Zha Yongjin, seorang Pemimpin Bangsa Naga yang terlahir kembali menjadi seorang anak kecil dengan latar belakang yang tidak diketahui. Dengan bantuan seorang kakek asing yang ditemuinya di tempat random, ia pun membesar dan mencaritahu sendiri latar belakang asli dari tubuh yang dirasukinya ini.
~Karya ini terinspirasi dari komik favorit Author~
______
Untuk pengetahuan pembaca yang telah membaca novel Season 1 dan Season 2-nya di novel sblmnya, kini kedua season itu akan digabung dalam novel ini.
Author juga akan menambah beberapa perubahan dari alur, dialog, dan juga mungkin dalam karakter.
Up 1 minggu 3-5 bab (Perubahan bisa terjadi sewaktu-waktu ketika Author sedang dlm mood)
Sekian, maaf jika deskripsinya pelit, karena Author lagi malas mengetik.
Selamat menikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕱𝖑𝖔𝖜𝖊𝖗𝖅𝖞𝖗𝖊𝖓𝖊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Ahreum
Pelayan itu kemudian kembali dengan pesanan spesial yang dimaksudkan itu.
Ternyata itu adalah makanan berprotein yang cocok untuk memulihkan tenaga dalam.
"Selamat menikmati." ucap pelayan itu, lalu pergi melayani pelanggan lainnya.
Namun mata ketiga pemuda itu tidak pernah terlepas darinya, dengan maksud masing-masing.
"Indah..." pikir Hwan-jae, "Sangat elegan... Apa dia juga pendekar?" pikir Seokjin, "Aku merasakan Aura familiar darinya..." pikir Raon-jun.
Di saat mereka mulai menyantap makanan mereka dengan tenang dan santai.
Tiba-tiba saja sekelompok pria asing memasuki restoran itu sambil membawa senjata tajam.
Tentu saja tidak ada yang akan tinggal diam.
Semua pelanggan yang tau bela diri mengeluarkan pedang mereka untuk berjaga-jaga.
Berbeda dengan Raon-jun, Seokjin dan Hwan-jae. Karena mereka di tempat paling jauh dari pintu, mereka tidak menyadarinya.
"Woi pemilik toko! Bayar hutangmu sekarang juga! Kami tidak menerima penundaan kali ini!" teriak salah satu dari kelompok itu.
"Ada apa?—" dengan cepat Hwan-jae berdiri, memegang pegangan pedangnya dan bersiap untuk menyerang.
Begitu juga dengan Seokjin, namun ia terlihat lebih tenang dari si tampan itu.
Semua pelanggan terlihat waspada, sementara si pemilik restorannya mencoba mengajak kelompok itu untuk berbicara.
"B-bagaimana jika kalian duduk dulu saja? Lebih baik jika menyelesaikan segalanya dengan tenang daripada-"
Bak!
Sebelum pemilik restoran itu melanjutkan perkataannya, ia mendapat tamparan yang keras hingga terpental jauh.
"Waktuku tidak banyak! Berikan 1 juta itu kepadaku sekarang!" bentak pemimpin kelompok itu.
Hwan-jae terlihat kesal, ia sangat ingin menyerang kelompok itu. Namun ditahan oleh Raon-jun.
"Biarkan saja, masalah mereka biar mereka yang selesaikan." ucap Raon-jun sambil terus mengunyah makanannya.
"T-tapi...!"
"Buat apa masuk campur? Toh, nanti malah memperparah keadaan." lanjut Raon-jun dengan tenang.
Namun semakin dibiarkan, kelompok itu malah semakin menjadi-jadi. "1 juta?... Bukankah hutangnya sudah lunas?..."
"BERISIK!!!" kesal karena dijawab, pemimpin kelompok it lagi-lagi menampar si pemilik tokoh hingga babak belur.
"Wah, ini mah memang harus dibantu." gumam Raon-jun tiba-tiba, namun cukup terdengar bagi orang terdekatnya.
"Sudah apa kubilang!" balas Hwan-jae, kemudian melangkah maju ke depan.
"Sebentar."
Terdengar suara seorang wanita yang menghentikannya. Suaranya tenang namun dingin, membuat kelompok itu terdiam.
