Genre: Fantasi Modern, Romantis-Komedi, Isekai
Elia said : Gue boleh jadi antagonis, tapi minimal tetep punya akhlak lah ya!
Gimana jadinya kalau seorang gadis Gen Z super santuy bernama Elia tiba-tiba terbangun di dalam dunia webnovel romansa klise yang sering dia baca? Alih-alih jadi tokoh utama yang disayang semua orang, Elia malah apes tingkat dewa: dia masuk ke tubuh si villainess (tokoh jahat) yang punya nasib tragis dan bakal mati mengenaskan di pertengahan cerita!
Novel itu berjudul "Gadis Desa dan Sang Taipan" sebuah kisah cinta menye-menye tentang gadis kampung polos yang dicintai setengah mati oleh seorang taipan muda nan kaya raya. Masalahnya, si taipan kaya ini adalah tunangan Elia di dunia tersebut. Berdasarkan alur asli, Elia harusnya mati karena terlalu bucin dan terobsesi merusak hubungan mereka.
"Yang bener aja?! Masak gue harus jadi villain? Mana mati di tengah cerita lagi. Sial banget!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Pelarian Mencekam dan Kepanikan Sang Penguasa
...~ HAPPY READING ~...
...|...
Sudah lewat tengah hari.
Jarum jam menunjukkan pukul satu siang.
Alex yang sejak tadi duduk di ruang kerjanya kembali melirik jam tangan mewahnya. Entah kenapa, sejak beberapa waktu lalu perasaannya terasa tidak tenang. Ada kecemasan liar yang mendadak mengusik dadanya. Ia mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja, lalu mencari satu nama di layar: Helena ❤️.
Panggilan pertama.
Tidak diangkat.
Alex mencoba menghubungi lagi untuk yang kedua kali.
Tetap tidak ada jawaban.
Pria itu mengerutkan kening tajam.
“Gak diangkat...” gumamnya pelan dengan suara berat.
Ada sesuatu yang terasa aneh dan mengganjal. Elia bukan tipe orang yang selalu mengabarinya setiap waktu. Namun, gadis itu juga bukan seseorang yang akan mengabaikan panggilannya berkali-kali tanpa alasan yang jelas.
Alex akhirnya berdiri dari kursi kebesarannya.
“Rayyan!”
“Ya, Bos?” sahut Rayyan sigap di balik pintu.
“Hubungi Meilin. Tanyakan Helena sekarang ada di mana.”
Rayyan mengangguk tegas. “Baik, Bos.”
Rayyan segera menghubungi Meilin. Sementara itu, Alex berjalan mendekati jendela kaca raksasa, menatap keluar menuju pemandangan gedung-gedung tinggi dengan pikiran yang mulai dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.
Lima menit kemudian, Rayyan kembali melangkah masuk.
“Bos.”
Alex langsung menoleh cepat. “Gimana?”
Rayyan memasukkan ponselnya ke saku jas. “Nona Helena sudah pergi dari kediaman sejak pukul sebelas tadi.”
“Pergi ke mana?”
"Nona Meilin bilang Nona Helena mau ke kantor Anda.”
Alex terdiam sejenak. “Ya, aku yang memintanya untuk menemui ku. Helena pergi sendirian?”
“Iya, Bos.”
Raut wajah Alex berubah semakin serius dan mengeras. “Lacak nomor teleponnya sekarang.”
Rayyan mengangguk. “Baik, Bos.”
“Sekarang!” tegas Alex mutlak.
“Siap!”
Tanpa berpikir panjang, Rayyan langsung meninggalkan ruangan dan berlari menemui Rayanza, saudara kembarnya di divisi IT.
“Ranza!”
Rayanza mendongak mengangkat kepala. “Apa?”
“Bos minta kita lacak nomor Nona Helena.”
Rayanza langsung mengambil ponsel dan peralatan peretasnya. “Kasih nomornya.”
Sementara kedua bersaudara itu mulai bekerja cepat melacak sinyal, Alex di ruangannya kembali mengambil ponsel di tangan. Ia mencoba menghubungi Elia sekali lagi, berharap suara gadis itu menyapa di seberang sana.
Tetap tidak ada jawaban.
Alex menatap layar ponselnya beberapa detik.
“Semoga nggak terjadi sesuatu yang buruk sama kamu...”
Nada suaranya kali ini terdengar jauh lebih pelan, sarat akan ketakutan yang merayap halus. Tanpa buang waktu lagi, ia langsung memutar nomor Arton, keponakannya.
