Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.
Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.
"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.
Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22 : Bukan perjanjian, tapi pilihan.
Pintu ruang kerja Matteo tertutup rapat di belakangnya, bunyi klik kunci yang diputar terdengar nyaring memutus segala kemungkinan gangguan dari luar. Ruangan itu luas, berbau kulit mahal dan cerutu yang belum lama dinyalakan, namun kini terasa pengap dan penuh ketegangan yang tertahan.
Matteo berdiri sejenak di belakang pintu, napasnya masih memburu, urat di lehernya menonjol menahan amarah yang masih meluap-luap akibat peristiwa di mansion Salvatore tadi. Wajahnya masih merah padam, namun perlahan ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Bukan untuk memaafkan, melainkan untuk menyusun rencana balasan yang lebih sempurna dan mematikan.
Ia melangkah berat menuju meja kerja besar yang terbuat dari kayu jati hitam pekat, permukaannya mengilap memantulkan cahaya lampu gantung yang redup. Di sekelilingnya tertata rapi berkas-berkas dokumen, ponsel, dan pena emas. Semua benda yang melambangkan kekuasaan, namun malam ini terasa belum cukup untuk mengalahkan Damian.
Tanpa peringatan, tangan kanannya menumpu kuat di tepi meja, lalu dengan satu gerakan kasar dan penuh kekuatan, ia mendorongnya.
SRETTT... BRAK!
Bunyi gesekan kayu dengan lantai marmer terdengar nyaring dan panjang, diikuti bunyi keras saat meja itu bergeser cukup jauh dari posisi semula. Dokumen-dokumen yang tertata rapi berserakan, beberapa map jatuh ke lantai, ponselnya tergelincir hingga hampir jatuh ke tepi, dan pena emasnya menggelinding jatuh ke lantai dengan bunyi berdentang.
Matteo tidak peduli. Ia tidak berhenti di situ. Kakinya menendang sisi bawah meja sekali lagi, membuatnya bergeser lebih jauh lagi, seolah benda mati itu adalah perwujudan Damian yang ingin ia tendang dan geser dari posisi tertinggi itu.
"Kau pikir kau menang, Damian?" geramnya pelan namun penuh amarah yang tertahan, matanya menatap kosong ke permukaan meja yang kini miring sedikit akibat dorongannya. "Kau pikir menodongkan senjata di depan wajahku akan membuatku mundur begitu saja? Kau salah besar!"
Ia menarik napas kasar, lalu berjalan memutar mengelilingi meja yang kini posisinya tidak lagi lurus itu. Tangannya menyisir rambutnya ke belakang dengan kasar, mencoba mengatur napas yang masih belum teratur. Perlahan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang dingin dan mengerikan.
"Kau punya kekuatan senjata, kekuatan orang-orangmu..." gumamnya pelan, seolah berbicara pada bayangan di dinding. "Tapi aku punya kelemahan terbesarmu, Damian. Dan kelemahan itu bernama Celine... dan ibunya."
Ia berhenti di sisi meja yang tersisa, lalu menekan satu tombol tersembunyi di bawah tepi meja yang baru saja ia geser itu. Laci rahasia yang biasanya tersembunyi di balik panel kayu itu terbuka perlahan. Di dalamnya tersimpan selembar foto Celine bersama ibunya, dan selembar kertas yang berisi alamat rumah sakit serta nomor kamar yang sudah ia ketahui.
"Aku harus mencari cara untuk bisa membawa wanita ini," bisiknya dingin sambil meraih foto itu, menatap wajah Elena yang tersenyum di dalamnya. "Romano... dia pasti bisa membantuku."
-
-
-
Damian mendorong pintu kamar perlahan hingga terbuka, bunyi engselnya nyaris tak terdengar. Cahaya temaram dari lampu meja rias menyelimuti ruangan lembut, menciptakan bayangan halus di permukaan lantai kayu.
Celine duduk tegak di depan cermin besar yang berbingkai perak. Gaun yang tadi ia kenakan sudah tergantung rapi di lemari, kini ia mengenakan lingerie sutra hitam yang jatuh lembut di lekuk tubuhnya, kain tipis itu menampakkan siluetnya dengan sederhana namun elegan. Rambutnya terurai bebas, menyebar di bahu, dan matanya menatap pantulan dirinya sendiri di kaca, seolah sedang menimbang sesuatu yang berat di dalam hati.
Saat melihat bayangan Damian muncul di cermin, ia tidak langsung menoleh. Jari-jemarinya yang diletakkan di pangkuan saling meremas pelan.
Damian melangkah mendekat, langkahnya tenang namun terasa berat, lalu berhenti tepat di belakang kursinya. Ia tidak langsung menyentuh, hanya menatap pantulan wanita itu dengan tatapan yang sulit dibaca — lembut, namun terselip kekhawatiran yang dalam.
"Kau belum tidur?" tanya Damian pelan, suaranya rendah namun terdengar jelas di keheningan kamar.
Celine menghela napas panjang, lalu perlahan menoleh ke belakang, menatap mata Damian langsung. Pipi samar merona, namun tatapannya tegas, seolah kata-kata yang akan keluar ini sudah ia susun sejak lama.
"Damian..." mulainya pelan namun jelas, "Aku tahu pernikahan ini pada awalnya hanyalah sebuah perjanjian. Aku sadar posisiku, dan aku paham betul batas-batas yang ada di antara kita."
