Sequel JUST MARRIED
BISA DIBACA TERPISAH!
(Last Eps Just Married nyeritain Zico kecil)
🚫Dilarang baca loncat-loncat bab!🚫
Akibat acara reuni SMA angkatan 28 yang diselenggarakan tepat saat pergantian tahun kemarin, Zee secara tidak sengaja bertemu kembali dengan Zico, mantan pacar yang dahulu ia campakkan karena sebuah alasan khusus.
Malam itu, Zico yang dingin tiba-tiba mengajak Zee minum berdua di meja terpisah. Keduanya yang sempat canggung pun kembali akrab. Lebih dari itu, keduanya menghabiskan malam bersama di sebuah kamar hotel president suite.
Menyebabkan hari ini, Zee dinikahkan dengan Zico sebab dirinya kedapatan hamil.
"Ha, sial! Malam itu, lo sengaja 'kan?" Zee menatap garang sang mempelai pria yang tengah tersenyum puas menikmati acara pernikahan.
"Kalau gue nggak gitu, lo akan kabur kaya waktu itu. Inget, Zee! Sekali lo pernah masuk ke hidup gue, jangan harap lo bisa keluar." Tegas Zico, sebelum akhirnya mengedipkan salah satu matanya dengan penuh kepuasan diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
...One Minute Without You...
Pagi-pagi sekali, Zico telah sampai di bandara. Tak sendirian, ia ditemani istri tercinta. Tidak ikut serta pergi berdinas ke Jepang memang, hanya mengantar sampai bandara. Tak lupa sang sekretaris, Dezan, yang posisinya berada tepat di belakang sang atasan.
Dengan berat hati, Zico melepaskan tangan Zee. Jam keberangkatannya tinggal sepuluh menit lagi. Dan Zico harus segera bergegas memasuki pesawat.
"Kamu pulangnya gimana?" Zico kembali meraih tangan Zee untuk digenggamnya erat. Ia masih belum siap meninggalkan Zee.
Dengan lembut, Zee mengusap surat hitam Zico. Bermaksud sedikit merapikannya. Senyuman manisnya menyungging cantik. "Aku pulangnya bisa naik taksi, kok. Sana, nanti ketinggalan pesawat!" Zee mencoba melepaskan genggaman tangan Zico. Namun yang terjadi selanjutnya malah Zico memeluk erat tubuhnya. Kecupan hangat kemudian mendarat di dahinya.
"Tunggu aku pulang, ya. Janji, nggak lama!"
"Hm. Nggak boleh lama. Nanti dedeknya kangen," Zee mengerucutkan bibir, lalu tertawa geli.
"Dedeknya, apa mamanya?"
"Ekhem. Maaf, Pak Zico! Pesawat kita ..." Dezan tak melanjutkan ucapannya. Laki-laki yang usianya tiga tahun lebih tua dari Zico itu memilih menunduk takut saat lirikan tajam Zico begitu patri menatapnya.
"Iya, Saya tahu. Nggak lihat Saya lagi pamitan dulu sama istri?"
"Zico, nggak boleh gitu! Kamu tuh galak banget, ya, jadi atasan?! Biasa aja balesnya jangan pake otot." Zee menyela cerewet. Tanpa sadar membuat Dezan menahan tawa. Pertama kalinya ia melihat atasannya yang galak diceramahi seorang perempuan, dan perempuan itu tak lain adalah istrinya sendiri.
"Iya, iya. Barusan refleks." Helaan napas gusar kemudian diembuskan. "Aku pamit dulu, ya, Sayang. Dedek, Papa pamit dulu, ya. Tunggu Papa tiga hari lagi." Sentuhan lembut di area perut menyentak Zee. Perempuan itu semakin menyunggingkan senyuman manis hingga membuat kedua pipinya merona.
"Di Jepang jangan macem-macem, ya, Papa! Awas aja matanya lirik cewek cantik, udah dipastiin dilarang tidur sekamar setelahnya."
Kening Zico mengernyit. "Ngapain lirik-lirik cewek lain? Udah punya bidadari, udik nggak diperluin." Lagi-lagi Zico menghela napas. "Aku duluan, Sayang!"
"Hm. Hati-hati!"
...****...
Pukul 7 lewat 30 menit, Zee sampai di rumah. Pagi-pagi begini suasana rumah masih terasa sepi. Tepat ketika Zee hendak menaiki tangga untuk sampai di kamarnya, perutnya tiba-tiba berbunyi. Teringat tadi pagi hanya menyantap dua lembar roti tawar dan segelas susu sebab ia dan juga Zico tidak sengaja bangun kesiangan.