“Arton—”
“Bos!” potong Rayyan tiba-tiba. Suara langkah kaki Rayyan terdengar tergesa-gesa dari arah pintu.
Alex langsung menoleh cepat. “Ketemu?”
“Ketemu, Bos!”
“Di mana?”
“Nona Helena terakhir terdeteksi berada di pinggiran Kota A. Tepatnya di sekitar sebuah bangunan pabrik tua yang terbengkalai.”
Alex langsung mengerutkan keningnya dalam-dalam. “Sedang apa Helena di situ?”
Rayyan belum sempat menjawab ketika Rayanza menyusul masuk membawa informasi tambahan yang jauh lebih mengejutkan.
“Bos, kemungkinan besar Nona Helena diculik.”
Suasana di dalam ruangan seketika berubah tegang dan mencekam. Alex menatap Rayanza dengan tatapan tajam membunuh.
“Apa?”
Rayanza menarik napas panjang. “Satu bulan terakhir ini banyak terjadi penculikan secara terang-terangan di kawasan Kota A. Para pelakunya diduga preman lokal yang sudah beberapa kali keluar masuk penjara.”
Alex mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. “Dan polisi?”
“Belum banyak yang bisa dilakukan. Yang lebih aneh, masyarakat sekitar juga kelihatannya nggak berani menggagalkan aksi mereka.”
“Kenapa?”
“Itu yang belum saya tahu, Bos. Saya masih menyelidikinya. Termasuk alasan para korban diculik dan kenapa warga memilih tutup mata.”
Alex langsung menyambar jasnya dari sandaran kursi. “Ranza, terus selidiki!”
“Baik, Bos.”
“Rayyan, ikut saya!”
“Siap!”
Alex menoleh sepintas kepada Jeslin. “Jeslin, tolong handle kantor selama saya nggak ada.”
“Baik, Bos.”
Sebelum Alex melangkah keluar ruangan, suara Arton akhirnya terdengar menyahut dari sambungan telepon yang masih terhubung di genggamannya.
“Paman...”
“Temui aku di bundaran kota sekarang!” jawab Alex cepat tanpa basa-basi.
“Aku tahu. Aku dengar semuanya,” sahut Arton di seberang sana.
Arton memang tidak menyukai Helena. Namun sekarang gadis itu adalah tunangan pamannya. Dan kalau sampai seorang Alex Veradoux turun tangan sendiri secara langsung, berarti masalah ini bukanlah sesuatu yang bisa dianggap sepele. Arton bergerak membantu bukan karena Helena, melainkan karena rasa hormatnya pada Alex.
Sementara itu, di pinggiran Kota A...
Bangunan terbengkalai itu berdiri menyendiri jauh dari keramaian. Cat dindingnya sudah mengelupas parah, beberapa kaca jendela pecah berantakan, dan rerumputan liar tumbuh tinggi memagari sekelilingnya.
Di salah satu ruangan sempit yang pengap dan lembap, dua gadis duduk berdampingan di lantai dengan kedua tangan terikat ke belakang.
Elia menggerakkan pergelangan tangannya perlahan-lahan. Tali tambang yang mengikatnya terasa mulai sedikit melonggar akibat gesekan terus-menerus.
Ia melirik gadis di sebelahnya. “Psst!”
Leila menoleh.
Elia mendekatkan wajahnya, berbisik sangat pelan. “Oke, lepasin sekarang.”
Leila menatap tali di tangan Elia dengan cemas. “Gimana?”
“Tali gue udah mulai longgar, lu bisa tarik pelan-pelan,” ujar Elia memberikan arahan.
Leila bergerak dengan sangat teliti dan hati-hati. Jemarinya menarik ujung tali yang kendur hingga akhirnya berhasil melepaskan belenggu di tangan Elia.
“Yes! Lepas!” bisik Elia bersorak gembira tanpa suara.
Leila mengangguk legah. Dengan cekatan, Elia ganti membantu melepaskan ikatan tali di tangan Leila.
Begitu keduanya bebas dari belenggu, mereka tidak langsung nekat berlari keluar. Mereka tahu betul, satu kesalahan kecil saja bisa membuat mereka tertangkap kembali oleh komplotan preman itu.
Elia mengedarkan pandangan menyisir seluruh sudut ruangan. Matanya kemudian terhenti pada sebuah jendela kecil di bagian atas dinding belakang ruangan.
“Itu!”
Leila ikut menoleh ke arah yang ditunjuk Elia. Jendelanya memang tergolong kecil dan letaknya lumayan tinggi.
“Gimana kita naik nya?” tanya Leila ragu.
Elia langsung berjongkok di dekat dinding. “Lu naik ke badan gue. Buruan!”
