Namaku Dwi Anjany,
Aku terlahir dari keluarga sederhana yang lahir didesa terpencil di Jawa Timur.
Aku menikah diusia yang sangat muda atas perjodohan dari orang tua,dikarenakan keterbatasan ekonomi aku dan suamiku merantau ke negri jiran.
Setelah sekian lama kami dirantauan,akhirnya kami bisa membuat rumah walau agak kecil namun aku tetap bersyukur karena bisa membuat rumah.
Tapi setelah satu tahun dari pembuatan rumah,suamiku mulai lain terhadpku,dia mulai dingin dan acuh tak acuh terhadapku.
Hingga akhirnya aku mendapat kabar dari temanku bahwa suamiku menikah lagi,awalnya aku tidak percaya. Tapi aku terus menyelidiki dan sampai akhirnya aku bisa melihat sendiri,aku menangis menahan rasa sakit hati karena aku harus dimadu.
Aku memaksa suamiku untuk menceraikan aku,mulanya dia tidak mau menceraikan aku. Tapi dengan segala usaha yang aku lakukan,suamiku akihrnya menceraikan aku.
Dan setelah masa iddahku selesai,aku dilamar oleh seorang laki laki yang ngakunya tidak punya istri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon monir al fadhil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menanggung Aib
Yati menjerit menangis mengiringi langkahnya Mas Hery yang semakin lama semakin menghilang dari padangannya,sedangkan Ibu Aira hanya mengernyitkan alisnya seraya berakata kepada Yati, "Ngapain kamu tangisi laki-laki yang tidak tau diri itu". Yati yang mendengarnya pun merasa jengkel kepada Ibunya. Sedangkan Indah anaknya Mas Hery hanya menangis sejadi jadinya,mungkin nalurinya sebagai Anak ia bisa merasakan kesedihan Ibunya yang di tinggal oleh Suaminya.
Sedangkan dirumah Bapak Ilham.
Bapak Ilham dan Ibu Aisyah selalu berharap kalau Anaknya akan baik-baik saja dengan Yati dan keluarganya,tapi tampa diduga oleh mereka. Kalau Mas Hery sudah berada di halaman rumahnya,dengan mata yang memirah karena habis menangis dan jalannya yang gontai karena lesu.
"Ummi...! Abi...! Saya pulang...!", Teriak Mas Hery dari teras rumahnya,sedangkan Abi dan Umminya yang mendegar pun langsung sontak kaget.
Mas Hery langsung masuk tampa menunggu jawaban dari kedua orang tuanya,ia menghampiri Abi dan Umminya lalu mencium punggung tangan kedua orang tuanya seraya duduk di samping mereka. Abi dan Umminya saling tatap sesaat,setelah Mas Hery duduk disela sela mereka dengan air mata yang menetes.
"Ada apa Her? Kenapa kamu menangis?" Tanya Umminya kepada Mas Hery,setelah melihat Mas Hery duduk sambil menghapus air matanya. Mas Hery hanya diam tampa kata,menahan kesedihannya.
"Iya ada apa Her...? Coba cerita sama Abi dan Ummimu ini..!", Timpal Abi-nya mencoba menelisik apa yang sebenarnya terjadi kepada Mas Hery.
Mas Hery yang mendengar kata Abinya itu langsung menceritakan semua apa yang dikatakan Ayah mertuanya dan istrinya,tampa mengurangi dan melebihi. Air mata Mas Hery kembali tumpah,setelah ia selesai menceritakan kepada kedua orang tuanya.
Abi dan Umminya pun ikut merasakan,apa yang dirasakan Mas Hery. Dan sebagai orang tua,mereka akan tetap membela Anaknya walau Anak itu berada ditempat yang salah. Apa lagi Mas Hery ini menurut mereka tidak bersalah baik di segi Agama atau Hukum,jadi orang tua Mas Hery tetap membelanya.
"Kalau apa yang dikatakan kamu itu benar,maka mulai malam ini kamu tidur disini dan tidak usah pulang lagi kerumah Istrimu...!". Kata Bapak Ilham kepada Mas Hery.
"Iya Her..! Aku setuju dengan keputusan Abimu...!". Timpal Ibu Aisyah kepada Mas Hery. Mas Hery hanya tersenyum tipis dengan keputusan kedua orang tuanya.
Mereka bertiga terus mengobrol tentang apa saja hingga perut Mas Hery berbunyi bertanda sedang lapar,karena Mas Hery tidak makan dari tadi siang. Ibu Aisyah yang mendengar itu langsung tertawa,dan menyuruh Mas Hery untuk makan kedapurnya. Mas Hery pun mengiyakan dan terus melangkah pergi,seraya mencari makanan di dapur orang tuanya.
Satu minggu telah berlalu,Mas Hery masih tetap tidur dirumah orang tuanya. Setiap hari Mas Hery selalu menghubungi Dwi,sekedar memberi tau apa yang terjadi dikampung sekaligus saling menanyakan kabar tentang mereka.
Hingga di hari itu,saat Mas Hery asik-asiknya berbicara dengan Dwi. Tampa di sadari oleh Mas Hery,Abinya telah menguping semua pembicaraannya dengan Dwi.
Setelah mendengar pembicaraan itu,Abinya Mas Hery lansung pergi menemui Istrinya yang sedang duduk diruang tamunya. Ia duduk di samping Istrinya,seraya menghembuskan nafas panjangnya.
"Ada apa Bi..?" Tanya Ibu Aisyah kepada Suaminya yang terlihat gelisah.
