Sekuel Jodoh Pilihan Ayah 1, tapi bisa langsung baca Jodoh Pilihan Ayah 2 ya karena beda pemeran utamanya dengan yang pertama :)
Aku tidak menyangkah Ayahku akan memaksaku menikahi gadis gila dan lumpuh.
--------------------
Zayn Rahardian, pria yang kurang beruntung dalam hubungan percintaannya. Wanita yang menjadi cinta pertamanya hilang bak ditelan bumi, bertahun-tahun ia mencari keberadaan wanita itu namun hasilnya tetap nihil.
Hingga suatu hari, kecelakaan yang menimpah ayahnya ikut berimbas pada kehidupan Zayn. Karena rasa bersalah ayahnya, Zayn dipaksa untuk menikahi wanita yang telah menjadi korban kecelakaan yang menjadikan wanita itu lumpuh.
Zayn menolak keras, ia tidak mencintai wanita itu, namun hasil penolakannya itu justru membuat ayahnya terkena serangan jantung. Hingga akhirnya dengan penuh keterpaksaan Zayn menikahi wanita yang sama sekali tidak dicintainya.
Apakah hubungan itu akan bertahan lama?
Yukss baca kisah Zayn selanjutnya ❤🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Avra
Tatapan mata Zayn yang terlihat sendu, mengisyaratkan banyak beban yang tersimpan di dalam diri pria itu hingga membuat Ara merasa iba, walaupun ia tidak tahu apa permasalahan yang di hadapi Zayn, namun ia bisa melihatnya melalui manik mata milik Zayn yang terlihat menyimpan banyak kesedihan.
Zayn mengalihkan tatapannya, sorot matanya memandang kosong ke depan. Pikirannya kembali dipenuhi akan ingatannya terhadap Avra, gadis kecil yang ia temui 17 tahun lalu. Gadis kecil yang memintanya untuk menikahinya setelah tumbuh dewasa, namun di mana dia sekarang? Kenapa takdir masih begitu enggan untuk mempertemukan mereka?
"Dulu, saat aku berusia 5 tahun aku kehilangan sosok perempuan yang aku cintai. Aku kehilangan ibuku." Ara terhenyak, ibunya Zayn meninggal sejak Zayn masih kecil. Pantas saja, selama ini ia tidak pernah melihat wanita yang menjadi istri dari papa Vino ternyata wanita itu sudah meninggal sejak lama.
"Aku sangat terpukul dan tidak menerima kematian ibuku. Hingga akhirnya aku menemukan tempat ini, tempat yang ku jadikan sebagai penyembuh saat aku merindukan ibuku atau memiliki masalah lain." Zayn menoleh ke arah istrinya, menatap wanita itu lekat, seolah menyalurkan kesedihannya. Ia juga tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya, selama ini ia tidak pernah menceritakan masalah pribadinya kepada siapapun bahkan Papa Vino sekalipun. Namun kenapa Ara berbeda? Zayn merasakan kenyamanan tersendiri pada wanita itu dan dengan mudahnya ia menjadikannya sebagai tempat untuk berbagi cerita.
"A-aku juga pasti akan merasa terpukul jika berada di posisimu." Ara mengusap bahu Zayn lembut, mencoba menguatkan kembali pria itu. Selama ini, ia menilai jika Zayn adalah sosok laki-laki yang tegar. Ya, walaupun baru beberapa hari ia mengenal suaminya, namun itulah yang Ara lihat dalam diri Zayn, pria yang tegar dan memiliki hati yang lembut. Tapi apa yang ia lihat sekarang, ternyata laki-laki yang ia anggap tegar itu memiliki sisi lain, terdapat kerapuan di tubuh tegar itu.
Senyuman hangat kembali terukir di bibir tipis Zayn, ia merasa senang Ara mendengarkan ceritanya, "Aku ingin bercerita banyak padamu. Apa boleh?" tanyanya. Ara langsung menganggukan kepalanya, "Tentu saja. Ceritalah, aku akan menjadi pendengar yang baik untukmu." tersenyum hangat, seraya memperbaiki posisinya, ia juga memasang pendengarannya dengan baik menunggu Zayn melanjutkan ceritanya.
"Ehm, tampat ini juga menjadi awal sekaligus saksi pertemuanku dengan seorang gadis kecil. Aku bertemu dengan gadis yang tengah menangis karena berpisah dengan orang tuanya." Ara menangkap raut bahagia di wajah Zayn saat memulai ceritanya, "Gadis cantik yang di penuhi dengan lumuran coklat di bibirnya." ingatan Zayn kembali mengenang pertemuannya dengan Avra beberapa tahun silam. Ia tersenyum, "Gadis itu sangat menggemaskan. Kau tahu, di saat dirinya linglung mencari orang tuanya dengan wajah yang di penuhi air mata. Dia masih sempat menenangkanku waktu itu. Dia menyuruhku untuk tidak bersedih padahal dirinya sendiri sedang menangis." Zayn menolehkan kepalanya ke arah Ara dengan senyum yang masih mengembang lebar di bibirnya, ia merasa bangga bisa bertemu Avra.
"Gadis kecil itu pasti anak yang hebat. Aku jadi kagum padanya, bagaimana bisa dia menguatkan orang lain di saat dirinya tidak baik-baik saja." ucap Ara tersenyum, ia merasa sangat kagum dengan gadis yang di ceritakan oleh Zayn.