Leila ragu sejenak. “Tapi...”
“Cepat!” desak Elia.
Akhirnya Leila menginjak bahu Elia dengan hati-hati. Ia meraih bingkai jendela dan mencoba mengangkat setengah tubuhnya ke atas. Namun beberapa detik kemudian, gerakan Leila terhenti.
“Bisa turun dulu?” ujar Leila.
Elia mendongak bingung. “Kenapa?”
“Kita nggak bisa langsung melompat turun begitu aja.”
Elia ikut melihat ke luar. Benar saja, jarak dari jendela ke permukaan tanah di luar sana ternyata cukup tinggi dan berbahaya. Pandangan kedua gadis itu kemudian beralih mengamati tumpukan kayu bekas di sudut ruangan. Meja dan kursi lama yang sudah rusak berserakan di sana. Beberapa memang sudah lapuk, tetapi masih cukup kokoh untuk dijadikan pijakan.
“Pakai itu!”
Mereka bekerja cepat dan senyap. Sebuah meja digeser mendekati dinding, disusul meja lain yang ditumpuk di atasnya. Satu kursi diletakkan paling atas sebagai pijakan tambahan. Mereka berhasil membuat tangga seadanya.
Elia kemudian menoleh ke arah pintu utama penyekapan. “Gue juga bakal ganjel pintunya.”
Ia menarik beberapa meja rusak yang berat lalu menumpuknya rapat-rapat di depan pintu sebagai barikade. “Buat jaga-jaga kalau mereka tiba-tiba mendobrak masuk.”
Leila mengangguk paham. “Udah?”
“Udah!” Elia menunjuk tumpukan meja di dekat jendela. “Buruan, lo duluan!”
Leila memanjat naik perlahan-lahan. “Pelan-pelan...”
“Aku turun!” bisik Leila dari luar.
Leila berhasil mendarat di atas tanah dengan selamat. Ia segera melihat ke atas jendela. “Sekarang kamu!”
Elia mengangguk. Ia naik meniti tumpukan meja lalu meloloskan tubuhnya keluar jendela. “Pelan...”
Lalu—
Bruk!
Suara benturan pelan terdengar saat kaki Elia mendarat di tanah.
Keduanya langsung membeku di tempat, menahan napas. Elia menoleh waspada ke arah dinding bangunan. Tidak ada suara teriakan dari dalam.
“Masih aman,” bisik Elia lega. Ia segera menggenggam jemari Leila erat-erat. “Ayo!”
Mereka berlari kencang memutari belakang bangunan, menyusup masuk ke area yang dipenuhi semak belukar dan pepohonan rimbun. Mereka terus berlari tanpa berani menoleh sedikit pun ke belakang.
“Lewat sini!” Elia menarik Leila ke arah perbukitan hutan yang lebih dalam.
Namun tiba-tiba Elia mendadak berhenti bergerak.
“Sttttt!”
Leila ikut membatu. “Ada apa?”
“Denger...”
Suara raungan mesin kendaraan terdengar samar dari kejauhan.
Brummm... Brummm...
Elia langsung menarik tubuh Leila bersembunyi di balik batang pohon besar dan rimbunnya semak-semak. Sebuah mobil minibus perlahan muncul dari balik tikungan jalan tanah.
Leila menatap kendaraan itu dengan wajah pucat pasi. “Mobil itu...” Tangannya mulai gemetar hebat karena ketakutan.
Elia menyadarinya dan meremas tangan Leila. “Tenang...”
“Tapi kalau itu mereka gimana?”
“Lo nggak boleh panik!” Elia menatap mata Leila dengan sangat serius. “Semakin lo panik, semakin banyak energi lo yang terbuang percuma.”
Leila berusaha menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.
“Kita masih harus lari. Gue nggak mau ketangkep lagi!” tegas Elia.
Elia kembali mengintip mobil tersebut dari balik pohon. Kendaraan itu melintas semakin dekat. Mereka menundukkan kepala dalam-dalam sambil menahan napas.
Beberapa detik yang menegangkan berlalu. Mobil tersebut akhirnya melewati jalan di depan mereka tanpa berhenti ataupun memperlambat lajunya. Suara mesinnya perlahan-lahan menyayup dan menjauh.
Elia mengintip sekali lagi. “Udah jauh.” Ia kembali menggenggam tangan Leila. “Lagian di belakang tikungan ini, posisi kita nggak akan kelihatan dari jalan.”
Leila mengangguk paham.
Elia menatapnya dalam-dalam. “Siap?”