Dengan langkah pasti, Zee berjalan menuju dapur. Tepat ketika membuka tudung saji, beberapa lauk berat telah tersaji. Sayangnya, Zee sedang tidak nafsu makan makanan berat saat ini. Zee ingin membuat telur orek sosis dan sayur seperti yang biasanya ia konsumsi tiap pagi sebelum berangkat mengajar sewaktu masih menjadi penghuni kost.
Bola mata Zee berbinar menatap deretan sayuran segar berbagai bentuk dan warna serta bahan makanan lain seperti sosis, bakso, daging merah, daging ayam, bahkan jenis ikan laut pun ada.
Ya ampun, isi kulkasnya orang kaya memang beda!
Zee jadi ingin memborong semua.
"Telornya dua, deh. Biar kenyang. Sosis satu, pake bakso kecil-kecil tiga, terus daun bawangnya juga sama sosin, aakk! Kirain nggak bakal ketemu di sini." Zee menggerutu gemas disela mengeluarkan satu persatu bahkan makanan dari kulkas.
Baru saja Zee menutup kulkas, tubuhnya terlonjak bahkan mulutnya ikut melatah saat sesosok perempuan berpenampilan lusuh nan kusut, berdiri tepat di belakang pintu kulkas.
Reaksi Zee sempat mendapat lirikan datar dari sang empunya yang tak lain ialah Alasha. Gadis itu menunduk dengan bibir yang mengerucut. Tangannya latas menarik gagang pintu kulkas, mengambil jus buah kemasan yang kemudian ia tuangkan ke dalam gelas.
Hanya itu.
Sedikit pun Alasha tidak berniat sekadar basa-basi dengan Zee. Kemungkinan terbesarnya adalah, gadis itu masih membenci Zee.
"Alasha, kamu udah sarapan?" Mau Alasha membencinya ataupun bagaimana, Zee harus mencoba akur sebab mereka tinggal seatap sekarang.
"Belum." Jawaban singkat yang anehnya membuat Zee tersenyum.
Ya, setidaknya gadis itu mau untuk sekadar menjawab pertanyaannya.
"Kamu suka orek telur nggak?" Pertanyaan Zee berikutnya dibalas lirikan mata. Zee sendiri pura-pura tidak sadar saja sebab ia tengah memotong bawang, sayuran dan lain-lain untuk menu sarapan paginya.
"Nggak." Hanya itu. Ya ampun, Zee jadi gemas sendiri mendengarnya.
"Ooh. Ya udah. Tadinya kalau suka mau sekalian bikin buat berdua. Tapi kalau nggak suka ya, nggak pa-pa." Selesai memotong bahan makanan, Zee lanjut mencari letak wajan dan spatula. Dilanjut mengumpulkan minyak, garam dan bumbu penyedap lainnya.
"Alasha mau nanya beberapa hal sama Kak Zee!" Ucapan itu terlontar tepat ketika Zee baru saja menghidupkan kompor. Mau tidak mau Zee memilih mematikannya lagi dan berdiri menghadap Alasha.
"Iya, mau nanya apa?"
Ekspresi Alasha masih begitu kaku. Dengusan napasnya terdengar sangat jelas di telinga Zee.
"Dulu kenapa Kak Zee putusin Kak Zico? Dan kenapa setelah sepuluh tahun berlalu, Kak Zee malah balikan lagi sama Kak Zico? Kak Zee tahu, nggak. Hidup Kak Zico sempat hancur gara-gara putus dari Kak Zee!" Zee mengerjap bahkan sukses dibuat bungkam oleh rentetan kalimat Alasha.
Terdengar kekehan sarkas yang membuat Zee semakin bungkam. "Kak Zee emang perempuan nggak punya hati, ya? Dulu seenaknya minta putus dari Kak Zico, dan sekarang? Malah munculin diri lagi dengan alasan hamil anaknya Kak Zico. Kak Zee bener-bener nggak punya malu, atau emang muka tembok?" Alasha mencerca panjang lebar. Tatapan dinginnya tak berbeda jauh dengan tatapan yang biasa Zico layangkan.
Benar. Zee memang perempuan tidak punya malu. Bukannya merasa menyesal, Zee malah bahagia saat Zico masih begitu mencintainya seperti dulu, bahkan lebih.
Decihan malas Alasha, sedikit menyadarkan Zee dari berbagai lamunannya. "Kalian terlalu maksain diri. Udah tahu nggak cocok. Oh, ya. Sampai kapan pun, Alasha nggak akan restuin hubungan kalian!" Setelahnya, Alasha melenggang dari hadapan Zee. Rona amarah dan dendam tampak begitu kentara lewat sorot matanya.