"Hum, saat itu aku langsung memeluk gadis itu, mencoba untuk menenangkannya. Kemudian aku bertanya siapa namanya dan membantunya mencari orang tuanya."
"Apa kau berhasil mempertemukannya dengan orang tuanya?" tanya Ara penasaran, Zayn mengangguk, "Aku berhasil mempertemukannya dengan orang tuanya. Saat itu orang tua gadis itu sedang mencari-carinya juga."
"Syukurlah jika dia bertemu orang tuanya kembali." Zayn kembali menganggukan kepalanya, "Apa kau tahu, di saat kami bertemu orang tua gadis itu. Tiba-tiba gadis itu berbalik dan memelukku. Dia bahkan memintaku untuk menikahinya setelah kami tumbuh dewasa. Permintaan yang sangat konyol, tapi aku mengiyakan permintaan gadis itu." Senyuman dibibir Zayn perlahan berubah menjadi masam. Pun Ara yang menangkap raut kesedihan di wajah suaminya, "La-lalu di mana gadis itu Zayn?" tanyanya penasaran sekaligus merasa aneh, Zayn menyetujui permintaan gadis itu bukankah seharusnya sekarang mereka sudah menikah dan hidup bahagia, tapi kenapa Zayn malah menikah dengannya? Apa dirinyalah yang jadi penghalang hubungan dan merusak rencana pernikahan Zayn dan gadis itu?
Zayn kembali memusatkan pandangannya ke depan. Memandangi danau yang saat itu telihat tenang. "Setelah aku mengembalikan gadis itu kepada orang tuanya. Saat itulah aku kehilangannya."
Dahi Ara berkerut dalam, tidak mengerti maksud ucapan Zayn, "Aku tidak bertemu gadis itu lagi. Dia dan orang tuanya pergi ke luar negri beberapa hari setelah pertemuan kami di sini." ucap Zayn, raut wajahnya menampakan betapa besar rasa sedihnya kehilangan Avra. Wanita yang sangat ia cintai, wanita yang membuat dirinya terikat janji untuk menikahinya setelah tumbuh dewasa.
Ara terkesiap, "Jadi kau dan gadis itu tidak bertemu kembali?" tanyanya penasaran dengan kisah Zayn.
Zayn mengangguk kepalanya, "Sudah 17 tahun kami berpisah, dan aku tidak tahu di mana keberadaan gadis itu sekarang. Mungkin dia sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik." membayangkan betapa cantiknya Avra kecil yang ia temui saat itu, dan pastinya gadis itu sudah dewasa dan memiliki paras yang cantik. Zayn mengusap wajahnya kasar, ia menyalahkan dirinya karena tidak berhasil menemukan wanitanya.
"Tapi aku masih mencari gadis itu hingga saat ini. Aku pasti akan menemukannya." ucapnya gigih dan penuh keyakinan.
Ara tersenyum masam, ternyata Zayn telah memiliki wanita yang sangat ia cintai. Ya, walau Zayn tidak mengetahui kebaradaan wanita itu saat ini, namun bukanlah suatu kemustahilan untuk bisa bertemu wanita itu. Sungguh Ara sangat iri dengan wanita yang dicintai Zayn, wanita itu pasti sangat beruntung dicintai oleh pria yang lembut dan penyayang seperti Zayn.
"Semoga tuhan segera mempertemukanmu dengan gadis itu." ucap Ara, mengusap lembut bahu Zayn.
Zayn tersenyum, lalu beranjak berdiri. "Terima kasih." ucapnya mengusap lembut kepala Ara, "Terima kasih karena telah mendengarkan kisahku yang membosankan." sambungnya.
"Tidak, aku malah ikut terbawa suasana. Kau pria yang hebat, gadis itu pasti sangat bangga memilikimu." ucap Ara, walau hatinya merasa sedikit sakit karena Zayn telah memiliki gadis lain di hatinya. Namun Ara tetap sadar diri, tidak seharusnya ia mengharapkan pria itu. Bukankah dirinya sudah menyepakati kesepakatan yang dibuat oleh Zayn. Ara harus mengubur dalam-dalam rasa yang tumbuh di hatinya sebelum rasa itu tumbuh semakin dalam.
"Ayo kita pulang. Kita sudah sangat lama berada di sini. Dan udara di taman ini semakin dingin." ucap Zayn yang hanya di jawab anggukan oleh Ara, wanita itu tersenyum, mencoba menguatkan hatinya yang patah. Cintanya baru akan tumbuh, namun patah lebih awal padahal ia belum memulainya.
Tetapi, hal itu merupakan sesuatu yang terbaik untuk Ara. Perasaan yang tumbuh di dalam hatinya adalah sesuatu yang salah sangat salah malah. Dan patah lebih awal merupakan langkah yang baik, karena jika terlalu dalam menyimpan rasa pada Zayn maka akan lebih menyakitinya nanti saat dirinya menyaksikan Zayn bertemu cintanya kembali yang hilang bertahun-tahun.
Lagipula jika dirinya tetap menyimpan rasanya secara diam-diam, bukankah itu akan sangat menyakitkan? Sementara ia tahu jika Zayn tidak akan membalas rasa cintanya karena hati pria itu telah terisi oleh wanita lain. Mengubur rasa cintanya adalah jalan terbaik agar ia tidak merasakan sakit hati karena jatuh cinta sendirian.
.
.
.
.
Bersambung..
👍👍👍 dada mau copot tau gk Thor...
dengan konflik yg di alami Rey dn Tasya mmbuat ingatan Ara balik lg....