Leila menarik napas panjang, mengumpulkan sisa keberaniannya. “Siap!”
“Ayo!”
Mereka kembali melanjutkan pelarian menembus pepohonan.
Sementara itu, di bangunan terbengkalai tempat mereka disekap tadi—
Kepanikan hebat mulai menyebar di antara anggota komplotan.
Pintu ruangan didobrak dan dibuka secara kasar dari luar. Boni melangkah masuk dengan wajah garang. Tatapannya langsung tertuju pada sudut ruangan yang kosong melompong. Tidak ada siapa-siapa di sana, hanya sisa tali yang tergeletak di lantai dan sebuah jendela kecil di atas yang terbuka lebar.
“Apa-apaan ini?!” Boni membanting pintu kayu hingga pecah. “Bodoh! Kenapa kalian bisa kehilangan mereka?!”
Salah satu anak buahnya langsung menunduk gemetar. “Maaf, Bos! Kami nggak nyangka mereka bakal kabur lewat jendela itu...”
Boni menunjuk jendela kecil itu dengan emosi membumbung tinggi. “Jendela itu?!”
“Iya, Bos...”
“Jams!” panggil Boni murka.
“Ya, Bos!”
“Lo pikir jendela setinggi satu meter itu tinggi, hah?!” bentak Boni tepat di depan wajah anak buahnya.
Jams menelan ludah ketakutan. “Maaf, Bos...”
“Cari mereka sekarang!” Boni menunjuk seluruh anak buahnya dengan tatapan membunuh. “Jangan sampai mereka lolos dari area ini!”
“Baik, Bos!”
“Pelanggan akan tiba lima belas menit lagi!” Nada suara Boni semakin meninggi dan menggelegar. “Jangan sampai barangnya nggak ada ketika mereka datang! Kalau sampai transaksi ini gagal, kita semua bisa habis!”
Jams dan anak buah lainnya langsung berpencar panik. Mereka berlarian keluar dari bangunan dan mulai menyisir seluruh area sekitar pabrik. Tanpa mereka sadari, kedua gadis itu sudah berlari cukup jauh meninggalkan lokasi penyekapan.
Tidak lama kemudian, Elia dan Leila akhirnya berhasil keluar dari area perhutanan dan sampai di tepi jalan raya yang sepi. Mereka berhenti sejenak untuk mengumpulkan napas. Keduanya terengah-engah dengan tubuh memburu.
Leila memegangi kedua lututnya yang gemetar. “Kita... masih jauh?”
Elia memandang sekeliling jalanan yang asing. “Sial...”
“Kenapa?”
“Gue nggak tahu ini di mana.”
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara deru kendaraan. Sebuah mobil bak terbuka muncul perlahan dari balik tikungan. Di bagian belakangnya terdapat tumpukan karung-karung berisi sayuran segar.
Elia tanpa ragu langsung maju dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. “Pak! Tolong!”
Mobil bak itu perlahan melambat dan berhenti di pinggir jalan. Seorang pria paruh baya dan istrinya duduk di dalam kabin depan. Pria tersebut menurunkan kaca jendela.
“Ada apa, Nak?”
“Tolong...” Elia berusaha mengatur napasnya yang memburu. “Kami butuh tumpangan.”
Sang istri memperhatikan kondisi kedua gadis tersebut dari balik jendela. Pakaian mereka tampak acak-acakan dan kotor, rambut mereka kusut, dan wajah mereka berdebu. Ia melirik suaminya iba. “Pak...”
Pria itu diam berpikir beberapa detik. Kemudian ia mengangguk mantap. “Naiklah ke belakang.”
“Terima kasih banyak, Pak!”
Keduanya segera memanjat naik ke bak belakang. Elia dan Leila segera duduk merunduk di antara tumpukan karung sayuran agar tidak terlihat dari luar. Mobil pun kembali melaju menyusuri jalan raya.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang menegangkan. Sampai akhirnya Leila menoleh pada gadis yang sejak awal telah berjuang bersamanya itu.
“Terima kasih sebelumnya...”
Gadis itu menoleh.
“Tapi aku belum tahu nama kamu,” lanjut Leila. Untuk pertama kalinya, mereka memiliki kesempatan untuk benar-benar berkenalan.
Gadis itu menatap Leila lalu menjawab singkat. “Helena.”
Leila mengangguk-angguk. “Helena...”
“Iya.”
“Aku Leila.”
Helena menatap Leila sebentar. “Leila.”
Keduanya akhirnya saling melemparkan senyum tipis. Bukan karena keadaan mereka sudah sepenuhnya aman dari bahaya, tetapi setidaknya sekarang mereka bukan lagi dua orang asing yang melarikan diri tanpa nama.
