. "Kenapa?" pak dalim mendekat kearah ku "Alhamdulillah pak, mamak saya masih sehat. Dia lagi bersama pakde saya!" "Sampean yakin?.." "Yakin pak, Rumah pakde taiman beda desa cukup jauh dari sini !.."
"Alhamdulillah kalo begitu!.." "Tapi pak, bagaimana saya keluar dari desa ini? Dan bagaimana kalo nanti saya tetap di ganggu?.."
aku menarik nafas, bergidik ngeri jika harus Membayangkan apa yang akan terjadi. "bapak juga binggung kenapa sampean bisa masuk ke dalam desa ma ti itu., tapi seperti nya ada sesuatu yang ingin disampaikan padamu.!" "Sama saya?.." "Bisa jadi, mengingat baru sampean yang berhasil bebas dari tipu daya mereka.
Sedangkan sudah sepuluh tahun belakangan ini banyak orang yang hilang setelah terjebak selamanya di dalam desa itu..!" Deg! "Terutama, masih memiliki golongan keluarga yang sama dengan mereka..bapak fikir seperti nya ada sesuatu yang harus sampean ketahui" Deg "Ketahui?, tapi apa?" Pak dalim menarik nafas pelan, menerawang jauh ke gapura yang tak terlalu jauh dengan lesehan tempat kami berada "Sesuatu yang besar...
Bukan kah tadi sampean bercerita kalo masuk kembali ke sepuluh tahun yang lalu?" "Benar pak, saya melihat mereka semua di dalam keadaan rewang dan.." "Itu berarti mereka ingin memintamu mengetahui Segalanya!.." "Dan saya rasa sampean ada sangkut pautnya!" "Saya pak dalim?.." pak dalim menatap ku lekat, aku menunggu dirinya berucap meski terdengar samar orang-orang memanggil ku berkali-kali.
"Sepuluh tahun yang lalu, ada seseorang yang bersekutu dengan 1blis. Membuat perjanjian yang harus di tepati, Mencari manusia-manusia yang tak berdosa, membunuh puluhan orang yang tak bersalah demi kepuasan Hidup yg semu!.." Deg "dan sampean, harus mencari tahu siapa orang itu. Jika...." pak dalim mengantung ucapannya membuat rasa penasaran kian menjadi "Jika sampean mau keluar dalam keadaan masih bernyawa!" Brakkk! Aku terkejut bukan main, Mencari jawaban dari semua misteri ini? Itu Tandanya aku harus kembali ke sepuluh tahun yang lalu.
Mencari jawaban atas apa yang telah terjadi berpuluh puluh tahun yang lalu, itu mustahil!" logikaku seakan berbentrokan dengan apa yang kualami. "Hanya ada satu cara..." "Apa pak?.. "Kembali masuk ke alam mereka!,-" Astagfirullah "Sampean bercerita, jika mamak sampean diminta waktu dua hari. Itu artinya?" Tidak, tidak. Mamakku tak mungkin melakukannya.
"Jangan berbicara omong
kosong pak dalim, mamak bukan lah pena jahat!.." Pak dalim gegas bangkit "Tak ada yang menuduh mamak mu, tapi semuanya tak ada yang tak mungkin. Jika kamu ragu cari segera jawaban itu!" "Dan cari tahu, kenapa mamak mu bisa ada di alam mereka sedangkan tubuhnya ada di dunia nyata!..."
Deg "Dengar, Nak. Kehidupan punya misteri tersendiri! Kau akan paham jika kau tahu sendiri apa penyebabnya! Waktu mu tak banyak, waktu di alam mereka dengan waktu di dunia nyata itu berbeda!" Seketika mulutku
Terasa terkunci,
apa yang pak dalim katakan itu terasa benar apa Adanya, meski makhluk itu menyerupai
mamakku. Tapi aku yakin saat mamak bercerita tentang bukde yati, itu adalah mamakku yg asli. Tapi bagaimana mungkin, arwah seseorang bisa masuk dimensi lain? Sedangkan tubuhnya ada di dunia nyata "Akan aku cari tahu sendiri!..." lirihku. "permisi, mau beli bensin !" ucap seseorang membuyarkan lamunanku, gegas aku menoleh. Deg "Astagfirullah!..." Aku menganga, puluhan warga dengan luka bakar mengelupas menatapku tajam.
Kaki ku tiba2 kram, bau busuk dari daging bakar tercium. "A-allah!" "Astagfirullah, mas.
Kenapa?" laila memampah tubuhku, aku menatapnya Lamat setelah pandangan ku tertuju dimana para warga sempat hadir sejenak Menampakkan wajah mereka yang tersenyum Menyeringai. "E-ngak papa!" ucapku terbata, aku membuang pandangan ke hamparan sawah yang Langsung menghadap kearah lesehan,dan. "Gadis misterius?" aku menatap bayangan wanita yang juga menatapku, namun kali ini berbeda.
Tak ada senyuman disana, matanya setajam elang menatap ku lamat. Aku menelan saliva,.
'JANGAN MENATAP KU!' aku terkejut saat laila berteriak tepat di hadapan ku. Brak! "Astagfirullah! Kau bukan laila!" Berhenti menyalakan segalanya. Laila, wanita cantik dengan Jilbab merah mudanya terkejut setelah aku mendorong tubuhnya menjauh, aku gegas bangkit.
ntah mengapa suara teriakan yang begitu nyaring itu membuat kepalaku terasa berdengung. "Mas gapapa?" laila ingin meraih ku, namun secepat kilat aku mundur. Logika ku benar2di ha jar habis-habisan. Dalam kurun dua hari aku harus mengalami semua kejangalan itu, bahkan utk memastikan nyata atau tidaknya aku ragu. "Mas?" "Saya nggapapa, maaf membuatmu terkejut.."
aku gegas meraih helm lalu segera memakainya, aku harus cepat.
Semuanya harus terungkap, bagaimana pun mamak menunggu ku di alam nyata. Lagi pula aku tak mau jika harus terperangkap disini untuk selama-lamanya. "Mas Lian mau kemana?" Deg! Lian? bagaimana mungkin. "Dari mana kau tahu namaku?" aku memutar tubuhku, menatap manik mata wanita yang terlihat terkejut.bukan tanpa alasan aku bertanya hal demikian karena sejak awal bertemu aku tak menyebut namaku sedikit pun.
"Itu, anu.,-" laila mengamati kedua jarinya memainkannya seakan dirinya meredam sesuatu. "Kenapa?..." ucapku, "Saya tahu dari mimpi saya mas!" "Mimpi?" Laila mendongak, terlihat wajahnya yang sangat cantik. "Terdengar aneh, namun nyatanya saya sudah bertemu dengan mas lian. Walaupun di alam mimpi!" Deg! "Saya gak mengerti! ah iya, maaf waktu saya gak banyak. Saya harus pergi !" aku berjalan menjauh, namun aku merasakan jika laila mengejar langkahku.
jgn pacaran jika mmg dianggapnya tdk mampu secara materi. Agar tdk menyakiti