"...Siapa wanita sialan... Oh!" tampak pemimpin kelompok itu mendapat ide, lalu ia kemudian tersenyum sinis.
"Aku akan mengurangkan 500 ribu jika wanita ini menjadi makan malamku." ucapnya.
Tanpa ragu-ragu, si pemilik toko langsung membalasnya. "Ya! Benar! Ambil saja dia! Dia--"
Buagh!
Pemilik restoran itu langsung mendapat tendangan yang kuat oleh Hwan-jae yang tak bisa menahan amarah, "B**ingan..."
"Ternyata dia pria sejati ya." "Padahal selama ini dia juga seperti pria itu..." Raon-jun dan Seokjin malah mengobrol.
"HAH! Lihatlah siapa ini! Mengganggu saja!" tanpa berpikir dua kali, pemimpin kelompok itu lalu menyerang Hwan-jae balik.
Dughhh!
Serangannya sangat dahsyat seperti ukuran tubuhnya, membuat Hwan-jae langsung terbang dari posisinya.
Suasana menjadi huru-hara setelah serangan itu. Kini kelompok itu harus menghadapi puluhan pendekar yang ada di restoran itu.
Namun, meskipun jumlah mereka tidak banyak. Kekuatan mereka yang luar biasa itu membuat puluhan pria dewasa tumbang.
Lalu, pelayan perempuan itu kemudian maju bersama pedangnya. Dengan posisi yang siap untuk menyerang.
"Semuanya mundur!!!" teriaknya, namun masih terdengar ketenangan serta keeleganan di nadanya. ELEGANTO.
Ia mengambil aba-aba sebelum menyerang. Menggenggam pedangnya erat, dengan tatapan yang tak pernah lepas dari lawannya.
Kemudian...
Shut— SLASHHH!!!
Ia menumbangkan pemimpin itu dengan sekali serangan. Serangan yang cukup elegan, dan...
Familiar.
"Eh?... Itu 'kan jurus buatanku?..." pikir Raon-jun, tidak salah lagi...
Pelayan eleganto itu ternyata menguasai jurus serangan yang dibuat Raon-jun saat ia masih menjadi Yongjin, Sang Raja Naga.
Itu bukanlah jurus biasa.
Melainkan jurus yang dibuat oleh Yongjin langsung, khusus untuk pengikut setianya. Seo Gyunghao.
Raon-jun dibuat tertegun melihatnya. Bagaimana bisa, jurus yang dibuat khusus untuk Gyunghao, Sang Pengikut Setia-nya.
Digunakan oleh seorang pelayan biasa?
Slashh!
Sekali lagi, pelayan itu menyerang pengikutnya. Menumbangkan sekumpulan pria kekar.
Begitu penjahat berhasil di tumbangkan, semua pelanggan menepuk tangan dan bersorak.
"W-wah... Pelaya itu bukan pelayan yang biasa-biasa." "Tidak hanya cantik, dia juga berbakat!" "Sepertinya aku jatuh cinta lagi."
Pelayan itu kemudian meminta maaf dan blablabla, lalu membersihkan semua tubuh tanpa kepala itu.
Semua pelanggan kembali makan dengan pesanan baru yang gratis, karena takutnya ada darah yang terciprat ke makanan mereka.
Sementara pemilik restoran itu, mendapat pandangan jijik karena aksinya sebelumnya.
Di tengah waktu makannya, pikiran Raon-jun sangat penuh.
"Seingatku, aku pernah berpesan ke Gyunghao bahwa selepas kematianku, dia harus pergi melarikan diri di sebuah tempat yang kusediakan bagi menjaga keturunannya."
"Yah, waktu itu aku tau betul bahwa akan ada bencana yang datang."
"Apa pelayan itu... Keturunannya? Aku juga sempat berpesan untuk mengajari keturunannya jurus itu agar suatu hari..."
"...Jika aku diberi kesempatan hidup lagi, aku bisa mengetahuinya..."
Ternyata, Yongjin dari dulu telah mempersiapkan kematiannya. Apa mungkin karena ia memang bosan hidup ya?
Syukurlah luka pemilik restoran tidak parah, dia lalu meminta maaf atas apa yang baru saja berlaku di restorannya.