Helena kembali berdiri sedikit dan memperhatikan situasi sekeliling. “Belum ada perkampungan...” gumamnya.
Sementara itu di dalam kabin depan, pasangan suami istri pemilik mobil tengah berbisik-bisik pelan.
“Dua gadis itu kasihan sekali ya, Pak,” ujar sang istri iba.
“Iya, Bu.” Sang suami melirik spion samping. “Sepertinya mereka salah satu gadis yang diculik Boni dan komplotannya.”
Istrinya kaget dan langsung menoleh. “Boni?”
Pria itu mengangguk yakin. “Dari gerak-geriknya yang ketakutan, mereka pasti baru saja berhasil kabur.”
Sang istri terlihat cemas dan khawatir. “Tapi Pak... apa nggak apa-apa kita membantu mereka?”
Pria itu terdiam sejenak sembari mengemudi. “Kita turunkan mereka di desa depan saja.”
“Kenapa?”
“Boni dan komplotannya pasti sedang menyisir jalanan mencari mereka. Kalau kita bawa mereka terlalu jauh, kita bisa ikut terseret masalah preman-preman itu.” Pria itu kembali melirik spion. “Setidaknya kita sudah berusaha membantu semampu kita.”
Sang istri akhirnya mengangguk mengerti.
Sepuluh menit kemudian, mobil bak terbuka itu berhenti di tepi sebuah desa.
“Kalian turun di sini ya, Nak,” panggil sang suami.
Helena dan Leila segera memanjat turun dari bak mobil. Sebelum mereka beranjak pergi, sang istri menyerahkan dua botol air mineral dari dalam kabin.
“Bawa ini untuk minum.”
Leila menyambutnya dengan kedua tangan. “Terima kasih banyak, Bu.”
“Jaga diri kalian baik-baik.”
Helena mengangguk penuh rasa terima kasih. “Terima kasih, Pak, Bu.”
Mobil bak sayur itu pun kembali melaju meninggalkan perbatasan desa. Helena mengamati suasana sekelilingnya dengan waspada. Beberapa warga desa mulai lalu-lalang dan memperhatikan penampilan mereka yang lusuh. Ada perumahan dan deretan toko kecil, tetapi justru keramaian itu membuat Helena merasa tidak nyaman.
Ia menoleh kepada Leila. “Ayo.”
Leila mengangguk setuju. Mereka melangkah cepat menjauhi pusat keramaian desa.
Setelah berjalan beberapa langkah, Helena mengangkat pergelangan tangannya. Jam tangan pintar yang melingkar di sana masih menyala. Ia mencoba mengakses menu darurat untuk menghubungi Alex.
Layar jam tangan itu berkedip-kedip sebentar. Tidak ada koneksi.
Helena mencoba sekali lagi dengan cemas. Tetap gagal.
“Sial!” Helena menatap layar jam tangannya dengan geram. “Jaringannya lemah banget di sini!”
Leila menghentikan langkah dan membuka salah satu botol air mineral. “Untung saja ibu tadi setidaknya memberikan kita dua botol air minum.”
Leila meneguk air itu beberapa kali untuk membasahi kerongkongannya yang kering. Ia lalu menyodorkan botol itu pada Helena. “Minum dulu.”
Helena menerimanya. “Thanks.”
Setelah meneguk air, Helena kembali melirik ke arah pemukiman desa di belakang mereka dengan cemas. “Kita nggak bisa bersembunyi di situ.”
Leila mengangguk paham. “Aku juga merasa begitu. Terlalu berisiko.”
Keduanya kembali melanjutkan langkah kaki. Namun kali ini, Leila yang berjalan mengambil posisi di depan. Ia menggenggam jemari Helena dengan erat.
“Hel, ayo! Jangan kelamaan berhenti!”
Helena sempat terpaku sejenak menatap genggaman tangan mereka yang saling menguatkan. Kemudian ia mengangguk mantap. “Ayo!”
Leila terus memimpin jalan melangkah maju. Mereka menapaki jalanan setapak yang semakin sepi menuju area luar desa.
Namun keduanya sama sekali belum menyadari...
Bahwa anak buah Boni masih terus menyisir daerah sekitar dengan brutal. Dan di saat yang bersamaan dari arah pusat Kota A, Alex, Rayyan, dan Arton sedang memacu kendaraan mereka menuju lokasi yang sama dengan kecepatan tinggi.
...Bersambung 🫰🏻🤗...
kamu keren wuw ☺👍
hati2 ya kalian semua /Determined/