"Ternyata aku sedibenci itu sama Alasha." Zee menggigiti bibir bawahnya. Matanya tiba-tiba memanas dan berair. "Ekspresi Alasha harusnya adalah ekspresi yang diperlihatkan Zico." Zee tertawa sumbang. "Tapi pada kenyataannya, Zico malah bersikap seolah nggak ada hal buruk yang terjadi di antara kita."
...****...
Beberapa puluh menit setelah menyelesaikan sarapan dan kembali ke kamar, Zee mulai merasakan kehampaan. Ia yang biasanya selalu ditemani Zico ke manapun, kini terduduk malas seorang diri di tepian kasur. Sudut hatinya merindukan Zico namun pikirannya justru memikirkan ucapan Alasha beberapa waktu lalu.
Astaga, Zee lagi-lagi emosional! Air matanya menerobos memikirkan dua hal itu.
"Padahal belum lewat dua jam, tapi Mama udah kangen sama Papa kamu." Zee menunduk meratapi tonjolan kecil perutnya yang ia usap halus, sekalian mengajak janinnya berbicara.
Semakin bosan, Zee membuka galeri ponsel. Menggulir satu persatu foto Zico yang sebagian ia ambil tanpa sepengetahuan pemiliknya. Kekehan geli memenuhi wajah Zee. Sebuah ide cemerlang memenuhi kepalanya.
Zee tertawa geli melihat ulang pembaruan status WA-nya. "Ganteng banget siii, suami akuuu ... Iihh! Minusnya cuman satu, nyebelin." Gerutu Zee. Ketika ia berancang keluar dari aplikasi WA, beberapa pesan masuk beruntun membuat Zee mengurungkan niatnya.
Raya Bestod Sesad
》 Cieee, udh mulai kangen-kangenan, emm ...
Bu Desiii
》 Aduhh, penganten baru.
Kepsek Yth. Pak Edgar
》 Bu Zee, gimna kabarnya? Baik? Kami seluruh keluarga SMP Pertiwi 1 sdh mulai merindukan Bu Zee.
Dendra 9A
》 Ibu jahat! Pdhl ibu udh janji mau nungguin saya lulus, tpi knpa ibu malah nikah duluan?
"Ini kenapa pada reply SW gue semua?" Zee mengernyit heran, khususnya pesan reply dari salah satu siswa didiknya.
Zee menggeleng-gelengkan kepala. "Dendra, Dendra. Selera Ibu bukan berondong atuh." Satu persatu pesan dibalas Zee. Pesan yang paling pertama dibalas adalah dari Raya.
^^^Udh terlanjur, jdi nikmatin aja, hahahaa!《^^^
Dilanjut membalas pesan dari Bu Desi.
^^^Hehehee, lgi anget-angetnya,《^^^
Kemudian lanjut membalas pesan dari Pak Edgar.
^^^Saya baik, Pak. Besok pagi saya datang ngajar lgi, kok.《^^^
Dan terakhir dari Dendra, siswa kelas 9A yang bisa dibilang selalu bersikap terang-terangan bahwa remaja itu memiliki perasaan lebih terhadap Zee.
^^^Mnding kamu bljr yg rajin lgi. Tuh, Sania katanya suka sma kmu. Mnding kmu terima dia aja. Ibu ketuaan buat kmu:)《^^^
Zee memilih keluar dari aplikasi WA. Lanjut scroll aplikasi belanja online untuk menghilangkan kegabutannya.
"Ya ampun, ini lucu banget! Dedek, menurut kamu gimana?" Bola mata Zee berbinar saat sebuah sepatu bayi khusus perempuan lewat di berandanya.
Namun seketika itu juga, Zee tersadar akan sesuatu. "Tapi kalau ternyata Dedeknya cowok, gimana?" Lantas Zee menggeleng-gelengkan kepala seraya lanjut bergulir ke etalase berikutnya.
Scroll beranda aplikasi belanja online memang tiada duanya. Walaupun hanya scroll biasa dan bukannya checkout juga, mood Zee langsung ceria.
"Eh? Ini baso ikan, ya? Ya ampun, pengennn! Kok, bisa lewat beranda sih? Eh? Ini sosis bakar 'kan? Iihh, pengennn! Mana Zico nggak ada, lagi. Nyuruh siapa dong?" Zee cemberut dengan sesekali menelan ludah. Satu tangannya mengelus si jabang bayi dengan lembut.
"Ah, nggak tahu! Nyari sendiri aja, nggak tahan."
...****...
"Zee? Kamu mau ke mana? Rapih gitu setelannya?"
Sampai di penghujung tangga, sahutan dari Sharon, sang mama mertua, membagi fokus Zee. Senyuman manisnya mengembangkan seiring dengan Sharon yang juga tersenyum demikian.