Ia berhenti sejenak, menelan ludah sebelum melanjutkan, suaranya sedikit bergetar namun tetap teguh.
"Aku tidak bisa mengharapkan lebih dari sekedar perlindungan dan status yang kau tawarkan di awal. Aku tidak berhak menuntut perasaan yang mungkin tidak pernah ada di hatimu. Dan aku tidak mau membiarkan diriku menaruh harapan yang kelak hanya akan menyakitiku sendiri."
Damian terdiam sejenak, matanya menyelidik wajah wanita itu, seolah mencoba memastikan apakah itu benar-benar yang ia pikirkan, atau sekedar rasa tidak percaya diri yang masih tersisa. Perlahan ia berjongkok di samping kursinya, menangkup kedua tangan Celine yang terasa dingin di genggamannya yang hangat.
"Celine..." bisik Damian lembut, "Siapa yang bilang kau hanya berhak atas perlindungan saja? Siapa yang menetapkan batas itu?"
Celine menunduk, menatap tangan mereka yang bertaut, lalu mengangkat wajah kembali menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca namun tetap berusaha kuat.
"Kenyataannya memang begitu, kan?" ujar Celine. "Aku hanyalah wanita biasa yang kau nikahi demi memenuhi syarat keluarga. Jadi jangan membuatku merasa lebih dari itu, Damian... tolong jangan sampai aku berharap pada hal yang tidak mungkin kumiliki."
Damian mengusap lembut punggung tangannya dengan ibu jari, menatapnya lekat-lekat dengan tatapan yang penuh keteguhan dan kelembutan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata saja.
"Kau salah..." bisik Damian pelan namun tegas, "Perjanjian itu mungkin yang membawa kita berjalan di pintu yang sama. Tapi bagi Damian Salvatore, apa yang sudah dia klaim, tidak akan pernah dia lepaskan, Celine."
Celine tersentak hebat, napasnya tercekat di kerongkongan seakan baru saja mendengar sesuatu yang menusuk tajam ke dadanya.
"Klaim?" ulang Celine pelan, suaranya bergetar halus namun penuh luka. "Kau... menganggapku sesuatu yang bisa diklaim begitu saja, Damian? Aku ini barang di matamu?"
Damian langsung menggeleng. Ia melepaskan satu tangannya yang tadi melingkar di pinggang wanita itu, lalu mengangkat dagu Celine pelan dengan lembut namun tak bisa ditolak, memaksa mata mereka bertemu.
"Bukan barang, Amore," bisik Damian rendah dan sungguh-sungguh. Jempolnya mengusap lembut pipi Celine yang terasa dingin, seolah ingin menghangatkan sekaligus meyakinkan setiap kata yang keluar dari mulutnya. "Istri. Rumah. Alasan aku pulang."
Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk senyum tipis, senyum yang jarang sekali Celine lihat. Tanpa beban, tanpa topeng Don Salvatore yang dingin dan berbahaya. Hanya seorang pria yang sedang menatap dunianya sendiri.
"Kau tadi bilang takut berharap?" suara Damian lembut namun menembus ke dalam hati. "Bagus. Karena mulai malam ini... biar aku yang berharap untuk kita berdua. Kau tidak perlu memikulnya sendirian lagi."
Celine menahan air mata yang mulai menumpuk di pelupuk matanya, menatapnya ragu namun tak sanggup memalingkan wajah. "Berharap apa?"
Damian menunduk perlahan, dahinya menyentuh lembut kening Celine, membuat napas mereka bertaut hangat di antara jarak yang nyaris tak ada.
"Berharap kau mau mengajari aku..." bisik Damian lebih pelan lagi, seolah mengakui kelemahan terbesarnya. "...caranya dicintai. Tanpa rasa takut. Tanpa syarat. Tanpa perjanjian yang mengikat."
Keheningan memenuhi kamar itu seketika, menyisakan hanya suara detak jam dinding yang berdetak teratur dan napas mereka yang saling menyatu.
Celine memejamkan matanya rapat, satu butir air mata akhirnya lolos jatuh membasahi pipi. Lalu dengan suara paling lembut dan rapuh yang pernah Damian dengar dari bibirnya, Celine berbisik:
"...Kalau aku sakit lagi... kalau aku lemah dan tak berdaya... kau janji tetap di sini? Tidak akan pergi?"
Damian menggenggam tangan Celine lebih erat, seakan takut jika dilepas sedikit saja wanita itu akan hilang dari pelukannya. Ia mencium satu per satu buku jari wanita itu, perlahan dan penuh penghormatan.
"Janji," jawab Damian tegas namun lembut. Matanya tidak lepas dari mata Celine. "Bahkan kalau dunia ini runtuh sekalipun... aku tetap di sini. Di sampingmu. Tidak ke mana-mana."
Hening kembali menyelimuti ruangan itu.
Celine terdiam sejenak, menatap mata Damian lekat-lekat, mencari ketulusan di sana. Saat yakin ia menemukannya, akhirnya ia mengangguk pelan.
Damian tidak langsung bergerak. Ia masih berlutut di lantai, dahinya menempel lembut di punggung tangan Celine yang ia genggam erat. Seperti seorang raja yang sedang bersujud pada ratunya, menyerahkan seluruh kekuasaan dan hatinya tanpa syarat apa pun.
Lalu suara Damian terdengar sangat rendah, penuh kerendahan namun penuh harap, memecah keheningan itu sekali lagi.
"Boleh aku...?"
-
-
-
Bersambung...