"A-anu Mik...! Barusan saya dengar Hery lagi bicara dengan istrinya yang ada di malaysia itu,Hery bilang akan berangkat lagi dan mau kembali kepadanya...!"
"Apaaaaa...?" Bentak Ibu Aisyah kepada Suaminya.
"Iya Mik..!"
"Saya tidak setuju Bi..!"
"Mau ditaruh dimana muka kita Bi..! Kalau Hery sampai kembali kepada Istrinya itu...!"
"Pokoknya Hery tidak boleh kembali kepada istrinya itu,dan kalau sampai dia kembali...! Maka saya tidak akan mengakui Hery sebagai anak...!".
Bapak Ilham yang mendengar perkataan istrinya itu hanya diam tampa kata,karena iapun tidak mau menanggung Aib.
Setelah selesai berbicara dengan istrinya,Bapak Ilham terus pergi meninggalkan istrinya seorang diri. Ia berniat untuk melakukan Aktivitas lain.
Mas Hery yang melihat Abinya keluar,ia berniat keluar juga untuk membesut Ibunya Dwi yang sedang sakit juga.
Mas Hery pamitan sama Umminya untuk keluar sebentar,Umminya pun mengiyakan kepergian Mas Hery.
Mas Hery pergi kerumah mertuanya,dengan menaiki sepeda motor yang ia pinjam dari tetangganya. Setelah setengah jam lebih perjalananya,Mas Hery pun sampai kerumah ibu Asiyah.Ibunya Dwi.
Kebetulan waktu itu dirumah Ibu Asiyah hanya ada Pamannya Dwi,yang sedang menjaga Ibu Asiyah.
"Assalamu Alaikum...!" Sapa Mas Hery seraya memasuki halaman rumah Dwi.
"Waalaikum Salam..!", Sahut Pamannya Dwi seraya keluar melangkahkan kakinya,ingin melihat siapa yang datang bertamu.
"Apa benar ini rumahnya Dwi Paman..?" Kata Mas Hery sambil menjulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Iya benar,ayo silahkan duduk...!" Sahutnya sambil menerima uluran tangan Maas Hery seraya bersalaman,Mas Hery pun terus duduk kekursi yang di tunjuk oleh Pamannya Dwi diteras rumahnya.
Pamannya Dwi masuk kedalam rumahnya sebentar,lalu ia keluar dengan Ibu Asiyah sambil di rangkul oleh Pamannya Dwi itu. Mas Hery yang melihatnya langsung berdiri dan meraih tangan Ibu Asiyah,lalu mencium punggung tangannya.
Ibu Asiyah pun menanggapi dengan senyuman,sedang Pamannya Dwi menaruh Teh di mejanya,seyara menghidangkan dan mempersilahkan kepada Mas Hery untuk meminumnya.
Mas Hery mengagukkan kepalanya saja sambil tersenyum tipis kepada mereka.
"Bu..! Maafkan kelancangan saya datang kesini..!" Kata Mas Hery,seraya menyeruput Teh yang di hidangkan oleh Pamannya Dwi.
"Memang kenapa naak..? Kamu siapa dan dari mana?", Sahut Ibu Asiyah dengan suara parau karena masih belum sehat.
"Saya Hery Bu,sua....
"Apa?" Pamannya Dwi memotong pembicaraan Mas Hery dengan ketus.
"Iya Bu,Paman..! Saya Hery Suaminya Dwi,saya datang kesini karena saya mau minta maaf sama Ibu dan juga Paman...! Jadi tolong maafkan saya Bu,Paman..!" Seru Mas Hery melanjutkan pembicaraannya.
"Dwi bagaimana kabarnya disana nak..?" Sahut Ibu Asiyah kepada Mas Hery
"Iya Bu...! Dia baik-baik saja disana,dan tadi saya sudah bicara dengannya...!.Jadi tolong terima permintaan maaf saya,dan tolong juga terima saya sebagai menantu Ibu..! Restui pernikahan kami Bu,Paman..!" Kata Mas Hery sambil meraih dan memegang tangannya Ibu Asiah seraya menatap wajah Ibu Asiyah dan wajah Pamannya dengan memelas.
Ibu Asiyah saling tatap dengan Adik kandungnya seketika,lalu mereka menatap tajam kepada Mas Hery. Mas Hery pun hanya menundukkan kepalanya dengan penuh harap agar Ibu Asiyah dan Bapak Ibrahim itu bisa menerimanya.
Ehem...!
Ehem...!
Pamanya Dwi berdehem sesaat,sebelum ia bicara sambil memegang pundaknya Mas Hery.
"Nasi sudah jadi bubur,kalaupun aku menentangnya..! Kalian bedua pun sudah menikah,jadi mau atau tidak mau aku harus menerimamu juga....!"
"Iya..! Yang penting kalian berdua bahagia,aku merestui kalian...!" Lanjut Ibu Asiyah menyambung pembicaraan Bapak Ibrahim
"Tapi ingat...! Kamu tidak boleh menyakiti Dwi,dan kamu juga harus adil memiliki dua Istri...!" Sambung Bapak Ibrahim lagi,mendengar kata-kata itu Mas Hery langsung memeluk Ibu mertuanya dan Pamannya seraya bergantian karena bahagia.
Lalu Mas Hery menceritakan kepada mereka berdua,kenapa bisa menikah dengan Dwi dan menceritakan tentang rumah tangganya bersama Yati.
hadeh halu banget! klu istri kerja jd kuli atau jd BABUUUUU. PANTES SUAMINYA BAWA,BECA,ATAU GEROBAKKK