"Itu, Zee mau ke luar sebentar, Mah. Pengen jajan." Adu Zee. Tak lupa mengelus si jabang bayi sebagai alasan mutlak.
Sharon mengangguk-angguk. "Sendiri?" Raut wajahnya berganti cemas. Tepat ketika Zee menangguk antusias, wanita paruh baya itu langsung berpikir keras. "Zico lagi dinas, ya? Em, mau Mama anter?"
"Nggak usah, Mah! Deket, kok, cuman ke depan. Boleh, ya, Mah?" Zee memasang raut melas. Berharap permintaannya disanggupi oleh sang mama mertua. Karena jujur saja, Zee sudah tidak tahan ingin makan baso ikan dan sosis bakar di pinggir jalan. Sekalian juga dengan seblak prasmanan.
Hm. Memikirkannya saja rasanya sudah membuat air liur menetes dari mulutnya.
"Ya udah. Tapi hati-hati, ya! Jangan lama-lama!"
Helaan napas lega lantas diembuskan. Anggukkan mantap pun turut Zee berikan. "Pasti, Mah. Nggak akan lama, kok. Kalau gitu Zee duluan, ya, Mah!"
"Hm. Hati-hati!"
Yes! Bisa jajan sepuasnyaaaa! Batin Zee bersorak gembira.
^^^To be continued...^^^
Edit: Tinggalin jejaknya kakak-kakak sekalian! Like, comment, vote and 5☆:* DILARANG BACA LONCAT-LONCAT BAB!!!
ternyata Alasha pernah suka sm Mondy 😁🤭🤭
kl Zico tau adek cewe satu satunya suka sm Mondy gmana ya.
duda hot😍😍😍😎😎
nerima ga tuh Zico 😅😅
giliran tau Fahmi bukan cucunya aja, lgsg nyari anaknya pak Edgar sm bu Dania.
kmana aja😤😤😤
knp jd ikut esmosi ini😡
siapa dia??🙄🙄🙄🧐🧐🧐
kayaknya bakal teka teki sampe besok ini,🙃🙃🙃
bener ga ka Mey🏃🏼♀️🏃🏼♀️
makanya tau apa yg zee pake dan suka 🤭🤭🙃🙃
duh gpp lah Zee, mumpung sm papa sendiri. minta apapun yg ga bs km dapetin dari papamu swaktu kecil.🥰
aku mah paling cm pake serum, trs sunscreen sm liptint aja. kondangan ga kondangan sama aja🤣🤣🤣
zico emang dah yaa.
bikin jantungan 2 cewek aja
untung aja belum dipukul pake panci sm Zee atau Alasha.
bisa bisa benjol dah itu kepala🤣🤣🤣
selamat menikmati palang merah ya Zico😂😂😂
tau tau tengah malem ada bunyi langkah kaki atau bunyi org bunyi bel, disangka hantu lagi.
pdhl zico,😂😂😂😂
atau bs bs d sangka maling trs d gebukin berdua😅🤣
tidak air mataku membanjir disini😭😭😭
pak Danu ternyata tdk seburuk itu dan selalu berusaha berjuang untuk anak dan wanita yg dia cintai
hanya keadaan dan smua org yg tdk mengharapkan mama Dania dan papa Danu bersatu. sampai akhirnya maut yg memisahkan cinta mereka🥺🥺🥺
bikin esmosi aja nih papanya pak Edgar. kl bukan orang tua, pgn d gantung dpohon toge boleh ga ka Mey👻👻😏😌
pasti karna beda kasta lagi deehh.
selalu masalah ini jd penghalang dua insan yg saling mencintai hanya perkara salah satunya bukan org yg setara atau sama sama kaya.
😤😤
kan kasian anak anaknya yg jd kena getahnya kalau permasalahan ini trs berlanjut😔
iya gpp ka Mey. kirain bakal hiatus sementara 😁😅
apa zico mau coba cari tau kebenaran tentang Mama Dania dan Pak Edgar dgn mendekatkan diri dr papanya pak Edgar🙄🙄
hmmm,, nggu lanjutannya aja laah😅😅
ibu ratu sejagad rmh marah, katanya ga usah plg aja sekalian🤣🤣🤣
gmana tuhh😁😁😁
mantaaapp, niat mau ngerjain Zee. malah Zico yg kena hukuman mutlak.
berangkat ke luar kota dan ga perlu balik lagi🤣🤣🤣🤣
harus cari tau itu Zico.
ada apa sm si ibu ular Tika itu 🧐
jangan jangan dia yg menjebak pak Edgar sm mama Dania atau 🙄🙄🙄
aahh sudah laah ditunggu lanjutannya aja ka Mey😅😁