Tidak lupa juga baginya untuk meminta maaf kepada si pelayan eleganto.
Lalu, Raon-jun mendapat sebuah ide gila. "Lebih baik jika memastikannya langsung daripada hanya berdiam diri."
"Toh, aku juga lagi butuh jasanya!" ucap Raon-jun tiba-tiba, mengagetkan kedua temannya.
Sebelum pulang, Raon-jun menemui sang pemilik restoran. "Tok, tok. Permisi~ ada yang ingin saya tanyakan."
"Ah ya, ada perlu apa?" tanya pemilik restoran itu.
...----------------...
"Ada apa?" tanya pelayan wanita itu, "Maaf mengganggu waktumu, tapi apa kau mau berjalan-jalan sebentar sambil mengobrol?"
Awalnya, pelayan itu terlihat ragu-ragu. Namun pada akhirnya ia menyerah begitu melihat senyuman intens Raon-jun yang jelas bermaksud bahwa ia tidak menerima sebarang penolakan.
"Saya tidak boleh sembarangan keluar bersama pria asing." jelas pelayan itu, namun tetap mengikuti Raon-jun keluar.
"Ya, santai saja. Aku juga memang tidak ada niatan untuk mengajakmu melakukan hal yang tidak bagus kok."
"Tugasmu hanya menjawab pertanyaanku dengan jujur." ucap Raon-jun dengan tenang.
Berbeda dengan gaya bicaranya dengan orang lain yang berisik dan blak-blakan, ia justru menjadi lebih tenang saat bersama pelayan itu.
"Apakah akan ada benih-benih cinta?" tanya Hwan-jae ke Seokjin, ternyata kedua temannya itu sedang bersembunyi di balik semak-semak sambil menonton.
"Jangan tanya aku, aku bukan dewa takdir."
"Siapa namamu?" tanya Raon-jun, melirik sekilas ke arah pelayan itu, "Ahreum..."
"...Marga?" Raon-jun memutar tubuhnya sepenuhnya ke Ahreum.
Awalnya gadis itu terdiam sejenak, lalu membalas dengan dingin, "Maaf, tapi saya tidak bisa memberitahu-"
"BENAR!!!" teriak Raon-jun dengan antusias tiba-tiba, nyaris membuat jantung Ahreum copot.
"Apa-apaan pria ini???" pikir Ahreum di batinnya, dengan ekspresi masam di wajah cantiknya.
"Namamu Seo Ahreum, benar?" tanya Raon-jun dengan penuh harap, "Bukan." Hancur sudah...
Raut wajah Raon-jun berubah seketika dalam sepersekian detik. Dari antusias menjadi dingin.
"Oh. Begitu. Baiklah. Terima kasih karena sudah meluangkan waktumu." balasnya datar, lalu pergi tanpa menoleh.
"Eh? Pria itu... Orang gila ya?..." pikir Ahreum, kaget.
Meskipun begitu, ia tidak bisa bohong bahwa ia juga sebenarnya penasaran dengan apa yang ingin dikatakan Raon-jun.
"S-sebentar..."
"Bagaimana denganmu? Siapa namamu?" tanya Ahreum, sedikit berkeringat karena bingung.
Raon-jun berhenti di tempatnya, lalu berbalik dengan ekspresi jijik. "HAA? Apa? Gak kedengaran. Jangan membuang waktu berhargaku. Katakan dengan keras!"
Tentu saja Ahreum akan semakin bingung dibuatnya, "Apa... Aku sedang berhadapan dengan manusia?"
Seokjin dan Hwan-jae yang sedari hanya menonton, perlahan kehilangan kesabaran.
"B****GAN ITU..." "Sabar, sabar..."
Karena rasa penasaran telah menguasai dirinya sepenuhnya, akhirnya Ahreum mengatakan yang sebenarnya.
"B-benar, kau benar! Margaku adalah Seo!" sahutnya, mengerutkan dahinya.
Raon-jun sekali lagi berhenti di posisinya. Lalu perlahan berbalik dengan ekspresi sinis yang menyebalkan.
"Benarkah~?"
dia beneran aneh
biar dapat kesannya